Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Balas Dendam
Nurma keluar dari hotel, melangkahkan kaki menuju sebuah mal terbesar di kota. Kantongnya tebal, berisi uang lima juta rupiah, cukup untuk berpesta pora sejenak. "Dua-duanya bermanfaat," gumamnya dalam hati, entah apa yang ia maksud. Langkahnya ringan, seolah tanpa beban.
Senyum terukir di bibirnya, namun di balik itu, terselip rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan. Perasaan itu seperti firasat, pertanda akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Di saat Nurma larut dalam kegembiraan, orang tuanya di kampung tak henti-hentinya meminta uang. Permintaan itu datang silih berganti, mengusik ketenangan Nurma. Hatinya jengah, merasa waktunya tak pernah benar-benar bisa dinikmati tanpa diganggu.
Di tengah keramaian mal, Nurma merasa semua mata tertuju padanya. Orang-orang berbisik-bisik, tatapan mereka aneh. Nurma tidak tahu, sebuah video dirinya telah viral. Video itu menyebar begitu cepat, bahkan sampai ke tangan Bima, suaminya. Tapi Bima bersikap cuek, seolah tidak ada yang salah.
Setelah puas berbelanja dan menyantap makanan, Nurma segera memesan taksi. Tujuannya satu: rumah Bima. Sesampainya di sana, ia disambut oleh ibu mertuanya, Bu Wina, dengan sikap dingin. Bu Wina bahkan terang-terangan menyindirnya. "Aduh, habis kuda-kudaan sampai lupa waktu," sindir Bu Wina pedas.
Nurma yang tidak peka, langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia terlalu lelah untuk memikirkan kata-kata itu dan memilih untuk tidur. Bu Wina geram melihat kelakuan Nurma, tapi ia menahan diri. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Bima terhadap istrinya yang tidak tahu diri itu.
"Sudah kuduga itu bukan anaknya, tapi dia ngeyel," omel Bu Wina sendirian. Hatinya menyayangkan sikap Bima yang tidak bisa melihat segala sesuatu dengan jernih. Meskipun ia juga mendambakan seorang cucu, ia ingin cucu itu lahir dari pernikahan yang sah, bukan dari hasil perselingkuhan. "Kenapa sih anak-anakku tidak ada yang benar satu pun? Dosa apa yang kulakukan di masa lalu?" ujarnya lirih.
Pikirannya melayang pada anak bungsunya yang kini hamil dan tinggal di rumah suaminya. Kekhawatiran menyelimuti hatinya, terlebih kehamilan bukanlah hal yang mudah. Namun, ia memilih untuk melepaskannya agar anak bungsunya bisa belajar berpikir sebelum bertindak.
Tiba-tiba, Bima muncul di sampingnya. "Ibu, mana Nurma?" tanyanya.
"Bima, bisa tidak kalau masuk rumah itu beri salam dulu? Kamu ini seperti kucing saja," omel Bu Wina.
"Tadi saya sudah salam, Bu, tapi Ibu malah melamun di sini," bela Bima.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bu Wina pergi begitu saja. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa kesal. Mungkin efek dari video berdurasi tiga menit itu. Ia merasa malu pada tetangga dan memilih untuk tidak keluar rumah. Gosip pasti sudah menyebar luas.
Di dalam kamar, Bima tak bisa lagi menahan amarahnya. "Plak!" Suara tamparan keras memecah keheningan. "Anak itu anak siapa?!" tanya Bima dengan suara yang menggelegak.
Jawaban Nurma semakin ngawur, membuat Bima semakin naik pitam. Ia mendorong Nurma dengan kuat hingga terjatuh dari atas ranjang.
"Awhh, kamu berniat membunuhku?!" teriak Nurma.
Bima hanya menyeringai, senyum yang sangat menyeramkan di mata Nurma. Pikiran Nurma langsung tertuju pada Tiara, mantan Istri Bima, yang menurutnya selalu memprovokasi rumah tangganya.
"Kamu meragukan kandunganku gara-gara wanita mandul itu?!" tuduh Nurma tanpa tahu penyebab kemarahan suaminya. Ini adalah kesalahan fatal.
"Plak!" Tamparan keras kembali mendarat di pipi Nurma, membuatnya tersungkur ke lantai. Bima benar-benar kalap. Ia merasa telah ditipu habis-habisan oleh Nurma.
Bima memutar video berdurasi tiga menit di ponselnya. Wajah Nurma langsung pucat pasi. Ia terdiam, tak bisa berkata-kata. Pikirannya kalut. Tidak mungkin selingkuhannya yang menyebarkan video itu.
"Mas, tolong percaya padaku, itu editan, itu bukan saya! Itu pasti ulah Tiara yang tidak suka dengan hubungan kita!" pinta Nurma, meskipun jelas-jelas video itu adalah dirinya.
Bima semakin kesal. Nurma masih saja menyalahkan orang lain. Andai saja ia tidak tertipu oleh wanita ini, rumah tangganya pasti baik-baik saja.
Nurma meraung-raung di dalam kamar. Sementara itu, Bima telah pergi, entah ke mana. Ia tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Ia takut, jika terus berada di sana, ia bisa saja membunuh Nurma dan menghancurkan kariernya.
Bima berakhir di sebuah clab malam, menenggak minuman memabukkan. Seorang wanita yang lebih tua darinya mendekat dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ia tolak, apalagi dalam keadaan mabuk.
"Aku telah tertipu, aku benci anak itu, itu bukan anakku," rancau Bima di dalam pelukan wanita itu.
Keesokan paginya, Bima terbangun di sebuah rumah yang tidak ia kenali. Kepalanya berdenyut nyeri. "Kamu sudah bangun?" tanya wanita itu dengan suara lembut.
"Ya. Saya mau pulang, mau masuk kantor," jawab Bima.
"Sekarang sudah jam satu siang. Yakin ke kantor?"
Bima terbelalak. Ia tidak menyangka sudah kesiangan. Apakah ini efek mabuk semalam? Wanita itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka kembali mengulangi apa yang mereka lakukan semalam, hingga sore hari.
Di tengah kebersamaan itu, sebuah ide muncul di benak Bima. Ide untuk membalas perbuatan Nurma. Ia bahkan melibatkan mantan kekasihnya dalam rencana ini.
"Bagaimana kalau kalian tinggal di sini saja? Dengan begitu, kita bisa mengontrolnya," usul wanita itu.
Bima mengangguk. Rencana itu cukup bagus. Ia bisa menyiksa Nurma hingga anaknya lahir. Mereka tidak peduli anak itu anak siapa, yang mereka inginkan hanyalah anak itu. Karena mereka berdua sama-sama tidak memiliki anak.
Bima pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri. Rencananya tidak ada yang tahu. Nurma melihat suaminya pulang dan langsung memeluknya. Bima hanya tersenyum penuh arti.
"Berkemas, kita akan pindah rumah," kata Bima.
Bu Wina yang mendengar itu langsung mengomel. "Kenapa kamu tidak melepaskan saja wanita seperti itu?"
"Ibu, biarkan dia jadi urusanku. Dan ini kartu ATM tabunganku, simpanlah dengan aman. Sewaktu-waktu saya membutuhkannya," ucap Bima, tidak ingin melibatkan ibunya dalam rencananya.
Bu Wina hanya menyimpan kartu itu. Ia juga masih memiliki penghasilan dari kebun karet mereka.
Di dalam kamar, Nurma sudah membayangkan akan tinggal di rumah mewah. Tak akan ada lagi omelan dari ibu mertuanya. "Akhirnya saya keluar juga dari rumah neraka ini," gumamnya lirih.
Ia tidak tahu, rumah yang akan ditujunya adalah neraka yang sesungguhnya. Ia sempat merasa ragu dengan kebaikan suaminya yang tiba-tiba, namun ia mengabaikan semua keraguan itu. Ia tidak menyadari, Bima telah merencanakan pembalasan yang kejam.