Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbayang
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Alex begitu sangat menikmati perjalanannya bersama Indi.
"Indi..." panggil Alex.
"Iya Bang."
"Kamu setiap hari pulang jam segini?"
"Iya Bang."
"Ok, kalau gitu tungguin Abang soalnya waktu pulang kita sama jadi kita bisa bareng pulangnya, lumayan kan dari pada naik angkot," seru Alex.
"Ga usah Bang, Indi ga mau ngerepotin Abang."
"Enggak, siapa yang ngerepotin kan ini sekalian pulang bareng, gimana?" tanya Alex.
Indi terlihat berpikir dan itu semua tidak luput dari perhatian Alex. Alex melihat expresi Indi yang sedang berpikir itu dari spion motornya, Alex tampak tersenyum menurut Alex, Indi begitu menggemaskan.
"Bagaimana Indi?"
"Hmm..terserah Bang Alex saja," jawab Indi.
"Nah gitu dong Indi."
Didalam hatinya Alex begitu sangat bahagia, akhirnya Alex bisa boncengan dengan Indi setiap hari.
***
Sementara itu, Aiman dan Joe sudah sampai di Hotel yang dituju. Mereka memesan dua kamar, Joe mengantar Aiman terlebih dahulu karen Aiman belum berhenti dengan bersin-bersinnya.
Malahan sekarang hidungnya sudah terlihat sangat merah, tubuhnya sudah sangat lemas, wajahnya sudah mulai gatal-gatal, kepala pusing, matanya terus saja berair, dan sakit tenggorokan juga.
Joe memapah Aiman dan membaringkan Aiman di tempat tidur. Joe dengan sigap mencari obat didalam tas Aiman.
"Nih, kamu minum dulu obatnya."
Joe memberikan obat dan air kepada Aiman, Aiman pun dengan tubuh yang lemah mencoba bangun dan meminum obat yang di berikan oleh Joe.
"Makasih Joe."
"Sama-sama, kalau begitu kamu istirahat aku juga mau istirahat."
"Iya."
Joe meninggalkan kamar Aiman menuju kamarnya sendiri. Aiman tampak melamun membayangkan wanita yang tadi sudah membuat alerginya kambuh.
Aiman menyunggingkan senyumannya ketika ingat tingkah Indi yang dengan sengajanya menyodorkan bunga kearah wajah Aiman, wanita itu tidak tahu kalau Aiman alergi bunga tepatnya putik bunga.
"Semoga kita bisa bertemu lagi," gumam Aiman.
Dan akhirnya Aiman pun memejamkan matanya karena obat alerginya memang menyebabkan ngantuk.
***
Alex dan Indi pun sudah sampai didepan rumah Indi, tampak di teras sudah ada Keisya menunggu kedatangan Indi.
"Lho, kok Indi sama Bang Alex," gumam Keisya.
"Makasih Bang," ucap Indi sembari memberikan helmnya.
"Sama-sama, jangan lupa besok tungguin Abang ya."
"Iya Bang."
"Kalau begitu Abang pulang dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Indi pun membalikan badan, betapa terkejutnya Indi ternyata Keisya sudah berada tepat dibelakangnya.
"Astagfirullah, Keisya ngagetin aja."
"Maaf, oh iya kok kamu bisa bareng Bang Alex?" tanya Keisya.
"Oh itu, kebetulan saja Bang Alex pulangnya bareng dan lewat tempat kerja aku jadi sekalian pulang bareng, yuk masuk."
Indi pun merangkul pundak Keisya dan masuk kedalam rumahnya, tapi Keisya sendiri sedikit merasa hatinya kesal juga melihat Indi bersama dengan Alex.
"Sebenarnya ada hubungan apa Indi sama Bang Alex, apa mereka berpacaran?" batin Keisya.
"Sebentar ya, aku mau mandi dulu."
Keisya hanya menganggukan kepalanya...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kei, sudah lama disini?" tanya Ibu Ninik.
"Belum Bu baru saja."
"Indinya kemana?"
"Lagi mandi Bu."
Tidak lama kemudian Indi pun keluar dari kamar mandinya.
"Lho, kok Ibu pulangnya telat?" tanya Indi.
"Iya tadi Bu Sarah, nyuruh Ibu setrika juga lumayanlah Nak dapat tambahan," ucap Ibu Ninik.
"Ibu jangan terlalu capek, kan sekarang Indi sudah dapat pekerjaan biar Indi saja yang bekerja," sahut Indi.
"Tidak Nak, Ibu tidak capek kamu bekerja saja dan hasil kerja kamu, kamu simpan saja buat kebutuhan kamu," ucap Ibu Ninik sembari mengusap kepala Indi.
Keisya yang melihat interaksi antara Anak dan Ibu itu merasa terenyuh, Keisya harus banyak bersyukur karena dia lahir dari keluarga yang berada.
"Ya sudah, Ibu mau bersih-bersih dulu."
"Ndi, jalan-jalan yuk mumpung cuaca sore ini cerah," ajak Keisya.
"Jalan-jalan kemana?"
"Kemana aja, yuk mumpung aku bawa motor ayolah kita kan sudah lama tidak jalan-jalan bareng boncengan kaya dulu," rengek Keisya.
"Hmmm..baiklah, sebentar aku pakai jilbab dulu."
Keisya pun dengan penuh semangat menunggu Indi diatas motornya.
"Bu, Indi keluar dulu sebentar ya Bu sama Keisya, Ibu jangan masak nanti biar Indi beli saja diluar," teriak Indi.
"Iya Nak, hati-hati dan pulangnya jangan terlalu malam."
"Iya Bu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Yuk Kei."
"Nih pake helm dulu."
Indi dan Keisya pun jalan-jalan menggunakan motor Keisya, dulu di zaman sekolah Keisya memang selalu antar jemput Indi kesekolah karena Keisya merasa kasihan Indi selalu dihukum karena setiap hari selalu telat datang ke sekolah.
Maklum Indi selalu naik angkot yang sudah jelas kalau angkot itu selalu ngetem menunggu penumpang dan akhirnya Indi selalu telat datang ke sekolah.
"Kita mau kemana Kei?" teriak Indi.
"Bagaimana kalau kita ke Taman Kota Indi, sudah lama kita tidak kesana," jawab Keisya dengan teriakan juga.
"Boleh juga, let's go..." sahut Indi.
Kedua wanita cantik itu terlihat sangat bahagia, terakhir kali mereka jalan berdua saat sebelum Keisya berangkat ke Malaysia untuk melanjutakan Kuliahnya di Negeri Jiran itu.
Keisya memarkirkan motornya, dan kedua wanita cantik itu jalan-jalan mengitari Taman Kota yang saat ini sangat ramai banyak orang-orang yang sedang jalan-jalan juga menikmati cerahnya cuaca di sore hari ini.
"Kei, ada tukang cilok tuh beli yuk!!" ajak Indi.
"Ayo.."
Mereka pun menghampiri gerobak cilok yang tampak penuh dikerumuni oleh Ibu-ibu, anak-anak, dan remaja itu.
"Wah penuh banget Kei," seru Indi.
"Iya, kayanya ciloknya enak Ndi makannya penuh gitu."
"Ya sudah kita tunggu saja, mudah-mudahan tidak lama," sahut Indi.
Indi dan Keysa pun duduk di pinggiran Taman menunggu pembelinya berkurang. Butuh waktu 15 menit untuk Indi dan Keisya menunggu, sehingga satu persatu pembeli mulai pergi.
"Bang, kita pesan dua wadah ya," teriak Indi yang masih sibuk dengan Ponselnya.
"Ok..."
Indi pun menoleh karena seperti kenal dengan suaranya.
"Lho, Bang Azzam."
"Indi, ngapain kamu disini?" tanya Azzam.
"Lagi jalan-jalan Bang."
"Eh ada Keisya juga, hai Keisya cantik!!" sapa Azzam.
"Hai juga Bang Azzam," jawab Keisya dengan senyumannya.
"Masyaalloh senyumanmu mengalihkan dunia Abang," seru Azzam.
"Mulai deh gombalannnya keluar, Abang kok bisa jualan disini?" tanya Indi.
"Lihat cuaca cerah banget Indi, sayang kalau tidak dimanfaatkan," jawab Azzam dengan santainya.
"Indi salut sama Bang Azzam, semangat banget jualannya pagi, siang, sore, malam Abang tampak bersemangat terus," puji Indi.
"Iya Indi lagi kejar setoran."
"Kejar setoran apa Bang?"
"Setoran untuk meminang Keisya," ucap Azzam malu-malu sembari menggigit-gigit handuk kecil yang ada dilehernya.
"Apaan sih Bang, gombal mulu tuh lihat wajah Keisya sampai merah kaya gitu," goda Indi.
"Ih Indi apaan sih," rengek Keisya dengan mencubit kecil pinggang Indi.
"Aw...sakit Kei," keluh Indi.
"Sini kalian duduk di bangku ini, kalian mau makan disini kan?" tanya Azzam.
"Iya Bang, kita mau makan disini saja."
Indi dan Keisya pun duduk di bangku plastik yang disediakan oleh Azzam. Azzam segera membuatkan cilok pesenan Indi dan Keisya.
"Pantesan saja gerobaknya di kerubungi banyak orang ternyata yang jualannya Bang Azzam," seru Indi dengan mengunyah ciloknya.
Azzam hanya tersenyum dengan seruan Indi, Azzam ikut duduk disamping Indi karena kebetulan sedang tidak ada pembeli.
"Eh Abang mau nanya nih serius, boleh ga sih cowok itu beli jamu sari rapet?" tanya Azzam.
Indi dan Keisya yang mendengar pertanyaan Azzam seketika menghentikan kunyahannya dan saling pandang satu sama lain dan akhirnya kedua wanita cantik itu tertawa bersamaan.
"Abang Azzam ini aneh-aneh aja, mana ada cowok beli jamu sari rapet, buat apaan coba?" sahut Indi dengan tawanya.
"Soalnya Abang mau rapetin hati Abang ke hati Keisya," ucap Azzam dengan senyumannya.
Seketika Keisya tersedak dan dengan sigap Azzam memberikan air botol mineral kepada Keisya.
"Astaga Abang, niat banget gombalannya," seru Indi.
"Maaf ya Kei, Abang emang orangnya seperti ini kadang-kadang suka kambuh penyakitnya kalau dekat dengan wanita cantik," sahut Azzam.
"Iya gapapa Bang," jawab Keisya.
"Bang Azzam kenapa ga nikah aja," seru Indi.
"Bagaimana mau nikah Indi, jangankan calon istri, calon pacar pun ga punya mungkin karena Abang cuma tukang jualan keliling jadi ga ada yang mau sama Abang," ucap Azzam dengan wajah yang pura-pura dibuat sedih.
"Isshh..isshh..isshh Abang jangan bicara seperti itu ga baik Bang, Indi yakin suatu saat nanti pasti bakalan ada wanita yang menerima Abang apa adanya."
"Amin..Indi, mudah-mudahan saja ya."
Cukup lama, Indi dan Keisya ngobrol-ngobrol dengan Azzam hingga tak terasa sudah masuk waktu maghrib dan kedua wanita cantik itu memutuskan untuk pulang.
"Bang, kita duluan ya."
"Iya Indi, Abang juga mau pulang kok."
"Bang pulang dulu," ucap Keisya.
"Iya cantik, hati-hati dijalan. Untung kamu tidak pakai motornya sama aku Kei, coba kalau sama aku pasti kamu bakalan di tilang," ucap Azzam.
Keisya yang sedang memakai helmnya pun menghentikan sejenak kegiatannya.
"Lho kok bisa di tilang Bang?" tanya Keisya bingung.
"Soalnya kan kita bertiga kamu, aku, dan cinta," ucap Azzam.
"Astagfirullah Bang Azzam, garing banget sih. Ayo Kei cepetan kita pulang kalau lama-lama disini aku bisa pingsan mendengar gombalan-gombalan Bang Azzam," seru Indi.
Azzam pun tertawa dan melambaikan tangannya dikala Keisya mulai melajukan motornya.
Setelah membeli lauk pauk untuk makan malamnya, Keisya pun mengantarkan Indi pulang.
"Ndi, kayanya aku langsung pulang saja ya soalnya kalau mampir dulu takut kemaleman aku takut mana bawa motor sendiri," seru Keisya.
"Ya sudah, makasih ya Kei sudah membawaku jalan-jalan."
"Iya sama-sama, aku pulang dulu ya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati Kei," terika Indi.
"Ok."
Indi pun segera masuk kedalam rumahnya, karena pasti Ibunya sudah menunggu untuk makan malam.
***
Sementara itu disebuah Hotel, Joe menyuruh petugas Hotel untuk membawakan makanan ke Kamar tempat dimana Aiman sedang beristirahat.
"Im, apa sekarang kamu sudah baikan?" tanya Joe.
"Alhamdulillah Joe."
"Ayo kita makan dulu, tuh makanannya sudah ada di meja apa aku bawakan saja kesini."
"Ah tidak usah Joe, kita makan disana saja."
Perlahan Aiman melangkahkan kakinya, menuju ruang tamu di Kamar Hotel VVIP itu.
"Bagaimana Joe, apa kamu sudah menemukan tempat yang cocok buat pembangunan Restoran baru kita?" tanya Aiman disela-sela kunyahannya.
"Orang kepercayaan kita sudah mengirimkan lokasinya, mungkin kita sudah bisa meninjaunya, tapi sepertinya nunggu kamu sembuh dulu baru kita bisa melihat ke lokasi," jelas Joe.
"Ok.."
Mereka berdua pun melanjutkan makan malamnya, setelah selesai makan malam Joe langsung meninggalkan kamar Aiman.
Saat ini Aiman berada di balkon kamar Hotelnya, menikmati suasana malam dan pemandangan Kota Jakarta dari atas balkonnya.
Malam ini begitu sangat indah dengan langit-langit yang dihiasi penuh dengan bintang-bintang, sekelebat bayangan wajah Indi kembali mengganggu pikiran Aiman.
"Astaga, mengapa aku selalu terbayang dengan wajah wanita itu? senyumannya sungguh sangat indah menghiasi wajah cantiknya yang alami," gumam Aiman.
Dikala Aiman sedang memikirkan Indi, tiba-tiba pikirannya tersadar Aiman begitu tersentak dikala dia mengingat akan Adiknya yang entah tahu berada dimana.
"Ya Alloh, dimana kamu sekarang Dek? apa kamu bisa tidur nyenyak sepertiku? apa kamu bisa makan enak sepertiku? tunggu Abang Dek, Abang janji akan mencarimu dengan segala kemampuan Abang," gumam Aiman.
Aiman menghela nafasnya, sungguh Aiman lelah harus mencari kemana Adiknya itu tapi hati Aiman mengatakan kalau Adiknya sedang berada didekatnya.
Aiman hanya bisa memandang foto bayi yang selalu ada di Ponselnya, foto yang tidak lain adalah Adiknya sendiri.
"Abang merindukanmu Dek, bagaimana wajahmu saat ini? pasti kamu sangat tampan mengalahkan Abangmu ini, tunggulah Dek, Abang akan segera menemukanmu," gumam Aiman.
Tanpa Aiman sadari, cairan bening itu keluar dari sudut mata Aiman yang saat ini terlihat bengkak akibat alerginya, sungguh Aiman sangat merindukan Adiknya itu.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Hallo Author yang kece badai datang lagi,,ayo dong dukungannya yang kenceng lagi biar masuk top rangking🙏🙏🤗🤗😘😘
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💜💜💜
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya