Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Terbuka
"Sayang.... Apa kamu baik - baik saja."
"Mas......."
"Mas, mengerti sayang. Sayang dan cinta mas tidak akan berubah walaupun Daniel bukan anak kandung mas."
"Maafkan aku mas." Calista langsung memeluk suaminya Letnan Kolonel Dokter Ezra Pratama.
Hasil tiga buah tespack yang berbeda merek menunjukan Calista positif hamil. Tentu hasil ini membuat Tama sangat bahagia. Dia memeluk istrinya. Calista tahu, bahwa dia sudah dua bulan ini tidak datang tamu bulanannya. Namun dia berpikir bahwa ini di sebabkan karena dia kelelahan.
Hari ini Tama mengajak Daniel ke rumah sakit. Dia mau agar Daniel juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan dirinya untuk menyambut anggota baru dalam rumah mereka. Daniel sementara libur sekolah. Dan besok dia akan mengikuti lomba di Jakarta.
"Papi.... Kaka akan menjadi pelindung buat adek nanti."
"Kaka bahagia??"
"Ya... Kaka sangat bahagia." Tama memeluk anak pertamanya. Meskipun bukan anak kandungnya, namun cintanya sangat besar buat anak ini. Calista menangis karena bahagia. Tama dan Daniel yang melihatnya menangis. Langsung mereka berdua memeluk Calista sangat erat.
"Jangan bersedih mami."
"Mami menangis karena bahagia sayang."
Sore ini, Tama memutuskan bahwa mereka tidak menggunakan mobil ke Bandung, mereka akan menggunakan kereta cepat ke kota Jakarta dan akan menginap di hotel yang dekat dengan tempat perlombaan Daniel Caleb anak mereka. Tama sudah mengatur semua perjalanan mereka. Menginap di hotel adalah hadiah dari kesuksesan Daniel karena dia naik kelas dengan peringkat pertama. Di usianya nanti sepuluh tahun dia sudah berada di kelas enam sekolah dasar, sedangkan teman - teman seusianya baru kelas empat sekolah dasar.
Di hotel mewah, bintang lima mereka menginap. Kamar yang luas dan ada dua tempat tidur satu ukuran besar dan satu lagi sedang.
"Papi... Terima kasih. Kaka bahagia sekali."
"Ini hadiah buat kaka dan mami yang sudah membuat papi bahagia. Papi sayang dan mencintai kalian berdua."
Lomba renang akan berlangsung satu minggu dari babak pengisihan sampai ke final. Hasil pemeriksaan kehamilan Calista menyatakan bahwa usia kandungannya sudah tiga bulan jalan empat.
Malam ini mereka bertiga menikmati makan malam romantis di kamar hotel mereka. Tama sengaja menyiapkan buat istri dan anaknya.
"Apa kita tidak hubungi oma??"
"Tadi aku sudah mengatakan bahwa kita ada di Jakarta."
"Mama pasti marah ya?? Karena kita tidak menginap di rumah."
"Aku sudah menjelaskan semua mas."
"Terus...."
"Mama mengerti. Dia tidak marah karena dia sekarang ada di Mesir sedang membelanjakan kain pesanan konsumen."
"Oma di Mesir??"
"Iya sayang. Oma sedang membeli kain. Sepertinya oma kembali kita masih di Jakarta."
"Puji Tuhan... Aku takut sekali sayang, kalau mama marah." Daniel dan Calista tersenyum melihat sikap orang yang mereka cintai.
Pagi - pagi sekali, Mereka sudah bangun. Dan langsung ke restoran untuk sarapan. Tama sangat memperhatikan setiap asupan yang di makan oleh Daniel begitu juga dengan Calista. Dan Daniel tidak perna protes dengan apa yang di siapkan oleh papi dan maminya.
Tama sudah memberitahu bahwa mereka harus waspada lagi atas penyakit Daniel pada usianya empat belas tahun. Sepuluh tahun dari waktu terakhir Daniel mendapat bantuan tali pusar saudara kandungnya.
Tama bersama Calista sudah mengantar Daniel dan sekarang dia sudah bergabung dengan atlet renang dari kota Bandung. Calista begitu kaget waktu masuk arena lomba. Dia tidak menyangka bahwa acara lomba ini di sponsori oleh Wijaya Grup. Malah perusahaan mantan suaminya adalah sponsor utama.
"Mas......."
"Jangan kuatir sayang." Tama menatap istrinya memeluk dan menciumnya. Terlihat keluarga besar Wijaya sudah ada di tribun utama. Setelah sambutan dari Christian Wijaya selaku pimpinan utama Wijaya Grup. Lomba akan di mulai.
Di tepi kolam renang Daniel sedang berbicara dengan seorang anak laki - laki. Dan anak laki - laki itu adalah Liam Imanuel Wijaya. Melany Wijaya sebagai kordinator di lapangan melihat interaksi antara ke dua keponakannya. Muka Daniel dan Liam sangat mirip. Karena mereka memiliki orang tua yang sama.
Lomba pengisihan pertama yang di ikuti Daniel sudah dilalui dan Daniel finis pada urutan pertama. Waktu Christian membaca nama - nama perenang yang bertanding dia begitu kaget karena anak kandunganya yang berada di urutan pertama. Dan begitu kagetnya melihat Liam yang memberi semangat kepada kakaknya. Air mata Christian mengalir melihat kedua kakak beradik itu berpelukan di tepi kolam.
"Kamu lihat Tian itu kedua anakmu."
"Daniel datang bersama siapa??"
"Kamu lihat di tribun penonton sayap kanan."
Terlihat Calista bersama suaminya Ezra Pratama sedang menyaksikan anaknya berlomba. Dan sekarang Daniel masuk babak final.
"Semangat kakak. Kakak Daniel sangat hebat."
"Terima kasih Liam."
Calista atas saran Tama datang memberikan buah pisang bagi anaknya. Daniel yang melihat maminya. Memanggil maminya.
"Itu mamiku, dia seorang dokter. Dan sekarang di perut mamiku ada calon adikku."
"Mami kakak cantik. Bolehkah aku berkenalan dengannya."
Daniel langsung menghampiri maminya dengan mengandeng tangan Liam. Christian dan Melany melihat hal itu.
"Kamu lihat Tian, darah mereka mengerakkan."
Lisa yang berada di tribun utama melihat kehadiran Calista di tepi kolam. Lisa gelisah. Dan dia baru sadar bahwa yang juara pada babak pengisihan mewakili kota Bandung adalah anak Calista dan Christian, Daniel Caleb. Dia pun turun ke tempat perlombaan. Ingin mengamil Liam anaknya.
"Mami... Kenalkan ini adek Liam Imanuel Wijaya. Dia yang memberi semangat buat kaka di dekat kolam."
Jantung Calista berdetak kencang. Dia begitu terharu melihat anak kandungnya yang berada di keluarga Wijaya.
"Bolehkah aku memelukmu??"
"Boleh tante." Calista memeluk buah hatinya, air matanya mengalir deras.
"Mami kenapa menangis." Calista sadar.
"Mami bahagia, karena Liam sudah memberi semangat kepada mu sayang."
Daniel tidak tahu bahwa Liam ini adik kandungnya yang dia kira sudah meninggal. Karena Calista mengatakan kepadanya biarlah kenangan adiknya ada di hati kita saja. Tama datang menghampiri mereka yang sedang menikmati buah.
"Papi kenalkan ini adek Liam Imanuel Wijaya. Papi lihat kan dia yang memberi semangat padaku di tepi kolam. Dia ini anak orang kaya yang mensponsori pertandingan ini."
Tama tersenyum dan menyalami Liam. Tentu dia tahu siapa Liam. Dan muka mereka Liam dan Daniel sangat mirip.
"Sayang......"
"Tidak masalah sayang."
Lisa yang turun dari tribun utama mau mengambil anaknya, dihalangi oleh Melany. Christian yang melihat kebersamaan kedua anaknya dengan dokter Ezra Pratama seorang tentara angkatan darat dengan pangkat letnan kolonel, hatinya sedih. Dia menangis dalam hati menyesali perbuatannya.
"Biarkan Liam bersama maminya."
"Tian, aku mamanya."
"Stop bersandiwara. Kamu kira selama ini saya dan mama tidak tahu permainan kamu. Hamil pura - pura untuk memenuhi keinginan papaku."
"Siapa berbohong."
Mereka yang berada di ruangan khusus itu semua terdiam. Ditempat itu ada kedua orang tua Christian dan Melany juga Lisa.
"Sudah jangan ribut di tempat ini. Malu kalau di dengar orang."
"Iya ma, tetapi kalian semua berhutang penjelasan kepada saya."