Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tameng dari masa lalu
Malam semakin larut, namun udara di pinggir jalan raya dekat kompleks pesantren terasa semakin menyesakkan. Adeeva berdiri mematung di depan mobil Revian Alfie. Sorot lampu sedan hitam itu menyilaukan matanya yang sembab.
"Masuk, Deeva. Kita bicarakan ini di apartemenku. Berhenti bertingkah konyol dengan memakai abaya seperti ini," suara Revian terdengar tidak sabar. Ia turun dari mobil, penampilannya sebagai dokter muda yang sukses terlihat kontras dengan wajahnya yang kini tampak gelap oleh amarah.
Adeeva mundur selangkah. "Aku tidak mau, Rev. Kita sudah putus. Kamu sendiri yang bilang tidak mau terikat pernikahan karena kariermu masih panjang. Lalu untuk apa sekarang kamu mengejarku?"
Revian tertawa sinis, langkahnya semakin mendekat hingga ia berhasil mencengkeram pergelangan tangan Adeeva. "Aku memang belum mau menikah, tapi itu bukan berarti kamu bisa menikah dengan perwira kaku itu. Aku tahu kamu, Deeva. Kamu tidak akan tahan hidup dengan aturan militer atau aturan pondok. Hanya aku yang mengerti kebebasanmu."
"Lepaskan, Rev! Kamu menyakitiku!" Adeeva mencoba memberontak, namun tenaga Revian jauh lebih kuat.
Tepat saat Revian mencoba menarik Adeeva paksa menuju pintu mobil, sebuah sorot lampu mobil lain berhenti tepat di belakang mereka. Suara pintu mobil ditutup dengan bantingan keras terdengar, diikuti langkah sepatu laras yang beradu dengan aspal.
"Dia sudah bilang tidak mau. Lepaskan tangannya."
Suara bariton itu datang dari Kapten Shaheer Ali. Ia berdiri tegak, masih dengan batik yang ia kenakan di rumah Abi tadi, namun auranya kini sepenuhnya kembali sebagai seorang prajurit yang sedang menjalankan misi.
Revian menoleh, menyipitkan mata melihat pria yang menghalangi jalannya. "Siapa kamu? Oh, tentara yang mau dijodohkan dengan kakaknya tapi malah naksir adiknya? Jangan ikut campur, ini urusan pribadi kami."
Shaheer melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Revian. Tubuhnya yang lebih tegap membuat Revian terlihat sedikit ciut, meski pria dokter itu mencoba bertahan.
"Selama dia berada di area ini, dia adalah tanggung jawab keluarganya, dan saya adalah tamu keluarga itu. Lepaskan dia sekarang, atau saya proses Anda dengan pasal tindakan tidak menyenangkan," ucap Shaheer tenang, namun penuh ancaman.
Revian mendengus, perlahan melonggarkan cengkeramannya. Adeeva segera menarik tangannya dan berlari ke belakang punggung Shaheer. Tanpa sadar, ia mencengkeram ujung kemeja pria itu, mencari perlindungan.
"Deeva, kamu yakin mau dilindungi sama pria yang akan mengurungmu dalam aturan?" teriak Revian frustrasi. "Dia tidak mencintaimu, dia cuma mau memperbaiki kamu karena dia merasa kamu itu proyek renovasi!"
Shaheer tidak terpancing. Ia melirik Adeeva sekilas, memastikan gadis itu baik-baik saja, lalu kembali menatap Revian. "Cinta tidak selalu soal membiarkan seseorang bebas berbuat semaunya hingga hancur. Jika Anda hanya ingin 'memakainya' tanpa memberi komitmen pernikahan, maka Anda yang sedang merusak dirinya. Pergi dari sini sebelum saya kehilangan kesabaran."
Revian mengumpat kasar, memukul atap mobilnya sebelum akhirnya masuk dan memacu kendaraannya pergi dengan suara ban yang mencit keras.
Suasana menjadi sunyi. Adeeva melepaskan pegangannya pada kemeja Shaheer. Ia menunduk, merasa malu sekaligus bingung. "Kenapa Kapten kembali? Bukannya tadi Kapten sudah pulang dengan Jenderal?"
"Saya melihat motor matikmu masih ada di parkiran pondok, tapi kamu tidak ada di rumah. Saya punya firasat buruk," jawab Shaheer. Ia berbalik badan, menatap Adeeva yang kini tampak sangat rapuh di balik pakaian tertutupnya yang tidak rapi.
Adeeva mengusap air matanya kasar. "Kapten dengar sendiri kan apa kata Revian tadi? Saya ini cuma masalah bagi semua orang. Kenapa Kapten bersikeras memilih saya? Di dalam sana ada Adiba yang sempurna, yang tidak punya mantan pacar gila, dan yang bisa mengaji lebih baik dari saya."
Shaheer menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya di kap mobil. "Dunia sudah punya terlalu banyak orang yang mencoba menjadi sempurna seperti Adiba. Tapi dunia kekurangan orang yang jujur dengan luka-lukanya seperti kamu."
"Saya bukan proyek renovasi," sahut Adeeva lirih, teringat kata-kata Revian.
"Tentu saja bukan. Saya tidak mau mengubahmu menjadi Adiba kedua. Saya ingin kamu tetap menjadi Adeeva, tapi dengan versi yang lebih berharga bagi dirimu sendiri. Kamu tidak perlu menjadi ustadzah untuk bisa saya cintai. Kamu hanya perlu menjadi wanita yang tahu bahwa dirinya layak dihormati, bukan sekadar dijadikan teman kencan tanpa status."
Adeeva tertegun. Untuk pertama kalinya, ada orang yang memvalidasi keberadaannya tanpa membandingkannya dengan standar pesantren yang selama ini mencekiknya.
"Tapi Abi... Abi tidak akan pernah mengizinkan. Dia malu punya anak seperti saya," ucap Adeeva.
"Biarkan itu menjadi urusan saya. Sebagai perwira, saya terbiasa menghadapi medan yang sulit. Meyakinkan Abi-mu hanyalah salah satu strategi yang harus saya menangkan," Shaheer menatap mata Adeeva dengan intensitas yang membuat gadis itu terpaku. "Sekarang, ayo saya antar pulang. Lewat pintu depan. Kamu tidak perlu lagi memanjat jendela atau bersembunyi seperti pencuri di rumahmu sendiri. Ada saya yang jadi tamengmu."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Adeeva masuk ke rumah melalui pintu utama dengan kepala tegak, berjalan di samping seorang Kapten yang baru saja menyatakan perang terhadap ketidakadilan yang ia terima—bahkan jika ketidakadilan itu datang dari ayahnya sendiri.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...