Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Lain
"Mama, jangan bilang seperti itu!" sahut Angga, memegangi lembut telapak tangan Lidia.
"Itu sudah faktanya Nak, ah sudahlah mama pusing kalau memikirkan hal itu."
Mama Lidia menyebut dirinya pusing, padahal Sefia lah yang pusing dengan kehidupan rumah tangganya yang sudah berjalan sepuluh tahun ini.
Mata Sefia memerah manahan tangis dan sakit hati, tapi Ia alihkan dan redamkan dengan melihat Lusi yang tengah di gendongnya.
Sedangkan Angga memilih berbincang kembali dengan Bram mengenai bisnis.
"Mama ingin berbicara berdua denganmu." pinta Lidia pada anaknya
"Bicara mengenai apa, Ma?" tanya Angga, penasaran.
"Ada hal penting, Ikuti mama!"
Akhirnya Angga mengikuti permintaan mamanya untuk berbicara hal penting mengenai dirinya.
"Mbak, ini Lusi. Aku ke belakang dulu!" Sefia memberikan Lusi kembali pada dekapan Ibunya.
"Oh, iya Sef."
Kemudian Sefia buru buru ke ruang mandi belakang, dan setelahnya tak sengaja mendengar percakapan begitu tegang antara mama Lidia dan Angga.
Pintu kamar sedikit terbuka, jadi Sefia bisa mendengar percakapan mereka.
"Mama pokoknya gak mau tahu, kamu harus segera ceraikan perempuan mandul itu!" tegas Lidia.
"Tapi ma, Angga sudah berjanji pada almarhum ayahnya. Angga gak bisa ninggalin Sefi begitu saja."
"Ga, mama ini kecewa sama kamu. Jika kamu tidak bisa memberikan mama cucu, lalu bagaimana nasib keluarga kita? Kita gak akan mempunyai penerus, cuma kamu harapan mama satu satunya."
"Iya ma, aku mengerti tapi tetap Angga tidak bisa menceraikan Sefia."
"Baiklah, jika kamu tidak bisa menceraikan Sefia, mama sendiri yang akan bicara sama Sefia agar dia mengijinkanmu untuk menikah lagi."
Deg!!
Seketika hati Sefia hancur, hal yang Ia takuti akhirnya terucap juga. Ia hanya mampu menutup mulutnya agar mereka tidak mendengar bahwa Sefia tengah menangis dibalik pintu.
"Mama sudah mencari calon yang pas untukmu, dia sebentar lagi akan datang."
Sefia yang mendengar itu pun sudah tak tahan dan memilih untuk masuk diantara percakapan mereka.
"Mama barusan bilang apa ke mas Angga?" tanya Sefia tiba tiba membuat Angga kaget.
Sedangkan Lidia memilih untuk menyunggingkan bibirnya, menatap jijik.
"Sef, dengerin aku dulu!"
"Apa yang perlu dijelaskan mas?" teriak Sefia, "Mama ingin menjodohkanmu dengan wanita lain, iya kan?"
"Tapi Sef, bukan itu maksud mama."
Angga mencoba menahan istrinya tapi Sefia memberontak.
"Ah sudahlah, aku kecewa sama kamu mas."
Sefia berlari memilih pergi sambil menangis, dan tepat di pintu rumahnya. Ia sempat bertabrakan dengan wanita, yang mungkin akan dijodohkan mama Lidia dengan Angga.
Ia terus berlari dengan tangis, tapi dalam tangisnya dia berharap suaminya datang mengejarnya lalu memeluknya untuk menguatkan hatinya.
Tapi sayang seribu sayang, harapan itu hanya angan angan karena Angga memilih tetap tinggal setelah mamanya mencegah dirinya untuk mengejar istrinya.
****
Sementara itu Dedi sudah mendapat informasi mengenai suami Sefia dari orang suruhannya.
Angga adalah pria yang dijodohkan almarhum ayah Sefia sebelum Ia meninggal, dan juga Ia bekerja sebagai menager pemasaran di salah satu anak perusahaan milik keluarganya.
Dedi begitu sangat geram, bukan karena Angga bekerja di anak perusahaan milik keluarganya tetapi Dedi mendengar informasi juga bahwa Sefia menjadi gunjingan warga karena dirinya mandul, serta perlakuan kasar oleh mertuanya yang selalu melontarkan kata pedas padanya.
"Apa kau bahagia, Fia?" hanya pertanyaan itu yang selalu terbenak dalam pikiran Dedi saat ini.
Hingga tiba saatnya Dedi mendapatkan jawabannya, jawaban tentang wanita yang dicintainya tengah menangis seorang diri malam malam dibangku taman dekat rumahnya.
Dedi berjalan mendekati Sefia yang menenggelamkan wajahnya diantara lututnya, Lalu ia duduk didekat Sefia yang tak menyadari kehadirannya.
Karena kondisi yang sangat dingin, mambuat Dedi khawatir dan rela melepas mantelnya lalu ia berikan pada Sefia yang terisak.
Saat Sefia menyadari tubuhnya ada sesuatu yang menghangatkannya, ia menoleh pada pria yang sedari tadi duduk disebelahnya.
"Dedi." Sefia kaget dan berpaling muka buru buru menghapus air matanya.
"Kalo menangis itu melegakan, maka menangislah, itu bukan hal yang memalukan kok." ucap Dedi memandangi wajah Sefia.
Sefia mulai mengembangkan tangisnya lagi.
"Aku bisa meminjamkan dadaku jika kau mau!" tawarnya untuk menjadi sandaran.
Tanpa pikir panjang Sefia langsung tenggelam dalam dada bidang milik Dedi, ia sungguh terisak disana.
Tapi ketika Sefia mendengar detak jantung Dedi, entah kenapa perasaannya begitu lega dan terhibur sehingga Ia mampu melupakan kesedihannya dalam sekejab, tangisnya pun hilang.
Tanpa sadar Sefia mendongak dan menoleh pada pria tampan yang sedang duduk dihadapannya.
"Kamu kenapa nangis? cerita sama aku!"
"Aku gak apa - apa kok."
"Fia, apa aku gak cukup pantas untuk kamu berbagi kesedihan? Aku gak keberatan."
"Maaf, tapi ini masalah pribadi aku." Sefia menunduk sedih.
"Apa suamimu menyakitimu?"
Sefia menggelangkan kepalanya. "Gak kok."
"Lalu kenapa?"
"Ini semua gara gara aku, aku yang salah." Sefia kembali terisak.
Lalu Dedi menghapus air matanya yang menetes, kemudian memegangi dagunya agar mendongak mantap lebih pada dirinya.
"Air matamu itu berharga Fia, setetes air matamu ini seperti sebelah pisau yang menghujamku. Jadi kau dapat membayangkan bagaimana sakitnya aku ketika melihat kamu banyak meneteskan air mata seperti ini."
"Dedi." ucap Sefia tertegun.
"Tersenyumlah! Aku akan menghapus kesedihanmu." ucapnya tersenyum.
Kemudian Dedi bergerak mendaratkan bibirnya yang basah dikening Sefia, memberi ciuman disana.
Sefia hanya bisa tertegun dan membelalak melihat perlakuan Dedi yang tak terduga tapi tubuhnya juga enggan untuk menolaknya.
Dedi melebarkan senyumnya ketika mendapati Sefia hanya mamatung tanpa perlawanan.
Kemudian Dedi sudah tak tahan lagi untuk mendaratkan bibirnya di bibir Sefia dan melumatnya dengan lembut.
wlWalau ciumannya itu cukup intim dan lama, tapi sentuhan itu tak kunjung mendapat balasan. Sefia hanya tertegun dan membelalak tak percaya.
"Aku rela kamu jadikan yang ke dua, Fi." ucap Dedi ketika melepas pagutannya.
Sejenak Sefia bangun dari lamunan. "Ded?"
"Iya, Fi?"
"Apa barusan kamu menciumku?"
Dedi tertawa dan mengangguk malu, "Iya"
"Apa kamu benar mengatakan bahwa..."
"Aku mau jika kamu jadikan yang kedua." sahut Dedi mengelus kedua sisi pipi Sefia.
"Kamu Gila, Ded!" bentak Sefia kemudian beranjak dari duduknya.
Dedi pun ikut berdiri dan menatap penuh harap pada perempuan yang tengah berdiri di depannya, lalu menggapai jemarinya.
"Terserah kamu mau anggap aku apa Fi, tapi percaya aku bisa buat kamu bahagia."
"Gak Ded." Sefia membalikkan tubuhnya beranjak pergi. "Aku pulang dulu dan makasih sudah menghiburku"
Dedi ingin sekali menahan perempuan itu untuk tidak pergi, ingin sekali memeluk dan tenggelam dalam kehangatan tapi ia sadar. Keputusan Sefia adalah keputusan yang telak baginya.
"Aku mencintaimu dengan egois."
****
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..