Bagaimana jadinya jika kedua orang yang memiliki sikap yang bertolak belakang mejalani kehidupan dalam sebuah ikatan pernikahan?
Dewa pria sederhana yang ingin meraih asa si Universitas internasional dengan bermodalkan bea siswa. Bertekad menjadi siswa terbaik, justru mengantarkannya ke jurang kehancuran hingga harus menikah dengan Zoya. Wanita pembuat masalah yang ternyata memiliki kehidupan penuh luka.
Zoya di benci oleh Ayahnya sendiri karena di anggap sebagai pembunuh sang ibu. Kurangnya kasih sayang dan perhatian membuat Zoya menjadi anak yang sangat nakal.
Sampai ia di jebak oleh Kakaknya sendiri hingga menikah dengan Dewa untuk balas dendam.
Bagaimana kisahnya? langsung baca ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap.
"Apa yang Ayahnya lakukan sampai membuat dia ketakutan seperti ini" batin Dewa mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Zoya.
Dewa mencoba memegang tubuh Zoya dan ia kaget saat melihat tubuh wanita itu gemetaran, ia semakin kaget saat melihat wajah Zoya yang pucat pasi, keringat dingin tampak membasahi wajahnya.
"Hei, Bangun..Ini..aku" ucap Dewa kembali menepuk pipi Zoya.
Zoya masih terus merancau dengan mata terpejam. Dewa yang merasa Zoya masih ketakutan mencoba menenangkan wanita itu dengan memberi pelukannya. Zoya yang tidak sadar pun langsung membalasnya erat.
"Jangan tinggalkan aku...jangan tinggalkan aku" rancau Zoya dengan suara serak karena menangis.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" entah kenapa Dewa malah menjawab seperti itu.
Dewa masih memeluk tubuh Zoya sampai perlahan tubuh itu tak lagi gemetar. Dewa bisa merasakan hembusan nafas halus Zoya menerpa lehernya. Ia mencoba melihat Zoya yang masih memejamkan matanya.
"Dia ini tidur atau pingsan?" batin Dewa menatap wajah Zoya di remangnya cahaya ponsel.
Tangan Dewa terulur untuk menyibakkan rambut Zoya lalu mengelus pipi Zoya dengan lembut. Saat melakukan itu tak sengaja jari jempolnya menyentuh bibir Zoya yang terbuka seolah menggoda Dewa untuk me ***** bibir itu.
Tapi Dewa menahan diri dan mengalihkan pandangannya. Tapi rasanya terlalu menggoda untuk di sia-siakan. Dewa segera menyambar bibir tipis itu, me lumatnya perlahan. Dewa kaget saat Zoya membalas ciumannya, sepertinya wanita itu tak sadar.
Ciuman wanita itu sungguh buruk sekali, tapi tak bisa Dewa pungkiri kalau dia menikmatinya. Merasakan kenyal dan manisnya bibir Zoya yang pernah ia rasakan. Entah setan apa yang merasuki Dewa hingga ia memperdalam ciumannya membuat Zoya mengerang.
Mendengar erangan itu, Dewa seketika sadar dan melepaskan ciumannya. Dilihatnya bibir Zoya yang sudah membengkak karena ulahnya.
"Maafkan aku" bisik Dewa merasa bersalah karena mencari kesempatan.
Dewa lalu melihat ponselnya yang menunjukkan pukul 12 malam. Ia harus secepatnya keluar dari sini. Dewa merebahkan Zoya di lantai sebelum melihat keadaan di luar. Saat ia rasa aman, Dewa kembali menemui Zoya dan menggendong tubuh wanita itu lalu membawanya keluar.
Dewa sempat kebingungan ingin membawa Zoya kemana, rasanya tak mungkin kalau ia membawanya ke rumah. Apa kata tetangganya nanti. Setelah cukup lama berpikir, Dewa langsung membawa Zoya ke penginapan terdekat.
Ia menaikkan Zoya ke boncengan motornya dan mengikat wanita itu menggunakan jaketnya agar tidak terjatuh. Dewa juga memegang tangan Zoya supaya lebih aman. Sesampainya di penginapan, ia sedikit ragu untuk masuk. Tapi tak ada pilihan lain.
Dengan membuang rasa malunya, Dewa memapah tubuh Zoya dan memesan kamar.
"Room 21" kata Resepsionis itu sepertinya sudah biasa melihat pasangan muda yang akan menginap disana.
"Terima kasih" kata Dewa menerima kunci itu lalu segera membawa Zoya kesana.
Penginapan itu bukan penginapan mewah, hanya penginapan kecil yang hanya di lengkapi seperangkat kasur yang cukup empuk dan satu kipas angin. Dewa merebahkan Zoya di kasur dan ia langsung ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Zoya.
Keringat tampak menghiasi wajahnya, ia cukup lelah setelah membawa Zoya kemari. Apalagi di dalam itu sangat panas membuat Dewa tak betah dan membuka bajunya.
"Sial!" makinya kesal sendiri karena kipas anginnya juga tak menyala.
Dewa tak mau memikirkannya, ia langsung tidur karena ia juga merasa mengantuk dan tak ada memungkinkan untuk pulang karena terlalu larut.
******
Keesokan harinya Dewa terbangun saat merasakan tamparan keras di pipinya. Ia sangat kaget dan langsung membuka matanya.
"Kau ini apa-apaan!!" Bentak Dewa geram saat melihat Zoya yang ternyata sudah menamparnya.
"Kau yang apa-apaan!!! Dasar pria brengsek! Apa yang sudah kau lakukan!" Bentak Zoya tak kalah emosinya karena ia juga kaget saat bangun tidur berada dalam pelukan Dewa dan di kamar yang sama.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Dewa mengerutkan dahinya saat melihat Zoya yang begitu emosi.
"Nggak usah pura-pura bego! Setelah mendapatkan semuanya kau seenaknya melupakan begitu saja. Kau harus tanggung jawab!" kata Zoya melemparkan bantal ke arah Dewa.
"Hahaha....Kau menyuruhku bertanggung jawab? Kau pikir aku sudah memperkosa mu" kata Dewa tertawa karena menurutnya Zoya begitu konyol.
"Lalu apa namanya kalau bukan itu, Kau mengajakku ke kamar dan kenapa kau tidak pakai baju" kata Zoya semakin sebal di tertawakan.
"Hei....Hanya karena aku tidak memakai baju bukan berarti aku memperkosa dirimu. Lagipula apa kau tidak tau bedanya setelah di perkosa dan belum. Dasar wanita aneh" kata Dewa mengambil bajunya dan memakainya.
"Nggak ada maling yang akan ngaku" kata Zoya menyipitkan matanya.
"Ya memang, Aku juga tidak merasa melakukan hal itu. Aku sama sekali tak berselera, Badanmu terlalu gemuk dan dadamu rata" kata Dewa asal saja.
Mata Zoya membesar mendengar ucapan Dewa, Tanpa sadar ia melihat dada nya.
"Besar kok" ucap Zoya dalam batinnya, tapi eh...
"Kurang ajar! Beraninya kau mengataiku" kata Zoya begitu kesal, ia langsung memukuli dada Dewa untuk melampiaskan kekesalannya.
"Hentikan! Kenapa kau memukuliku, aku mengatakan kenyataan" kata Dewa menghalau pukulan itu.
"Rasakan ini! Rasakan" Zoya tak perduli dengan ucapan pria itu, ia terus saja memukuli Dewa.
Dewa langsung menangkap tangan Zoya dan menariknya hingga tubuh Zoya menabrak dadanya. Keduanya saling pandang...
Satu detik..
Dua detik...
Tiga detik....
Zoya mengerjabkan matanya berkali-kali untuk keluar dari perangkap mata Dewa yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Lepaskan tanganmu" kata Zoya membuat Dewa tersadar.
"Kau itu harusnya berterima kasih padaku karena aku sudah membawa mu pergi dari tempat itu, bukan malah memukuliku seperti ini" kata Dewa mengalihkan pandangannya, ia juga merasa ada yang aneh saat berdekatan dengan Zoya.
"Apa kau yakin tidak melakukan apapun padaku?" tanya Zoya masih tak percaya rasanya jika seorang pria akan menolongnya dengan tulus.
"Sudah aku katakan, aku tak berselera dengan mu" kata Dewa melirik Zoya dengan malas.
Zoya mengerucutkan bibirnya, apakah memang tak semenarik itu tubuhnya sampai Dewa berkata seperti itu. Ia melirik Dewa yang duduk di ranjang, tiba-tiba ia tersenyum usil. Perlahan ia mendekat dan mendudukkan tubuhnya di pangkuan Dewa yang tampak terkaget-kaget.
"Zoya! Apa yang kau lakukan?" kata Dewa terbata karena ada bagian dirinya yang bangun saat Zoya duduk di pangkuannya.
"Apakah memang kau tidak tergoda denganku?" kata Zoya mengulas senyum mautnya membuat Dewa terdiam.
"Menyingkirlah, Atau kau akan menyesal" kata Dewa menahan dirinya. Siapa sih yang tahan jika ada wanita cantik seperti Zoya melemparkan senyum yang bisa membuat Dewa hilang akal rasanya.
Happy Reading.
Tbc.