Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Permaisuri Bukan Keset, Nona Fek Fe!
Langkah Melan terasa ringan saat memasuki ruang makan malam itu. Pikirannya masih dipenuhi oleh denah "Mall Nusantara" yang ia rancang di kepala sepanjang perjalanan pulang tadi.
Bayangkan, sebuah pusat perbelanjaan dengan sistem koin emas, area food court dengan roti bakar selai ceri, dan mungkin butik pakaian yang tidak sekaku gorden milik Nolan.
Namun, suasana hatinya yang sedang meroket tiba-tiba menukik tajam begitu pintu ruang makan dibuka.
*Buset, ini cewek bedak tembok masih di sini?* batin Melan dongkol.
Di ujung meja, Raja Nolan duduk dengan aura dinginnya yang konsisten. Dan di sampingnya, duduklah Nona Fek Fe dengan gaun yang lebih heboh dari tadi siang, lengkap dengan bulu-bulu di bagian pundak yang membuatnya mirip ayam kalkun kesasar.
Sejujurnya, jauh di lubuk hati Kinan jiwa asli di dalam tubuh Melan dia merasa agak mual. Di dunianya dulu, prinsipnya jelas satu hati untuk satu orang. Dia paling anti sama cowok yang harus dibagi-bagi.
Tapi ya nasib, dia malah nyangkut di tubuh Permaisuri yang suaminya adalah raja. Dan raja, di mana-mana, adalah juara bertahan urusan poligami.
Sabar, Kinan. Anggap saja Nolan itu cuma rekan kerja yang kebetulan satu rumah. Fokus ke emas, fokus ke mall, bisiknya menenangkan diri.
Tanpa mempedulikan tatapan Nolan maupun senyum kemenangan Fek Fe, Melan langsung menarik kursi.
Srek!
Bunyi gesekan kursi yang keras itu memecah kesunyian. Melan duduk, mengambil serbet dengan gerakan sekali sentak, lalu mulai menyendok sup jamur ke piringnya.
Meja makan mendadak senyap. Hanya suara denting sendok Melan yang beradu dengan piring porselen. Nolan menghentikan gerakannya, matanya menatap tajam ke arah istrinya yang tampak sangat abai itu.
"Permaisuri," suara Nolan berat dan rendah.
"Ya, Yang Mulia Raja? Mau tambah supnya? Ambil saja sendiri, tangan Anda kan tidak sedang dibidai," sahut Melan tanpa menoleh, asyik mengunyah roti.
Dayang Lin yang berdiri di belakang Melan hampir saja jatuh pingsan mendengar jawaban itu.
Nolan meletakkan sendoknya dengan suara denting yang cukup keras. "Lain kali, jika Anda memasuki ruangan ini, gunakan tata krama Anda. Berikan salam kepada saya. Saya sudah cukup bersabar tidak mempermasalahkan tingkah aneh Anda sejak kemarin, tapi jika rakyat atau bangsawan lain melihat Anda tidak hormat begini, Anda akan menjadi bahan cemoohan."
Fek Fe melihat kesempatan itu. Dia langsung memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, suaranya dipencet lagi sampai terdengar seperti tikus terjepit.
"Benar kata Yang Mulia Raja, Permaisuri. Sebagai wanita nomor satu di kerajaan, Anda harus menjadi contoh. Tidak sopan sekali masuk tanpa salam, bahkan mengabaikan keberadaan saya di sini. Apakah di wilayah Duke Anda tidak diajarkan cara menghargai orang lain?"
Melan menghentikan kunyahannya. Dia meletakkan sendok perlahan, lalu menoleh ke arah Fek Fe. Tatapannya sinis, dingin, dan penuh intimidasi yang belum pernah dilihat Nolan sebelumnya.
"Lin," panggil Melan tenang.
"Ya, Yang Mulia Permaisuri?"
"Tolong ingatkan saya, siapa wanita yang duduk di samping Raja ini? Apakah dia sudah resmi menjadi keluarga kerajaan?"
Lin menelan ludah. "Beliau adalah Nona Fek Fe, putri Marquess, calon selir pertama, Yang Mulia."
"Ah, calon," Melan menekankan kata itu dengan telak. Dia menatap Fek Fe dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dengar ya, Nona Bedak Tembok. Di sini, derajat saya adalah Permaisuri. Secara hukum dan tradisi, saya adalah ibu dari kerajaan ini. Gelar saya berkali-kali lipat lebih tinggi dari Anda. Bahkan jika besok Anda resmi menjadi selir, Anda tetap berada di bawah kaki saya."
Wajah Fek Fe memucat di balik dempulnya yang tebal.
"Jadi," lanjut Melan sambil memotong daging steak dengan elegan, "seorang bawahan memarahi atasan karena masalah tata krama itu namanya apa ya? Oh, benar. Kurang ajar. Anda itu tamu, tapi mulutnya sudah seperti pemilik rumah."
"Yang Mulia Raja... hiks... lihat betapa kasarnya Permaisuri!" Fek Fe mulai mengeluarkan jurus andalannya air mata buaya.
Bahunya bergetar, wajahnya disembunyikan di balik saputangan sutra. "Saya hanya ingin mengingatkan demi kebaikan beliau..."
Nolan hanya diam. Dia tidak membela Fek Fe, tapi dia juga tidak memarahi Melan. Matanya justru terus mengamati Melan.
Sejak kapan dia bisa bicara setegas ini? Biasanya dia hanya akan menjerit atau menghancurkan barang jika merasa tersinggung, pikir Nolan heran.
Melan tidak berhenti di situ. Dia justru makin bersemangat menyerang. "Dan satu lagi, Nona Fek Fe. Anda bilang soal tata krama? Lucu sekali. Anda ini masih gadis, belum menikah, tapi sudah berani menginap di istana lelaki yang belum resmi jadi suami Anda. Di tempat asal saya maksud saya, di lingkungan terhormat, itu namanya perempuan tidak punya harga diri. Pick me girl banget, tahu tidak?"
"Apa itu... pik mi?" tanya Fek Fe di sela tangisnya, bingung dengan istilah asing itu.
"Artinya perempuan yang merasa paling spesial dan rela merendahkan sesama wanita demi perhatian laki-laki. Ya, seperti Anda ini," Melan tersenyum miring.
"Kalau Anda bicara soal kehormatan, sebaiknya Anda pulang ke rumah ayah Anda sekarang dan tunggu sampai hari pernikahan tiba. Jangan berkeliaran di sini seperti lalat yang haus madu."
"Cukup, Permaisuri," Nolan akhirnya bersuara, meski suaranya tidak bernada marah, lebih ke arah lelah.
Fek Fe menangis semakin kencang, berharap Nolan akan memeluknya atau mengusir Melan.
Namun, Nolan hanya mengisyaratkan pelayan untuk membawakan air minum. Dia bahkan tidak melirik Fek Fe yang sedang "hancur" itu.
Melan kembali fokus pada makanannya. Rasanya sangat puas bisa mengeluarkan unek-uneknya. Apalagi melihat Nolan yang ternyata tidak terlalu peduli pada tangisan Fek Fe.
Syukurlah, setidaknya dia kaku tapi nggak bego-bego amat kena tipu cewek drama, pikir Melan.
Suasana makan malam berlanjut dalam keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Fek Fe tetap di sana, sesekali sesenggukan kecil, tapi tidak berani lagi membuka mulut.
Melan menghabiskan piring kedua, lalu beralih ke dessert berupa puding karamel yang manisnya pas di lidah.
Setelah merasa perutnya benar-benar penuh dan bahagia, Melan berdiri. "Saya sudah selesai. Terima kasih atas makanannya. Makanannya enak, tapi pemandangannya agak merusak selera," sindirnya sambil melirik Fek Fe.
Nolan menyeka mulutnya dengan serbet. "Permaisuri, jangan pergi dulu."
Melan mengangkat alisnya. "Kenapa? Mau saya minta maaf sama Nona Bedak ini? Ogah."
"Bukan," Nolan berdiri, auranya kembali mendominasi ruangan. "Selesaikan urusan Anda. Setelah ini, datanglah ke ruang kerja saya. Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan secara pribadi."
Melan menghela napas. Duh, apalagi sih? Pasti mau ceramah soal moral atau mau bahas soal izin keluar tadi.
"Baiklah, Yang Mulia Raja. Berikan saya waktu sepuluh menit untuk mencuci tangan. Saya tidak mau ruang kerja Anda yang penuh gorden mahal itu bau steak," sahut Melan santai.
Melan melenggang pergi, meninggalkan Fek Fe yang masih menangis dan Nolan yang berdiri mematung menatap kepergian istrinya.
Sepanjang koridor menuju paviliunnya, Melan mendumel pelan.
"Gue baru aja hidup lagi, udah dapet drama pelakor eh, selir maksudnya. Mana si Nolan itu auranya kayak kulkas rusak, dingin tapi berisik kalau lagi negur. Tapi nggak apa-apa lah, setidaknya tadi gue menang telak. Liat muka Fek Fe tadi? Beuh, tak ternilai harganya!"
"Yang Mulia," bisik Lin yang mengikuti di belakang. "Anda tadi sungguh luar biasa. Tapi... apakah Anda tidak takut Raja benar-benar marah? Beliau tidak suka jika ada keributan di meja makan."
"Lin, dengerin saya," Melan berhenti sejenak dan menoleh. "Kadang-kadang, orang kayak Nolan itu harus dikasih kejutan. Kalau saya terus-terusan jadi Melan yang dulu, yang nangis-nangis minta cinta, dia makin ilfeel. Sekarang, saya tunjukin kalau saya punya otoritas. Saya ini Permaisuri, bukan keset pintu."
Melan masuk ke kamarnya, mencuci tangannya di wastafel perak yang airnya sudah disiapkan. Dia merapikan gaunnya sebentar di depan cermin.
"Oke, Kinan. Saatnya menghadapi si Bos. Kalau dia bahas soal mall, gue harus punya argumen yang kuat. Tapi kalau dia bahas soal cinta-cintaan... gue mending pura-pura pingsan aja deh," gumamnya pada pantulan dirinya di cermin.
Dengan langkah mantap, Melan berjalan menuju ruang kerja Raja. Dia siap untuk segala kemungkinan termasuk kemungkinan kalau Nolan bakal marah besar soal koin emas yang dia lempar ke warga miskin tadi siang.
Apapun yang terjadi, posisi gue sebagai orang kaya nggak boleh goyah! batinnya penuh tekad.