Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Merindukan Tyo
Pagi ditempat yang berbeda, beberapa puluh kilo meter dari rumah yang sengaja dibelikan oleh Papa Elang untuk Anak-anak dan keponakannya.
Mereka beralasan jika pulang dan pergi ke kampus terlalu jauh jika dari Mansion, capek di jalan.
Masih muda kok bilang capek, padahal mereka masih belum menerima saja jika Opa dan Omanya sudah tiada.
Di teras belakang, empat pria sepuh duduk sembari menikmati matahari pagi, Opa Aris, Opa Gunawan, Opa Dimas dan Opa Yonan.
Ke empatnya sudah sangat sepuh, Opa Aris lebih terlihat tua karena Oma Luna meninggal dunia tiga tahun yang lalu, berselang hanya setahun dari kepergian Opa Tyo dan Oma Clara.
Meninggal karena memang sudah lanjut usia.
" Kapan Alloh akan memanggil kita, aku tidak mau seperti Tyo "
Lirih suara Opa Gunawan.
Ketiga Opa menatap Opa Gunawan tidak mengerti
" Kenapa dengan Almarhum Tyo ? "
Tanya Opa Dimas.
" Dia pergi hanya berselang seminggu karena kesepian dan kesedihan ditinggalkan lebih dahulu oleh istrinya, aku pergi dahulu, usia kita sudah semakin tua, jalan sudah tertatih tatih, jika jatuh, aku tidak bisa membayangkannya bagaimana dengan kondisi tulang tulang kita yang sudah rapuh ini "
Opa Gunawan menatap jauh ke depan, hamparan tanaman hijau yang perawatan dan penanamannya dilanjutkan oleh Oma Cinta, Oma Maya dan Oma Sushi, para Opa sudah tidak kuat, mereka lebih banyak duduk dan melangkah secara perlahan.
" Yah, kita sudah terlalu tua, bahkan cucu kita saja sudah beranjak dewasa, aku bahkan sudah sama seperti almarhum Tyo, memiliki cicit yang sudah beranjak dewasa, kenapa Alloh belum juga memanggil kita, untuk apa lagi kita hidup, tanpa Luna, aku benar benar merasa kesepian walaupun anak anak dan cucu yang selalu menemani, tapi hati ini " Mata tua Opa Aris basah.
" Kapankah giliran kita, aku benar benar merindukan Tyo "
Opa Gunawan ikut menangis.
Sementara Opa Yonan dan Opa Dimas hanya diam, dengan mata yang juga sudah memerah.
Usia yang lanjut membuat ke empat pria sepuh itu cengeng seperti anak anak, pikun mulai datang sesekali.
" Aku juga merindukan bapak mertuaku, Gun, aku sangat beruntung memiliki mertua seperti dirinya, selain dia jadi mertuaku, dia juga bisa menjadi teman diskusi yang sepadan dan sahabat sampai ajal mendahuluinya, Ketika dia sudah pergi, aku baru menyadari betapa aku menyayanginya "
Imbuh Opa Yonan mulai menangis.
" Aku sering berdo'a, semoga kelak kita dipanggil Alloh bersamaan atau berdekatan waktunya, agar kita tidak ada yang kesepian "
Ucap Opa Dimas.
" Apakah kalian hendak pergi tanpa mengajak kami "
Oma Cinta, Oma Sushi dan Oma Maya berjalan pelan mendekat.
Mereka juga sama, kepergian Oma Clara membuat hati mereka ada yang kosong.
" Masyo, Shi ingin kita berdua seperti Papa dan kak Ra, pergi bersama, jangan tinggalkan Shi sendiri, hidup ini tidak lagi indah tanpa Masyo "
Oma Sushi duduk di sebelah Opa Yonan.
Mama Gaia yang hendak mengantarkan camilan, menjadi menghentikan langkah kakinya.
Air matanya keluar tanpa bisa di cegah, bagaimana bisa para orang tua menginginkan agar kematian datang dengan cepat, mereka semua sepertinya sama sama merasa hidup ini tidak lagi indah setelah sudah tua renta.
" Ma, Kenapa ? "
Laura menegur Mama Gaia yang sembunyi di balik dinding dekat pintu keluar arah beranda belakang.
" Kamu tahu Lau, mereka semua. membicarakan tentang kematian, dan kejenuhan hidup yang sudah merasa terlalu lama dan panjang, Alloh memberi mereka usia.
Mereka tidak tahu jika mereka pergi, anak anak dan cucu akan sangat kehilangan "
" Iya Ma, seperti Bang Bara dan Bang Neo, juga Alan yang lebih memilih tinggal di luar, tidak terkecuali dengan semua Opa, tidak ada lagi yang membuat mereka bersemangat untuk terus hidup Ma, kepergian Opa Tyo dan Oma Clara seakan membuka simpul tali untuk mereka ingin cepat cepat pergi meninggalkan kehidupan ini "
Laura berkata pelan.
Mama Gaia masih terus menangis sedih.
...*****...
Mobil Om Sam berhenti tepat di depan sekolah taman kanak-kanak, tempat dulu dia bertemu dengan Aisyah.
Bangunan sudah banyak perubahan, semakin terlihat bagus.
Sekolah swasta dengan uang sekolah yang lumayan mahal untuk ukuran yang taraf perekonomiannya terbilang menengah, Om Sam tidak heran jika Aisyah bertahan untuk menjadi salah satu pendidik di sekolah ini.
Om Sam tidak bisa melihat apa pun dari dalam mobilnya, karena anak anak sudah masuk ke dalam kelas, hanya satu atau dua orang pengajar yang terlihat melintas di teras.
Om Sam meyakinkan diri untuk keluar dari dalam mobilnya, berjalan perlahan menuju pos security.
Petugas yang berjaga sigap berdiri melihat kedatangan Om Sam.
" Ada yang bisa saya bantu, Pak " Tanyanya dengan sopan dan tegas
" Saya hanya bertanya, apakah ibu Aisyah masih mengajar di sini ? "
Pak Satpam memperhatikan penampilan Om Sam dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Terlihat berkelas dan pastinya bukan orang yang bermaksud jahat, jadi tidak masalah jika dia memberikan sedikit informasi.
" Oh, masih Pak, beliau memang tidak lagi mendidik anak anak, beliau sekarang menjadi wakil kepala sekolah, apa bapak mau bertemu ? Saya bisa mengantarkan ke ruangan beliau "
Pak Satpam bersiap hendak membukakan pintu gerbang.
" Tidak perlu Pak, saya tidak ingin menganggu pekerjaannya, berikan saja kartu nama saya, jika ibu Aisyah berkenan, bisa menghubungi saya, ada hal penting yang mau saya bicarakan "
Ujar Sam sembari memberikan kartu namanya pada Pak Satpam.
Om Sam yakin jika Aisyah pasti sudah menghapus nomor kontaknya.
Sam tidak yakin Aisyah mau menghubungi dirinya, semua Sam lakukan demi putrinya, walaupun bibir Fatimah mengatakan seakan dia tidak membutuhkan Ibunya, tetapi Om Sam tahu jika Fatimah pasti sangat ingin bertemu dengan ibunya.
Fatimah sedikit keras seperti Aisyah, jadi biarlah Om Sam yang mengalah.
Setelah menyerahkan kartu namanya, Om Sam berbalik menuju ke arah mobilnya yang di biarkan parkir di tepi jalan.
Disaat Om Sam berbalik, bertepatan Aisyah keluar dari ruangannya, kedua matanya menatap punggung Om Sam yang berjalan menjauh, tapi Aisyah cukup mengenal pemilik punggung itu.
" Bang Sam "
Bibirnya bergetar menyebutkan tiga huruf yang membuatnya betah sendiri selama hampir delapan belas tahun ini.
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...