Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Echa tak mau lepas dari pelukan Arfian begitu Rena dan Ben tiba. Rada bahkan sudah memasang tampang galak, tak menerima kehadiran keduanya. Acara sarapan pagi mereka harus terganggu karena kehadiran dua orang yang tak pernah mereka harapkan.
"untuk apa kesini?" Tanya Rada ketus.
"mamah..aku hanya ingin bicara dengan mamah."
"tak perlu. mamah mu sudah mati."
Sementara Rega dan Sena sudah pergi ke toko karena sudah waktunya untuk buka. Wanita itu terus saja berceloteh tentang mereka di masa lalu. Dia begitu senang bisa bertemu kembali dengan Rega. Sejak lulus SD, keluarga Sena pindah ke kota lain karena pekerjaan ayahnya yang di alihkan. Dan sekarang, sudah 2 bulan ini Sena tinggal di rumah nyonya Rada karena orangtuanya sudah meninggal tiga bulan yang lalu.
"ya..kau layani saja pembeli." Malas Rega, dia tak suka Sena terus mengajaknya bicara seperti ini.
"kau tahu Rega, saat aku akan pindah kemari ku pikir kau ada. tapi, begitu sampai di sini bibi bilang kau tak tinggal di rumah lagi semenjak masuk kuliah." Sena sama sekali tak peduli dengan apa yang di katakan Rega, terus saja bicara.
Rega menghela nafas panjang. Dia sungguh jenuh dan kesal. Hanya duduk tak peduli dengan keadaan toko yang ramai. Sena sampai kewalahan melayani para pembeli.
"ck.. jelek sekali." Desis Rega.
Sena yang akan duduk di samping Rega untuk rehat sejenak karena pembeli sudah tak ada pun mengurungkan niatnya. Dia tersenyum pahit.
"humm..apa kau sudah punya kekasih?" Tanya Sena.
"tentu saja."
"uumm...pasti dia gadis yang sangat cantik." Sena tersenyum penuh keterpaksaan.
Hatinya mencelos untuk seketika. Rega tersenyum remeh ke arah Sena.
"tentu saja. dia cantik, pintar dan juga memiliki tubuh yang seksi." Perkataan Rega seperti sebuah sindiran bagi Sena.
Wanita itu pun langsung terdiam. Rega sama sekali tak peduli akan itu, jujur saja dia memang merasa tak nyaman berada di tempat seperti ini bersama seorang wanita. Apalagi melihat penampilannya yang seperti itu, sungguh jauh sekali dengan tipe nya.
Kembali ke kediaman nyonya Rada. Suasana di rumah itu sudah tak nyaman lagi. Echa menangis histeris saat Ben menggendongnya. Arfian sebenarnya tak tega, ingin mengambilnya kembali.
Tapi karena ini permintaan Rena, yang merupakan ibunya maka tak ada hak bagi Arfian untuk melarangnya. Rena ingin membawa Echa pergi jalan-jalan, dia melakukan itu untuk mendekatkan Echa dan Ben.
"Echa mau Daddy." Teriaknya seraya memukul tangan Ben keras.
Rena langsung berjalan mendekat, mengelus kepala Echa agar tenang.
"sayang, ini Daddy Echa juga. jangan begini, kita pergi ya?"
"tidak. paman bukan Daddy Echa." Echa menangis semakin kencang.
Ben menarik napas dalam. Tahu jika hal ini pasti terjadi. Dia pun menurunkan Echa dari gendongannya, membiarkan gadis itu berlari ke arah Arfian.
"Ben, kenapa kau melepaskan nya?"
"sudahlah Rena. Echa tak mau ikut dengan kita. dia hanya akan membuat kita repot saja nanti." Cegah Ben saat Rena akan mengambil Echa kembali.
Rena menepis tangan Ben. Lalu dia masuk kedalam mobil. Melihat Echa yang kini berada di gendongan Arfian membuatnya tak bisa berbuat lebih. Gadis itu akan sulit dibujuk.
"mommy jahat."
"sshhhh... jangan bilang begitu." Rada mengambil alih Echa. "ayo..kita kedalam." Membawanya masuk sementara Arfian menghampiri Ben.
Echa menolak untuk masuk, dia terus melihat Arfian yang tengah berjalan kearah Ben.
"nenek, paman itu siapa? kenapa mommy menyebutnya Daddy?"
Rada merasa kesal dengan Rena. Karena sudah seenaknya mengatakan hal yang tak di mengerti oleh anak seusia Echa. Kenapa wanita itu begitu tak berperasaan hingga dengan enteng menyebut Ben sebagai ayah Echa. Meski kenyataannya memang benar tapi tak seharusnya dia mengatakan hal ini pada Echa sekarang.
"ahh..iya, nenek punya puding coklat di kulkas. siapa ya..yang mau..." Rada mencoba mengalihkan perhatiannya.
"waaahh...echa mau.." Seru nya.
Perhatian gadis kecil itu pun teralihkan hingga tak lagi bertanya dan mau di ajak masuk kedalam.
Ben menatap Arfian dengan pandangan remeh. Merasa jika dirinya sudah menang dari Arfian karena telah berhasil merebut Rena.
"ku mohon jika nanti Echa tinggal dengan mu jangan marahi dia. jangan pernah mengabaikan nya." Ucap Arfian.
Ben mengeryit, dia pikir Arfian akan memukul atau memakinya. Tak menyangka justru pria ini malah memohon padanya.
"kau hanya ingin berkata itu saja?" Tanya Ben.
"ya. mungkin kau ayah biologis nya, tapi..." Arfian melirik ke arah Rena yang duduk di dalam mobil. "aku yang membesarkannya. memandikannya saat dia bayi dan menyuapinya makan."
Rena yang mendengar itu pun menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah mencoba memisahkan mereka berdua.
Ben tersenyum tipis, menepuk pundak Arfian kuat.
"tenang saja. aku tak ada niat untuk mengambilnya dari mu." Bisik Ben.
Arfian langsung menatapnya. Terlihat jelas dari sorot mata pria itu kalau dia serius dengan ucapannya.
"senang bisa berkenalan dengan mu, tuan Arfian." Lanjut Ben lalu masuk kedalam mobil.
Arfian berdiri dengan tatapan sendu. Melihat Rena dengan sedih. Cintanya masih terasa dalam tapi sekuat mungkin dia meredamnya. Percuma saja menyimpan rasa itu jika tak ada lagi harapan.
...*********************...
Sena meletakkan secangkir teh hangat di atas meja. Dia mencoba menghibur Arfian yang sejak tadi duduk murung di ruang tamu.
"pak Arfian, minumlah tehnya selagi hangat."
Arfian melirik Sena sekilas lalu melihat cangkir itu dengan cepat. Dia tak sadar dengan kehadiran Sena karena dari tadi melamun.
"oh.. terimakasih. kau sudah kembali dari toko?"
"umm...ini sudah jam 8 malam."
Arfian merasa bodoh, dia kan sudah tahu kalau toko kelontong Rada tutup tepat jam 7 malam.
Sena tersenyum manis, dia duduk di hadapan Arfian.
"maafkan aku, tadi aku tak sengaja mendengar percakapan bibi dan pak Arfian. keputusan soal hak asuh Echa akan di beritahukan besok. pak Arfian bersedih karena itu?"
Arfian mengangguk. Dia memang mencemaskan itu, belum siap berada jauh dari Echa.
"jangan cemas, ibu ku bilang orang baik selalu di tolong tuhan. percayalah."
Arfian tertegun melihat senyuman Sena. Baru sadar jika malam ini wanita yang tadi pagi berdandan aneh telah berubah menjadi peri cantik.
Tak ada lagi bibir merah dan kacamata bulat. Sepertinya dia baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.
"aah..pak Arfian pasti terkejut." Sena sadar jika penampilannya saat ini pasti mengejutkan Arfian. "aku sengaja berdandan aneh tadi, hanya ingin melihat reaksi Rega saja." Ujarnya sendu.
"tapi..apa alasannya?"
Sena menggeleng pelan, dia tak bisa mengatakan bahwa dirinya menyukai Rega pada Arfian. Dia sudah menyerah sebelum berperang karena terlanjur kecewa dengan sikap Rega juga pria itu mengaku sudah memiliki kekasih.
Rada yang hendak memanggil Sena hanya berdiri di depan pintu. Memperhatikan dua orang yang tengah berbincang itu.
"Arfian..ku harap kau menemukan gadis yang baik." Gumamnya. "jika saja Sena setuju, aku akan menjodohkannya. dia gadis yang baik juga pekerja keras. aku harap kalian berjodoh." Ucap Rada penuh harap.
Rega mengeryit heran begitu masuk melihat ibunya tengah mengintip seseorang.
"mamah.." Panggilnya. "mengintip siapa?" Dia pun melihat kemana arah pandang nyonya Rada.
"Sena dan kak Arfian.." Gumamnya. Dahinya semakin mengeryit kala melihat penampilan Sena yang berbeda dengan tadi siang.
"Rega, kau pasti setuju kan jika mereka mamah jodohkan?"
"apa?"
"Sena dan Arfian. sepertinya mereka akan cocok."
Rega terdiam, matanya tertuju pada Sena. Entah kenapa dia merasa keberatan dengan keputusan Rada.
...****************************...