NovelToon NovelToon
AMERICAN CROWS

AMERICAN CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kazeo24

Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 THE GHOST MAIDEN

Malam di Sukaseri terasa dingin membekukan tengkuk, tapi riuh angin jalanan Cikampek seolah memanggil. Gua melangkah santai menyusuri trotoar yang cuma diterangi lampu jalan remang-remang. Bau aspal basah dan asap knalpot menyatu dengan udara malam, menikmati suasana kota ini yang bakalan jadi arena bermain gua.

​Sebas sengaja nggak gua ajak—dia gua suruh diam di rumah buat merapikan barang-barang sekalian menyiapkan makan malam buat pas gua balik. Kalau dia ikut, bisa dikhotbahin sepanjang jalan gua.

​Gua berhenti di warung kelontong kecil di pinggir jalan utama. "Bang, Sampoerna Mild satu."

​"Nih, Mas. Kembaliannya," kata abang warung menyodorkan bungkus rokok dan uang kembalian.

​Gua mengambil rokok, menyelipkannya ke saku, lalu mengeluarkan dompet kulit buat masukin uang kembalian. Tapi pas dompet baru mau masuk saku...

​SREET!

​Sentakan keras menghantam tangan gua. Cowok berjaket lusuh membeset dompet kulit dari genggaman gua dan berlari kencang memotong jalan!

​"WOI BANGSAT!" teriak gua refleks. Uang kembalian melayang ditelan angin.

​Nggak pakai mikir, gua melompat mengejar pelaku. Si pencuri lari terbirit-birit masuk ke lorong-lorong sempit gang perumahan yang gelap. Gua menempel ketat di belakangnya sampai dia menukik berbelok ke gang buntu berdinding beton tinggi.

​Langkah pencuri itu terhenti. Dia berbalik dengan seringai mengejek. TAK! TAK! Dia menepuk tangan dua kali.

​Dari balik bayangan tembok dan tumpukan kayu bekas, muncul lima berandalan lokal membawa rantai besi dan balok kayu. Total ada enam orang mengepung gua.

​"Salah tempat lu ngejar orang, Bocah," cibir salah satu dari mereka.

​Gua cuma mendengkus, menyunggingkan senyum tipis seraya merenggangkan leher. KRAK! "Cuma enam orang? Lu semua bahkan nggak layak buat pemanasan gua."

​Tanpa basa-basi, gua maju.

​BAM! Satu pukulan mentah melayang tepat ke rahang si pencuri. BUGHH! CRAK! Suara tulang rahang beradu keras. Tubuhnya terlempar menabrak tembok lalu terkulai lemas.

​"BANGSAT! HAJAR DIA!"

​Lima orang sisanya maju berbarengan. Gerakan mereka lambat dan berantakan. Satu orang mengayunkan rantai besi. WUSS! Gua merunduk tipis, membiarkan rantai menghantam tembok hingga memercikkan bunga api. Gua memutar badan lalu mendaratkan spinning back kick.

​DUAGH! Dua orang kena hantam di dada bersamaan. BUGHH! Mereka terpental menabrak tong sampah seng hingga berserakan nyaring.

​Dua sisanya mengayunkan balok kayu tebal dari kiri dan kanan. Gua menangkis ayunan kiri pakai lengan—TAK!—lalu menyambar leher bajunya, memutar tubuhnya, dan menjadikannya tameng hidup!

​BRAY! Balok kayu temannya malah menghantam punggung rekannya sendiri hingga patah dua. Gua langsung mendaratkan crescent kick tepat ke samping leher si pemukul. KRAK! Dia tumbang seketika.

​Dalam waktu kurang dari lima menit, enam orang itu tergeletak mengerang kesakitan. Gua memungut dompet gua yang terjatuh, memukul-mukul debunya, lalu menyimpan kembali ke saku.

​Tepat saat gua baru saja menjejakkan kaki keluar dari mulut gang...

​TAP!

​Sesosok tubuh melompat turun dari atas atap tepat satu jengkal di hadapan muka gua! Gua kaget dan mundur satu langkah refleks memasang kuda-kuda. Sosok itu mengenakan sweater hitam misterius dengan tudung menutupi separuh wajahnya. Bau harum samar bunga sakura menyengat hidung.

​Saat pandangan kami saling menatap, mata gua berkedip pelan. Di balik tudung hitam itu, ternyata dia cewek bermata sangat cantik dan berkilau di bawah lampu jalanan.

​Namun, momen terpana itu cuma bertahan sedetik.

​"TANGKAP KEDUA ORANG ITU! MEREKA KOMPLOTANNYA!"

​Gua menoleh ke belakang si cewek. Dari ujung jalan, puluhan berandalan berwajah garang membawa pipa besi dan rantai melesat berlari kencang ke arah kami!

​Muka gua langsung kaget setengah mati. Si cewek tanpa ragu langsung berbalik dan melesat lari. Gua ikut ngacir kabur tepat di sampingnya!

​"KENAPA GUA HARUS DIKEJAR JUGA, SIALAN?!" keluh gua heboh. "Lagian lu kenapa sih bisa dikejar banyak orang begitu?! Jadi gua yang kena imbasnya!"

​Cewek itu menoleh sekilas, tatapannya tajam. "Salah siapa lu malah ikutan lari, bego!"

​"YA KALO GUA NGGAK LARI GUA MATI, LAH!"

​Gua meringis kesal. Tapi pas melihat puluhan orang di belakang makin mendekat, gengsi dan insting bertarung gua mendadak membakar dada. Langkah gua berhenti mendadak di tengah jalan. Gua berbalik badan buat menahan mereka semua sendirian agar si cewek bisa lari!

​Si cewek sempat tertegun, tapi dia tetap berbelok ke gang sempit di seberang jalan dan bersembunyi di balik tembok gedung. Dari balik tembok, dia mengintip perlahan. Matanya membelalak melihat gua bertarung sendirian kayak orang gila.

​BUGHH! Gua memukul roboh orang pertama. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. DUAGH! Pipa besi mendarat keras di bahu gua. Gua membalas mematahkan hidung musuh, lalu membanting dua orang sekaligus. Gua menumbangkan belasan orang, tapi tenaga gua terkuras habis.

​Hah... hah...

​Gua berlutut dengan satu kaki di aspal, menyapu darah di bibir, lalu mendongak terkekeh lemas. "Segini doang... kemampuan kalian? Hah..."

​Melihat kondisi gua yang mulai tidak berdaya tapi masih sempat-sempatnya tertawa mengejek, rasa kasihan dan bersalah memukul dada si cewek.

​Seorang berandalan bertubuh besar mengangkat balok kayu tebal tinggi-tinggi, siap menghantam kepala gua dari belakang. Gua menutup mata, pasrah.

​TAK! WUSSS... DUAAGH!

​Sesosok bayangan hitam melayang di udara. Satu tendangan dropkick presisi mendarat telak di rahang berandalan besar itu hingga pingsan seketika! Si cewek sweater hitam kembali! Dia berdiri berbelakangan sama gua, pasang kuda-kuda.

​Gua mendongak lemas, terkekeh. "Huh... gua kira lu udah kabur ngacir..."

​Belum sempat menyelesaikan kalimat, pandangan gua gelap. Tubuh gua jatuh tersungkur kehabisan tenaga. Suara halus cewek itu terdengar samar: "Bodoh... Suruh siapa berlagak sok pahlawan."

​Perlahan, mata gua terbuka. Aroma angin malam kencang menyapa wajah lebam gua. Gua mendudukkan badan dan mendapati diri terbaring di sofa bekas di rooftop gedung tinggi pusat kota Cikampek.

​Gua memegang kepala pening, menatap cewek sweater hitam yang duduk santai di pinggiran dinding pembatas. Gua mengeluarkan bungkus Sampoerna Mild, menyulut satu batang. Pufff...

​"Rokok gak?" tawar gua.

​"Mana sini," jawabnya singkat. Tangannya menangkap bungkus rokok yang gua lempar, lalu menyulutnya ahli.

​Gua menatap sekeliling. "Di mana gua? Terus... gimana caranya lu bawa badan gua sampai ke atap setinggi ini?!"

​"Lu itu berat banget kayak karung beras! Harusnya lu bersyukur gua nahan napas nyeret lu naik tangga, bukannya gua lempar dari lantai atas!"

​Gua menyengir canggung. "Haha... makasih. Tapi kenapa nggak di rumah lu aja?"

​"Mana mungkin lah gua sembunyi di rumah gua... orang gua udah masuk daftar orang yang dicari."

​"HAH?! LU BURON?!" teriak gua spontan.

​Si cewek kaget setengah mati. Dia melompat, berlari mendekat, lalu menutup mulut gua rapat-rapat pakai tangannya! "Ssstt! Jangan berisik, tai! Nanti orang denger!"

​Gua menepis pelan tangannya. "Ya lagian lu bilang buron, gua kaget lah! Tapi kenapa lu sepercaya itu bawa gua ke sini? Bisa aja kan gua musuh? Lu bisa kena tipu!"

​Si cewek mendengkus. "Karena lu bego. Gua nggak bisa membiarkan orang mati konyol gara-gara belain gengsi. Lagian gaya bertarung lu terlalu acak-acakan buat ukuran musuh. Gua buron karena keluar dari fraksi gua tanpa izin resmi."

​Pas dia menjelaskan, mata gua tertuju pada poster DPO di dinding tembok atap. Di sana tertulis nama Elisa Mandasari, foto wajahnya, dan logo fraksi Ghost Girl.

​"Jadi nama lu Elisa Mandasari? Harga kepala lu 13 juta rupiah? Tapi di sini tertulis... Dibutuhkan Hidup-Hidup."

​Elisa mendecak kesal. "Cih... Apa lu salah satu bounty hunter?"

​Gua memiringkan kepala. "Gua nggak tahu dan nggak peduli. Lagian Ghost Girl ini bukannya cuma fraksi cewek, ya? Dari namanya aja udah kelihatan."

​"Jangan remehkan Ghost Girl!" potong Elisa tegas. "Keahlian intelligence Ghost Girl itu nomor satu di kota ini! Dulu fraksi itu gua yang bangun bareng sahabat gua... tapi sekarang dikuasai dan disimpangkan sama dia setelah gua memilih keluar."

​Gua manggut-manggut santai, lalu berjalan ke pinggir atap gedung dan mengintip ke bawah. Gua langsung membeku. Muka gua berubah panik total, keringat dingin berkucuran!

​"Oke, terserah... Tapi yang ada di pikiran gua cuma satu sekarang... Gimana cara turunnya, sialan?! Gua kaga tahu cara turunnya! Ini tinggi banget gedungnya, anjir!"

​Melihat ekspresi panik gua gara-gara ketinggian, Elisa mendadak tak sanggup menahan tawa.

​"HAHAHAHA!" Tawa renyah dan lepas keluar dari mulut Elisa. "Baru kali ini gua liat orang sebego lu ya! Lewat tangga lah kalau mau turun! Lu kira gua Spiderman apa?!"

​Gua menggaruk kepala, menyengir canggung. "Ya kali aja... Gua mana tahu ada pintu tangga di balik sofa. Gua harus buru-buru pulang, Sebas udah nungguin buat makan malam."

​Gua berjalan menuju pintu tangga darurat, lalu menoleh. "Lu gimana? Tetap mau di sini?"

​Elisa menghentikan tawanya, tersenyum tipis. "Ya iya lah. Emang mau ke mana lagi gua?"

​Gua tersenyum miring, menepuk bahunya pelan. "Ya udah kalau begitu. Bye, Elisa... sampai nanti!" Gua melangkah turun.

​Elisa berdiri mematung menatap pintu tangga yang tertutup, membalas lambaian tangan dengan senyuman kecil. Dalam hati dia bergumam: 'Baru kali ini gua liat orang seceria itu di kota mati ini... Orang yang aneh.'

​Sedetik kemudian dia tersadar dan menutup mulutnya sendiri. Wajahnya terasa hangat. 'Tunggu... tadi gua tertawa lepas saat ada dia? Gua harus jadi orang yang lebih dingin lagi... Karena kalau lemah, kita bakal ditindas di kota sialan ini.'

​Elisa menghela napas panjang, menarik tudung sweater-nya, lalu kembali menatap dingin ke arah kelap-kelip lampu jalanan Cikampek.

1
DANZ XYZ
/NosePick//NosePick//Applaud/
Arashiii22
keren bangat sialan
Dongo Dipelihara
siapa yang di maksd maruyama abang nya zela kah?
Kazeo24: Yap itu abang nya zela
total 1 replies
Dongo Dipelihara
prolog yang keren
Kada Wijaya
DAMN BROO
Ekaa
/Plusone/
damai kami sepanjang hari
THISS IS PEAK BRO!!
AZIKAZUE
GOKSS PARAH SELAMA INI 22 BAB TERNYATA CMN PROLOG🤭
Kazeo24: BENER SEKALII
total 1 replies
AZIKAZUE
terus bekarya bang✌🏻
Kada Wijaya
OH GITU🤭
Kada Wijaya
👍👍👍
Kada Wijaya
lanjutt perang nya
Kada Wijaya
BADASSS🔥🔥🔥
kaka pelenger
GOKILLL
RezaFitra
/Casual//Casual/
Dongo Dipelihara
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!