Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
“Dia emang jadi pendiam beberapa bulan ini. Tapi aslinya dia sebelas dua belas sama
Riri, Ga,” ucap Ferdi masih dengan tawanya, membuat Angga bingung dengan yang di ucapkan Ferdi. Pasalnya iya selama empat bulan memperhatikan Rar, gadis itu memang terlihat pendiam.
“Mungkin yang kamu lihat saat ini, Rara adalah perempuan pendiam, tapi asal kamu tahu Ga? Itu bukanlah Rara yang dulu, tepatnya setelah lima bulan yang lalu.” Tatapan Riri berubah menjadi sedih.
“Maksudnya?” Tanya Angga masih tidak paham.
“Dulu Rara adalah orang yang ceria, bahkan lebih ceria dari Riri. Dia cerewet dan mudah bergaul. Tapi setelah rencana pernikahannya harus terpaksa batal membuat Rara menjadi seperti sekarang pendiam dan tertutup. Seharusnya minggu depan adalah hari pernikahannya, namun dengan terpaksa impian Rara dan Devan harus dibatalkan karna keadaan Devan yang sudah dinikahkan dengan perempuan lain oleh orang tuanya, satu minggu sesudah acara pertunangan mereka…”
“..Devan tidak berani untuk jujur pada Rara, hingga lima bulan lalu Rara bertemu dengan Devan yang sedang mengantar wanita hamil untuk chek up. Rara kira wanita itu adalah sodara dari tunangannya, tapi ternyata adalah istri Devan, tunangan Rara. Dan dari situlah akhirnya Devan menjelaskan yang sebenarnya hingga membuat Rara mau tidak mau membatalkan pernikahan yang telah lama ia impikan bersama Devan.” Jelas Ferdi panjang lebar, membuat Angga merasa iba kepada Rara, sedangkan Riri kini tengah menangis mengingat betapa hancurnya Rara saat itu.
“Maka dari itu, aku dan Riri berniat menjodohkan kamu dengan Rara. Karena kami berdua percaya kalau kamu pasti bisa membahagiakan Rara, dan mengembalikan senyum Rara yang sempat hilang.” Lanjut Ferdi menyampaikan maksudnya.
“Sebenarnya aku mau-mau saja, tapi apa Raranya juga mau sama aku?” Tanya Angga tidak yakin.
“Maka dari itu, aku ngajak kamu kesini untuk mulai mendekatan kalian.Aaku tahu ini gal akan mudah, tapi aku yakin kalau kamu bisa,” ucap Riri yakin.
“Baiklah akan aku coba.” putus Angga akhirnya.
Setelah lumayan lama menunggu akhirnya Rara turun, dan tidak lupa untuk memerintahkan salah satu karyawannya untuk menutup café dan juga berpesan untuk tidak lupa menguncinya jika mereka sudah selesai dengan pekerjaannya
“Mau pulang sekarang?” Tanya Rara saat sampai di depan meja yang ketiga orang itu duduki dan di balas anggukan oleh ketiganya.
“Ra, kamu bareng Angga ya?” ucap Ferdi kepada Adik iparnya itu membuat. Rara mengernyit bingung. Bukannya tadi nyuruh pulang bareng, kenapa sekarang malah nyuruh bareng Dokter Angga pikir Rara dalam batinnya.
Mengerti dengan kebingungan Rara akhirnya Riri menjelaskan jika ia dan suaminya ada urusan terlebih dahulu, maka dari itu menyuruh Rara untuk pulang diantar oleh Angga. Padahal itu hanyalah alibinya saja, karena kenyataannya mereka memang sengaja agar Rara bisa berduan dengan Angga. Supaya keduanya bisa lebih dekat, dan untung saja Rara bukan tipe orang yang ribet, jadi tidak perlu ada perdebatan hanya untuk Rara menyetujui titah Kakaknya itu.
“Ya udah, Kakak hati-hati di jalan. Inget loh, Kak Fer, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, kasian itu calon ponakan aku kalau sampai kenapa-napa!” Rara memperingati kakak iparnya itu yang di balas acungan jempol oleh Ferdi.
“Ya udah Ra, yuk keparkiran rumah sakit. Apa mau nunggu disini?” Tanya Angga.
“Ikut Dokter aja deh.” Putus Rara yang diangguki oleh Dokter tampan itu.
Angga melangkahkan kakinya terlebih dulu menuju parkiran rumah sakit untuk mengambil mobilnya, sedangkan Rara berjalan agak jauh dibelakang Angga, jujur saja Rara merasa canggung, padahal sebenarnya Rara adalah tipe orang yang gampang bergaul, bahkan tak tau malu. Tapi entah kenapa jika bertemu Angga, Rara merasa canggung.
Angga menengok kebelakan, dan ternyata Rara berada agak jauh dibelakangnya, berjalan sambil menunduk. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan hingga tidak menyadari jika Angga kini berada tepat di depannya hingga Rara menubruk badan tegap Angga agak keras membuat perempuan dengan mata bulat indah itu meringis kesakitan.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Angga memastikan, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Rara.
“Makanya jalan itu jangan sambil ngelamun, Ra untung kamu nabrak aku, coba kalau tembok yang kamu tabrak, pasti lebih sakit,” ucap Angga sambil mengelus pelan jidat Rara yang sempat terbentur dada bidangnya.
“Hehe, maaf aku gak ngeh, Dok,” jawabnya cengecesan.
“Ya udah masuk yuk, nanti kemaleman!” Titah Angga sembari membukakan pintu mobil untuk Rara, Rara masuk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Entah kenapa mendapat perlakuan seperti ini dari Angga membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya, padalah saat masih pacaran dengan Devan, Rara sering di perlakukan seperti ini bahkan lebih manis, tapi jantungnya tidak pernah berdetak secepat ini, ah mengingan itu Rara menjadi teringan kembali akan pernikahannya yang gagal.
“Udah siap?” Tanya Angga memastikan sebelum ia memjalankan mobilnya.
“Ah, udah kok, Dok.” jawab Rara gelagapan.
“Kamu ngelamun ya? kok kayak kaget gitu.” Tanya Angga curiga.
“Nggak kok, Dok,” elak Rara.
“Gak usah manggil Dok-Dok gitu kamu udah bukan pasien saya, Rara,” ucapnya sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
“Em, abisnya saya bingung mau manggil apa,”
“Panggil Angga aja, atau kalau mau manggil sayang juga boleh.” Goda Angga sambil terkekeh. Mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung.
“Haha, enggak deh, Dok, eh Kak Angga maksudnya,” canggung Rara
“Kenapa? Padahal saya seneng loh kalau kamu panggil sayang,” goda Angga lagi, tidak lupa dengan kekehannya.
“Haha, Kak Angga apaan sih? Modus banget.l Rara salah tingkah, membuat Angga mencubit pelan pipi Rara yang sedikit memerah karna malu. Dan itu sangan menggemaskan menurut Angga.
“Kamu lucu ya, Ra apa lagi kalau pipinya merah gitu.” Angga tertawa kecil.
“Makasih loh Kak, aku lucu memang udah dari lahir,” ucap Rara ikut tertawa.
Angga sekarang tahu bahwa gadis disampingnya itu memang gadis yang menyenangkan, dan mudah bergaul meskipun sesekali ia terlihat melamun. Angga tahu gadis disampingnya itu kini masih bersedih, dan ia mengerti dengan keadaan Rara saat ini. Siapa sih yang gak akan sedih jika pernikahannya harus gagal? Mungkin jika Angga di posisi itu juga Angga akan sangat sedih, bahkan belum tentu Angga bisa setegar Rara seperti saat ini.
Dan kali ini Angga yakin dengan keputusannya untuk membahagiakan gadis disampingnya itu. Angga bertekad, dengan perlahan menyembuhkan luka dan kesedihan gadis itu dan digantikan dengan kebahagian yang baru. Kebahagian yang bersumber darinya. Angga tidak akan berjanji untuk tidak membuat gadis itu menangis namun, Angga akan menggantikan air mata kesedihan itu dengan air mata kebahagiaan.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤