Kisah seorang gadis desa yang merantau ke ibukota, dikhianati oleh sang tunangan yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Nasib tragis kembali menimpa, dia di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja dengan tidak hormat.
Hingga takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pengusaha muda yang juga memiliki masa lalu kelam, melalui putra kecil pengusaha tersebut yang sangat menyayangi Nabila.
Akankah kebahagiaan berpihak pada Nabila?
Yuk, ikuti perjalanan cinta Nabila dan sang pengusaha, yang mengharukan, romantis, sekaligus kocak 🥰
____
Dalam tahap revisi PUEBI ☺🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Mengejutkan
Pagi hari di lobi perusahaan tempat Nabila bekerja.
"Pagi, Lusi," sapa Nabila ramah kepada sahabatnya yang bertugas di bagian resepsionis.
Mereka bersahabat sejak hari pertama Nabila masuk kerja. Mereka berdua sering menghabiskan waktu istirahat bersama. Saling menunggu untuk pulang. Terkadang Lusi dengan mengendarai sepeda motornya mengantarkan Nabila pulang lebih dulu sebelum dia pulang kerumah.
"Hai! Pagi, Billa," jawab Lusi dengan tersenyum hangat. "Tumben pagi ini kamu datang lebih awal?" tanya Lusi keheranan karena dia tahu, Nabila biasanya datang hanya beberapa menit saja sebelum jam kerja dimulai.
"Iya nih, ada janji sama Pak Bos untuk persiapan meeting pagi ini," jelas Nabila.
Brak!
Terdengar suara keras seseorang menaruh tasnya dengan kasar di meja, tepat di samping Lusi. Nabila dan Lusi hanya saling pandang dan terdiam. Hanya terdengar tarikan napas panjang mereka berdua.
Ya, Nabila dan Lusi memang merasa sedikit terganggu dengan sikap Selly barusan. Tapi, mereka berdua sudah terbiasa dengan kelakuan keponakan dari Nyonya Kinanti, istri bos yang sok berkuasa tersebut.
Tidak lama kemudian bos pemilik sekaligus pimpinan tertinggi di perusahaan itu datang, diikuti oleh Rahmat sang manager keuangan yang mengekor langkahnya.
"Pagi, Bos. Pagi, Pak Rahmat," sapa Nabila dan Lusi berbarengan.
"Hmmm ...." Hanya gumaman kecil yang keluar dari bibir pimpinan perusahaan itu sebagai jawaban.
"Segera ke ruangan saya!" lanjut sang bos memerintah Nabila dengan suara tegas dan berwibawa.
"Baik, Pak," jawab Nabila sopan dengan membungkukkan sedikit badannya dan segera berlalu mengikuti langkah sang bos dan manager keuangan yang sudah lebih dulu menuju lift. Nabila hanya melambaikan tangan kepada Lusi untuk berpamitan sambil tersenyum manis.
Sementara itu Rahmat yang mengekor di belakang sang atasan, sengaja berjalan lambat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Nabila. Lalu, dia tersenyum hangat kepada sekretaris itu. Sontak, hal itu membuat Selly yang berada di samping Lusi dan melihat kejadian tersebut, meradang.
Sudah bukan rahasia lagi jika teman Lusi di bagian resepsionis itu memang sudah lama mengincar Rahmat, sang manager keuangan yang tampan. Berbagai cara sudah dilakukan Selly untuk mendapatkan perhatian Rahmat. Namun, Rahmat tidak pernah memedulikannya.
Apalagi sejak hadirnya Nabila, Rahmat terlihat mengejar-ngejar sekretaris yang manis itu. Dan itulah yang membuat hati Selly semakin geram.
"Aku harus segera menjalankan rencanaku," batin Selly.
"Gara-gara wanita tua sialan itu sakit, apa yang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari dengan Tante Kinan jadi tertunda," gerutunya dalam hati.
"Sekretaris kampungan itu sampai harus bertahan dua bulan lebih. Sungguh menyebalkan!" lanjutnya lagi dalam hati sambil mengepalkan kedua tangan. Wajah Selly merah padam, memperlihatkan betapa marah dirinya saat ini.
*****
Malam harinya di sebuah kamar indekos.
"Kenapa perasaanku gak enak, ya," gumam Nabila. "Seperti akan ada sesuatu hal buruk terjadi," lanjutnya lagi.
"Huff!" Nabila mengembuskan napasnya kuat-kuat. "Semoga ini hanya efek karena aku kelelahan saja. Seharian tadi, kan, di kantor kerjaan gak ada habisnya. Meeting dari pagi-pagi sekali sampai sore baru kelar." Nabila bermonolog.
"Untung aja besok weekend, jadi aku bisa istirahat seharian," ucapnya lega. "Sebaiknya aku ambil wudhu, sholat Isya dan tadarus Al-Quran biar pikiranku tenang."
Nabila bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan ibadah. Dia memang selalu melakukan rutinitas wajib itu setiap malam sebelum berangkat tidur. Baginya tak ada yang lebih bisa membuat hatinya tenang disaat gundah mendera selain tadarus Al-Quran. Dengan membaca Al-Qur'an, Nabila akan merasa hati dan pikirannya lebih rileks dan istirahat malamnya terasa lebih nyaman.
Baru beberapa saat Nabila menyelesaikan ritual malamnya, terdengar ponselnya berdering dari atas nakas sebelah tempat tidur.
Nabila segera bangkit untuk mengambil ponselnya dengan masih mengenakan mukena. Dia melihat sekilas dilayar ponsel tertera nama sahabatnya, Saras. Dia pun buru-buru menerima panggilan tersebut, lalu menempelkan ke telinga kiri sambil mendudukkan diri di atas ranjang tempat tidur.
"Hallo Saras. Assalamu'alaikum," sapa Nabila mendahului. "Kamu apa kabar, Ras. Tumben malam-malam gini telpon?" selidik Nabila penasaran.
"Iya, Bill. Ada hal penting yang ingin kusampaikan," kata Saras tanpa menjawab salam dari Nabila. "Kuharap, kamu tidak kaget dan bisa menerima berita yang akan aku sampaikan ini," lanjut Saras lagi.
"Insyaallah, Ras," jawab Nabila sambil menduga-duga kiranya kabar berita apa yang akan disampaikan sahabatnya itu. Namun, Nabila masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Bill ...." Saras sejenak terdiam.
"Iya, Ras. Ada apa? Aku masih dengerin, kok. Katakan saja, Ras, jangan membuatku jadi penasaran!" desak Nabila.
"A-aku ... aku hamil anak Hendra," ucap Saras terbata.
Meskipun Saras menyampaikannya dengan pelan, tak ayal hal itu membuat Nabila shock.
"Apa?! Itu gak benar, kan, Ras? Kamu becanda, 'kan?" sangkal Nabila,
"Itu faktanya, Bill," jawab Saras sambil mengembuskan napasnya kasar. "Aku dah minta sama Hendra agar dia segera membicarakan tentang hubungan kami ini kepadamu, tapi dia terus menolaknya dan bilang belum siap," lanjut Saras, kali ini dengan nada bicara yang terdengar ketus.
"Saat bersamaku, dia masih saja memikirkanmu! Aku benci kamu, Bill!" maki Saras. "Padahal, aku tahu dia lebih senang saat bersamaku karena aku bisa memberinya kepuasan yang tak pernah dia dapat darimu!" lanjut Saras lagi masih dengan suaranya yang meninggi dan bergetar. Terdengar jelas Saras sedang menahan kemarahannya yang entah dia tujukan kepada siapa?
Nabila sudah tak bisa lagi mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Saras. Air matanya luruh tak bisa dibendung lagi. Dadanya terasa sesak seperti tertindih batu besar.
Nabila menekan dadanya kuat-kuat. Pandangannya pun mulai mengabur, seiring deras air mata yang meluncur.
"A-apa yang harus kulakukan?" gumam Nabila yang terdengar sangat putus asa.
bersambung ...
mobil jd gerobak besi