Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mewarnai Senja
Seperti mentari yang selalu menyapa pagi, seperti angin yang menerpa dedaunan, seperti kupu-kupu yang menari-nari. Kehangatan dan kegembiraannya pagi ini menyelimuti hati ini. Hari yang kunanti akan terlewati. Semua asa dan harapan yang kudamba akan segera kudekap dan tak 'kan kulepas lagi.
Hatiku begitu berbunga-bunga bagai kuncup yang bermekaran di musim semi. Karena hari ini pilihan cintaku akan datang secara resmi untuk memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tuaku.
"Cie ... yang mau didatengin calonnya!" goda Nadine anak bungsu di keluarga kami.
Meski usianya sudah lebih dari lima belas tahun, tapi sifatnya masih sering bermanja-manja pada kakaknya ini. Nadine adalah gadis periang yang mampu menghidupkan suasana dalam keluarga kami. Meski tak jarang kami berdua seperti anjing dan kucing yang sedang berkelahi.
Rentang usia kami yang terpaut jauh tak membuat aku sudi mengalah dengan Nadine. Tak jarang rumah kami seperti kapal pecah yang porak poranda akibat hantaman badai permusuhan di antara kami berdua.
"Berisik deh!" sahutku singkat pada Nadine.
Nadine menjulurkan lidahnya padaku sebelum menghilang di balik pintu kamar yang baru saja ia masuki.
Iya, di kamar inilah aku sedang menatap diriku sendiri. Seorang wanita yang memiliki wajah cerah dan berseri dengan hati penuh semangat bagai seekor tupai yang berlarian di musim semi.
"Ah ... apa yang harus kukenakan untuk menyambut kedatangan Syadam?" gumamku menatap bayangan hitam pada kelopak mataku yang menyerupai luasnya samudera Hindia.
Lalu aku beranjak menuju lemari di sudut kamar ini. Kamar anak gadis yang telah beberapa tahun ini kutinggalkan. Kamar itu masih tetap sama begitu juga perasaanku padanya bahwa aku masih mencintainya.
*
Kulirik jam dinding di atas lemari kaca dalam sebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Ruangan tersebut sering kami gunakan untuk bersantai bersama anggota keluarga kami yang lain. Bunyi detak dari jarum jam seirama dengan bunyi detak jantungku. Telah kulewati perjalanan cinta bersama dengan dokter muda itu, kenangan manis dalam hubungan kami membentang bak kalaidoskop dalam ingatanku. Rasa syukur tak henti-hentinya kusebut dari bibir ini pada Tuhanku.
Tak terasa senja telah beranjak menuju peraduannya dan Syadam belum jua menunjukkan batang hadirnya. Macet? Tentu saja tidak, ini bukan Jakarta kota yang menjadi tempat tinggalku selama menimba ilmu lanjutan.
Baru ketika adzan selesai berkumandang, sebuah mobil berjenis SUV warna putih berkode area BP memasuki pelataran kediaman keluarga kami. Irama jantungku kian bergelora, tentu saja karena ini merupakan kali pertama bagi Syadam bertemu kedua orang tuaku. Semoga saja apa yang kami rencanakan hari ini lancar tanpa hambatan apapun.
"Assalamualaikum ...." Suara dari balik pintu masuk kediaman keluarga kami diikuti oleh derap langkah jenjang yang telah kukenal selama ini.
Kulihat ayah memberikanku kode agar diri ini segera menghambur menuju pintu masuk agar pria jangkung berkumis tipis itu bisa masuk ke rumah dan keluarga kami. Tentu saja aku berharap Syadam bisa masuk ke keluarga bahagia kami. Aku sering menceritakan kisah cinta kami pada ibu. Dan juga meski tak jarang Nadine sering menguping pembicaraan antara aku dan Syadam di telepon, tapi Nadine belum pernah sekalipun melihat rupa dari calon pendamping kakak sulungnya ini.
"Baru sampai? Masuk yuk Bang!" ucapku basa-basi mempersilakan masuk calon imamku dengan mengayunkan tangan kananku ke depan tubuhnya.
"Apa aku terlambat Dek?"
Kulihat ada sedikit getir di raut wajah Syadam, itu pasti! bagaimanapun juga ini merupakan kali pertamanya datang berkunjung ke rumah kami. Tak bisa dipungkiri, aku menemukan jejak kegugupan di balik senyumnya. Iya senyum kecil dari pria milikku.
Kami berdua berjalan beriringan bagai dua anak kecil yang saling malu-malu serta gugup menuju ruang di mana seluruh keluargaku berkumpul.
Kulihat sesekali Syadam menyeka bulir keringat yang membasahi kening pria itu, meski udara di kota tempat tinggalku cukup dingin dari pada Jakarta. Bukan hanya Syadam saja yang berkeringat dingin, tetapi aku pun juga merasakan hal yang sama.
"Tenanglah Bang, keluargaku tidak tertarik untuk memakan kamu!" kuatkan hati serta mental calon pendamping masa depanku. Fan Syadam pun juga menguatkan diriku dengan menggenggam erat tangan ini.
Tepat sudah kami berjalan hingga berakhir di depan kedua orang tuaku. Kulihat ibu dan ayah mengulas senyum manisnya menyambut kedatangan calon putra mereka. Sedangkan Nadine? Dia hanya senyam-senyum cengengesan tak tentu arah, ah ... andai tak ada Syadam, mungkin sudah ku tarik hidung mungil Nadine.
"Syadam ... Nama saya Wan Syadam Rifa'i!" Syadam memperkenalkan dirinya secara resmi di depan keluargaku.
"Duduklah Nak Syadam, anggaplah rumah sendiri!" balas Ayah pada Syadam.
Ah pria cinta pertamaku ini telah membuka pintu masuk untuk Syadam. Syukurlah ayah tak menilai Syadam hanya dari luarnya saja.
Kuajak Syadam duduk di kursi kayu berukir khas kota Jepara pilihan ayah. Kedua pria itu, maksudku cinta pertama serta cinta terakhirku saling pandang dalam seberang tempat duduk. Sedangkan aku? Aku duduk tepat di samping pemuda dengan tinggi 170 cm tersebut.
🍁🍁🍁
Ada hasrat terpendam
Di setiap entakan jiwa berkumandang
Sunyi yang membungkus
Di dalam jiwa yang tak bertepi
Senja yang damai ini
Melucuti letih di setiap sisi
Tabah menjalani kesulitan
Bersyukur atas nikmat yang diberikan
Jingganya senja memberi kesejukan
Rahmat Tuhan di setiap embusan nafas
Bersyukur pada-Mu
Penguasa Semesta ini
👇👇👇
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻