Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Aku tak pernah tau apa yang akan ku hadapi nanti
Yang ku tau aku hanya perlu terus berjuang
Ini hidupku...
Memang bukan inginku...
Tapi saat ini, hanya ini yang ku mampu
.
.
Ren bersiap di garis start, di sebelahnya Deon pun sudah bersiap, di depan mereka sudah ada gadis dengan pakaian minimnya memegang slayer yang akan memberi aba-aba.
Ren hanya memfokuskan kemenangannya, bukan Nuna yang dia inginkan, dia berharap tetap dapat mempertahankan motor kesayangannya ini, itu lah yang ia fokuskan, ia akan berusaha sangat keras untuk berjuang.
READYYYYY......si gadis berteriak lantang, mengangkat tinggi dan ia mengibaskan slayernya, tanda mereka semua harus bergerak.
Ren dan Deon pun melajukan kendaraannya, salip menyalip dengan kecepatan yang sangat tinggi, saat ini posisi Deon ada di depannya, Ren tetap berusaha fokus, dia yakin jika ia akan memenangkan pertarungan ini.
Di pinggir lapangan di garis Finish....
Taksa dan Liam berdiri dengan cemas, jantung mereka bertalu talu, mereka pun selalu berdoa supaya teman mereka bisa memenangkan pertandingan ini, karena taruhannya cukup riskan untuk mereka, jika Ren kalah maka tamatlah karir balap liarnya, karena ia harus menyerahkan motornya.
Sedang Nuna, ia menunggu bersebrangan dengan Taksa dan Liam, bersama anak buah Deon.
Dia mencengkram erat tali tasnya, dan menggigit bibirnya.
Dia bingung, dalam hati dia berharap Ren menang, tp nuraninya berkata'jahat sekali ia ini malah mendo'akan kekasihnya kalah' ntah lah dia memang sudah lelah terus berada di samping Deon.
.
.
.
****************Kembali ke Arena balap
Setengah perjalanan mereka, Ren bisa mengimbangi Deon, Deon melirik sekilas Ren yang tiba tiba sudah ada di sampingnya, dia pun mencoba menambah kecepatan,
Ren pun melakukan hal yang sama, dan sekarang keadaan berbanding terbalik Ren yang ada di depannya.
Garis finish sudah terlihat, Taksa dan Liam masih berdo'a dalam hati, mereka yakin Ren pasti menang.
King sudah berdiri di garis Finish memegang benderanya...
Dan....
Bendera berkibar, salah satu dari mereka pemenangnya, jarak mereka tak terlalu jauh, 'setengah sok' istilah yang biasa d pakai.
Semua bersorak, para penonton ada yang bergembira ada pula yang kecewa, sorak sorai memenuhi jalan malam itu.
Ya— Ren pemenangnya, anak baru di dunia balap, bisa mengalahkan ketua genk yang merajai dunia balap liar.
Ren melepas Helmnya di sambut tepukan di punggungnya oleh orang-orang yang mendukungnya, Taksa dan Liam langsung memeluknya.
Berbeda dengan Ren, Deon sangat marah, ia tak henti-hentinya memukul dan menendang motornya.
Harga dirinya terluka....
Bukan karena kehilangan kekasihnya, ia malah tak perduli itu. Tapi ia kalah dengan anak baru, dan menurutnya itu sangat memalukan.
" Tenang boss, lu kan emang bukan kelas di spek ini, wajar klo lu kagak bisa ngendaliin arena," ucap anak buah Deon yang menepuk pundaknya seraya menyemangati.
Deon hanya meliriknya sekilas, walaupun tau dia bukan di spek yang sama, tetap saja kekalahan membuatnya marah.
Deon pun menyeret Nuna, di tatapnya wajah kekasihnya itu, 'mantan kekasih lebih tepatnya' Deon meringis dalam hati.
Nuna sangat ketakutan, dia berfikir apa dia akan di hajar di depan umum saat ini, Nuna mencengkram erat tali tasnya, dia sudah bersiap dengan apa pun yang akan Deon lakukan.
"Lu seneng kan bisa bebas dari gw" Deon mencengkram erat kedua pipinya. Nuna hanya menangis dia tak tau harus menjawab apa.
"Hei...." Ren berkata sambil menghampiri Deon, Deon pun langsung menyentak wajah Nuna dan berbalik menghadap Ren.
Dengan tersenyum miring dia lalu mendorong Nuna ke arah Ren. " Ambil noh bekas gw, cuih" sambil meludah kesamping.
Ren pun langsung menangkap Nuna yang di dorong ke arahnya, setelahnya ia langsung melepaskan Nuna dan memberikan jaketnya.
Deon dan anak buahnya segera pergi dari sana.
King lalu menghampiri Ren dan kawan-kawan.
" Hei yooo....keren" sambil mengajak mereka semua high five.
" Abis ini lu pasti banyak yang ngajak tanding, siap lu?" King senang karena dia merasa akan banyak lagi orang yang penasaran dan meminta tanding melawan Ren.
"Gw dapet duit dari dunia ini, bisa apa lagi" Ren pun menjawab dengan sedikit nada pasrah.
Mereka semua tertawa, King juga pamit karena akan ada pertandingan lainnya.
Ren dan kawan-kawan pun pamit mereka akan kembali ke markas mereka untuk merayakan kemenangan Ren.
"Makasih ya udah bebasin gw dari Deon, gw ngga tau gimana cara gw berterima kasih ke lu" ucap Nuna, yang di balas tepukan di lengannya oleh Ren.
Ren pun berjalan ke arah motornya, Nuna pun mengikutinya, dan ia berdiri di samping Ren.
Ren pun menatap Nuna bingung, ia memakai helm nya dan hendak pergi, tapi melihat Nuna yang berdiri di sampingnya sambil menggigit bibir bawahnya, Ren jadi ingat klo ia di tinggalkan oleh Deon.
Di hati kecilnya Ren mengumpat 'oh shiit....!apa yang harus gw lakuin ma nih cewek, astaga napa jadi rumit gini'.
Taksa dan Liam pun datang menghampiri mereka, Taksa yang tau Ren sedikit kebingungan, ia pun langsung menawarkan tumpangannya ke Nuna.
" Ayo gw anter lu balik, dia mah kagak bakal boncengin cewek kecuali emaknya" sambil tertawa, dan mengedipkan matanya ke arah Nuna.
Nuna sebenarnya kecewa, dia merasa bukankah Ren menginginkannya, kenapa sekarang seolah olah dia tak berarti apa-apa, hatinya kembali sakit.
Ren pun mengendarai motornya di ikuti mereka.
Di perjalanan Taksa pun berbincang bincang dengan Nuna, memberi pengertian kepada gadis itu tentang taruhan mereka.
Dia berfikir agar Nuna tidak berharap lebih kepada Ren, karena dia tau, Ren tak mengharapkan gadis itu, tapi ia berusaha agar Nuna tak terluka, bagaimanapun dia sudah cukup terluka karena di jadikan bahan taruhan oleh mantan kekasihnya itu.
"Ren emang begitu anaknya cuek, tapi baik kok" membuka pembicaraan.
"hemmm....tentang taruhan, lu jangan berharap lebih ya, dia ngga bermaksud jadiin lu ceweknya". Sambungnya ,berharap gadis itu tak terluka untuk kedua kali, walaupun dugaannya salah, karena selesai mengatakan itu Nuna terisak di belakangnya, dia pun hanya menghela nafasnya.
"Lu boleh nangis di punggung gw...gw cuma ngomong jujur aja dari pada ntar lu malah tambah berharep lebih".
" Apa alesan dia?" Nuna pun bersuara, dia masih tak mengerti alasan mereka meminta Deon mempertaruhkan dirinya.
" Apa ya...hemmm....salah satunya buat ngucapin makasih ke om lu, lu tau ndiri kan kita ini biasa nongky di bengkel om lu" Taksa tak berniat memberi tahu lebih, cukuplah garis besarnya saja.
"Om gw? apa hubungannya?".
"Gw bingung jelasin detailnya, intinya Ren ngga berharep lu jadi ceweknya".
"Ok ntar gw tanya sendiri ke Ren" Nuna masih bersikeras menuntut jawaban dari Ren langsung.
"Serah lu, gw anter lu balik dulu, besok lu baru ngomong ma dia, okeh" tegas Taksa, karena ia tak mau saat perayaan kemenangan Ren ada Nuna, mereka tidak terlalu mengenal gadis itu, lagi pula ini sudah dini hari, tak ingin gadis itu menjadi bahan gunjingan.
Nuna pun hanya menganggukkan kepalanya saja, Taksa pun tersenyum saat melihat Nuna memjawab keinginannya itu lewat kaca spion.
.
.
Ren dan Liam sudah menunggu Taksa, mereka tau Taksa pasti mengantar gadis itu pulang kerumahnya.
"Gw kira dah pesta duluan kalian" Taksa berujar sambil bertos dengan mereka.
"Pengennya sih makan duluan, gw di pelototin dia mulu, ngeri lah gw" Liam menjawab dengan menunjuk Ren dengan dagunya.
"Lu dah jelasin ke dia?" Ren bertanya, dia sangat hafal dengan sifat sahabatnya itu, ntahlah Taksa seperti selalu tau yang difikirkan olehnya.
"Hemmm....tetep aja dia mo nanya langsung kek lu katanya".
Ren pun membuang kasar nafasnya, hal rumit apa lagi yang bakal terjadi esok.
Dia sebenarnya enggan sekali berurusan dengan seorang gadis, belum drama air mata yang pasti akan sedikit meluluhkan hatinya.
Tapi Ren benar-benar tak tertarik dengan Nuna, dia hanya takut kelepasan dan berkata kasar kepada gadis itu.
" Heh!.... apa jangan-jangan si Nuna mikir dia bakal jadi cewek lu Ren" Liam yang baru sadar dengan ketelmiannya.
"Dari tadi kemana aja lu" Taksa yang langsung memukul kepala belakangnya seperti biasa.
"Ishhh ....lama-lama geger otak dah gw di tampol lu mulu".
"Lagian orang dah mikir sampe Papua, lu masih di jonggol aja" sambil melempar kulit kacang kearahnya.
Perayaan mereka sederhana, tak ada minuman beralkohol atau pun wanita penghibur. Hidangan mereka hanya Nasi dengan pecel ayam beserta soda dan makanan ringan lainnya.
Mereka hanya bersenda gurau, bernyanyi dan bermain tebak tebakan, meskipun hanya Taksa dan Liam yang bermain, Ren lebih banyak memainkan gitarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan hari....
Nuna sudah duduk menunggu di bengkel pamannya, tak lupa membawa bekal titipan ibunya.
Menunggu kedatangan Ren lebih tepatnya, dia bertekad akan bertanya langsung kepada Ren.
Sisi ego nya berfikir, tak mungkin Ren tak tertarik padanya, dia merasa sangat cantik, bisa di bilang dialah primadona di daerah mereka. Banyak laki-laki yang tergila-gila padanya, bahkan Deon pun sama, akhirnya dia pun memilih Deon, pilihan yang dia sesali sampai saat ini.
Tapi jika di pikir baik-baik ia tak terlalu menyesal, setidaknya dulu dia pun selalu di manja oleh mantan kekasihnya itu, apapun keinginannya selalu di turuti oleh Deon.
Perangainya berubah kasar setelah dia kepergok berselingkuh dengan sahabatnya, dia pun tak mengerti, kenapa Deon tak mau melepaskannya, padahal dia dengan suka rela mengalah.
Deon pun tak mau melepas sahabatnya itu, benar-benar kejam dan egois, jika ia meminta berpisah maka Deon akan memukulnya, ntah menampar atau menjambaknya.
Jika mengingat penghianatan Deon dan sahabatnya itu, hatinya kembali sakit, dia pun segera menyeka air matanya.
Dia bertekad akan meluluhkan hati Ren, dia tau Ren tidak seperti Deon yang gampang di rayu, terlihat dari cara ia memandang dirinya semalam, tak ada sedikit pun tatapan Ren menginginkannya. Dia pun tersenyum kecut.
"Sebentar nangis sebentar ketawa, dah sinting kamu" sang paman yang mengagetkannya.
"Om ini mana ada lah gadis secantik aku ini gila" langsung di tekuk saja mukanya itu.
"Ulu...ulu...ponakan om, tumben masih disini, biasanya dah langsung balik" paman berucap sambil mengacak rambutnya.
"Ih...om mah, emang ngga tau kalo Ren itu menang semalem, jadi ya aku ngga bakal ketempat Deon lagi lah, aku bakal sering kesini" cengirnya seraya memberi tau pamannya itu.
"Jadi kamu disini nunggu Ren ma temen-temennya?"
"Ya iya lah om..."
"Jangan berharap lebih, dia bukannya demen ma kamu"
Lagi dan lagi dia diingatkan untuk tak berharap lebih terhadap lelaki itu.
Makin tertantang saja dirinya untuk meluluhkan Ren.
"Biasanya pada kesini jam berapa om?"
"Bentar lagi juga dah pada dateng"
Ciiiiit.......
Seseorang mengerem di belakang tempat duduknya, dia pun menoleh, datanglah sesosok pria yang dulu pernah di hajar oleh mantan kekasihnya itu, dengan tersenyum lebar ke arahnya.
Laki-laki itu langsung duduk di sebelahnya, dan menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.
" Liam...." langsung memperkenalkan dirinya tanpa basa basi.
Nuna pun terkejut dan sedikit tergagap melihat ke sok akraban lelaki di sampingnya ini. 'kenapa teman-teman Ren aneh-aneh ya'.
"Nu....Nuna." Akhirnya dia pun menjawab.
" Tau kok, nunggu Ren ya, bentar lagi juga dateng".
Nuna hanya tersenyum, dia berharap andai Ren seperti lelaki di sampingnya ini, pasti dia akan sangat mudah meluluhkan hatinya.
.
.
.
Taksa menelpon Ren "ke bengkel kagak lu?" tanyanya, dia berfikir apa Ren akan menghindari gadis itu.
"Hemmm....mo ngecek motor lagi lah,"
"Okey, gw kesitu ya kangen sama makanan Ibu" Taksa memang memanggil Ibu Ren hanya dengan Panggilan ibu.
"Buru gw tunggu".
"Asyiiaappp....cuz otewe".
Ren pun duduk di meja biasa di depan ibunya.
"Mau makan sekarang?" bertanya pada anaknya yang sedari tadi menatapnya itu.
"Ibu masih tetap cantik" dia memang memuja sosok sang ibu yang menurutnya di usia senjanya masih terlihat cantik.
Terkadang dia berfikir kenapa ibunya tak menikah lagi, tak mungkin tak ada pria yang tak tertarik dengan ibunya itu, tapi sang ibu pernah menjawab jika tak ada yang bisa menggantikan posisi ayah mereka di hatinya.
Dia pun bersyukur, ibunya tetap setia kepada sang Ayah yang telah berpulang itu. Dia juga tak rela berbagi perhatian dengan laki-laki lain, cukuplah berbagi dengan kakaknya saja.
"Halah kamu ini, pasti ada maunya ya" ibu tetap tersipu mendengar pujian anaknya itu.
"Siang bu...." Taksa yang sudah tiba di rumah mereka.
"Eh nak Taksa, ayo duduk, jadi Ren nunggu kamu buat makan."
Taksa hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal itu.
Mereka pun makan di selingi obrolan ringan, setelah selesai Ren pun mencuci piring mereka dan pamit untuk pergi.
"Bu kami pamit dulu ya, makasih makananya" Taksa sebenarnya tidak enak jika makan di warung makan Ren, karena ibunya itu selalu menolak jika ia akan membayar.
Sebagai balasan Ia pun kadang membantunya di warung kala ramai pengunjung. Ntah itu membersihkan meja, menyapu, atau pun mencuci piring.
Karena warung ibu tak memiliki karyawan, jadi terkadang jam makan siang warung ini kekurangan orang.
"Ajak juga temen kamu yang satunya lagi Ren, siapa ya lupa ibu".
"Liam... bu" jawab Taksa.
"Nah iya Liam, dia baru sekali kesini loh, kangen ibu sama anak itu, lucu".
"Lucu apanya....berisik iya" Ren sedikit merasa cemburu, memang Liam baru sekali kerumahnya, tapi anak itu bisa sekali mengambil hati ibunya. Ibunya selalu tertawa jika bicara dengan Liam.
"ishhh....kamu ini, dia tuh menghibur ibu tau" belanya.
Ren hanya mendengus dan menyalami Ibunya, Taksa pun melakukan hal yang sama.
Mereka pun pergi menuju bengkel, Ren sudah bersiap jika gadis itu akan menunggunya.
Masa bodo jika gadis itu tersinggung dengan penjelasannya nanti, dia kan bukan type lelaki yang suka berbasa basi.
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti