Liliana Dupont adalah cewek polos dan introvert. Dia juga tak pandai bergaul dengan teman sebayanya karena dia adalah anak konglomerat. Anak terpandang di sekolah tetapi dia tidak sombong. Hingga akhirnya Roy Alvaro datang di kehidupannya dan langsung mengklaim dirinya bahwa milik Roy seorang.
Roy Alvaro adalah cowok dingin dan tak banyak bicara. Tanpa mereka duga, Roy juga bisa menjadi monster tampan jika itu sudah menyangkut dengan apa yang di miliki nya di sentuh orang lain apalagi Liliana Dupont.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain-sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dissapointed
"Wei rumah lo tumben banget rapi," celetuk Itto saat memasuki ruang tamu rumah Alivia.
Hari ini Lily beserta teman-temannya memang mengadakan acara seminggu sekali yang di laksanakan di rumah para anggota Socialita. Dan kali ini rumah Alivia adalah tempatnya.
Saat memasuki ruang tamu di rumah yang bernuansa cream dan putih ini, mereka di suguhkan dengan pemandangan pot beserta guci-guci mahal milik Mama Alivia yang memang menyukai guci dan vas-vas bunga yang indah dan tentunya terbilang mahal.
Lily duduk di kursi panjang bersama Natasha dan Yasmine. Sedangkan Alivia masih berdiri dan membawa minuman dari arah dapur dan mendeliki ke arah Itto.
“Sembarangan aja. Buat apa gue sewa pembantu banyak kalau rumah gak rapi? Ya kali mau makan gaji buta,” jawab Alivia kemudian.
“Gue kira cuma jadi dayang-dayang lo pas lo bete. Lo kan kalau bete suka marah-marah gak jelas,” jawab Refan menimpali.
“Eh gue enggak pernah gitu ya.”
“Apaan gak pernah? Terus yang nangis-nangis bawang bombay ke Nasya malam-malam itu apaan? Setan lo?” tanya Refan sambil tertawa.
Alivia merengut, “lo kalau punya masalah sama gue gak usah bongkar-bongkar rahasia gue juga. Lo kira gue enggak punya urat malu apa?”
“Bisa malu juga ternyata,” celetuk Itto sambil minum minuman yang sudah di sediakan oleh Alivia lengkap dengan cemilannya.
Alivia mendelik.
“Itto! Refan! Jaga sopan santun,” sentak Natasha yang dari tadi hanya diam menatap ketiganya cekcok.
Natasha adalah sepupu Refan dan Itto. Cewek itu adalah cewek satu-satunya yang ada di keluarga Alexander. Natasha cantik. Cewek paling cantik dan natural daripada mereka. Dia sopan dan manis. Bahkan Lily kadang minder dengan Natasha yang bersikap seperti orang dewasa tidak seperti dirinya yang terkadang kekanak-kanakan bahkan sering ngambek pada kedua orangtuanya.
Semua orangtua mereka sangat menyayangi Natasha. Kadang Natasha selalu di perlakukan spesial oleh kedua orangtua mereka sudah seperti anaknya sendiri. Natasha juga pintar dan berprestasi. Cewek itu sering ikut lomba kemana-mana antar sekolah bahkan Nasional dan selalu mengharumkan nama sekolah.
Lily terkekeh melihat Itto dan Refan seketika kicep saat di tegur oleh Natasha. Penengah yang baik. Cewek itu berpikir dewasa dan memiliki jiwa pemimpin. Lily terkadang salut pada sikap Natasha ini. Menjadi teman curhat yang baik saat Lily ada masalah terutama saat masalahnya dengan Roy belakangan ini.
“Kita mau ngumpul aja nih? Gak ada makan-makan gitu?” tanya Carissa saat suasana menjadi hening.
“Go-food aja yuk!” Alivia lalu mengambil ponselnya dan mulai memesan makanan.
“Kenapa enggak ke drive thru aja sih?” celetuk Asley dan memainkan ponselnya kembali.
“Jadi gimana?” tanya Alivia lagi.
Mereka tampak berpikir. Lily diam. Bukan apa-apa, dirinya sedang malas menimbrung ucapan mereka karena pikirannya masih belum move on dengan apa yang sedang terjadi tadi sore.
Roy marah besar dan itu karena dirinya yang tak izin padanya. Menurut Lily itu bukanlah hal yang cukup besar. Tidak ada pengaruh apa-apa. Tapi kenapa Roy begitu marah?
Lily mengambil ponselnya yang bergetar dan membukanya. Ada beberapa pesan yang di kirim oleh Roy dan beberapa panggilannya juga.
Roy Alvaro
°Ada dimana?
°Aku mau ke rumah kamu sekarang.
°Aku udah otw.
°Kamu keluar sekarang, aku ada di depan
°Kamu denger gak sih?
°Kenapa telfon aku gak pernah kamu angkat?
°Kamu sebenarnya ada dimana?
°Jangan bilang kamu sama Farrel?
°Kalau sampai itu terjadi, jangan salahin aku buat bunuh dia.
°Ly?
°Kamu marah?
°Jawab Ly.
Lily menatap semua pesan-pesan itu dengan jengah. Kenapa Roy semakin hari, semakin tak terkendali? Kenapa Roy selalu menyangkut-pautkan ini dengan Farrel yang enggak tahu apa-apa?
Lily membalas pesan itu singkat.
Liliana Dupont.
Aku enggak ada di rumah.•
Jangan bawa-bawa Farrel. •
Aku enggak sama dia. •
Aku lagi bareng teman-teman aku. •
Kamu pulang aja. •
Aku baik-baik aja.•
Besok kita masih bisa ketemu kok. •
Setelah membalas pesan itu, Lily memasukkan ponselnya kembali. Masa bodo dengan Roy yang nantinya akan mencak-mencak tak jelas bahkan marah-marah tanpa henti. Dia sudah tahu itu akan terjadi. Jadi itu urusannya nanti.
“Oke gini aja!” jeda sejenak. “kita Go-food aja, Liv.”
Setelah Lily mengucapkan itu, Alivia akhirnya memesan makanan dan minuman sesuai dengan keinginan mereka.
Selang sejam menunggu, makanan itu akhirnya datang membuat semua yang ada disana berebut mengambilnya seperti orang yang kurang makan. Refan dan Itto mengambil makanan paling banyak di antara mereka. Hingga tanpa terasa waktu berjalan cukup cepat malam ini.
🌱
“Ngapain masih disini?” tanya Lily ketika keluar dari mobilnya. Lily sengaja memakai mobil malam ini karena dia juga tidak mau merepotkan Natasha yang juga di antar oleh Varsha. Selain itu, Lily juga ingin merasakan yang namanya kebebasan untuk sesaat sebelum akhirnya dia kembali pada kenyataan yang namanya memiliki pacar super posesif.
Roy berdiri menghadap ke arah Lily yang terlihat kecil baginya dengan tatapan tajam dan dinginnya. “Bawa mobil sendiri?”
Roy tidak menjawab pertanyaan Lily malah melayangkan pertanyaan balik pada Lily membuat Lily mengernyitkan alisnya.
“Seperti yang kamu liat.” Lily menghela napasnya. “Kamu kenapa enggak pulang?”
“Gimana aku mau pulang kalau kamu aja ngilang gak ada kabar dan tahu-tahu kamu langgar peraturan aku.” Roy mengatakan itu dengan dinginnya.
“Aku baik-baik aja. Aku bukan anak kecil lagi,” ucap Lily membuat Roy mengepalkan kedua tangannya.
“Dapat ajaran dari siapa kamu? Farrel? Atau teman-teman kamu yang sok kaya dan sombong itu?” tanya Roy lagi. Kali ini nada bicara Roy semakin dingin dan menghujam jantung Lily. Roy marah besar. Tapi dia juga tidak terima dengan perkataan Roy yang menyalahkan teman-temannya. Mereka tidak tahu apa-apa.
“Jangan sekalipun kamu nyalah-nyalahin temen-temen aku dalam masalah ini. Mereka enggak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Mereka baik dan aku enggak suka sama omongan kamu yang bilang aku berubah karena mereka. Harusnya kamu mikir, selama kita pacaran, apa aku membantah kamu? Apa aku pernah nantang kamu balik? Atau aku pernah marah bahkan bersikap kasar sama kamu yang cemburu tak beralasan?” tanya Lily balik. Dia kecewa dengan ucapan Roy yang selalu menyalahkan pertemanannya.
Lily pergi meninggalkan Roy yang diam termangu. Dia menyadari ucapannya salah bahkan menyakiti gadisnya itu.
---
TBC.
Sebelumnya, Author minta maaf ya udah buat kalian menunggu. tapi author emang beneran ga bisa Up cepet karena lagi dikejar deadline. mungkin up seminggu sekali kalo udah siap.
balik mampir kk
up ajalah