Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Seorang Pengacara
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar di ruang tamu, meninggalkan jejak emas yang kontras di atas lantai kayu yang dingin.
Aurora melangkah masuk. Punggungnya tegak, nyaris kaku. Gaun sutra biru tua yang ia kenakan hari ini punya potongan bahu yang sangat tegas, seolah itu adalah baju besi yang sengaja ia pakai untuk menutupi kerapuhannya.
Tidak ada lagi sisa-sisa wanita yang hancur di lantai studio semalam. Semuanya sudah ia simpan rapat-rapat.
Rambut hitam pekatnya—yang panjangnya melewati pinggang—ia biarkan terurai dengan tatanan yang sangat teliti. Gelombang halusnya menjuntai di bahu, menciptakan kontras yang tajam antara hitam rambutnya dengan kulit wajahnya yang pucat.
Di dekat perapian, Lucien berdiri diam. Pria itu tampak seperti pilar kegelapan yang mengawasi setiap jengkal ruangan.
Saat pintu terbuka dan Aurora melangkah masuk, napas Lucien sempat tertahan selama satu detik.
Ia tidak menyangka Aurora bisa bangkit secepat ini—dan terlihat seanggun itu. Kilatan kagum sempat melintas di mata gelapnya saat melihat bagaimana rambut hitam istrinya jatuh dengan sempurna di atas kain sutra biru.
Namun, Lucien segera menyembunyikannya. Ia kembali memasang wajah dingin yang datar, bersandar pada perapian dengan gaya nonchalant, seolah-olah dia tidak terkesan sedikit pun.
Di seberang Lucien, seorang pria lain sedang memerhatikan. Pria itu memancarkan aura yang berbeda—tidak mengancam seperti Lucien, tapi tetap terasa sangat kuat.
Adrian Morel.
Dia bersandar dengan keanggunan yang santai. Rambut pirang abunya sedikit berantakan, namun penampilannya tetap terlihat sangat berkelas.
Begitu Aurora mendekat, Adrian segera berdiri. Gerakannya sigap dan luwes. Sepasang mata hijau kecokelatannya menatap Aurora dengan sorot yang cerdas, lalu pandangannya sempat tertahan sejenak pada rambut hitam Aurora yang legam sebelum kembali menatap matanya.
"Nyonya Valehart," sapa Adrian. Suaranya halus, namun memberikan penekanan yang jelas pada gelar Aurora.
Dia memberikan anggukan hormat yang sopan, namun tatapannya bertahan di mata Aurora sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Ada rasa ingin tahu yang besar di balik sorot mata pria itu saat dia memperhatikan sosok Aurora yang berdiri di hadapannya.
Aurora berhenti tepat di depan pria itu. Dia tidak membiarkan rasa ingin tahunya terlihat, lalu mengulurkan tangannya yang ramping dengan gerakan yang mantap dan profesional.
"Terima kasih sudah datang sepagi ini, Pengacara Morel," ucap Aurora stabil. "Saya harap Lucien sudah menjelaskan bahwa saya tidak mencari simpati. Saya ingin klaim paman saya patah secara hukum sampai tidak ada satu pun celah yang tersisa."
Adrian menyambut tangan Aurora. Genggamannya hangat, mantap, dan dia masih belum melepaskannya saat dia mulai berbicara.
"Saya sudah meninjau garis besar kasus ini semalam. Sangat menarik," lanjut Adrian sambil menutup tas kulit di depannya.
"Paman Anda rupanya tidak hanya ingin mengambil aset Anda. Dia ingin menghapus keberadaan Anda dari museum itu seolah Anda tidak pernah menapakkan kaki di sana. Sebuah rencana yang cukup ambisius."
Adrian merapikan rompi jasnya dengan gerakan yang santai namun penuh percaya diri. Senyum tipis yang hangat tersungging di bibirnya—jenis senyum yang terasa menyambut, namun sulit untuk ditebak apa yang sebenarnya ada di kepalanya.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya punya kegemaran khusus dalam merusak rencana orang-orang yang merasa dirinya paling pintar di ruangan ini."
Dari sudut mata Aurora, dia perasan rahang Lucien mengeras melihat bagaimana Adrian menatapnya.
Namun, sang pengacara nampaknya tidak peduli.
"Jadi, Pengacara Morel, apakah Anda benar-benar sehebat yang Lucien katakan?" tantang Aurora tajam.
"Karena... saya tidak punya waktu untuk sekadar mencoba-coba."
Adrian memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya semakin lebar dan provokatif.
"Reputasi Tuan Valehart dalam menilai biasanya tidak pernah meleset. Kita tidak akan hanya memenangkan museum itu kembali. Kita akan membuat paman Anda menyesal pernah mencuba bermain-main dengan Anda."
"Bisa kita mulai sekarang? Waktu saya cukup terbatas saat ini," ucap Aurora datar, memutus kontak mata yang terlalu lama itu.
Senyum Adrian justru semakin lebar. Ada kilatan apresiasi yang muncul di matanya melihat perubahan sikap Aurora yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan efisien.
"Langsung pada intinya. Saya suka itu," balas Adrian santai.
"Sikap seperti ini yang membuat pertempuran hukum jadi jauh lebih menarik."
Dengan gerakan yang luwes, Adrian berdiri dan menggeser serangkaian dokumen tebal ke atas meja mahoni di hadapan mereka.
Lucien, yang sedari tadi hanya mengawasi dalam keheningan yang menyesakkan, akhirnya melangkah maju.
Kehadirannya yang besar dan gelap seolah menelan habis kehangatan yang dipancarkan oleh Adrian sebelumnya.
"Simpan keramahanmu, Morel," potong Lucien tajam. Suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Aku tidak membayarmu untuk memamerkan pesonamu. Aku menyewamu untuk menghanguskan pihak lawan sampai tidak bersisa."
Ketegangan di ruangan itu seketika berubah arah. Ada arus persaingan yang tidak terucapkan mulai memercik di antara kedua pria itu.
Adrian hanya menanggapi gertakan Lucien dengan mengangkat bahu sekilas, sama sekali tidak terlihat terintimidasi. Ia justru kembali menatap Aurora, menunggu reaksinya.
Aurora merasakan udara di sekitarnya mendadak terasa berat. Benturan antara otoritas Lucien yang menindas dan kepercayaan diri Adrian yang luwes menciptakan gesekan yang menyesakkan.
Dia seolah bisa melihat percikan persaingan yang terbang di antara keduanya. Sebuah gangguan yang sama sekali tidak dia butuhkan, terutama saat seluruh hidupnya sedang berada di ujung tanduk.
Aurora melangkah maju. Dia menempatkan dirinya tepat di tengah-tengah kedua pria itu, berdiri dengan teguh. Suaranya membelah ketegangan di ruangan itu seperti bilah pisau yang tajam.
"Tuan-tuan, tolong," ucapnya dingin namun memerintah.
"Warisan saya saat ini sedang dihancurkan oleh orang-orang yang menganggap diamnya saya sebagai sebuah undangan. Jika kalian sudah selesai mengukur pengaruh masing-masing, mungkin kita bisa fokus pada bukti-buktinya?"
Adrian terkekeh.
Suaranya rendah.
Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Lucien. Fokusnya tetap tertuju sepenuhnya pada Aurora, mata hijaunya berbinar dengan hiburan yang tulus.
"Poin yang sangat bagus, Aurora. Tampaknya suami Anda jauh lebih tidak sabaran dari yang saya duga," komentar Adrian.
"Nyonya Valehart," koreksi Lucien telak.
"Maafkan saya, Tuan Valehart. Hanya salah ucap," sahut Adrian santai.
Meskipun kata-katanya berisi permohonan maaf, nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru tampak menikmati kilatan emosi yang baru saja ia pancing dari Lucien.
Adrian kembali memfokuskan perhatian pada tumpukan berkas di meja. Ia menggeser sebuah map dengan pinggiran emas ke arah Aurora.
"Sekarang, mengenai buku besar yang hilang. Saya menghabiskan sepanjang malam melacak semua log," ujar Adrian, suaranya berubah menjadi serius dan profesional.
"Seseorang tidak hanya membakar dokumen-dokumen itu... mereka menggantinya dengan salinan palsu yang sangat identik. Ini pekerjaan profesional, yang artinya 'hantu' kita ini memiliki penyokong dana yang besar."
Adrian menatap Aurora lekat-lekat, memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
Aurora menatap map berpinggiran emas itu tanpa menyentuhnya. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
"Salinan palsu?" Aurora mengulangi kalimat itu, suaranya nyaris berupa bisikan yang tajam.
Dia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hijau-hazel Adrian yang tampak begitu tenang di bawah lampu ruang tamu. Ada sesuatu yang mengusik rasa ingin tahunya—sesuatu tentang betapa mudahnya pria ini mendapatkan informasi tersebut.
"Hanya dalam satu malam, Anda sudah bisa melacak log kurir dan mendeteksi adanya dokumen tiruan yang bahkan tim audit museum saya sendiri tidak menyadarinya?" tanya Aurora, suaranya kini dipenuhi keraguan yang masuk akal.
Aurora melangkah sedikit menjauh dari sentuhan Lucien, memberikan ruang bagi dirinya untuk berpikir lebih jernih. Dia menyilangkan tangan di depan dada, menatap Adrian dengan selidik.
"Bagaimana mungkin seorang pengacara—yang baru saja tiba—bisa mengetahui detail teknis secepat itu? Informasi semacam itu tidak tersimpan di sembarang tempat, Pengacara Morel."
Adrian menyandarkan berat badannya pada meja mahoni, sama sekali tidak merasa terpojok oleh kecurigaan Aurora. Dia justru tampak menikmati setiap pertanyaan yang dilemparkan padanya.
"Koneksi, Nyonya Valehart. Hukum bukan hanya tentang apa yang tertulis di atas kertas, tapi tentang siapa yang memegang pena tersebut," jawab Adrian dengan nada yang misterius.
"Saya memiliki mata dan telinga di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh audit resmi. Di dunia di mana paman Anda bermain kotor, saya harus bisa bermain lebih licin."
Dia mengetuk pelan map di depannya dengan ujung jarinya yang panjang.
"Jangan tanya dari mana asalnya. Cukup lihat apa yang ada di dalamnya. Bukti ini lebih dari cukup untuk membuat paman Anda berkeringat dingin di pengadilan nanti."
"Dia benar, Aurora. Jangan tanyakan metodenya," suara Lucien mengalun rendah, nyaris seperti geraman yang terkontrol.
Lucien berdiri tepat di samping istrinya, tatapannya menghunus langsung ke arah Adrian dengan sorot yang penuh peringatan.
"Adrian Morel tidak memiliki lisensi pengacara hanya untuk membaca buku di perpustakaan. Dia memiliki akses ke sudut-sudut kota yang bahkan polisi pun takut untuk menyentuhnya. Itulah alasan kenapa aku membayarnya dengan harga yang sangat mahal."
Lucien kemudian beralih menatap Aurora, matanya yang abu-abu tampak sedikit melembut namun tetap terlihat dingin.
"Kau ingin hasil, bukan? Maka jangan pedulikan seberapa kotor tangan yang bekerja untukmu, selama tangan itu tidak berani menyentuh milikku."
Lucien melirik tajam ke arah Adrian saat mengucapkan kata terakhirnya—sebuah peringatan berlapis yang jelas ditujukan untuk sang pengacara agar tetap menjaga jarak profesionalnya dengan Aurora.
Adrian hanya menanggapi dengan senyum miring yang tipis, tampak sama sekali tidak terganggu dengan ancaman terselubung itu.
"Tentu saja, Tuan Valehart," sahut Adrian halus.
"Fokus saya adalah dokumen-dokumen ini. Dan tentu saja, memastikan Nyonya Valehart mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya."
Lucien mendengus pelan, lalu pandangannya beralih kembali ke map emas di atas meja.