bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Resty berhenti di depan pintu rumah. genggaman tas sekolahnya makin erat, sampai buku-buku di dalamnya terasa nyeri di telapak tangan. Udara magrib sudah lembab, adzan dari masjid ujung gang terdengar sayup.
Kunci rumah bunyinya berat, Pintu kayu yang sudah kusam itu terbuka dengan derit panjang, menyambut ruang tamu yang gelap dan bau rokok basi yang belum hilang sejak siang.
"Ayah?"
Suara Resty kecil, tapi tidak ada jawaban selain suara jangkrik dari luar.
Di meja makan, ada piring nasi kemarin yang belum dicuci, Nasinya sudah kering, mengeras di pinggir meja, di depan pintu sandal tidak ada berarti belum pulang, atau pulang lalu keluar lagi. Resty sudah hafal polanya. Kalau lampu mati sebelum magrib, berarti Awi belum pulang dan Kalau Awi pulang malam baunya alkohol dan langkahnya berantakan.
Resty menaruh tas di sudut, dia meraba jalan yang menuju arah dapur, nyalain lilin yang selalu disembunyikan di kaleng bekas biskuit, walaupun cahayanya goyang-goyang, tapi cukup buat lihat wajahnya sendiri di kaca lemari. mata sembab karena menahan kantuk di sekolah, pipi kotor debu jalan.
Dikampung tempat tinggal Resty, sudah ada yang menggunakan lampu dengan genset walaupun tidak semua penduduk menggunakan genset dan masih ada yang pakai lampu petromaks
Dia ingat ibunya saat malam hari. Aminah tidak akan pernah membiarkan rumah gelap pas magrib. Walaupun Selalu makan pakai garam ataupun tidak makan sama sekali, tapi bagi Resty itu adalah cahaya dalam hidupnya dan sekarang cahaya itu sudah hilang dan hanya tinggal kegelapan dan kehampaan.
2 tahun yang lalu. Waktu itu umur Resty masih 6 tahun dan dalam ingatannya.
Malam harinya Aminah dan Resty duduk di depan rumah. di atas tikar yang sudah mengelupas karena dimakan usia, Kain sarung Aminah menjuntai ke bawah, kakinya yang sudah keriput tidak berhenti diayun pelan. Di atas mereka, cahaya bulan yang tadi tembus ke dalam kamar sekarang jatuh penuh ke halaman, bikin semuanya terlihat lebih lembut.
"Zaman dulu, Rest....," kata Aminah sambil menunjuk ke langit."listrik belum ada di kampung kita dan hanya menggunakan lilin dan dan pelita saat malam hari. Cuma ada cahaya bulan seperti ini, terang tapi adem".
Resty mengangguk pelan. dia suka mendengar Aminah cerita. Tidak pernah mengejek, marah-marah atau membentak, itu yang membuat Resty lebih dekat dengan ibunya dibanding ayahnya yang selalu cepat hilang sabar. Suaranya menggelegar sampai seluruh penghuni rumah diam
Malam itu hujan mulai gerimis di luar. Awan mulai menutupi cahaya bulan, tidak lama lagi akan hujan deras tapi Aminah masih melanjutkan ceritanya. Aminah kembali menceritakan kisah masa kecilnya. belasan tahun lalu ketika Aminah pertama kali cerita tentang masa kecilnya di kampung halaman. Resty meringkuk di samping ibunya, kepala bersandar di bahu yang sudah ditumbuhi uban tapi masih hangat.
"Jadi, waktu ibu umur Resty sekarang, ibu pernah mencuri mangga tetangga," kata Aminah sambil tertawa kecil, matanya berkaca.
"Benarkah?!" Resty langsung duduk tegak, matanya berbinar. Ia sudah tahu kalau setiap cerita Aminah selalu ada kejutan kecil di akhir.
"iya...! Tapi, bukan buat dimakan sendiri. Untuk dibagi-bagi juga dengan teman yang lain, karena waktu itu ibu tidak sendirian , tapi ada teman ibu jga." Aminah mengusap rambut Resty pelan. "ibu dan teman-teman ketahuan sih sama pemiliknya dan Dikejar sampai masuk selokan dan baju ibu kotor bekas lumpur, Tapi mangganya tidak pernah ibu lepas dan teman ibu ada yang ketangkap."
Resty menahan napas."Terus...? Dimarahin?"
"Dimarahin Sama Pak Edi pemilik mangganya. dia memberikan nasehat, jika mau mangga, minta langsung ke orangnya dan jangan mencuri, Itu tidak baik."
Aminah terdiam sebentar, menatap jendela yang berembun."Makanya ibu tidak pernah mau bentak kamu, Rest...! Karena ibu tahu, rasa takut itu bikin orang berhenti cerita. Kalau anak sudah berhenti cerita ke ibunya, lalu dia akan bercerita ke siapa lagi."
Resty memeluk ibunya Aminah erat yang sayangnya lewat cerita-cerita kecil yang bikin Resty merasa... aman, berbeda dengan awi yang sikapnya selalu kasar dan suka mabuk-mabukan
"Tidur ya...Nak," bisik Aminah."hari sudah malam. hujan juga semakin deras, jangan sampai besok terlambat kesekolah. Resty
mengangguk, matanya sudah berat. Di luar, hujan makin deras. dan di dalam, suara Aminah jadi satu-satunya yang ia mau dengar sebelum tidur.