Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menundukkan Pandangan
Satu bulan sudah pernikahan Aisyah dan Hanif berjalan. Semua berjalan lancar, seperti biasanya. Namun sikap Hanif kepada Aisyah, masihlah terbilang sangat dingin dan cuek.
Bahkan, terkadang Hanif pulang dari kampus sampai larut malam, membiarkan Aisyah, di rumah sendirian. Bukankah biasanya kalau pengantin baru masih dalam tahap rindu-rindu gimana gitu. Tapi mereka ini berbeda. Bahkan untuk melakukan hubungan intim saja, mereka melakukannya, cukup 1 minggu sekali.
Dan seperti biasa, pagi-pagi Aisyah menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya. Setelah selesai sarapan bersama. Hanif berpamitan kepada Aisyah untuk pergi mengajar.
"Uda tunggu," ucap Aisyah, menahan lengan Hanif, yang hendak keluar dari pintu rumahnya.
Hanif berbalik. "Ada apa Aisyah?"
"Uda, apa hari ini Aisyah boleh ikut acara donor darah di balai desa?" tanya Aisyah.
"Bersama siapa?"
"Bersama ibu-ibu kompleks," jawab Aisyah.
Hanif sejenak terdiam. "Ya sudah, Uda izinkan. Nanti kalau sudah selesai acaranya, kamu harus segera pulang ya," tutur Hanif. Aisyah mengangguk, tersenyum semangat.
"Iya Uda, apa Uda hari ini akan pulang malam lagi?" tanya Aisyah.
"Tergantung, Uda usahakan untuk secepatnya pulang," ucap Hanif, tersenyum. Kemudian segera berlalu untuk pergi ke kampus, menaiki mobilnya.
***
Disepanjang perjalanan, sambil mengemudikan mobilnya. Hanif terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia sering pulang larut malam, dikarenakan sesuatu hal yang memaksanya tak bisa pulang cepat.
Tiba-tiba, ponselnya berdering begitu nyaring. Membuyarkan lamunannya. Ia segera meraih ponsel yang terselip di saku kemejanya.
"Assalamualaikum," ucapnya, sambil menempelkan ponselnya di telinga kirinya.
"Wa'alaikumussalam ... Hanif, kamu dimana?" suara seorang wanita terdengar di balik ponselnya.
"Aku sedang di jalan, mau pergi ke kampus."
"Bisakah kamu kemari sekarang?" tanya wanita di sebrang sana.
"Memangnya kenapa? Apa sesuatu terjadi padanya?" tanya Hanif seakan cemas.
"Iya, dia sudah sadar. Sedari tadi dia ingin bertemu denganmu."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau sudah sadar. Tapi aku gak bisa ke sana sekarang. Bilang padanya, setelah selesai jam mengajar, aku akan ke sana menemuinya," ucap Hanif, seakan lega.
"Baiklah," ucap wanita itu, sebelum mereka berdua mengakhiri teleponnya.
Kini wajah Hanif terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Entah apa yang membuatnya bersemangat seperti itu, tapi sepertinya kabar dari wanita yang baru saja meneleponnya, sedikit membuat dirinya lebih terlihat senang dan bersemangat.
***
Aisyah kini tengah bersiap untuk pergi ke Balai Desa. Aisyah pergi ditemani tiga ibu-ibu, yang tak lain ialah tetangganya.
"Aisyah, apa Aisyah sudah meminta izin sama suami Aisyah?" tanya Bu Nur.
"Iya sudah Bu, alhamdulillah suami mengizinkan," jawab Aisyah, tersenyum lembut.
"Eh Aisyah, kalau boleh saya tahu, Aisyah sama Pak Hanif itu kenal dimana? Saya masih kepo sama kalian berdua hehe," tanya Bu Santi yang sedikit rempong.
"Kami dikenalkan sama Abah," jawab Aisyah, dengan senang hati.
"Wah... berarti Pak Hanif beruntung sekali ya, dijodohkan dengan istri yang muda dan cantik seperti Aisyah," tutur Bu Santi. Aisyah hanya tersenyum malu, sambil menggelengkan kepalanya.
Sesampainya mereka di balai desa. Terlihat cukup banyak orang di sana, yang tak lain ialah panitia dan orang-orang yang mau menyumbang darah.
Mereka segera mendaftar dulu. Dan setelah itu Aisyah dan ibu-ibu itu, duduk di kursi yang tersedia di sana.
Dari dalam mobil bank darah, terlihat seorang lelaki tampan, yang sepertinya seusia dengan Hanif. Lelaki itu tak lain ialah Adam. Salah satu panitia sukarelawan yang ikut bergabung dalam acara donor darah ini.
"Bu Ibu, lihatlah! Anaknya Bu Ustazah Nawawi, makin gede makin ganteng aja," ucap Bu Sekar melirikkan matanya ke arah lelaki tampan yang terlihat berdiri mengabsen para pendonor.
"Anaknya Bu Ustazah kan masih di Mesir," tutur Bu Nur.
"Eh tapi benar, itu anaknya Bu Ustazah, dua hari yang lalu beliau sudah pulang dari Mesir. Coba aja saya punya anak gadis, pasti saya jodohin deh sama Nak Adam," ujar Bu Santi, kegirangan. Seketika itu, Bu Nur dan Bu Sekar, menoleh ke arah Bu Santi, dengan memasang tatapan tajam.
"Hehe... saya hanya bercanda bu-ibu," tutur Bu Santi, menyengir kuda.
Tak lama kemudian dari ketiga ibu-ibu rempong ini, satu persatu di panggil oleh Adam. Untuk masuk ke dalam mobil, tempat pengambilan darah.
Dan kini giliran Aisyah yang di panggil. "Aisyah ya?" tanya Adam, sambil memegang papan tulis berisi daftar nama pendonor. Aisyah mengangguk sambil menundukkan pandangannya.
"Silakan masuk," ucap Adam. Aisyah pun segera masuk ke dalam mobil donor darah itu.
Salah satu petugas medis perempuan segera menyiapkan semuanya. Sambil sedikit wawancara dan pemeriksaan mengenai Aisyah, tentang pengalamannya donor darah. Mungkin donor darah kali ini, bukanlah donor darah pertama baginya, karena dulu Aisyah juga pernah beberapa kali melakukannya. Jadi untuk prosedurnya, sudah sangat di pahami oleh Aisyah.
Aisyah berbaring, sambil menunggu proses pengambilan darah. Tiba-tiba terdengar suara bersin dari seseorang.
"Hacis...." Adam bersin.
"Alhamdulillah," ucap Adam, berdoa setelah bersin, sambil sedikit menggoyang-goyangkan hidungnya yang terasa gatal.
"Yarhamukalloh," ucap Aisyah, pelan namun masih terdengar di telinga Adam.
Seketika Adam mengalihkan perhatiannya ke arah seseorang yang ada di balik tirai penghalang, di dalam mobil. Setelah mendengar jawaban dari doa bersinnya.
"Yahdiikumulloh wa yaslihu balakum" tutur Adam, kembali mendoakan.
"Maa syaa allah, siapa wanita itu? Di zaman sekarang ini ternyata masih ada yang menerapkan hal-hal seperti ini," batin Adam, merasa kagum.
Karena biasanya jika ia bersin ditempat umum, jarang sekali bahkan tidak ada yang mendoakannya. Namun kejadian kali ini sangatlah berbeda. Wanita yang sedang diambil darahnya itu, ternyata sangat bagus sekali akhlaknya.
Kini Aisyah sudah selesai. Ia segera merapikan kembali, bagian lengan bajunya. Lalu bersiap untuk keluar dari mobil.
"Permisi," ucap Aisyah, melewat begitu saja di hadapan Adam.
Sungguh Adam di buat kagum kepada wanita yang selalu menundukkan pandangannya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya.
"Maa syaa allah perempuan ini, sudah bagus agamanya, begitu pun dengan akhlaknya, sangat sopan sekali," batin Adam, memandang kepergian Aisyah.
"Astagfirullah Adam, Adam, tundukkan pandanganmu, jangan biarkan set*n mengganggu kedua matamu ini," ucap Adam menyadarkan diri sendiri, sambil mengusap kasar wajahnya dan tersenyum malu.
Bersambung...
Aduh Adam, Adam sampai terkesima begitu.
Lanjut gak nih???
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat