Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-006
Wanita ini sangat merepotkan, jika bukan karena shal ibu, aku pasti tak akan mengurusmu seperti ini.
"Uhuk uhuk uhuk, bau banget si. Abis makan apaan ni cewek?!" gumam Khafi yang sedang kerepotan mengangkat tubuh wanita asing yang baru beberapa kali ditemuinya.
Usai mendorong tubuh wanita itu kedalam mobil, dengan sedikit jijik, Khafi menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya.
"Ma, mama. Elish kangen mama. Elis nyusul mama aja, Elish pengen mati aja ma. Hiks hiks," Gumam Elis seraya menangis tersedu dari kursi belakang.
"Ohh jadi nama mu Elish ha? Elis jika kamu ingin mati, cuci dulu shal ibuku kemudian kembalikan. Aku nggak ingin shal ibu disalah gunakan," nyinyir Khafi dari balik kursi kemudi.
"Huufftt." Khafi menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar. "Kemana aku akan membawa wanita ini? Hotel?"
Khafi mengarahkan spion ke arah wanita yang sedang tak sadar diri di kursi belakang.
Gimana jika dia kenapa kenapa? Gimana jika dia mencoba bunuh diri lagi? Melompat dari gedung tinggi? tidak tidak.
Khafi mengusap kepalanya. Pikirannya sedikit pusing dan juga khawatir.
Aku sudah tau wanita ini akan bunuh diri, dan aku nggak peduli dan membiarkannya mati. Apakah Allah akan murka padaku?!
Ya tentu saja, gadis yang sedang frustasi dibelakngnya sedang butuh nasehat dan petuah dari seseorang yang lebih dewasa. Sejenak dalam pikiran Khafi langsung tertuju pada bibi Saodah dan teteh Amelia.
Khafi semakin menekan pedal pada telapak kaki kanannya. Dirinya benar benar sudah hampir pingsan akibat bau alkohol dari sekujur tubuh wanita dibelakangnya.
Namun apalah daya, begitu memasuki jalan raya Bogor, Khafi harus melalui antrian panjang. Sebuah kecelakaan lalu lintas, membuat setiap kendaraan yang melewati jalur itu macet. Antrian mengular sekitar satu kilometer, dan dengan terpaksa Khafi harus bersabar selama hampir sejam sebelum akhirnya tiba dipesantren.
Mobil langsung menuju gedung asrama putri, sebuah gedung yang dijaga ketat oleh bibi Saodah adik dari Syekh Umar Al-Nawawi.
Dengan dibantu oleh teh Amel, asrama putri itu menjadi sangat tertib dan tertata rapih. Kedua ibu dan anak itu berhasil mengemban tugas mereka sebagai salah satu pengurus yayasan Al Ikhals.
"Bik Odah? Bibik?" Teriak Khafi sambil matanya menatap ke lantai dua bangunan mess.
"Teh, teteh Amel," teriak Khafi lagi.
Sesuai peraturan, pria tak boleh masuk ke dalam mess wanita. Untuk itulah Khafi harus rela membuat keributan tengah malam, hingga membangunkan hampir seluruh santri wanita dibangunan itu.
Bik Saodah bergegas turun sembari merapihkan jilbab di kepalanya.
"Khafi? Kenapa nak teriak teriak tengah malam begini?" tanya bik Odah, disusul dengan teh Amel yang berdiri dibelakang bik Odah.
"Da apa dek?" tanya teh Amel.
"Bibik dan teteh bantuin Khafi dulu atuh." Mata Khafi langsung tertuju pada anak anak santri wanita yang ikut menonton dari teras lantai dua. Semua mata tertegun sembari tersenyum malu menatap Khafi.
"Masya Allah, pemandangan malam ini Alhamdulillah ya?" ceplos seorang santri yang sedang bersyukur atas ketampanan Khafi yang tengah dinikmatinya saat itu.
Santri wanita lainnya mengangguk dan terus tersenyum ke arah Khafi.
"Ternyata bukan sekedar gosip ya May?" sahut santri lainnya.
Bik Odah pun ikut menoleh ke atas. "Anak anak masuk (menggunakan bahasa arab)," perintah bik Odah dengan lemah lembut.
Para gadis ABG itu seakan lupa daratan, mereka terus saja menatap Khafi. Mata mereka nggak bisa lepas dari kharisma Khafi yang selama ini hanya menjadi perbincangan rahasia diantara mereka. Sosok Khafi yang ganteng nan mempesona berada dihadapan mereka.
"Udah bubar, masuk. Jam segini waktunya tidur, yang belum mau tidur, ayo sana cuci piring," teriak teh Amel yang terkenal galak di asrama itu.
Sontak anak anak itu berhamburan masuk ke dalam kamar mereka, kamar yang menyerupai bangsal yang dihuni sekitar 25 anak wanita.
"Bik, tolong Khafi dong bik," lanjut Khafi.
"Tolong apa nak? Jam segini kamu butuh pertolongan apa?" ucap bik Saodah lembut bercampur khawatir. Bik Saodah sudah dianggap seperti ibunya. Bik Saodahlah yang merawatnya tumbuh besar sejak kematian ibunya.
"Ayo bik, teh ikut Khafi." Khafi menarik tangan bibik yang berjalan agak pelan saat itu.
"Ada apa ini?" ucap teh Amel penasaran berjalan mengikut dibalakang Khafi dan ibunya menuju mobil yang terparkir dihalaman.
Bik Saodah dan teh Amel berdiri dibelakang Khafi yang hendak membuka pintu mobilnya.
Aroma alkohol dan bau muntahan makanan terkuak dari dalam mobil Khafi. Seorang wanita terkulai lemah dikursi tengah.
"Astagfirullah Khafi, siapa wanita itu? Apa yang terjadi?" bik Odah terus beristigfar. Sembari mendekati gadis itu.
"Khafi juga nggak tau, bik Odah dan teh Amel bantuin nona ini membersihkan badannya ya," pinta Khafi.
"Tapi siapa orang ini?" tanya Amel. Dengan wajah sedikit jijik, Amel membantu ibunya memapah gadis itu turun dari mobil.
"Pokoknya bibik dan teteh yang urus dia, kan gak mungkin Khafi cowok pegang pegang dia," ucap Khafi polos, wajahnya tersenyum sumeringah melihat teh Amel yang berusaha bernapas sambil menoleh ke kiri.
"Awas kamu Khafi, bikin kerjaan aku dan mamak aja," jerit teh Amel sambil membawa masuk gadis jorok tersebut.
"Khafi balik dulu bik, teh. Terimakasih bantuannya." Teriak Khafi pada bibik dan teteh yang sudah masuk ke dalam bangunan asrama.
Khafi memutuskan kembali ke rumah. Tugasnya malam itu adalah membersihkan jok mobilnya yang telah tercemar aroma muntahan alkohol. Pukul dua malam Khafi baru terlelap.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu membangunkan Khafi pukul 04:15.
"Khafi, bangun." panggil Abi dari depan pintu.
"Iya iya bi, Khafi bangun." teriak Khafi kemudian menuju kamar mandi.
Seperti biasa, abi pasti yang membangunkan Khafi setiap subuh untuk menunaikan kewajiban umat muslim yaitu menjalankan sholat subuh. Khafi sudah tau kewajibannya. Tapi, Khafi baru saja tidur selama dua jam, itulah sebabnya matanya terus saja merem setelah keluar dari kamar.
Sambil terus menggerutu, Khafi pun tak bisa membantah abinya yang begitu ketat akan peraturan beribadah.
"Kamu kenapa? Jika nggak ingin sholat, ayo sana kembali tidur lagi, biar pahala mu disurga berkurang. Membantah perintah abi dan juga lalai dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah merupakan dosa besar loh," ucap abi lembut namun begitu sarat makna.
"Iya, iya bi, ini kan Khafi sudah bangun," jawab Khafi sambil terus berjalan disamping abinya menuju masjid yang terletak di tengah halaman luas pesantren.
Setelah usai menjalankan kewajiban, Khafi terlebih dahulu kembali ke rumah untuk mengobati rasa kantuk yang tak bisa ditahan. Khafi pun kembali terlelap.
...
Diruang makan keluarga, Syekh Umar, Hardian, Saodah sudah terlebih dahulu duduk berbincang. Sambil menunggu makanan dihidangkan Saodah menceritakan wanita mabuk yang dibawa pulang Khafi semalam.
"Hmmm, jadi itulah sebabnya anak itu terlihat sangat mengantuk. Rupanya dia membawa pulang wanita kesini. Dimana Amel?" ucap Umar.
"Amel pasti sedang menuju ke sini. Tadi dia menunggu neng Ariqah untuk sama sama ke sini." jelas Saodah.
"Bawa ke sini juga wanita itu," ucap Umar.
"Maksud aa wanita yang dibawa Khafi semalam?" tanya Saodah.
Umar mengangguk, "Ya, dan Hardian bangunkan Khafi sekarang."
Khafi terlebih dahulu berada diruangan makan, karena jarak kamarnya dan ruangan makan tidak seberapa jauh dibandingkan asrama putri.
"Ayo, makan? Tunggu siapa lagi?" ucap Khafi begitu duduk didepan meja. Menu sudah terhidang semuanya. Bik Saodah dan Abi sudah siap didepan piring.
"Hmm, anak ini. Abi bingung, dalam kepalamu isinya apa? Kamu nggak ingin menjelaskan sesuatu pada abi?" tanya Umar.
"Jelaskan apa bi?" Khafi benar benar tidak mengerti pertanyaan abi.
Khafi menatap bik Saodah yang juga sedang menatapnya meminta penjelasan. Seketika tangan kanannya langsung menepuk kepalanya. Khafi teringat akan wanita mabuk yang dibawanya pulang semalam. "Ohh no, bik gimana wanita itu?" tanya Khafi.
"Siapa wanita itu? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa kamu membawa wanita dalam keadaan seperti itu? Anak nakal ini! Kamu tak pernah berpikir sebelum bertindak, gimana jika perbuatanmu dilihat para santri? Apa yang akan mereka katakan? Kamu membawa wanita pingsan seperti itu ke dalam pesantren?" pertanyaan bertubi tubi keluar dari mulut abi, suaranya lembut namun matanya tajam menatap wajah Khafi.
Abi tidak pernah marah, dalam kamus hidup Khafi ini lah kali pertama abi menatapnya tajam. Mungkinkah abi sedang marah sekarang?
"I itu bi, wa wanita itu. Khafi tidak mengenalnya. Dia ingin bunuh diri dijembatan saat Khafi dalam perjalanan pulang semalam. Jadilah Khafi menolongnya." Jelas Khafi sedikit kaku.
"Kenapa kamu tidak membawanya ke kantor polisi atau rumah sakit?" tanya abi lagi.
"Maaf bi, semalam Khafi hanya berpikir 'bagaimana jika Khafi tinggal trus dia mencoba bunuh diri lagi?' jadi Khafi berpikir membawanya ke sini. Mungkin bik Odah bisa menolongnya," jelas Khafi. Dirinya tak sedikitpun merasa jika dirinya bersalah.
Tatapan tajam abi melemah, dirinya paham akan sifat lemah lembut didalam hati putranya yang keras kepala dan sembrono.
"Aa, mungkin ini sudah jalan Allah. Wanita itu bisa berakhir disini," ucap Saodah yang sedikit membela Khafi.
"Ya sudah lah, lain kali jangan melakukan hal itu lagi. Bagaimana jika niat baikmu itu disalah artikan oleh orang lain. Mengingat wanita itu bukan seorang muslim dan pakaiannya sangat tidak senonoh." ucap abi maklum. "Mana mereka?" tanya Abi lagi.
Beberapa saat Amelia sepupu Khafi sudah berdiri di ruangan itu. Disamping Amel ada Ariqah si gadis cantik dan solehah dengan jilbab panjang menjuntai hingga ke pinggangnya. Senyuman Ariqah terkuak begitu memasuki ruangan itu.
"Assalamualaikum," sapa Amel dan Ariqah bersamaan.
"Waalaikumsalam," sahut setiap orang yang berada diruangan itu.
Khafi menengadahkan kepalanya. Mencari wanita mabuk yang dibawanya pulang semalam.
"Mana dia?" ceplos Khafi.
Amel menoleh ke belakang. Gadis yang tadinya mengikuti dari belakang tidak berada disitu. Amel kembali keluar menarik gadis itu masuk.
Ahhh, dia sudah baikan. Dia sudah rapih dan bersih. Batin Khafi sambil mengenang betapa joroknya wanita itu semalam.
Khafi terus menatap Elisabeth yang saat itu sedang tenggelam dalam gamis kelonggalaran milik teh Amel. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan kepala terus menatap ke arah lantai.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁