Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alana dan Pertolongan Tak Terduga (Kembali ke Cerita )
Alana tidak menyangka kalau nasipnya akan berakhir tragis di bawah jembatan di derasnya air sungai .
Di detik-detik terakhir kesadarannya, Alana melihat cahaya matahari dari permukaan air yang perlahan menjauh. Ia merasakan tubuhnya membentur bebatuan sungai, rasa sakit menjalar ke seluruh sarafnya sebelum akhirnya semuanya menjadi hitam.
Dan di nafas terahirnya dia berdoa ("Ya Allah berilah mukjizatMu ..berilah aku kesempatan kedua ...) Doanya tertiup angin menuju sang pencipta bersama tubuhnya melaju di tengah derasnya air sungai .
##Pertolongan tak terduga
Sementara itu beberapa kilometer di hilir sungai, di sebuah tepian yang dangkal dan tersembunyi oleh rimbunnya pepohonan, seorang pemuda bernama Arka sedang membersihkan peralatan pancingnya dengan gerakan kasar dan penuh kekesalan.
Matahari sore mulai condong ke barat, menyinari permukaan air yang tenang, tetapi suasana hati Arka justru sebaliknya. Ia mengusap gagang joran dengan kain lap yang sudah kotor, lalu melemparnya ke tanah dengan kasar. "Sialan," gumamnya pelan, suaranya tertelan angin yang berhembus lembut di antara dedaunan.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota. Arka sengaja datang ke sungai ini sendirian, mencari ketenangan yang sudah lama hilang. Ia ingin merasakan tarikan ikan di ujung kail, mendengar suara air mengalir, dan melupakan segala urusan yang menumpuk di meja kerjanya. Namun, harapannya pupus. Sepanjang pagi hingga siang, tak seekor ikan pun yang menggigit umpan. Jeratnya kosong, embernya tetap kering, dan kesabarannya pun sudah habis.
Yang paling membuatnya geram adalah asistennya, Budi. Lelaki itu seolah tidak mengerti arti kata "libur" atau "waktu pribadi". Dari pagi buta, ponsel Arka sudah berdering tanpa henti. Pesan demi pesan masuk, email bertubi-tubi, dan panggilan video yang memaksa ia mengangkat meski sedang memasang kail.["Pak Arka, kontrak dengan PT. Maju Jaya harus direvisi hari ini juga," ] kata Budi dengan suara yang terdengar terlalu bersemangat.
Arka hanya bisa mendengus sambil menahan umpatan. Ia menjauhkan ponsel dari telinga, tapi dering itu kembali lagi. Kali ini soal rapat virtual dengan investor yang tak bisa ditunda. ["Lima menit saja, Pak,"] pinta Budi. Lima menit yang berubah menjadi setengah jam, dan setengah jam itu menghancurkan konsentrasi Arka sepenuhnya.
"Ikan-ikan ini pasti ketakutan lari semua gara-gara suara Budi yang nyaring itu," gerutu Arka dalam hati sambil membersihkan kail yang berkarat sedikit di ujungnya. Ia menggosoknya dengan kuat, seolah kekesalan yang dirasakannya bisa hilang bersama kotoran yang menempel.
Pikirannya melayang ke belakang. Dulu, ketika ia baru memulai bisnisnya, Arka memang menginginkan asisten yang sigap dan bertanggung jawab.
Budi memang kompeten, tak ada yang salah soal itu. Tapi sekarang, kompetensi itu justru menjadi bumerang. Budi terlalu rajin. Setiap keputusan kecil pun harus dikonsultasikan, setiap masalah remeh pun dibawa ke hadapannya. Arka merasa seperti burung yang sayapnya diikat, tak bisa terbang bebas meski sedang berada di alam terbuka.
Ia duduk di atas batu besar yang dingin, memandang sungai yang mengalir pelan. Airnya jernih, ikan-ikan kecil terlihat berenang di dekat tepian, tapi tak ada yang mau mendekati umpan yang sudah ia pasang tadi. "Mungkin mereka juga bosan dengar cerita bisnis," sindir Arka dalam hati sambil tersenyum sinis. Kekesalannya semakin membuncah.
Ia teringat betapa ia rela meninggalkan kantor pagi-pagi sekali, mengendarai mobil selama dua jam hanya untuk sampai ke tempat ini. Semua demi mendapatkan sedikit kedamaian. Tapi kedamaian itu dirampas oleh dering ponsel yang tak henti-hentinya.
Bahkan saat ia sedang menunggu ikan menggigit, Budi mengirimkan file laporan keuangan yang harus ditandatangani segera. Arka hampir melempar ponselnya ke sungai kalau saja tidak ingat betapa mahalnya benda itu.
"Kenapa sih, Bud? Kamu nggak bisa handle sendiri sedikit saja?" kata Arka keras, seolah asistennya ada di depannya. Ia berdiri dan mulai mengemasi peralatan dengan gerakan cepat dan marah. Joran dilipat kasar, kotak umpan ditutup dengan bunyi keras, dan tasnya disandang dengan kasar. Keringat bercampur debu menempel di dahinya. "Bisnis ini memang milikku, tapi bukan berarti aku harus mengurus semuanya setiap saat. Aku butuh istirahat! Aku butuh waktu untuk bernapas tanpa ada yang nanya soal profit, loss, atau meeting!"
Arka berjalan menyusuri tepian sungai, kakinya menginjak kerikil yang berderak. Bayangan dirinya sebagai pemuda sukses yang masih muda tapi sudah terjebak dalam rutinitas kerja terasa sangat ironis. Ia mendirikan perusahaan itu dengan mimpi bisa menikmati hasil kerja kerasnya, termasuk hobi memancing yang sudah ia cintai sejak kecil. Tapi kenyataannya, asisten yang seharusnya membantu justru menjadi pengganggu utama. Budi memang setia, tapi kesetiaannya itu kadang terasa seperti belenggu. Setiap kali Arka mencoba melepaskan diri, Budi selalu ada dengan "urusan penting" yang tak pernah ada habisnya.
Sekarang, saat matahari semakin rendah, Arka merasa lelah bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia berhenti sejenak, memandang kembali permukaan sungai yang kini mulai gelap. Tak ada ikan hari ini. Tak ada ketenangan. Hanya kekesalan yang menumpuk seperti awan mendung. "Besok, aku matikan ponsel. Atau mungkin ganti asisten," gumamnya setengah bercanda, setengah serius. Tapi ia tahu, besok pagi dering itu pasti akan kembali. Bisnis tak pernah tidur, dan Budi seolah menjadi perwujudannya.
Dengan langkah berat, Arka meninggalkan tepian itu. Peralatan pancingnya sudah bersih, tapi hatinya masih kotor oleh kekesalan. Ia berjanji dalam hati, suatu saat nanti ia akan kembali ke sungai ini tanpa gangguan. Tanpa dering. Tanpa urusan bisnis. Hanya ia, sungai, dan ikan-ikan yang akhirnya mau menggigit umpan. Sampai saat itu tiba, ia harus menahan segala kekesalan ini sendirian, sambil hendak berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan setapak,namun langkahnya terhenti dia menatap kearah sungai
Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak biasa tersangkut di antara akar pohon tua yang menjuntai ke sungai.
Awalnya ia mengira itu adalah tumpukan sampah atau bangkai hewan, namun saat ia mendekat, jantungnya berdegup kencang. Itu adalah tubuh seorang wanita. Dengan gaun putih yang kini robek dan berubah warna menjadi kecokelatan, wanita itu tampak seperti mayat yang malang.
Arka segera melompat ke air, menarik tubuh itu ke daratan. Ia memeriksa denyut nadi di leher wanita itu. Sangat lemah, hampir tidak terasa. Wajah wanita itu pucat pasi, penuh dengan luka memar yang jelas bukan berasal dari benturan sungai saja.
"Hei! Bangun! Bisakah kau mendengarku?" Arka menekan dada wanita itu berkali-kali, berusaha mengeluarkan air dari paru-parunya.
Setelah beberapa saat yang menegangkan, wanita itu tersedak hebat. Air keluar dari mulutnya, dan ia terbatuk-batuk dengan lemah. Matanya terbuka sedikit, menatap langit senja yang kemerahan sebelum akhirnya kembali jatuh pingsan.
Arka menatap wanita di pelukannya dengan penuh tanda tanya dan rasa iba. Ia melihat bekas ikatan tali yang masih membekas biru di pergelangan tangannya. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah percobaan pembunuhan.
"Jangan khawatir," bisik Arka pelan sambil mengangkat tubuh wanita itu. "Kau sudah aman sekarang. Takdir belum menginginkanmu pergi.
Di sanalah, di tepian sungai yang sunyi, babak baru dalam hidup Alana dimulai. Sebuah kehidupan yang diberikan kembali oleh Tuhan, bukan untuk kembali menderita, melainkan untuk bangkit sebagai badai yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah membuangnya.
Alana tidak lagi mati. Ia baru saja lahir kembali.