Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Air Kotor dan Baskom yang Pecah
Senyum Bu Lastri berubah menjadi suara paling ramai di depan koperasi keesokan paginya.
"Saya tidak menuduh siapa-siapa," katanya sambil membilas kain pel di sebuah baskom. "Saya cuma heran. Pengurus rumah macam apa yang malam-malam masih ada di rumah perwira bujang, lalu keluar memakai kemejanya?"
Beberapa istri prajurit yang mengantre sembako saling pandang. Ada yang pura-pura memeriksa ponsel, ada pula yang mendekat agar tidak kehilangan satu kata pun.
Arum baru tiba membawa jeriken kecil. Bu Inah menyuruhnya mengambil air bersih karena pipa Blok C-3 belum diperbaiki.
Langkahnya berhenti ketika semua kepala menoleh.
"Nah, orangnya datang," ujar Lastri.
Arum mendekati keran umum. "Permisi, Bu. Saya mau mengambil air."
Lastri menggeser baskom ke depan keran, sengaja menutup jalan. Air di dalamnya telah keruh oleh kain pel. "Tunggu. Yang lain antre dari tadi. Jangan mentang-mentang dekat dengan Mayor, kamu merasa bisa mendahului."
"Saya tidak mendahului. Saya berdiri di belakang."
"Pintar menjawab sekarang." Lastri menatap baju Arum yang kancingnya telah dijahit rapi. "Kemarin baru datang dengan baju terbuka, hari ini sudah berani melawan istri perwira."
Bisik-bisik terdengar.
Arum menahan jeriken di depan perut. "Kancing saya lepas karena jatuh. Pipa kamar mandi juga pecah. Mayor hanya menolong menutup air."
"Tentu saja. Pipa pecah." Lastri mengedip kepada perempuan di sebelahnya. "Alasan yang bagus."
"Itu bukan alasan."
"Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kamu memakai kemejanya? Kenapa sampai larut malam?"
"Baju saya basah. Pintu depan terbuka, dan Bu Inah menjemput saya."
Seorang ibu muda di antrean mengangguk. "Saya memang melihat Bu Inah datang."
Lastri melirik tajam hingga perempuan itu segera menunduk.
"Kamu baru delapan belas tahun, tapi sudah pintar mencari perhatian atasan," lanjut Lastri. "Pembantu genit seperti kamu bisa merusak rumah tangga orang. Hari ini Mayor bujang. Besok siapa tahu suami orang yang kamu goda."
Kata-kata itu menyengat lebih keras daripada tamparan. Arum melihat wajah-wajah di sekelilingnya. Tak satu pun benar-benar mengenalnya, tetapi sebagian sudah menilai dari sebuah cerita yang dipotong sesuka hati.
"Saya bekerja berdasarkan perintah satuan," katanya. "Saya tidak menggoda siapa pun."
"Kalau begitu jangan berpenampilan murahan."
Lastri mengangkat baskom kotor. Arum mengira ia hendak membuang air ke selokan, tetapi perempuan itu memiringkannya tepat saat Arum melintas.
Air abu-abu menyiram kaki dan rok Arum.
Jerikennya jatuh. Suara tawa kecil muncul dari belakang antrean, lalu cepat dibungkam.
Arum berdiri membeku. Bau sabun bekas dan lumpur naik dari kainnya. Telapak tangannya mengepal, tetapi lidahnya kelu.
"Aduh, maaf," kata Lastri tanpa sedikit pun penyesalan. "Tanganku licin."
"Angkat baskom itu."
Suara rendah dari belakang kerumunan membuat semua orang diam.
Bara berjalan mendekat dengan tongkat di tangan kiri. Seragam lapangannya rapi, wajahnya lebih gelap daripada awan pagi. Dua prajurit yang kebetulan melintas langsung memberi hormat.
"Siap, Komandan."
Bara tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada rok Arum yang basah oleh air kotor.
Lastri memaksakan senyum. "Pagi, Pak Mayor. Ini cuma salah paham kecil di antara perempuan."
"Angkat baskomnya."
Lastri menurut. "Saya tidak sengaja menumpahkan air."
Bara mengambil baskom dari tangannya. Ia membaliknya, memperlihatkan kain pel berlumpur di dalam. "Air dari pipa rumahku semalam jernih. Sambungannya pecah. Aku yang menutup katup. Arum memakai kemejaku karena bajunya basah. Pintu depan terbuka sampai Bu Inah menjemput."
Setiap kalimat diucapkan jelas, cukup keras agar seluruh antrean mendengar.
"Tidak ada yang terjadi selain pipa rusak. Siapa pun yang menyebarkan cerita lain sedang memfitnah."
Lastri memucat. "Saya hanya mengulang apa yang saya lihat."
"Kamu melihat Arum basah karena pipa pecah, lalu memilih cerita yang paling kotor."
"Pak Mayor terlalu membela dia. Wajar kalau orang jadi curiga."
Bara menatap baskom di tangannya, lalu menghantamkannya ke tepi beton sumur.
Prak!
Plastik tebal itu pecah menjadi dua. Kerumunan tersentak.
Bara menjatuhkan pecahannya di depan kaki Lastri. "Kalau masih punya banyak cerita, sampaikan di depan atasanku. Sekalian jelaskan kenapa istri seorang Kapten menyiram pekerja satuan dengan air kotor dan merusak nama baik Danyon."
Wajah Lastri kehilangan warna.
"Saya tidak bermaksud merusak nama baik Komandan."
"Tapi kamu baru melakukannya di depan saksi."
Bara menoleh pada dua prajurit yang berdiri kaku. "Catat nama yang hadir. Kalau cerita ini menyebar lagi, saya ingin tahu sumbernya."
"Siap, Komandan."
Tak ada lagi yang tertawa.
Seorang istri prajurit di ujung antrean mengangkat tangan ragu. "Pak Mayor, tadi pagi ada pesan suara di grup Persit."
Lastri menoleh tajam. "Itu cuma obrolan."
Perempuan tersebut menunjukkan layar ponselnya. Sebuah voice note berdurasi empat puluh detik dikirim atas nama Lastri, disusul kalimat yang menyebut ada perempuan muda bermalam di rumah seorang perwira.
Bara tidak mengambil ponsel itu. Ia hanya membacanya dari tempat berdiri.
"Hapus pesannya," katanya kepada Lastri.
"Saya tidak bisa menghapus dari ponsel orang lain."
"Hapus untuk semua anggota. Lalu kirim klarifikasi sekarang."
Lastri menatap orang-orang di sekeliling. Tak ada lagi yang mendukungnya. Dengan jari kaku, ia membuka grup dan menarik kembali voice note tersebut.
"Tulis bahwa pipa Blok C-3 pecah, pintu depan terbuka, dan Bu Inah menjemput Arum," perintah Bara. "Tulis juga bahwa kamu menuduh tanpa bukti."
"Pak Mayor..."
"Atau kita lanjutkan di depan pengurus Persit dan atasanku."
Bibir Lastri memucat. Ia mengetik kalimat demi kalimat. Beberapa ponsel di antrean berbunyi hampir bersamaan ketika klarifikasi terkirim.
Bara menatap anggota grup lain. "Yang sudah meneruskan pesan tadi, teruskan klarifikasinya juga. Fitnah tidak berhenti hanya karena pengirim pertama menghapusnya."
Satu per satu perempuan mengangguk. Sebagian langsung membuka ponsel, malu karena telah ikut menyebarkan cerita.
Ibu muda yang tadi membenarkan kedatangan Bu Inah mendekati Arum. Ia menyerahkan saputangan bersih untuk mengusap lumpur di betisnya.
"Maaf, Mbak. Saya tahu sebagian ceritanya, tapi tadi saya takut bicara lebih keras."
Arum menerima saputangan itu. "Terima kasih sudah mengatakan yang benar."
Permintaan maaf kecil tersebut membuat beberapa kepala lain ikut tertunduk.
Bara melepas jaket tipisnya dan menyerahkannya kepada Arum untuk menutupi rok yang basah. "Kita pulang."
"Airnya belum diambil."
"Nanti prajurit kirim jeriken."
"Tapi..."
"Arum."
Ia menunduk. "Baik, Pak Mayor."
Dalam perjalanan ke Blok C-3, Bara berjalan sedikit lebih lambat. Hantaman baskom tadi membuat kaki kanannya menahan beban terlalu lama. Arum melihat ruas jarinya memutih di atas tongkat.
"Kaki Mayor sakit."
"Tidak."
"Tongkatnya sampai bergetar."
"Karena aku marah."
"Saya bisa menghadapi Bu Lastri sendiri."
Bara berhenti. "Tadi kamu berdiri diam ketika dia menyiram kakimu."
Arum menatap noda di roknya. "Kalau saya membalas, orang bilang saya tidak tahu diri."
"Biarkan mereka bicara."
"Mayor bisa bilang begitu karena semua orang takut pada Mayor."
Tatapan Bara turun pada wajahnya. "Kalau begitu, pakai namaku sampai mereka takut padamu juga."
Arum terdiam.
Di rumah, Bara menyuruhnya mengganti pakaian dan mencuci kaki dengan air hangat. Saat Arum kembali, sebuah jeriken penuh sudah diantar prajurit. Di sampingnya ada catatan singkat bahwa tukang pipa satuan akan datang siang nanti.
"Saya membuat Mayor repot," kata Arum.
"Dengar." Bara duduk di kursi, menahan kaki kanannya lurus. "Kalau ada apa-apa, aku yang tanggung. Jangan berdiri sendirian hanya karena takut orang bicara."
Hidung Arum terasa panas. Ia memalingkan wajah pada jeriken. "Kenapa Mayor begitu baik kepada saya?"
Bara tak langsung menjawab.
"Karena di rumahku, orang tidak boleh diperlakukan seperti barang."
Jawaban itu singkat, tetapi cukup membuat dada Arum sesak oleh kehangatan yang tak biasa.
Menjelang siang, akibat keributan tersebut tiba di markas lebih cepat daripada pesan WhatsApp Lastri. Letkol Yusuf memanggil Kapten Broto ke ruangannya.
"Istrimu membuat tuduhan terhadap Danyon di depan warga asrama," kata Yusuf sambil meletakkan laporan saksi di meja. "Dia juga menyiram pekerja satuan dengan air kotor. Kamu paham akibat disiplin dan nama baik kesatuan?"
Broto berdiri tegak, wajahnya merah. "Siap, paham, Pak Yusuf."
"Saya tidak meminta kamu menghukum istrimu di rumah. Saya meminta tanggung jawab. Hentikan fitnahnya, minta dia meminta maaf di tempat yang sama, dan pastikan tidak ada intimidasi lanjutan."
"Siap, laksanakan."
Sore harinya, antrean koperasi kembali dipenuhi orang. Kali ini Kapten Broto berdiri di samping Bu Lastri. Perempuan itu menunduk, tetapi kedua tangannya terkepal.
Arum datang bersama Bara. Sang Mayor berhenti beberapa langkah di belakang, memberi Arum ruang untuk menghadapi permintaan maaf itu sendiri.
Broto membuka suara. "Istri saya telah menyebarkan dugaan tanpa dasar dan mempermalukan Mbak Arum. Perbuatannya ikut mencoreng disiplin keluarga prajurit."
Ia menoleh pada Lastri. "Sampaikan."
Lastri mengangkat wajah. "Maaf."
"Yang jelas," kata Broto.
Tatapan Lastri menyapu para perempuan yang pagi tadi ikut berbisik. Malu membuat lehernya merah.
"Saya minta maaf kepada Arum karena menuduh tanpa bukti dan menumpahkan air kotor. Pipa di Blok C-3 memang pecah. Tidak ada kejadian seperti yang saya katakan."
Arum menarik napas. "Saya menerima permintaan maaf, Bu. Tolong jangan ulangi."
"Tidak akan," jawab Lastri.
Kata-katanya benar, tetapi matanya berkata lain.
Ketika orang-orang mulai bubar, Lastri melihat pecahan baskom yang masih diletakkan di dekat sumur sebagai pengingat. Wajahnya menegang.
Hari itu ia dipaksa menelan kembali fitnahnya di depan semua orang.
Namun, kebencian yang tertinggal di matanya belum ikut pecah.