Alisha, seorang gadis cantik berumur dua puluh empat tahun. Alisha seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal pada saat Alisha berumur dua tahun. Alisha dirawat oleh paman dan bibinya.
Paman dan bibinya Alisha, mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Amalia. Amalia tidak menyukai apapun tentang Alisha. Bahkan, terkadang Amalia mengerjai Alisha.
Suatu hari, Amalia menyuruh teman laki-lakinya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Alisha, yaitu keperawanannya.
Akankah Alisha berakhir ditangan pria itu? Ataukah ada seseorang yang menolongnya? Mari, cari tahu takdir Alisha!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi sel
Setelah beberapa saat berbincang dengan pamannya, Alisha memutuskan untuk pulang ke kontrakannya. Alisha ingin menenangkan dirinya dahulu. Alisha pun berpamitan kepada pamannya, ia mencium punggung tangan pamannya sebelum pergi meninggalkan pamannya sendirian. Pamannya Alisha menatap kepergian Alisha dengan mata yang berkaca-kaca.
Kak, maafkan aku yang tidak bisa menjaga puteri kalian dengan baik, batin pamannya Alisha. Ia teringat akan mendiang ayah dan ibunya Alisha.
Disisi lain. Alisha sedang berdiri dipinggir jalan raya, ia sedang mengotak-atik ponselnya, ia akan memesan ojek online melalui ponselnya itu. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, sebuah mobil pun berhenti tepat dihadapan Alisha.
"Kak Dikta," ucap Alisha saat melihat seseorang setelah kaca mobil diturunkan.
"Iya, ayo masuk. Aku akan mengantarkan kamu pulang," ajak Dikta.
"Baiklah, Kak. Semoga tidak merepotkan kakak." Alisha segera membuka pintu belakang mobil tersebut.
"Eh, nggak duduk didepan, Sha?" tanya Dikta.
"Tidak, Kak. Sebaiknya seperti ini, kita kan harus menjaga jarak, karena kita bukan mahrom," kata Alisha menjelaskan.
"Berarti jika kita menikah, sudah boleh dong?" tanya Dikta sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Dikta, Alisha pun terdiam. "Hmm, yuk jalan Kak. Aku lelah pikirannya, pengen istirahat di kontrakkan." Alisha berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baik, tuan puteri," ucap Dikta sambil melirik Alisha dari kaca, didalam mobil itu.
Dari sikap Dikta kepadanya, Alisha bisa menyimpulkan jika Dikta menyukainya. Terlihat dari sikap Dikta dan semua perhatian yang diberikan kepada Alisha. Tapi, Alisha tak bisa membalas perasaan dari Dikta, karena sudah ada seseorang didalam hatinya.
Seseorang yang Alisha suka adalah Aldi, adik dari Kak Andi. Alisha sudah menyukai Aldi sejak lama, tapi Alisha hanya menyukai Aldi secara diam-diam. Alisha tak mau mengungkapkan perasaannya, karena ia tak mau berpacaran. Alisha mengalihkan perasaannya kepada Aldi, dengan memperbanyak kegiatannya dan ia pun memperbanyak mengucap istighfar.
Ya, memang wajar jika seorang perempuan menyukai atau mengagumi seorang laki-laki. Tapi, semua perasaan itu harus dikendalikan jika memang belum ada ikatan suci diantara keduanya.
Aldi saat ini sedang merantau di luar pulau, Alisha pun tak tahu kabar Aldi sekarang. Alisha terkadang menanyakan kabar Aldi lewat kakaknya, Andi. Alisha hanya bisa berdo'a selepas sujudnya, Alisha selalu mendo'akan keselamatan Aldi dimanapun ia berada.
*
*
*
Ditengah perjalanan. Dikta melirik ke kaca didalam mobilnya, ia melihat wajah Alisha yang sedang melamun. Dikta tersenyum melihat wajah cantik Alisha.
"Sha, lagi mikirin apa?" tanya Dikta.
Pertanyaan Dikta seketika menyadarkan lamunan Alisha. "Ah, tidak kok, Kak," jawab Alisha sambil tersenyum.
Tiba-tiba, Alisha merasa sangat lapar. Ia lupa jika saat itu dia belum makan dari pagi. Alisha pun melihat jam tangan ditangannya. Jam tangan itu menunjukkan pukul sembilan sepuluh siang.
"Eh, Kak. Kakak bisa turunin aku ke warung itu nggak? Aku laper banget belum sarapan." Alisha menunjuk ke sebuah warteg.
"Bisa-bisanya belum sarapan, jangan biasain kayak gitu ya, nanti kamu sakit lo," ucap Dikta khawatir.
"Biasanya aku tertib sarapan kok, Kak. Tadi itu, aku buru-buru ke kantor polisi buat lihat keadaan Amalia," ujar Alisha.
"Ngapain kamu jenguk orang itu?" tanya Dikta dengan tidak suka.
"Sudah berlalu, sekarang aku mau makan dulu biar bisa berpikir jernih lagi," jawab Alisha sambil tersenyum.
Karena mobil Dikta telah menepi, Alisha segera turun dari mobil itu, tak lupa ia mengajak Dikta. "Kak, ikut nggak?" tanya Alisha.
"Ikut dong," jawab Dikta. Dikta pun segera keluar dari mobilnya. Alisha dan Dikta berjalan bersama menuju warteg didepan mereka.
"Bu, saya pesan satu porsi ya. Kamu makan nggak, Kak?" tanya Alisha kepada Dikta.
"Aku sudah makan, aku pesen es jeruk ajalah," jawab Dikta.
Beberapa saat kemudian, pesanan Alisha dan Dikta telah disajikan di meja mereka. Alisha pun segera memakan makanannya, tentunya ia sudah berdo'a terlebih dahulu tadi.
Dikta menikmati es jeruknya sambil menatap wajah cantik Alisha, Dikta seakan tak mau mengalihkan pandangannya itu. Dikta membayangkan dirinya yang sudah sah menjadi suami Alisha.
"Kak, nggak boleh lihat lawan jenis secara berlebihan begitu, dosa!" jelas Alisha.
"Maaf ya Sha, khilaf. Makanya itu, aku pengen cepat nikah sama kamu. Jujur Sha, aku suka sama kamu." Dikta mengungkapkan perasaannya kepada Alisha.
"Kak, kita kan baru kenal, kenapa buru-buru bicara soal cinta? Kakak cari tahu dulu, yang kakak rasakan adalah rasa kagum atau rasa cinta antar pria dan wanita dewasa," ucap Alisha dengan santai.
"Aku sudah memastikan, Sha. Perasaan ini adalah perasaan cinta antar pria dan wanita dewasa. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu, Sha," ucap Dikta sungguh-sungguh.
"Besok kita bahas lagi ya, Kak. Ini makananku sudah habis, aku akan bayar dulu." Alisha beranjak dari tempat duduknya.
Apa Alisha tidak menyukaiku juga? Apa sudah ada orang dihatinya? batin Dikta.
Ah, aku harus memperjuangkan cintaku, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku Alisha, akan ku buat kau bersedia menikah denganku, batin Dikta lagi.
Setelah beberapa saat, Alisha kembali menghampiri Dikta. "Kak Dikta sudah selesai belim, minum es jeruknya? Kalau belum selesai, kakak habiskan saja dulu, aku akan memesan ojek online lalu pulang." Alisha mengeluarkan ponselnya, berniat memesan ojek online.
"Aku sudah selesai, aku bayar dulu ya," ujar Dikta.
"Sudah aku bayar kok, Kak," kata Alisha.
"Benarkah? Terima kasih ya. Ya sudah yuk aku antarkan kamu pulang." Dikta berjalan menuju mobilnya.
"Baik, Kak. Maaf merepotkan." Alisha mengikuti Dikta dibelakang.
"Silahkan masuk." Dikta membukakan pintu untuk Alisha.
"Terima kasih," ucap Alisha.
"Sama-sama," respon Dikta. Dikta segera masuk ke kursi depan, Dikta segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya.
Didalam mobil. Dikta memulai percakapan. "Sha, apa kamu ijin hari ini?" tanya Dikta.
"Iya, Kak. Aku ijin satu hari ini saja, besok pagi aku akan bekerja lagi," jawab Alisha.
"Sha, kamu kalau ada apa-apa cerita ke aku ya. Aku bakal berusaha membantu kamu," pinta Dikta.
"Iya, Kak terima kasih sudah baik sama aku," respon Alisha.
"Iya." Dikta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
*
*
*
Kini, Alisha telah berdiri di depan kontrakannya. "Terima kasih ya Kak, aku masuk dulu, pengen cepat istirahat. Maaf ya, bukan bermaksud mengusir." Alisha menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Iya, santai saja. Aku pulang ya, wassalamu'alaikum." Dikta masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
"Wa'alaikum salam." Alisha membalikkan badannya. Alisha segera masuk kedalam kontrakannya.
Alisha membersihkan diri dikamar mandi. Dan setelah itu, Alisha langsung menjatuhkan dirinya diatas tempat tidurnya. Alisha benar-benar lelah batinnya, menghadapi konflik yang bersangkutan dengan keluarganya sendiri. Ya, keluarga dekat Alisha hanya tinggal pamannya, Alisha pun menganggap keluarga pamannya adalah keluarganya sendiri.
Salut ama sikap Alisha
Perjuangan Ucup mampir