"Ayo kita menikah."Ucap seorang pria bertubuh tegap dan tampan. Dia adalah seseorang yang tidak sengaja telah tidur bersamaku di malam itu.
Aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja dengannya. Aku mana mungkin bisa menikahinya!
Tapi bagaimana dengan nasib anak yang ada di dalam kandunganku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEMINIE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Si Bos
Keesokan paginya, Daisy terbangun dan sudah merasakan dirinya terbaring di atas tempat tidur. Dia merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya. Dia mengambil benda itu yang merupakan kompres penurun demam.
"Oh, kau sudah bangun Daisy! Bagaimana keadaanmu? Sudah agak lebih baik?"Tanya Lily yang kebetulan masuk ke dalam kamar sambil membawakan semangkuk bubur.
"Oh...aku sudah sedikit lebih baik. Apa kau yang memindahkan aku kemari? Pasti berat sekali ya?"Tanya Daisy.
"Tidak apa-apa. Kau bahkan jauh lebih kurusan. Aku marah padamu karena kau tidak mendengar ucapanku. Kalau kau benar-benar ingin anakmu tumbuh sehat, kau seharusnya menjaga kondisi tubuhmu, tahu!"Ucap Lily mulai ceramah.
"Haha, maaf Lily. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi jika aku tidak bekerja aku tidak akan dapat uang."Ucap Daisy.
"Cuti satu hari saja tidak masalah! Kau belum sembuh total. Tenang saja, aku sudah membuat surat izin untukmu."Ucap Lily.
"Apa? Tapi..."
"Kenapa? Apa kau mau membuatku repot lagi karena sakitmu?"Tanya Lily balik yang membuat Daisy langsung bungkam.
"Maaf....lagi-lagi aku harus merepotkanmu."Ucap Daisy jadi murung.
Lily sempat menghela napasnya dan dia tidak tega ketika melihat raut wajah sahabatnya yang terlihat sedih.
"Sudahlah tidak apa-apa. Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Sekarang makanlah buburnya selagi panas."Ucap Lily kemudian menyodorkan semangkuk bubur itu kepada Daisy.
"Baik. Terima kasih Lily!"
Lily terus memerhatikan Daisy yang menghabiskan bubur dengan lambat. Sejujurnya Daisy tidak begitu berselera makan, tetapi dia tidak mau membuat Lily marah. Akhirnya dia berhasil menghabiskan bubur itu.
"Kau harus jelaskan kejadian tadi malam."Ucap Lily sambil melipat kedua tangannya.
Daisy terdiam sejenak.
"Selama aku bekerja disana, para karyawan semuanya menganggapku musuh. Mereka mengira jika aku mencari perhatian ke bos. Semalam aku merasa kurang fit dan mereka...menyuruhku melakukan banyak pekerjaan tidak seperti hari biasanya. Kurasa mereka ingin balas dendam."Ucap Daisy.
"Apa? Wah, kurang ajar sekali mereka! Kau harus mengadukan hal ini kepada Bosmu!"Ucap Lily.
"Aku tidak mau melakukannya....mereka pasti akan dipecat dan semakin membenciku.."
"Haa....mereka kan memang sudah membencimu. Bahkan tadi malam saja mereka mau mencelakaimu kan? Jangan terlalu baik Daisy. Kau sudah menjalani kehidupan yang begitu berat. Setidaknya untuk hal ini pikirkan dirimu sendiri."Ucap Lily.
Lily yang paling tahu bagaimana tentang Daisy. Mereka sudah berteman selama bertahun-tahun lamanya. Daisy hanyalah seorang anak adopsi yang dibuang orang tua kandungnya. Orang tua adopsinya sudah meninggal karena sudah terlalu tua.
*****
"Daisy, tolong jaga rumah ya! Kau harus memperbanyak istirahat. Makanannya sudah kuletakkan di atas meja."Ucap Lily. Dia hendak bersiap-siap ke kampus untuk mengajar.
"Baik Lily. Kau juga berhati-hati. Jangan ngebut-ngebut!"Ucap Daisy.
Lily mengangguk dan dia pun mulai menghidupkan mesin motornya untuk berangkat.
Tiba-tiba ada mobil mewah berwarna putih berjalan menghampiri depan rumah mereka dan mengklaksonnya. Kedua gadis yang masih berada di luar pintu rumah hanya berdiri kebingungan.
"Itu siapa Lily?"Tanya Daisy.
"Aku juga tidak tahu."Jawab Lily sambil mengangkat bahu.
Mobil itu berhenti dan seseorang mulai membuka pintu memperlihatkan sosoknya. Daisy membulatkan matanya tidak percaya jika yang mengunjungi rumah mereka adalah bosnya si Aiden.
Tuan Aiden? Mau apa dia datang kemari?
"Halo, selamat pagi."Sapa Aiden ramah.
"Pagi....anda bosnya Daisy kan?"Tanya Lily mengingat rupa pria itu.
"Iya benar. Aneh ya aku berkunjung pagi-pagi sekali? Hehe..."Ucap Aiden sambil nyengir.
Aneh banget tahu!
"Aku kemari hanya untuk mengecek keadaan Daisy. Katanya kau sakit sampai harus mengirim surat izin?"Tanya Aiden.
"Itu benar Tuan. Saat ini Daisy harus istirahat."Lily yang menjawab.
"Oh begitu. Ya sudah tak apa. Dia memang sudah bekerja dengan keras."Ucap Aiden.
"Kalau begitu Daisy, bisa aku tinggal kan? Aku harus segera mengajar di kampus."Tanya Lily.
"Iya Lily, pergilah..."Ucap Daisy.
"Kau jangan macam-macam dengannya, camkan itu!"Ancam Lily dengan mata tajam.
Aiden sempat menelan salivanya merasa sedikit takut dengan wanita berambut sebahu itu.
"Tenang saja. Aku tidak mungkin berbuat jahat. Aku ini bos yang baik dan jujur!"Ucap Aiden sambil mengangkat kedua tangannya.
Lily tidak membalas dan hanya menatapnya dengan sinis. Dia pun segera menghidupkan mesin motornya kemudian pergi.
"Jadi....bagaimana kondisimu sekarang?"Tanya Aiden.
"Ah, saya sudah jauh lebih baik, Tuan. Ayo silahkan masuk dulu."Ucap Daisy.
Aiden menurut dan dia berjalan masuk ke dalam rumah mengekori Daisy.
"Silahkan duduk di sana. saya akan menyiapkan minuman untuk anda."Ucap Daisy.
"Tidak, tidak perlu. Aku hanya sebentar saja disini untuk mengecek keadaanmu. Syukurlah jika kau sudah baik-baik saja."Ucap Aiden.
"Iya, maaf jika saya membuat anda...khawatir."
"Tidak apa. Ayo duduk sebentar denganku. Ada hal lain yang perlu kita bicarakan."Ucap Aiden tiba-tiba serius.
Daisy pun menghela napasnya merasa firasatnya kurang bagus.
"Apa itu Tuan?"Tanya Daisy.
"Tadi malam aku memeriksa CCTV seperti biasa. Dan aku tidak mengira kejadian tidak terduga akan muncul di rekaman itu. Kenapa selama ini kau diam saja jika mereka mengganggumu?"Tanya Aiden yang membuat Daisy kaget.
"Anda...sudah melihatnya?"Tanya Daisy tidak percaya.
"Tentu saja. Apa kau lupa kalau kafe kita memiliki CCTV? Kenapa mereka mengganggumu?"Tanya Aiden.
Daisy terdiam sejenak. Dia lagi-lagi memegang pundaknya karena itu memang kebiasaannya saat dia merasa bingung atau gelisah.
"Maaf Tuan Aiden. Saya tidak bermaksud untuk mencari perhatian kepada Anda. Mereka berbuat seperti itu karena mengira saya mencari perhatian kepada Anda."Ucap Daisy.
Aiden terkejut dengan jawaban yang di dengarnya.
Beberapa menit kemudian Aiden hendak pergi untuk kembali. Daisy merasa cukup gelisah karena dia takut jika Aiden benaran akan memecat para karyawannya.
Sementara di kota lain, saat ini Nathan sedang tidak begitu fokus dengan pekerjaannya. Hampir sepanjang hari dia terus mengingat Daisy dan merindukan sosoknya.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku seperti mau gila rasanya...
Tok, tok, tok...tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan lamunan Nathan. Ternyata sekretaris Rio yang muncul.
"Tuan, itu....nona Amber memaksa untuk datang kemari."Ucap Rio sedikit takut.
"Apa? Ngapain dia kesini?"Tanya Nathan langsung moodnya semakin memburuk.
"Itu....dia-"
BRAK! Seseorang mendorong pintu begitu saja yang memunculkan sosoknya. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan pakaian seksi dan rambut lurus yang terurai panjang tak lain ialah Amber.
"Nathan! Apa-apaan kau?! Kau mau membatalkan acara pertunangan kita? Lalu bagaimana dengan kesepakatannya?"Tanya Amber tidak terima.
"Kenapa kau kaget? Aku kan memang sudah membatalkannya sejak lama? Tidak ada yang berani berkutik juga soal itu. Kau tidak mau karena takut perusahaanmu bangkrut?"Tanya Nathan dengan senyum merendahkan.
Amber menggigit bawah bibirnya merasa kesal.
"Apa alasanmu membatalkan acara pertunangan kita? Bukankah sebelumnya kau sangat menyetujuinya? Apa yang membuatmu berubah pikiran?"Tanya Amber mulai gelisah.
Dia belum tahu jika Nathan sudah mengetahui dirinya yang seorang play girl.
"Biar ku kasih tahu alasannya. Kau sudah ketahuan selingkuh dariku."Ucap Nathan tersenyum.
Next....
.. 👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣