Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 — Perjalanan
Matahari dengan ceria menyambut hari, memancarkan sinar yang menghangatkan kulit dan mengusir kegelapan malam.
"Jadi di sini tempatmu mendapatkan bintang laut itu."
Ren menatap ke bawah dengan tangannya berpangku pada pinggangnya. Lautnya cukup dalam dan mungkin mereka bisa mendapatkan hal lain selain bintang laut untuk dijadikan sarapan pagi.
"Ya, aku juga melihat ikan-ikan, namun sangat sulit untuk menangkap mereka dengan tangan kosong."
Seakan dia sudah mencobanya, Laura menggaruk pelipisnya dan tersenyum masam. Wajar baginya tidak akan mendapatkan hasil dari menangkap ikan hanya dengan tangan kosong.
"Tidak apa, setidaknya kita menemukan lokasi berburu makanan yang cukup baik. Mari langsung saja kita terjun."
Mengabaikan kehadiran seorang gadis bernama Laura itu, Ren melepaskan kemeja putih dan baju hitamnya. Kulit punggungnya yang memiliki otot kekar dan otot bisepnya yang keras terekspos jelas. Perutnya sendiri memiliki roti sobek yang membuat Laura sedikit merona, dengan betapa hot-nya penampilan Ren.
Laura tentunya menyadari bahwa Ren memiliki kekuatan fisik yang besar, tetapi tidak sekalipun dia menduga tubuhnya akan sebagus milik Zain.
"Aku akan nyemplung ke sana, apa kamu akan ikut? Jika begitu, sebaiknya kamu melepaskan rok itu karena mungkin akan menggangu. Tenang saja, aku akan pergi lebih dahulu sehingga tidak akan melihatnya."
Lagipula Ren tidak akan berani untuk melihat, dia tidak ingin mendapatkan tamparan atau semacamnya. Tanpa perlu menunggu Laura, Ren segera masuk ke dalam air dan mencari hewan atau tumbuhan laut yang dia ketahui dan bisa dikonsumsi.
Ren membawa kemejanya ke dalam air untuk menampung hasil buruan yang dia dapatkan di laut.
Laura yang telah melepas roknya mencari di celah-celah bebatuan dan mengambil sesuatu.
"Ini..., bukankah ini kelomang? Imutnya!"
Laura lemah terhadap sesuatu yang imut, jadi dia berniat melepaskannya ke laut. Akan tetapi, disaat bersamaan Ren muncul dan melihat apa yang Laura temukan.
"Oh? Kerja bagus, Laura. Kamu menemukan kelomang, mari kita kumpulkan sebanyak yang bisa kita dapatkan."
"Eh?!!!" wajah Laura sangat penuh dengan kejutan sampai tidak bisa menutup mulutnya.
"Ada apa?" tanya Ren tanpa memahami reaksi berlebihan Laura dan dengan acuh mencari di celah-celah batu.
"Ki-kita akan memakannya? Memakan kelomang? Apa tidak apa-apa mengkonsumsinya??"
Laura jelas tidak ingin memakan sesuatu yang imut, karena seperti yang diketahui, hal imut adalah kelemahan terbesarnya. Meminta Laura memakannya, Ren bahkan lebih kejam dari iblis.
"Tentu saja tidak apa-apa. Aku sudah bilang bahwa selain batu dan pasir, kita bisa memakan hewan dan tumbuhan yang hidup di laut... Oh! Aku mendapat dua di sini!"
Seakan sedang melakukan panen besar-besaran, Ren dengan semangat mengumpulkannya dan meletakkannya di kemeja yang dia lipat.
Laura dengan enggan dan bersalah mengumpulkan kelomang yang bisa dia temui. Dia terpaksa melakukannya, karena keadaannya tidak memungkinkan untuk pilih-pilih.
"Maafkan aku, tuan kelomang. Aku akan menangkap dan memakan kalian karena ini demi kelangsungan hidup kami, hukum rimba memang kejam, memakan atau dimakan."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengumpulkan cukup banyak dari kelomang. Jika perkiraannya tepat, mereka dapat mengkonsumsinya sampai dua atau tiga hari mendatang.
Ren naik setelah Laura, begitu dia selesai mendaki bebatuan, dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Tidak hanya dirinya, tetapi Laura terbelalak akan kehadiran Ren yang melihat bagian bawahnya.
Ren menatap ****** ***** merah muda Laura dan menyadari sebuah gambar kecil di bagian depannya. Tanpa sadar dia bergumam...
"Beruang—"
"Kyaa!"
—Ren langsung mendapat tamparan super keras di wajahnya.
"Kalian sudah kembali, ya. Apa saja yang kalian dapatkan dan mengapa pipimu merah Ren?" tanya Zain.
"Tidak ada, hanya ada beberapa masalah kecil."
Bagaimana mungkin dia bisa memberitahu bahwa dia ditampar Laura karena melihat ****** ******** yang memiliki beruang lucu?
Ren mungkin pantas mendapatkannya, bahkan sekarang dia masih dapat merasakan panas dari tamparan Laura. Mungkin ini kali pertamanya dia mendapatkan tamparan di wajah, karena tidak ada cukup wanita yang berani melakukannya.
"Mungkin itu salah satu keuntungan memiliki wajah yang bagus," gumam Ren.
Para wanita benar-benar tidak akan berani menghajar pria yang meskipun hanya sedikit tampan.
"Ya, aku bisa mengabaikannya. Jadi, apa yang kamu dapatkan kali ini?" lanjut Zain.
Ren segera membuka dan memperlihatkan banyak kelomang berada di kemejanya. Zain mungkin tahu bahwa Ren berniat menjadikannya makanan, tetapi Mirai dan Theresia sama sekali tidak menyadarinya.
"Kelomang, ya. Sekalipun belum pernah aku mencobanya, mungkin ini bisa jadi pengalaman bagus. Kalau begitu, bagaimana cara kita memasaknya?"
"Eh?!!!" Mirai dan Theresia sama-sama terkejut. Reaksi mereka tidak berbeda jauh dengan Laura.
Setelah menjelaskannya kepada Mirai dan Theresia, Ren menyalakan api dan menggunakan lempengan batu sebagai pengganti wajan.
"Kita akan meletakkan kelomang ini di atas batu yang dipanaskan dan saat cangkang mereka berubah kemerahan, artinya sudah matang."
Perlu beberapa waktu untuk cangkang kelomang memerah, namun begitu beberapa siap dimakan, Ren mengambilnya dan memulainya lebih dulu, untuk mendorong yang lainnya.
"Kita perlu mengeluarkan dagingnya dari cangkang. Caranya mudah, kita hanya perlu menusuknya dengan kayu kecil. Semua bagian ini kecuali cangkang luar boleh dimakan."
Tanpa keraguan Ren memakannya dan menikmati. Zain menyusul hingga akhirnya Mirai dan Laura.
"Hmm, aku pikir rasanya tidak berbeda jauh dari udang," ujar Zain yang mengunyah kelomang selagi memikirkan rasanya dengan teliti, hampir seperti seorang goutmet.
"Meskipun tidak ada bumbu apapun di sini, rasanya cukup gurih, ya," ujar Mirai, terkejut.
"Bumbunya ada kok. Kita dikelilingi pantai dengan air asin, yang artinya bisa digunakan seperti halnya garam. Garam terkenal sebagai bumbu serbaguna atau semacamnya, aku tidak terlalu memahaminya."
Laura mungkin pernah mendengarnya dari suatu tempat dan tidak terlalu mengingatnya.
Ren hanya tersenyum hangat dan menyadari bahwa ada satu orang yang tidak menyentuh kelomang sama sekali.
"Ada apa, Theresia? Mengapa kamu tidak memakannya? Mungkinkah kamu memiliki alergi atau semacamnya?" tanya Ren, jelas khawatir.
Mirai dengan kelomang di mulutnya memperhatikan ekspresi sedih dan bermasalah milik Theresia.
"Apa kamu tidak tega memakannya?" dia menembak di tempat yang tepat dan Theresia mengangguk kepadanya.
"Ya..., itu karena aku juga memelihara kelomang. Aku merasa tidak enak jika harus memakannya. Bukannya aku memiliki penyakit tertentu yang melarang untukku memakannya, hanya saja—"
"—kamu tidak dapat memakan hewan peliharaan atau sejenisnya, ya?" Mirai menyela.
Theresia mengangguk. Meskipun kelomang yang Ren dan Laura temukan bukanlah peliharaan siapapun, Theresia mungkin menganggapnya seperti peliharaannya dan menjadi tidak tega.
"Bukankah kamu pernah berlibur ke suatu tempat dan memakan sate kelinci? Mengapa kelinci bisa kamu makan, namun tidak dengan kelomang?!"
Mirai mungkin sedikit geram kepada temannya itu. Meskipun perkataannya tidak salah, namun Theresia menyangkalnya dengan alasan tidak jelas.
"Ini dan itu berbeda, tahu! Pokoknya aku tetap tidak bisa memakan ini."
"Lalu apa yang ingin kamu makan? Pada situasi seperti ini, kita tidak boleh pilih-pilih makanan. Janganlah bersikap manja dan egois, kamu sama saja tidak menghargai usaha Ren dan Laura."
Theresia tertegun dan melambaikan tangannya selagi mengatakan, "Tidak, bukan itu maksudku," kepada Laura dan Ren.
Ren hanya tersenyum dengan sedikit sedih dan Laura hanya memakluminya. Dia mungkin paham apa yang dirasakan Theresia, karena dirinya juga awalnya seorang itu.
"Tidak apa kok, Theresia. Aku memahami perasaanmu yang tidak bisa memakannya."
Ren telah merasa perutnya cukup terisi dan mengambil pisau serta besi panjang yang ditemukan Zain. Dia menaruh pisau di sakunya dan membawa satu botol air yang mereka dapatkan dari desalinasi.
Berkat merebus bintang laut dan menguapkan air dalam waktu lama, mereka berhasil mengumpulkan lima botol air bersih. Berkatnya, Ren mungkin bisa memulainya sekarang.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke dalam hutan untuk mencari sesuatu. Aku mungkin akan pulang terlambat, jadi tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Tunggu, Ren! Kamu tidak perlu memaksakan diri sampai sejauh itu hanya karena keegoisan Theresia!" ujar Mirai, mencoba menghentikannya.
Theresia juga nampaknya tidak enak hati kepada Ren, karena tindakannya hanya membawa masalah lain kepada Ren. Tetapi, tujuan Ren tidaklah untuk menuruti Theresia saja.
"Tidak, kok. Sejak awal aku memang sudah bertujuan pergi ke hutan lebih dalam jika memiliki persediaan air yang sedikit cukup. Kita tidak bisa seperti ini terus, setidaknya aku yakin akan ada sumber mata air di tempat sebesar ini."
Mungkin dia terlalu tergesa-gesa, karena persediaan air masih kurang dari kata cukup dan bahkan makanan masih belum benar-benar terkendali.
Alasannya bergerak cepat karena dia merasa suhu matahari kian menurun. Jika itu pertanda hujan, maka itu hal bagus, tetapi jika tidak, sebuah malapetaka.
"Kalau begitu, bisakah aku ikut menemanimu? Lagipula aku sudah merepotkan kemarin, jadi anggaplah ini sebagai permintaan maaf."
Zain mengambil besi panjang yang tersisa dan sebuah botol air untuk bergegas pergi bersama Ren.
"Jika begitu, aku minta tolong kepada kalian untuk menjaga perkemahan, ya. Kami akan segera kembali sebelum gelap."
Ren dan Zain pergi ke hutan bersama-sama, tujuan mereka adalah mencari sumber mata air.