Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Beberapa bulan berlalu.
Sweet Cake yang dulu hanya dipenuhi beberapa pelanggan kini hampir tidak pernah sepi. Setiap hari ada saja wajah baru yang datang. Promosi yang rutin diunggah di media sosial dan seringnya Viola membuat aneka cake maupun roti dengan resep dan tampilan baru membawa banyak orang mengenal Sweet Cake. Pelanggan yang puas pun mulai ikut membagikan foto cake, roti, dan dessert buatan toko kue itu.
Saat jam makan siang, antrian sering kali memenuhi bagian depan toko. Menjelang sore, kursi-kursi pelanggan kembali terisi. Pesanan untuk acara kantor, ulang tahun, hingga berbagai pertemuan mulai berdatangan.
Dapur Sweet Cake pun semakin sibuk hingga kadang kewalahan untuk memenuhi pesanan itu. Viola akhirnya menambah dua karyawan baru agar pekerjaan tidak lagi terlalu berat. Meski lelah, setiap kali melihat etalase kosong karena semua kue terjual, ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan.
Di tempat lain, sebuah mobil hitam baru saja meninggalkan bandara.
"Bagaimana perkembangan Sweet Cake?" tanya Han Seokjin. Pria itu baru saja kembali setelah lebih dari satu bulan berada di luar negeri untuk meninjau salah satu perusahaan miliknya.
"Hanya dalam beberapa bulan, Nona Viola berhasil membuat Sweet Cake tumbuh dan berkembang." Asisten Kim menyalahkan tablet di tangannya. "Promosinya berjalan baik. Pelanggannya juga semakin banyak. Bahkan pesanan dalam jumlah besar mulai berdatangan."
Seokjin mengangguk kecil. "Bagaimana dengan proyek Distrik Timur?"
"Masih berjalan sesuai rencana. Meski terdapat sedikit gesekan di lapangan, tapi semua masih bisa teratasi."
Mobil terus melaju melewati jalan utama. Namun, beberapa saat kemudian, pandangan Seokjin tertuju pada sebuah bangunan yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Berhenti sebentar."
Sopir segera menginjak rem. Mobil berhenti tepat di depan Sweet Cake. Seokjin turun bersama Asisten Kim, lalu melangkah masuk ke sana.
"Selamat datang." Rani menoleh ketika pintu Sweet Cake terbuka. Senyumnya langsung muncul begitu melihat pria berkacamata yang dikenalnya.
"Asisten Kim, selamat sore," sapa Rani yang langsung menghampirinya.
"Selamat sore, Rani. Bu Viola ada?" Asisten Kim menjawab dengan ramah.
"Bu Viola masih di dapur. Sebentar saya panggilkan."
Asisten Kim mengangguk. "Terima kasih."
Sebelum berbalik menuju dapur, Rani sempat menyapa Han Seokjin yang berdiri sedikit lebih depan dari Asisten Kim. Namun, pria itu tidak membalas dan tetap memasang wajah datarnya.
Di dapur. Viola sedang sibuk menimbang tepung yang akan digunakan untuk membuat adonan besok pagi. Ia sengaja menimbangnya agar takaran bahan yang digunakan selalu pas dan menghemat cukup banyak waktu saat dapur mulai beroperasi kembali besok.
"Bu Viola, di depan ada Asisten Kim," lapor Rani.
Tangan Viola yang sedang menimbang tepung berhenti. "Asisten Kim?"
"Iya, Bu. Beliau menunggu Ibu di depan."
Alis Viola sedikit berkerut. Sudah cukup lama Asisten Kim tidak lagi berkunjung ke tokonya. "Baiklah. Tolong lanjutkan menimbang tepungnya. Kalau sudah selesai simpan semuanya di lemari dekat pintu.
"Baik, Bu."
Viola bergegas melepas celemek dan sarung tangan lalu mencuci tangannya. Ia tidak menyadari terdapat tepung yang menempel di sebagian pipinya.
Begitu sampai di depan toko, langkahnya langsung terhenti. Ternyata Bukan hanya asisten Kim yang berdiri di sana, tapi juga pria tampan yang sudah beberapa bulan tidak lagi bertemu dengannya juga ikut berdiri di sana.
Jantung Viola seolah berhenti sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka pria yang dikenal sibuk itu berkunjung ke tokonya sore ini.
"Tuan Han, Anda ada di sini?" sapa Viola ramah.
"Tuan Han baru saja tiba dan sengaja berkunjung ke sini, Nona," ucap Asisten Kim. Ia sedikit terkejut saat melihat wajah Viola namun buru-buru menundukkan kepalanya.
"Benarkah?" Tatapan Viola beralih sejenak pada Asisten Kim sebelum kembali menatap Seokjin. "Terima kasih sudah berkenan berkunjung, Tuan Han."
Seokjin tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertahan beberapa detik pada wajah Viola sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
"Ada apa?" tanya Viola.
"Tidak apa-apa." Seokjin menjawab tenang, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit, menahan senyum.
Asisten Kim berdehem pelan, berusaha menyembunyikan tawanya.
Viola menatap keduanya bergantian. "Kalian kenapa? Apa ada sesuatu di wajah saya?" tanyanya curiga.
"Tidak ada, Nona." Asisten menjawab cepat. Namun, bahunya bergerak menahan tawa yang hampir lolos.
Sementara Siska dan Dimas yang berdiri di balik etalase saling berpandangan. Keduanya menggigit bibir agar tidak tertawa melihat noda tepung yang menempel jelas di pipi Viola.
Semakin curiga, Viona perlahan mengangkat tangan menyentuh wajahnya. Barulah ia sadar jika terdapat banyak tepung di sebagian wajahnya. Mungkin tepung itu tidak sengaja tertempel saat ia menimbang tadi.
Wajah Viola seketika memanas. "Kenapa kalian tidak bilang dari tadi?"
Asisten Kim akhirnya tidak mampu menahan senyum. "Maaf, Nona. Saya ingin memberitahu, tapi khawatir membuat Anda malu."
"Lain kali, katakan saja. Daripada membuat saya semakin malu," ucap Viola. Suaranya sedikit kesal karena menahan malu.
Setelah mencuci muka dan memastikan tidak ada tepung atau benda apa pun yang menempel di wajahnya, Viola segera menuju rooftop.
Pria berwajah datar itu sudah menunggunya di sana. Seokjin duduk tenang sambil memandangi jalanan di bawah yang mulai dipenuhi kendaraan.
"Maaf membuat Anda menunggu." Viola meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja. Sepotong cheesecake dan tiramisu serta secangkir kopi ia letakkan di hadapan Seokjin.
"Bagaimana perkembangan Sweet cake?" tanya Seokjin membuka percakapan.
"Semakin baik." Viola tersenyum kecil. "Tapi mungkin terlalu cepat menyimpulkan seperti itu."
"Tidak masalah selama kau yakin."
Beberapa saat keduanya terdiam. Angin sore menerbangkan ujung rambut Viola.
"Tuan Han, apa ada sesuatu?" tanya Viola akhirnya. Ia yakin, kedatangan pria itu ke tokonya bukan tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang membuat pria super sibuk itu menyempatkan diri untuk berkunjung.
Seokjin tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat cangkir kopi yang dibawa Viola, lalu menyesapnya perlahan.
Dahinya seketika berkerut. Rasa kopi itu berbeda. Bukan rasa yang ia pernah ia cicipi sebelumnya. Saat itu Viola menyuguhi secangkir kopi dengan rasa yang lebih kuat dan khas. Ada sesuatu yang membuat kopi itu mudah dikenali.
Seokjin meletakkan kembali cangkir tersebut. "Kopi ini ... bukan kau yang membuatnya?"
"Salah satu karyawan saya yang membuatnya," jawab Viola jujur. Saat membersihkan wajah tadi, ia meminta Siska membuatkan kopi sekaligus menyiapkan camilannya.
"Pantas rasanya berbeda," gumam Seokjin dalam hati. Ia menatap cangkir itu sejenak sebelum mengalihkan pandangan kembali pada Viola.
"Minggu depan Dhanubrata Group akan mengadakan ulang tahun perusahaan. Aku ingin Sweet Cake menjadi salah satu pemasok makanan ringan di acara itu."
Viola sedikit terkejut. "Sweet Cake? Anda yakin?"
"Ya."
Jawaban itu terdengar begitu singkat, tapi cukup membuat Viola berpikir cepat.
Tawaran tersebut jelas menguntungkan. Bukan hanya karena jumlah pesanan yang besar, tetapi acara itu juga akan dihadiri banyak rekan bisnis Dhanubrata Group. Kesempatan itu bisa menjadi tempat yang tepat untuk memperkenalkan Sweet Cake pada lebih banyak orang.
Viola akhirnya tersenyum. "Baik, Tuan. Saya bersedia."
"Asisten Kim akan mengirimkan seluruh rincian lengkapnya."
"Terima kasih sudah mempercayakan Sweet Cake sebagai bagian dari acara istimewa Anda," ucap Viola sopan.
Mengangguk pelan, Seokjin lalu berdiri. "Baiklah. Selanjutnya kau bisa menghubungi Asisten Kim."
Viola ikut berdiri. "Baik, Tuan. Terima kasih."
Seokjin melangkah menuju tangga saat Viola teringat sesuatu.
"Tuan Han," panggilnya pelan.
Langkah Seokjin terhenti lalu menoleh.
"Beberapa bulan lalu Nara dan Sagara berkunjung ke sini."
Seokjin terdiam sebentar.
"Nara mengeluhkan Anda yang tidak pernah mengunjunginya lagi."
"Aku mengerti."
Hanya itu jawaban yang Seokjin ucapkan. Pria itu kembali melangkah turun meninggalkan rooftop tanpa berucap apa-apa lagi.
Viola berdiri di tempatnya, menatap punggung Seokjin yang semakin jauh. Ada sesuatu dalam jawaban singkat itu yang terasa aneh. Namun, ia tidak tahu apa.
***Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor