NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTARA CAHAYA DAN DEBU

Suara flatline dari monitor jantung itu membelah keheningan koridor rumah sakit seperti belati yang tajam. Garis hijau yang tadinya bergelombang kini menjadi garis lurus yang statis, menandakan bahwa jantung Clarissa Mahendra telah berhenti berdenyut.

"Defibrillator! Siapkan 200 joule!" teriak dokter jaga.

Di luar ruangan, Bastian membeku. Suara kesibukan di dalam kamar rawat itu terdengar seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Pak Gunawan terduduk di kursi tunggu, wajahnya tertutup kedua tangan, bahunya terguncang hebat. Pria yang biasanya mengendalikan ribuan karyawan itu kini tampak hancur, tidak berdaya melawan takdir yang merenggut putrinya.

"Jangan sekarang, Clar... Gue mohon, jangan sekarang!" Bastian meraung, mencoba menerobos masuk namun ditahan oleh dua orang perawat.

Di sisi lain kesadaran, Clarissa tidak lagi merasakan dinginnya ruangan rumah sakit atau tajamnya jarum infus. Ia merasa sedang berdiri di tengah padang bunga yang luas, tempat yang pernah ia impikan saat ia masih kecil. Anehnya, ia tidak lagi merasa lemas. Tubuhnya terasa ringan, tanpa rasa sakit di tulang-tulang yang selama ini menyiksanya.

Di kejauhan, ia melihat sosok wanita berpakaian putih sederhana dengan wajah yang sangat mirip dengannya, namun memancarkan kedamaian yang luar biasa.

"Mama?" bisik Clarissa.

Sosok itu tersenyum, merentangkan tangan. Namun, saat Clarissa hendak melangkah mendekat, ia mendengar suara-suara dari kejauhan. Suara Bastian yang memanggil namanya dengan penuh keputusasaan, dan suara ayahnya yang memohon ampun.

"Mereka masih membutuhkanmu, Clarissa," suara lembut itu bergema di kepala Clarissa. "Waktumu belum selesai jika kamu memilih untuk kembali. Tapi jalan yang akan kamu tempuh tetaplah terjal."

Clarissa melihat ke belakang, ke arah kegelapan yang mulai menariknya kembali, lalu menatap Mamanya. Ia menyadari satu hal: ia belum sempat benar-benar hidup sebagai dirinya yang jujur. Ia hanya pernah hidup sebagai topeng yang ia ciptakan sendiri.

"Satu kali lagi! 360 joule! Clear!"

Dug! Tubuh Clarissa tersentak di atas ranjang.

Dokter menahan napas, matanya tertuju pada monitor. Satu detik... dua detik... tiga detik...

Pip... pip... pip...

Irama jantung itu kembali, meski sangat lemah dan tidak beraturan. Clarissa ditarik kembali dari ambang kematian. Namun, kondisinya masih jauh dari kata stabil. Ia masuk ke dalam fase koma yang dalam.

Dokter keluar dengan peluh di dahi. "Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya, tapi organ-organnya sangat lemah. Dia sekarang dalam kondisi koma. Hanya keinginan kuatnya untuk hidup yang bisa membawanya kembali."

Berita tentang Clarissa yang sempat "meninggal" selama beberapa menit tersebar ke penjuru kampus. Adrian datang ke rumah sakit malam itu juga. Ia tidak sendirian; ia membawa Maya.

Bastian menatap mereka dengan mata kosong. "Dia kembali, tapi dia nggak bangun," bisiknya pada Adrian.

Maya mendekati kaca kamar ICU, menatap Clarissa yang kini terhubung dengan respirator. Gadis yang dulu menyiramnya dengan kopi itu kini tampak begitu kecil di balik selimut putih. Maya mengeluarkan sebuah surat kecil—surat yang Clarissa tulis sebelum kondisinya kritis. Bastian telah memberikannya pada Maya sore tadi.

"Aku sudah baca suratnya, Kak Bastian," kata Maya pelan. "Aku sudah memaafkannya sejak lama. Aku tidak pernah benar-benar membencinya karena aku tahu, mata Kak Clarissa selalu terlihat sangat sedih setiap kali dia mem-bully orang."

Adrian menepuk bahu Bastian. "Lo harus kuat, Bas. Kalau lo menyerah, dia nggak punya alasan buat bangun."

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam. Bastian tidak pernah meninggalkan sisi ranjang Clarissa. Ia membacakan novel favorit Clarissa, bercerita tentang masa kecil mereka saat mereka masih sering bermain bersama sebelum kebencian merusak segalanya.

"Clar, ingat nggak saat kita umur lima tahun? Kita pernah janji mau keliling dunia bareng kalau sudah besar. Lo bilang lo mau ke Paris buat beli semua baju modis di sana. Bangun, Clar... gue bakal temani lo ke mana pun. Gue nggak akan benci lo lagi. Gue janji."

Malam itu, saat Bastian tertidur sambil menggenggam tangan Clarissa, ia merasakan sebuah gerakan kecil. Sangat tipis, menyerupai kepakan sayap kupu-kupu.

Jari tangan Clarissa bergerak.

Bastian tersentak bangun. Ia menatap wajah adiknya. Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata yang pucat itu terbuka. Clarissa menoleh ke arah kakaknya, bibirnya yang kering mencoba membentuk sebuah kata.

"Ba... Bas..."

"Gue di sini, Clar! Gue di sini!" Bastian menekan tombol darurat dengan panik sekaligus gembira.

Clarissa meneteskan air mata. "Haus..."

Malam itu bukan hanya menjadi saksi kembalinya kesadaran Clarissa, tapi juga lahirnya harapan baru. Meski leukemia masih ada di dalam tubuhnya, meski ia masih harus menghadapi kemoterapi dan perjuangan panjang, Clarissa tidak lagi sendirian.

Sang Ratu telah menanggalkan mahkota durinya, dan kini ia siap menghadapi dunia dengan wajah yang apa adanya, tanpa riasan, namun penuh dengan kejujuran.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!