Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Malam Cerah Momen Yang Manis
Devina merasa begitu gelisah. Hatinya masih kesal karena kedua orang tuanya tadi. Terlebih lagi ia merasa sangat bosan. Leni pun tidak bisa dihubungi karena sebelumnya berpesan kalau ia sedang mengadakan pertemuan keluarga dan sedang sibuk. Devina mondar mandir di halaman belakang rumah sambil kembali memikirkan Aksa dan Santi. Ia kangen sekali dengan pertemuan dan perlakuan hangat yang diberikan oleh Santi. Devina rasanya ingin sekali menelpon Aksa. Tetapi ia lupa kalau ia tidak punya nomor kontaknya. Devina jadi teringat kalau Aksa bekerja di toko pizza. Jadi, Devina pun segera menelpon toko pizza tersebut untuk memesan sepuluh pizza delivery.
Sementara disisi lain, Aksa dan teman-temannya sedang asik berkumpul makan malam bersama sambil bercerita dan sesekali bercanda lalu tertawa. Aksa yang baru saja menggigit satu suapan dari potongan pizza nya, dipanggil oleh Suryadi untuk mengantarkan pizza.
"Sa? Maaf sekali Paman menganggu. Tapi, ada seseorang yang memesan pizza ingin diantarkan oleh kamu. Dia tidak ingin orang lain yang mengantarnya. Dia minta kamu mengantarkannya dalam waktu lima belas menit. Kalau kamu datang tepat waktu katanya, dia akan memberimu tip tiga juta, " ujar Suryadi.
"Tiga juta? Hanya untuk pengantaran pizza? " Aksa spontan berdiri dari duduknya dan terkejut mendengar tip yang akan ia terima dari pengantaran tersebut.
Tentu saja, bagi Aksa yang sedang kesulitan uang itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuknya. Aksa tidak ingin menolak rezeki yang datang tiba-tiba tersebut.
"Beruntung banget loh, Sa? " sahut Isan merasa iri.
Lantas, Aksa pun bergegas pergi mengantarkan pizza yang sudah siap menuju alamat yang tertera. Namun, sebelum pergi Aksa tidak terlalu memperhatikan alamat tersebut karena terlalu senang. Aksa melaju dengan kecepatan yang ia bisa. Ia seperti merasa tertantang karena pesanan ini. Aksa dengan lihai menggunakan motor pizza menguasai jalanan. Sebenarnya, ia sangat suka saat berkendara selaju ini, dan itu mengingatkannya akan kenangan masa lalu dimana ia selalu menaklukan balapan dalam sebuah turnamen.
Aksa pun tiba di alamat yang tertera. Ia baru sadar kalau itu alamat rumah Devina. Aksa tersenyum dan turun dari motor. Lalu mengeluarkan pizza dari bagasi penyimpanan. Kemudian, ia menekan tombol bel rumah.
Devina bergegas membuka pintu gerbang sambil berlari. Pelayan yang melihat Devina yang berlari senang menuju gerbang rumah nampak heran. Tapi ia membiarkannya dan tidak terlalu memikirkannya.
Devina membuka pintu gerbang dengan memasang wajah senang dan tersenyum lebar.
"Loh cepat juga, datangnya. " Ucap Devina.
"Loh lagi ngerjain, gue yah? Sepuluh pizza untuk loh makan sendiri? Loh yakin bisa menghabiskan nya? " sahut Aksa kemudian sambil menyodorkan Pizza tersebut.
Devina tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi, tangan gue sakit. Pizzanya juga banyak dan berat. Kamu tolong bawain masuk ke dalam yah? Boleh yah? " pinta Devina memasang wajah lucu dan memelas.
Aksa sekali lagi menyentil dahi Devina pelan. "Loh ini benar-benar gak ada habisnya buat ngerjain gue, " balas Aksa sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Devina tersenyum senang, sambil menutup gerbang ia mengikuti langkah Aksa masuk ke dalam. Aksa menaruh tumpukan pizza tersebut di atas meja yang ada di taman rumah Devina.
"Makanlah yang banyak. Gue harus balik sekarang karena harus masih bekerja, " tukas Aksa kemudian sambil berjalan pergi.
"Tunggu sebentar! Uang tip nya gue belum kasih, " sahut Devina mencoba untuk menghentikan kepergiaan Aksa.
Aksa berbalik dan menatap Devina sejenak sambil tersenyum tipis. "Tidak usah. Loh simpan saja uang tip nya. Gue pergi dulu! " Aksa kembali berbalik untuk pergi lagi.
"Gue kangen sama loh! " Seru Devina, perkataannya kembali menghentikan langkah Aksa.
"Jangan pergi dulu! Tinggallah sebentar lagi dan temani gue makan pizza. Gue tidak ingin makan sendiri. Karena itu, gue mau ngasih loh tip tiga juta untuk membayar kompensasi atas waktu yang gue sita sama loh. Sebentar saja, " ungkap Devina kemudian sambil menundukkan kepalanya.
Entah kenapa Devina mulai ingin lebih terbuka kepada Aksa. Ia hanya ingin ada satu orang saja yang bisa menjadi sandaran emosinya. Ia tidak mau terus berpura-pura baik-baik saja walaupun hanya kepada satu orang saja. Aksa berbalik dan menatap Devina sejenak yang tertunduk. Lalu kemudian Aksa melangkah mendekat kepadanya, dan kembali menyentil pelan dahi Devina.
"Aaa! " Devina meraba dahinya yang kena sentil itu dan menatap Aksa dengan mata berkaca-kaca.
Aksa tersenyum kepada Devina. "Ayo! Loh cuma punya lima menit untuk makan pizza bareng gue, " ujarnya kemudian.
Senyum Devina kembali mengembang diwajahnya. Ia sangat senang dan duduk bersama Aksa di bangku taman rumahnya menikmati pizza tersebut. Anehnya, Aksa pun terlihat begitu lahap makan bersama dengan Devina.
"Bagaimana pekerjaan loh?" tanya Devina.
"Yah, seperti biasa. Melelahkan, " jawab Aksa sambil tersenyum lebar.
"Semua pekerjaan pasti melelahkan. Tapi, gue penasaran kenapa loh harus bekerja? " tanya Devina lagi karena penasaran ia memberanikan diri untuk bertanya.
Aksa terdiam sejenak sambil tersenyum tipis, lalu kemudian menggigit satu suapan pizza sebelum menjawab.
"Memangnya untuk apa lagi? Gue gak seberuntung loh, yang terlahir di keluarga kaya. Gue harus bekerja karena gue harus hidup. Bukan begitu? "
Devina seketika sedih mendengar jawaban Aksa. Bukan karena ia merasa kasihan sama hidup Aksa. Tapi ia sedih karena ia tidak seberuntung yang Aksa bilang saat ini. Mendapati wajah Devina yang berubah murung dan sedih membuat Aksa heran.
"Kenapa? " tanya Aksa.
"Tidak papah. Tapi, gue gak seberuntung yang loh bilang. Gue memang punya segalanya, loh emang benar. Namun, gue juga kehilangan banyak hal. Sejak kecil, gue diurus oleh pelayan. Setiap kali gue ulang tahun, gue merayakannya sendirian. Gue ingin pergi ke taman bermain seperti anak lainnya bersama orang tua mereka. Tapi mereka tidak ada waktu sedikit pun buat gue. Gue kesepian, sebab itu gue selalu berbaur dengan siapa saja. Hanya sekedar ingin menghilangkan rasa hampa dihati gue. Karena itu, gue mudah tersenyum dan tertawa karena gue pikir dengan begitu, hidup gue akan lebih berharga dan baik-baik saja."
Devina mengungkap isi hatinya panjang lebar. Ia membuka semua kesedihan yang dia punya kepada Aksa. Sementara Aksa hanya menjadi pendengar untuk semua kesedihan yang dialami oleh Devina. Aksa merasa sedikit kasihan mendengar cerita Devina. Sehingga tanpa sadar ia mengelus rambut panjang Devina dengan lembut.
"Loh hebat. Semua akan baik-baik saja, " ucap Aksa.
Devina tertegun diam menatap Aksa. Ia merasa sangat tenang dan aman saat Aksa tersenyum sambil membelai rambutnya. Hatinya terasa sangat lega dan hangat. Hanya dengan melihat Aksa tersenyum saja padanya membuat Devina merasa nyaman. Bahkan jantung Devina berdebar sangat cepat. Sampai wajahnya memerah karena malu.
Malam yang indah dengan langit yang sangat cerah. Para bintang dan rembulan menjadi saksi moment manis dan indah itu. Alam pun ikut mendukung kehangatan yang terjadi diantara keduanya.