Aku nyaman berada di samping nya, Cinta nya yang begitu sangat tulus dan kedewasaan nya membuat diriku sangat nyaman berada di samping nya.
Dia sangat setia pada Negara dan kekasih hatinya Aku, hanya satu ungkapan untuk ku yaitu Kamu telah memilih ku, Aku milik Negara tak hanya milikmu kamu harus siap menerima suatu saat nanti hanya nama dalam kenangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Tidak Akan Pernah Memisahkan Kita
" Permisi Saya pamit." Tasya beranjak dari duduknya namun Dika menahan tangan Tasya dan memegang erat pergelangan tangan nya.
" Mas mohon jangan pergi, kita sama - sama meminta restu dari kedua orang tua mas walau kita sampai bersujud. " Pinta Dika dengan erat memegang tangan Tasya.
" Aku orang miskin mas, Aku memang tidak punya apa - apa tapi disini Aku masih punya harga diri."
" Nggak, Mas akan tetap menikahi kamu."
" Selesai kan dulu masalah dengan kedua orang tua Mas, tanpa restu dari mereka pernikahan kita tidak berkah." Tasya melepaskan tangan Dika dan berjalan menuju pintu keluar air mata pun tumpah juga saat melewati pintu depan rumah keluarga Anggara.
" Lihat, sudah dua kali kalian menghalangi kebahagiaan Dika." Dika pun beranjak dari duduknya mengejar Tasya yang pergi begitu saja.
" Lihat tuh mah, anak punya pangkat masa mau nikahi anak di bawah umur sudah dari keluarga biasa - biasa saja lagi." Ucap Pak Rudi.
" Mamah juga nggak setuju."
" Mamah Papah kenapa sih selalu mengatur jodoh buat Kak Dika." Ucap Risa.
" Sudah jangan ikut campur." Tegur Ibu Risa.
*****
Tasya berjalan entah kemana tak tahu arah, dengan berlinang air mata masih terngiang ucapan yang di katakan oleh kedua orang tua Dika.
Hiks... hiks... hiks...
" Apa hubungan Aku sama Mas Dika bakalan berakhir ya Allah."
Hiks.. hiks.. hiks...
" Aku sangat mencintainya Ya Allah, sangat mencintainya."
Hiks.. hiks.. hiks...
Tasya terus berjalan hingga turun lah hujan mengguyur tubuh nya, langkah nya terhalang karena pandangan mata yang terkena siraman air hujan yang sangat deras.
Sebuah mobil menyorotkan lampunya tepat di belakang Tasya, Dika pun lalu turun menarik Tasya ke dalam dekapan nya saat tahu gadis yang di cintainya rapuh.
Hiks... hiks.. hiks...
" Apa kita tidak bisa bersatu mas, apa Mas akan meninggalkan Aku."
Hiks.. hiks.. hiks...
Tasya menangis di dalam pelukan Dika di bawah air hujan yang mengguyur mereka berdua.
" Mas nggak akan tinggal kan kamu sayang, karena Mas sudah memilih kamu." Ucap Dika dengan memeluk Tasya sangat erat.
" Kita masuk ke mobil." Ajak Dika dan di anggukan oleh Tasya.
Dika mengeringkan rambut Tasya yang basah dengan handuk yang dia ambil dari dalam tas Ranselnya.
" Maaf kan kedua orang tua Mas." Dika menangkup kedua pipi Tasya.
" Tasya tidak pernah marah sama kedua orang tua Mas, yang Aku takutkan kita tidak bisa bersatu." Ucap Tasya sembari memegang pergelangan tangan Dika.
" Kita cari penginapan dulu, nggak mungkin ke rumah sakit keadaan seperti ini." Ucap Dika.
" Ibu bagaimana? "
" Ada perawat sayang, nanti Mas kabari Om Hendro untuk memberitahu pada perawat yang jaga ibu."
" Ya udah Mas."
Dika pun melajukan mobil nya, dengan kecepatan sedang mencari sebuah penginapan yang dekat dengan rumah sakit.
****
" Mas Kamar nya cuman satu." Ucap Tasya saat melihat kamar yang di tempati nya tidak ada lagi dan hanya ada satu tempat tidur.
" Iya, terus kita cari kemana lagi ini sudah malam dan yang dekat dengan rumah sakit hanya ini."
" Ya udah nggak apa - apa, Tasya ganti baju dulu."
Dika pun mengangguk kan kepala nya, dan saat itu Dika memeriksa ponselnya banyak pesan masuk dan telepon dari Mamah nya yang berisi ancaman.
Mamah
Dika, pulang kamu sekarang?
Mamah
Awas saja kamu kalau membantah, dan tetap menikahi anak kecil itu.
Masih banyak lagi chat dari Ibu Inggrid, Dika melempar kan ponselnya ke sembarang arah.
Saat itu Tasya keluar dari kamar mandi dan menggunakan kaos longgar serta celana pendek dengan rambut yang basah.
Saat Tasya akan menyisir rambut nya di depan cermin Dika menarik tubuh Tasya ke dalam pelukan nya, dan mencium pucuk kepala Tasya yang wangi shampoo.
" Mas.. lepasin dulu Tasya mau menyisir rambut." Ucap Tasya namun pelukan Dika semakin sangat erat.
" Jangan tinggalin Mas, tetaplah seperti ini."
Tasya pun mengeratkan pelukan nya, dengan menelusup kan wajah nya ke dada Dika. Lalu Dika mengangkat dagu Tasya dan mendekatkan wajah nya dan mencium lembut bibir Tasya, namun ciuman nya lama - lama semakin menuntut dan Tasya pun membalas semua yang di lakukan Dika.
Ciuman yang tak hanya di bibir, Dika menciumi setiap celah dan tangan yang bertamasya ke semua celah, mereka berdua pun terbuai dengan malam yang dingin di serasa terbang di atas awan.
******
" Maaf kan Mas tadi malam? " Ucap Dika saat berada di dalam mobil saat terparkir di depan rumah sakit.
Tasya hanya diam sembari meremas ujung baju nya, dan menunduk saat masih teringat kejadian antara mereka berdua di penginapan.
Entah mau bilang apa, malam itu Tasya hanya diam dan pasrah seakan menerima Perlakuan Dika pada nya.
" Maaf, mas salah." Ucap Dika sembari memegang tangan Tasya.
" Mas janji kan nikahi Tasya."
" Mas Janji akan nikahi Kamu."
***
" Ibu maaf Tasya tadi malam menginap di luar karena mau kesini hujan deras banget. " Ucap Tasya.
" Ya nggak apa - apa nak, perawat sudah kasih kabar pada ibu." Ucap Ibu Wati.
" Kapan ibu di operasi?" Tanya Tasya.
" Besok katanya nak, terima kasih nak Dika." Ucap Ibu Wati.
" sama - sama bu, semoga operasi sekarang lancar ya bu." Ucap Dika.
" Amin.. terima kasih."
" Itu kan Dika, siapa wanita tua dan gadis itu dan sedang apa mereka di rumah sakit ini?
Lalu dia pun beranjak pergi dan menuju ke bagian pendaftaran pasien.
*****
" Jadi mereka datang kesini sekalian berobat dan operasi? " Ucap Ibu Inggrid.
" Iya mba, Saya cari tahu dari bagian pendaftaran besok mereka akan mengoperasi Ibu dari wanita itu." Ucap Lita adik ipar Ibu Inggrid.
" Enak banget mereka memanfaatkan anak saya."
" Tante apakah Dika akan menikah dengan anak kecil itu? "
" Nggak sayang kamu tenang saja, Dika akan menikah dengan kamu."
******
Saat sedang berada di rumah sakit Dika mendapat panggilan dari markas, dan mengharuskan dia itu segera bergabung.
" Siap saya akan pulang sekarang."
Dika pun mematikan ponselnya, lalu menuju ke arah Tasya yang sedang menemani Ibu Wati.
" Sayang,maaf Mas ada tugas mendadak dan seminggu lagi Mas akan kembali nggak apa - apa kan Mas tinggal."
" Nggak apa - apa Mas, pergilah ini sudah tugas nya Mas nggak apa - apa Aku temani Ibu sendirian."
" Ya sudah ini ATM buat pegangan, pin nya tanggal jadian kita pake yang kamu pelukan ." Ucap Dika sembari menyerahkan ATM nya.
" Tapi Mas nggak usah." Tasya berusaha menolak.
" Tolong terima, untuk rumah sakit sudah beres semua."
" Makasih mas."
" Sama - sama, mas akan kabari kamu kalau tugas mas sudah selesai."
Dika pun lalu keluar dari kamar rawat Ibu Wati dan kembali ke Batalyon untuk memenuhi tugas nya sebagai seorang Abdi Negara.
" Mas Dika...!!! "