Menceritakan seorang remaja muslim yang baru saja lulus dari sekolah pesantrennya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih. Sebagai remaja yang baru lulus dari pesantren, ia mencoba menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07 : Mengantar Liana.
Keesokan harinya.
Jam 7 pagi, Fatih sedang membersihkan halaman rumah, dia mengenakan pakaian santai dan celana cingkrang. Di sela-sela ia menyapu, banyak tetangga lewat depan rumah, ada beberapa dari mereka yang lewat memberi salam dan menyapanya. Fatih juga membalas salam dan sapaan mereka. Karena hari ini adalah hari minggu.
Cukup sejuk cuacanya, ditambah dirinya sudah mandi tadi sebelum sholat subuh, jadi badannya terasa segar. Banyak sekali orang-orang berjalan kaki untuk jalan-jalan, ada juga yang berlari. Di rumah cuma ada dirinya dan kakak perempuannya yang sedang menyapu dalam rumah. Abi Alif dan ummi Nana sedang pergi berbelanja ke pasar.
Sedangkan Ali, ia pergi untuk lari pagi. Fatih masih bisa bersantai, karena hari ini ia masuk di shif siang. Setelah Fatih selesai membersihkan halaman rumah, ia pun masuk ke dalam rumah. Ia melihat kakak perempuannya sedang bersantai di ruang tamu sambil mambaca buku dan ditemani banyak pisang goreng dan 2 gelas teh hangatnya.
Ia menatap heran ke arah 2 gelas yang berisi teh hangat itu. "Mba sudah bikin teh hangat buat kamu. Tapi, cuci tangan dan kakimu dulu." Liana bersuara tanpa mengalihkan pandangannya.
Fatih tersenyum. "Makasih." lalu ia segera ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya.
Selesai sudah, ia pun segera ke ruang tamu. Setelah duduk, Fatih meraih gelasnya. Tak lupa ia mengucapkan bismillah sebelum meminumnya.
"Kamu masuk siang ?" tanya Liana yang masih saja pandangannya ke arah buku yang ia pegang.
"Iya, mba." jawab Fatih setelah meletakkan gelasnya di meja, lalu ia mengambil salah satu buah pisang goreng di piring.
"Nanti setelah abi sama ummi pulang, atau mas Ali pulang, anterin mba ke taman, mba mau cod ambil barang. Bisa ?" kata Liana meminta bantuan kepada adiknya.
Fatih mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bisa, mbak." jawabnya setelah menelan makanannya.
Mereka pun diam. Fatih bangkit dari duduknya, ia pergi ke kamar. Tak ada setengah menit, ia kembali, karena ia hanya mengambil hpnya saja. Lalu ia kembali duduk menemani kakak perempuannya yang masih saja fokus dengan bukunya, sedangkan dirinya melihat video dakwah di aplikasi youtube, tapi sebenarnya ia Fatih punya kouta.
Hanya saja karena di rumah sudah dipasang wifi, jadi ia bisa menonton video dakwah dan informasi mengenai agama sepuasnya tanpa memikirkan isi ulang kouta hpnya. Meskipun begitu, ia berniat ingin ikut urunan setiap setelah dirinya gajian nanti. Karena ia ingin membantu abi Alif dan kakak laki-lakinya yang selama ini mengurusi pembayaran internet dan listrik.
Tak ada 1 jam mereka sibuk dengan kegiatan mereka berdua masing-masing, lalu terdengar suara mesin motor di depan rumah. Fatih dan Liana sudah bisa menebak, kalau yang datang yang tak lain abi Alif dan ummi Nana. Fatih dan kakak perempuannya menyambut mereka, dan langsung membantu membawa belanjaan mereka ke dapur bersama ummi Nana.
Selesai sudah membantu, Fatih membawa bekas gelas teh milik Liana san dirinya ke wetafel, begitu juga dengan piring kosong bekas pisang goreng yang ia habiskan bersama kakaknya tadi. Fatih masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya, begitu juga dengan Liana yang sedang bersiap-siap di dalam kamarnya.
Fatih yang sudah selesai, ia hanya menambahkan jaket hoodie hitamnya, ia segera berpamitan ke ke ummi Nana yang akan berkutak-kutik di dapur. Lalu Fatih pergi ke garasi rumah, lalu membawa motor matic milik Liana keluar ke depan rumahnya.
"Kamu mau pakai motor abi ?" tanya abi yang sebenarnya menawarkan motornya.
"Enggak, bi. Pakai motor mba Liana aja, sekalian dipanasin." jawab Fatih sambil memakai helmnya.
Di rumah keluarga abi Alif memiliki 4 kendaraan yang terdiri dari 2 motor matic milik abi Alif dan Liana, 1 motor bebek milik Ali. Dan terakhir 1 mobil avanza hitam, itu pun digunakan saat mereka akan berpergian jauh atau liburan. Sebenarnya abi Alif ingin membelikan Fatih sepeda motor sebagai hadiah setelah lulus dari pesantrennya, tapi Fatih menolak keras, ia punya keinginan punya motor dari hasil kerjanya.
Selesai sudah Liana bersiap, ia keluar dari kamarnya. Yang awalnya ia mengenakan pakaian santai yang tertutup dan hijab instannya, kini ia sudah mengganti pakaiannya dengan muslimah dan hijab segi empat. Ia tak lupa memakai helmnya dan berpamitan kepada abi Alif dan ummi Nana. Ia pun segera naik ke motornya sudah siap di jalankan adiknya.
Tak lupa mengucapkan salam, abinya yang masih di depan rumah menjawab salam mereka, ia juga bepesan untuk hati-hati dijalan.
Fatih dan Liana mengiyakannya. Mereka berdua pun pergi menjauhi rumahnya. Abi Alif pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu depan terbuka, lagian ia ingin duduk santai di ruang tamu sambil menunggu Ali pulang dari lari paginya.
Fatih yang fokus mengendarai motor. Ia dan kakak perempuannya pergi menuju taman yang semalam ia kunjungi. Setelah sampai, Liana segera turun dari motornya, dan Fatih memarkirkan motornya yang tak jauh dari tempat mereka berdua menunggu seseorang.
Dan benar saja, rupanya orang yang ditunggu Liana sudah sampai duluan beberapa menit yang lalu, dia sudah duduk di salah kursi panjang yang ada di taman. Liana pun menghampirinya sambil menenteng helmnya yang sudah ia lepas, lalu ia duduk disebelahya setelah mengucapkan salam ke temannya.
Barang yang ingin dibeli Liana beberapa buku novel islami, dan bisnis. Yang menjual buku-buku itu juga perempuan berhijab instan, hanya saja mengenakan kemeja dan celana yang longgar. Fatih masih setia menunggu Liana dan orang itu yang malah asik sedang berbicara dan terlihat akrab sekali.
Mungkin mereka berdua sudah saling kenal dan berteman lama. Fatih yang sudah melepas helmnya pun, memilih menunggu duduk di jok motornya yang jaraknya mungkin 10 meter ke arah kakaknya. Saat sedang menunggu, tiba-tiba ada tangan yang menepuk salah pundaknya.
Sontak Fatih terkejut dan langsung menoleh. "Eh, bang Nathan ? Assalamualaikum." ucap Fatih terkejut dan langsung mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." jawab Nathan sambil tersenyum.
Rupanya orang yang menepuk dirinya adalah karyawan seniornya, yang tak lain adalah Nathan. "Sedang ngapain kamu, Tih ?" tanyanya.
Fatih tersenyum dan menjawab. "Lagi nungguin kakakku, bang."
"Yang mana ?" tanya Nathan penasaran, karena tak pernah melihat kakaknya Fatih.
"Yang itu, bang." jawab Fatih sambil menunjuk kakak perempuannya yang sedang tertawa bersama teman perempuannya.
Nathan langsung paham kemana arah pandangan Fatah ke mana. Ia langsung terdiam ketika memandang sosok perempuan berpakaian muslimah yang sedang berbicara dan tertawa bersama temannya. Nathan berdiam dan tak bersuara melihat sosok kakak perempuan dari juniornya.
"Cantik." Nathan bergumam.
Plak...!!
"Aduh...!!" Nathan terkejut, dan ia sedikit merasakan kesakitan di punggungnya setelah Fatih memukulnya sedikit keras.
"Jangan memandangi kakakku seperti itu, bang." ucap Fatih yang menatap tajam ke arah seniornya yang mungkin saja baru saja melihat sekaligus kagum dengan kakak perempuannya.
Nathat terdiam menatap Fatih, tapi sebenarnya dalam pikirannya ia terkejut bukan main dan tak menyangka kalau sosok Fatih yang murah senyum dan baik, kini terlihat cukup menyeramkan.
Nathan malah salah tingkah dan menyengir. "Hehe, kakakmu cantik juga."
Mendengar ucapan dari Nathan yang memang blak-blakan, salah satu sudut bibirnya Fatih berkedut. Ia pun bersuara. "Jangan macam-macam, ya."
Ya, tidak hanya Fatih, abi Alif dan Ali sangat menjaga ummi Nana dan Liana yang merupakan bagian dari keluarga kecilnya. Terutama Liana yang merupakan seorang gadis perawan muda cantik. Mereka bertiga memang harus was-was bila ada laki-laki yang bukan mahramnya mencoba mendekati Liana.
setahu saya pengabdian itu semacam bekerja di sana tanpa dibayar, atau dengan bayaran seadanya tanpa dipatok.
salut untuk penulis, semoga ALLAH SWT selalu
memayungi penulis dengan banyak keberkahan serta kesehatan terus.
luar biasa Author satu ini, ada selipan syiar di dalam karya novel ini...😊
saluuutt saluuuutt...terus syiar dalam tulisan ya Thor...👍👍👍
semangaaattt 💪💪💪
sehat terus & terus sehat Thor 💪