NovelToon NovelToon
Devil Dosen

Devil Dosen

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:967.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rainawjy

Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole

Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!

Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7: Bersamamu

Pagi itu, Nara duduk di kursi meja makannya. Tangannya menggenggam segelas susu coklat hangat. Tatapannya kosong ke dapur. Dia teringat kejadian semalam, di saat pria itu masuk dan kehilangan kesadaran. Sudah Nara kutip botol-botol kaca yang kosong. Nara hanya sebatas dosen dan mahasiswi. Sekarang, semuanya beda. Pria itu menganggap Nara tidak sama dengan mahasiswi lain.

Nara meneguk ludah dan tubuhnya langsung membeku saat suara pintu yang selnya belum ditaruh minyak, terdengar. Nara tahu. Pria itu pasti sudah bangun. Tak ingin Nara melihat ke sana kemari. Nara duduk diam sambil mendengar suara jantung berdebarnya dan merasakan sedikit rasa kesalnya.

Cup!

Kecupan di pipi kiri Nara, menyambut datangnya pembuluh darah merah mengumpul di kedua pipi Nara. Sedikit rasa kesal dan sedikit rasa jijik di dalam dada Nara. Ingin Nara menjerit, tapi tidak bisa.

Pria itu duduk di sebelah kiri Nara. Bau bir menyengat. Rambutnya berantakan. Wajah tampan tak bersalahnya terus terukir. Badan tegapnya hanya dilapisi kemeja putih tipis berlengan panjang. Tangan kirinya menyentuh meja dan tangan kanannya menyelipkan rambut-rambut kecil ke telinga Nara.

"Nara, jangan pergi ke kantor hari ini," suruh pria itu. Nara tak membalas perkataan pria itu. "Nara, kamu dengar?"

Nara tak berpaling sedikit pun. Nara membeku di sampingnya. Pria itu seperti telah mengambil setengah roh Nara.

"Nara, Sayang," jari pria itu mencengkram kedua pipi Nara dan memaksa kepala Nara untuk berpaling ke arahnya. "Gadis mungil, kamu ingin apa?"

Pria itu menyipitkan matanya. Bibirnya dimiringkan, seakan dia tahu pikiran Nara. "Ingin apa? Lari dari sini? Tidak. Jika saya bilang, kamu tidak boleh pergi, ya tidak boleh pergi. Ingat itu?" pria itu menekan perintahnya.

Nara menepis tangan pria itu. Terlepas cengkraman maut yang cukup menyebalkan. Nara langsung bangkit dari kursinya. Dia berlari secepat mungkin menuju pintu rumah. Pria itu mengejarnya. Di pertengahan jalan menuju pintu, Nara benar-benar mematung. Tangan kiri pria itu menutup mulut Nara dan tangan kanannya melilit perut Nara. Senangnya, Nara lebih pendek darinya. Jadi dia gampang untuk melakukan apa yang dia inginkan.

Nara menghela napas begitu cepat. Matanya melotot. Kedua telapak tangannya dingin.

"Nara, kamu tidak boleh pergi. Kamu tidak dengar kata-kata saya? Ayo, kita masuk," ujar pria itu. Perkataan itu membuat jantung Nara terus berdebar. Pria itu menyeret Nara dengan keadaan seperti ini ke kamarnya.

-oOo-

"Tuan, kenapa Tuan tidak bersama Nara sampai waktu ini? Dia tidak mengenakan gaun putih yang diberikan tuan untuk pesta," perkataan anak buahnya membuat pria yang duduk di kursi kebesarannya memanas. Emosinya menggebu. Ingin ia lampiaskan saat ini juga.

Dia menggertak meja kerjanya saat melihat monitor komputernya. Kamera tersembunyi yang terpasang di kamar Nara, memperlihatkan gaun hitam polos yang dipakai Nara. Kini, Nara sedang frustasi. Nara duduk di tepi kasur sambil menutup wajahnya.

"Keterlaluan," gumamnya. Dia berpikir sejenak untuk mencari kesempatan dalam pesta nanti. Tatapan pria itu masih tertuju pada monitor. "Viore, bersihkan ruangan kosong yang ada di aula. Suruh dua anak buah datang kemari nanti. Kita akan menyusun rencana."

"Tapi, Tuan, Tuan tidak sedih melihat Nara seperti itu? Tuan, kumohon... berilah simpati dan empati untuknya. Tuan-" Anak buahnya itu, berdiri sambil memohon dengan kata-katanya. Dia terdiam saat sorotan mata tajam datang melandanya.

"Apa? Kau memohon?" anak buahnya menunduk, "Kau bilang, kau ingin menuruti semua yang kuinginkan, bukan? Kau berjanji akan hal itu dan sekarang... kau memohon untuk memberikan simpati dan empati? Maaf, tidak ada kedua perasaan itu di dalam hatiku."

Anak buahnya menaikkan tatapannya. "Itu menyakitinya, Tuan. Dia akan sakit esok harinya," nasihat anak buahnya. Pria itu tetap keras kepala.

"Aku cukup mengerti semua itu. Tak usah kau katakan lagi. Biarkan dia sakit. Kenapa jika dia sakit? Kau ingin membantunya untuk sembuh?" pria itu bertanya balik. "Sekarang, kau sudah mengerti apa maksud di balik membersihkan ruangan itu. Bagus, Viore. Kau sudah mengerti pikiran Tuanmu ini."

"Ke-" Kata-kata anak buahnya terpotong.

"Karena kau adalah pamannya, bukan berarti aku akan membiarkanmu melindunginya dariku. Kau salah. Di sini, kau bekerja untukku. Jadi, apa yang kuinginkan, kau harus memenuhinya. Aku bisa memberimu bayaran berapa pun, tapi dengan satu syarat, biarkan aku memilikinya. Suatu saat nanti, aku akan membangun keluarga sendiri. Dan kau akan lihat seberapa perhatianku kepadanya. Kau ingat itu, Viore?" pria itu menyerang dengan kata-katanya. Lidah Viore langsung kelu.

"Pergilah. Laksanakan apa yang kuinginkan," titah pria itu.

Nara, lihat saja nanti. Kau berani melanggar perintahku, batin pria itu.

Sekali lagi, pria itu menggertak meja. Diputar bangkunya untuk melihat suasana sore ini dari lantai paling atas. Pikirannya terobsesi pada Nara. Dia menyusun rencana untuk lusa nanti. Dibayangkan, dia dan Nara tidur bersama di satu ruangan. Dia yang merawat Nara saat itu dan satu hari penuh bersama wanita pujaan hatinya.

-oOo-

Di bawah lampu berkerlap-kerlip. Di tengah ribuan orang yang diundang. Sepatu-sepatu mendarat di karpet bercorak bunga. Suara memekakkan telinga membuat semua tamu bersenang ria. Tawaan-tawaan berada di mana pun. Ada yang sedang mengambil makanan dan ada yang sedang meminum sirup. Semua wanita menggunakan make-up tebal. Sampai-sampai, wajah mereka tidak sama dengan wajah asli. Pakaian wanita-wanita di sana pun yang pas bodi, mengundang nafsu para pria.

Beda dengan wanita sederhana itu. Tidak ada setitik pun bedak di pipinya. Tidak ada tawaan di bibirnya, melainkan kekhawatiran pada dirinya sendiri. Nara selalu melihat ke kanan dan kiri, memastikan pria itu tak ada di sekitarnya. Jika pria itu tertangkap di mata Nara, maka tanpa banyak basa-basi, dia akan angkat kaki dari ruangan ini.

Pria itu melihat Nara dengan gaun polos hitam dari samping. Pakaian formal hitam melindungi tubuh tegapnya dari terpaan angin pendingin ruangan. Wajahnya terlihat cukup keji. Tatapannya tajam dan fokus. Diamatinya gerak-gerik Nara dengan amat detail. Dia menunggu pelayan suruhannya datang ke Nara dan menawarkan segelas bir.

Di tengah keramaian, Nara merasa pusing. Dia ingin mencari tempat duduk, tapi sulit sekali menjangkau tempat duduk karena ruangan sangat penuh. Pelayan suruhan datang. Dia berdiri tepat di hadapan Nara sehingga Nara tertegun sejenak sambil menatap pelayan dengan tangan berisi nampan yang ditengahnya terdapat segelas bir.

"Dik, ini untuk Adik. Ini hanya segelas teh manis," pelayan itu berbohong.

"Maaf, tapi saya tidak berminat untuk itu," jawab Nara dengan begitu polos. Nara tidak tahu rencana yang disusun pria itu. Dan kalimat tadi, terlontar dengan sendirinya.

Pelayan itu ingat semua pesan tuannya. Tuannya menyampaikan, "Jika Nara tidak ingin minum teh itu, maka ajak dia agar mengikutimu kemari. Kita akan membuat drama saat dia mengatakan 'tidak', yaitu ponselmu berdering dan ekspresimu seperti mendapat kabar buruk dari keluarga. Tapi jika Nara minum, maka segeralah beri isyarat untuk anak buah lain dengan cara menoleh ke kanan."

Tak lama kemudian, ponsel pelayan itu berdering. Segeralah pelayan itu merogoh saku celananya di hadapan Nara. Pelayan itu menjawab telepon dan ekspresinya langsung berubah. Mata pelayan itu melotot, seperti ada kejadian buruk yang melanda keluarganya. Lima belas detik kemudian, pelayan itu menurunkan tangan yang menggenggam ponsel dengan lambat.

Nara yang berada di hadapannya, semakin bingung melihat pelayan ini. "Pak, ada apa?" tanya Nara. Sayangnya, semua ini hanyalah sandiwara yang bertujuan untuk menangkap Nara.

Tatapan pelayan itu langsung tertuju pada Nara. "Ada masalah keluarga dan aku harus mengantarkan sesuatu kepada tamu di sini. Dik, bisakah Adik membantuku?" tanya pelayan itu. Satu tangan pria itu masih terdapat nampan.

Nara mengangguk.

"Baiklah. Bolehkah Adik mengikutiku? Kumohon, ini sangat penting," kata pelayan itu.

Bodohnya, Nara mengangguk lagi.

Nara berjalan mengikuti pelayan itu ke pinggir ruangan. Pinggir ruangan cukup gelap, jadi ini memudahkan pria pakaian serba hitam itu melaksanakan rencananya. Pelayan tadi, berjalan begitu cepat hingga Nara kehilangan jejak si pelayan.

"Pak! Pak!" jerit Nara sambil melihat ke knaan dan kiri. Nara tak tahu pelayan itu pergi ke arah mana. Tadi, Nara tidak terlalu fokus pada si pelayan dan Nara terus memperhatikan sekeliling saat dia berjalan.

Tiba-tiba saja, tubuh Nara menghantam tubuh kekar milik seorang pria. Tatapan Nara langsung menangkap sesosok pria yang ingin ia hindari. Bibir Nara tak bisa tertutup. Nara mundur dua langkah dengan lambat. Ingin sekali ia lari dari sini.

Pria itu mencengkram tangan kanan Nara tanpa basa-basi. Ditariknya Nara dengan paksa ke dalam ruangan dengan pintu yang sudah terbuka lebar. Nara dibelakangnya, meronta untuk melepaskan cengkraman itu.

"Hentikan! Lepaskan, aku! Tolong! Tolong...," suara Nara langsung meredup saat ia telah masuk ke ruangan dan pintu terkunci dari luar.

"Lepaskan!" Nara memekik lagi.

Pria itu mendorong tubuh Nara hingga menghantam pintu ruangan. Dia mencengkram pipi Nara secara paksa. Dimasukkan bibir botol mini yang tingginya sekitar 7 cm ke mulut Nara. Cairan mengisi mulut Nara dan terpaksa diteguk cairan pelemas itu.

Pria itu membuang botol kecil ke sembarang arah. Suara kaca pecah terdengar. Dia memanggul Nara yang sudah lemas ke sofa merah di tengah ruangan. Ditempatkan Nara ke sofa itu dan dia duduk di sebelah kanannya. Tangan kiri pria itu memeluk badan Nara dan tangan kanannya menyentuh permukaan pipi Nara.

"Menjauh... menjauh dariku," ujar Nara dengan suara lemah. Matanya hampir tertutup dan tangannya menepis tangan pria itu.

Pria itu tak peduli dengan yang Nara katakan. Dia mengecup kepala Nara begitu lama. "Ingat diriku, Nara. Aku tidak main-main dengan kata-kataku. Turuti apa yang kuinginkan, Nara," kata pria itu, "kau akan bahagia bersamaku dan aku akan selalu mencintaimu hingga usia senjaku."

-oOo-

"Ingat, esok hari kau bersamaku, Nara."

1
Mxxnlight._
terbaikk
Nurul Hofa
kurang suka sama visual lorence
Nisa Larasati
aq benci pada mu lorent ingin rasanya membunuh mu saat kau tertidur 😈🗡🪓
Nisa Larasati
maafin aq kk tapi aq beneran trauma baca nya tapi aq juga selalu penasaran sama cerita nya 😭
Nisa Larasati
HAH sumpah aq bisa mati klo jumpa sama cowok yg modelannya begini 🤬 lagi pula si nara di ksih kebebasan walau hanya 15 menit kenapa gx lari ke dapur aja sih ambil pisau bunuh diri aja 😂 atau bunuh si adam nya aja 😂 canda bunuh diri 😂
n a n a
devan deh kek nya
Yenny Rachman
thor.. ini sudah tamat kah😅😅😅
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
Yenny Rachman
lanjut thor😅😅😅🥰🥰😍...
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
paulaa
seru
Yesika novel03
lanjut donk udh nunggu lama nie
Hesti Sagita
Akhirnya Nara sampe ke tahap itu
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
Hesti Sagita
stress
Hesti Sagita
mengunci diri di dlm kamar mandi
ahh hasil nya sama aja
Hesti Sagita
Adam kah
Hesti Sagita
penasaran awal mula Adam suka ke Nara
Hesti Sagita
kasian si Nara
Hesti Sagita
cinta dan obsesi
Hesti Sagita
mamapir baca kak.
berawal dr WP
lucia de lamendoza
lorence itu adam ?
lucia de lamendoza
kynya adam atasan nya gk sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!