Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi hari yang cerah, matahari sudah bertengger diatas ubun-ubun menampakkan cahaya yang menyilaukan mata.
Sepasang pengantin yang baru saja menyelesaikan malam pertama yang hangat dan penuh gairah tampak tidak terganggu dengan sorot indahnya cahaya matahari. Mereka masih bergelut didalam selimut yang sama dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
Humaira membuka matanya perlahan sedikit menyipit karena cahaya matahari yang menembus retina matanya.
Senyum malu-malu tampak diwajah Humaira saat mengingat kembali malam pertamanya, Humaira tidak menyangka kalau Sameer akan menyentuhnya.
Dipandanginya wajah Sameer yang masih terlelap. Perlahan tangan Humaira menelusuri wajah Sameer, mulai dari kedua alis Sameer, hidung mancung serta rahang tegas milik Sameer. Humaira membelainya lembut, membuat si empunya wajah tampak menggeliat kecil mengeratkan pelukannya dipinggang Humaira.
"Kak, bangun yuk udah siang ini" Humaira menepuk pelan lengan Sameer
"Sebentar lagi lima menit" tolak Sameer masih asik bergelung didekat tubuh polos Humaira.
"Humaira mau mandi kak" Humaira mencoba melepaskan pelukan Sameer tapi Sameer malah semakin mempererat pelukannya.
"Sebentar saja Humaira" ujar Sameer dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Humaira hanya bisa pasrah membiarkan Sameer terus memeluknya yang enggan melepaskan tubuhnya.
Lima menit sudah berlalu tapi tidak ada tanda Sameer ingin melepaskan tubuh Humaira dari pelukannya. Tanpa banyak bicara Humaira melepas pelukan Sameer secara perlahan agar Sameer tidak terbangun dari tidur lelapnya.
Setelah berhasil terbebas dari Sameer, Humaira langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Humaira keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan baju gamis dan rambut basahnya yang terurai.
"Kakak udah bangun?" tanya Humaira. Sameer menyandarkan tubuhnya di ranjang, matanya masih sayu terkantuk-kantuk.
"He'em..."Sameer mengangguk malas.
"Mandi dulu kak biar seger, tadi Humaira juga udah pesen makanan buat diantar kemari" kata Humaira sambil menyisir rambut panjangnya.
Sameer berjalan mendekati Humaira yang berdiri didepan cermin. Sameer melingkarkan tangannya memeluk Humaira, kepalanya bertumpu dipundak Humaira sambil sesekali menciumi tengkuk Humaira. Membuat Humaira tidak bisa menahan geli akan perbuatan Sameer.
"Terima kasih ya" ucap Sameer tulus
"Terima kasih untuk apa kak?" tanya Humaira membalik badannya menatap Sameer.
"Sudah mau memberikan harta berharga mu untuk kakak, walaupun kamu tau bagaimana perasaan kakak terhadap mu" ujar Sameer menangkup wajah Humaira. Sekilas ada rasa bersalah dari pancaran mata Sameer setiap mengingat pergulatan panas mereka semalam.
"Walaupun kakak belum mencintai Humaira, kakak bersikap baik dengan Humaira itu sudah cukup bagi Humaira. Dan untuk semalam kakak tidak perlu berterima kasih karena bagaimana pun itu sudah menjadi kewajiban Humaira melayani kakak" kata Humaira bijak menampilkan senyuman termanisnya untuk sang suami yang amat ia cintai.
Walaupun ada setitik rasa nyeri dihati, saat Sameer mengatakan kalau Sameer belum bisa mencintainya. Tapi Humaira mencoba berlapang dada, lambat laun cinta Sameer pasti akan segera terpaut untuknya.
Drtt....drtt....
Humaira melihat ponsel Sameer di atas nakas yang berdering, tertera nama Umi Iza dilayar ponsel itu sedangkan Sameer masih berada dikamar mandi.
"Kak ini ada telpon dari Umi" teriak Humaira dari luar
"Angkat saja, kakak masih mandi" balas Sameer
"Baiklah" Humaira mengangkat telpon dari Umi Iza.
"Assalamualaikum Umi" salam Humaira sembari berjalan kearah balkon kamar hotel
"Wa'alaikumsalam sayang , Sameer mana?" tanya Umi Iza
"Kak Sameer sedang mandi Umii"
"Ya sudah kalau begitu, begini sayang Umi dan Abi hari ini akan langsung pulang ke Bandung"
"Kenapa cepat sekali Umi? Apa tidak mau berlibur lagi disini?"
"Abi ada pekerjaan sayang, jadi kita akan pulang hari ini"
"Ya sudah nanti setelah kami sarapan, kami akan check out untuk mengantar Umi dan Abi ke bandara"
"Terima kasih sayang, Umi akan di antar Elmir. Kamu tidak perlu mengantar, nikmati saja waktu kalian berdua disini. Dan cepat bikin cucu untuk para orang tua ini" goda Umi Iza
Wajah Humaira langsung memerah mendengar perkataan Umi Iza yang sukses membuatnya tersipu malu.
"Bagaimana malam pertamanya sakit tidak?" goda Umi Iza diseberang telpon, semakin membuat Humaira tersipu malu bahkan wajahnya sudah memerah layaknya tomat.
"Umi..." rengek Humaira.. "Kenapa Umi bicara seperti itu? Humaira kan malu"
"Hahahahahaha....."Umi Iza terkekeh kecil berhasil menggoda Humaira, Umi Iza yakin pasti gadis itu sekarang amat sangat malu dengan pertanyaannya yang terdengar sedikit frontal untuk seseorang yang baru saja menikah.
"Ya sudah..ya sudah Umi dan Abi pamit dulu ya sayang, kamu dan Sameer hati-hati dan jangan lupa setelah ini bikin cucu lagi"
"Umi...berhenti menggoda Humaira" rengek Humaira manja.
"Ya sudah Assalamualaikum sayang"
"Wa'alaikumsalam Umi"
Humaira masih dengan senyumannya berbalik masuk menghampiri Sameer yang ternyata sudah menyelesaikan acara mandinya, bahkan Sameer sudah terlihat rapi dengan baju yang Humaira siapkan.
"Kenapa wajah mu merah seperti itu? Apa kamu sakit?" tanya Sameer berjalan mendekati Humaira mengelus wajah Humaira lembut
"Ti..tidak kak" Humaira gugup
"Apa ini karena Umi? Apa yang Umi bicarakan sampai wajah mu merah seperti ini? Tomat aja kalah" tanya Sameer masih tetap menggoda Humaira
"Kakak..." Humaira memukul lengan Sameer pelan
"Arrgghh.. Sakit" adu Sameer memeluk lengannya.
"Kakak berlebihan, gitu aja sakit. Masa laki-laki dipukul seperti itu saja kesakitan. Kakak laki-laki bukan sih" cebik Humaira melipat tangannya di dada.
"Sayang...kamu yang paling tau kakak ini laki-laki atau bukan? Kamu sudah merasakannya sendiri bukan? Apa mau mencoba lagi?" goda Sameer tersenyum jahil
"Kakak ini apa-apaan sih" Humaira menahan malu mendengar ucapan Sameer.
Perkataannya tadi sudah seperti jebakan bagi dirinya, Humaira merutuki kebodohannya sendiri.
"Tuh tomatnya muncul" ledek Sameer tertawa senang berhasil menggoda Humaira.
Sejak dulu bagi Sameer menggoda Humaira adalah hal menyenangkan untuknya, karena sesuai dengan arti nama Humaira yang kemerah-merahan. Wajah Humaira cepat sekali memerah saat tersenyum apalagi saat digoda seperti yang sering kali ia lakukan.
"Sudah Humaira mau makan" Humaira mengerucutkan bibirnya meninggalkan Sameer. Sameer menggelengkan kepalanya gemas.
"Sayang.."teriak Sameer menghampiri Humaira yang akan membuka pintu kamar hotelnya. Dimana sang pelayan hotel telah datang mengantarkan makanan mereka.
"Apa sih kak tidak usah berteriak?"
"Sayang, lihatlah kamu tidak memakai jilbab dan cadar mu. Kamu mau wajah jelek mu ini dilihat orang. Apa kamu tidak malu?"
"Ck..terus saja mengatakan aku jelek" cebik Humaira sebal berbalik menuju sofa, mendudukan diri disana membiarkan Sameer yang membuka pintu.
Seluruh makanan sudah terhidang diatas meja, Humaira dan Sameer menyantap sarapan pagi yang sesekali diselingi canda tawa, lebih tepatnya Sameer yang tidak pernah berhenti untuk terus menggoda Humaira membuat gadis itu sebal sekaligus senang.
***
"Sayang.. Kita nabung lagi yuk" kata Sameer berbaring dipangkuan Humaira.
"Menabung?" Humaira mengangkat sebelah alisnya tidak paham maksud Sameer sembari tangannya yang terus mengelus lembut kepala Sameer, menciptakan rasa nyaman bagi Sameer yang merasakan belaian lembut tangan Humaira.
"Iya menabung, menabung anak"
"Ish...kakak ini, kirain menabung apa" Humaira hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Sameer.
"Mau ya..mau ya"
Humaira mengangguk malu menyetujui permintaan Sameer. Tanpa berpikir panjang, Sameer langsung menggendong Humaira ala bridal style menunju keranjang. Melakukan aktivitas sepasang suami istri.
Sameer merasa tubuh Humaira sudah seperti ekstasi yang memabukkan, bagai candu yang terus saja ingin Sameer nikmati.
***