NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Melihat Shen Yu muncul tiba-tiba, Komandan itu sedikit terkejut, namun segera mendekat dengan sikap hormat. Ia tidak berani meremehkan meskipun yang dihadapannya hanyalah seorang pemuda berpakaian sederhana.

"Maaf telah mengganggu ketenangan Tuan," kata Komandan itu dengan nada sopan, sedikit membungkuk. "Kami adalah rombongan dari Kuil di puncak gunung yang jauh dari sini, sedang melakukan perjalanan menuju Ibu Kota."

Ia menjelaskan situasinya dengan cepat dan jelas.

"Kami awalnya hanya ingin beristirahat sebentar, namun cuaca malam ini terlalu dingin dan kondisi kesehatan Tuan Muda kami menurun drastis di tengah jalan. Mendengar bahwa rumah ini bersih dan hangat, kami berniat meminta izin untuk menumpang sebentar agar beliau bisa beristirahat dengan layak."

Shen Yu mendengarkan sambil mengangguk pelan. Matanya lalu beralih menatap sosok yang ditopang oleh dua prajurit itu.

Pria muda itu sangat tampan, namun wajahnya pucat seperti kertas. Bibirnya kering dan pecah-pecah, matanya terasa berat dan setengah tertutup. Setiap beberapa saat ia akan menggigil atau terbatuk pelan, terlihat sangat menyiksa.

Melihat pemandangan itu, rasa kasihan muncul di hati Shen Yu. Walaupun waspada, ia bukan tipe orang yang tega membiarkan orang sakit kedinginan di luar.

"Sudahlah, tidak perlu bicara panjang lebar," kata Shen Yu dengan nada datar dan sedikit pendiam. "Masuklah. Di sini memang tidak seberapa, tapi setidaknya terlindung dari angin."

"Terima kasih banyak, Tuan! Sungguh kebaikan yang tak terhingga!" Wajah Komandan itu langsung berseri-seri, rasa lega terlihat jelas di wajahnya.

"Sama saja," jawab Shen Yu singkat, lalu berbalik mendorong pintu kayu itu terbuka lebar. "Silakan masuk."

Para prajurit segera membantu Tuan Muda itu melangkah masuk dengan hati-hati.

Shen Yu memimpin mereka ke kamar utama. "Tuan Muda bisa beristirahat di sini. Ruangan ini paling bersih."

Begitu masuk, para prajurit sempat terdiam sebentar.

Di dalam kamar itu benar-benar kosong. Tidak ada ranjang mewah, tidak ada meja—hanya sebuah alas tidur yang terbuat dari anyaman jerami yang ditutupi kain tipis bersih di sudut ruangan. Sangat sederhana, bahkan bisa dibilang sangat miskin.

Namun, tidak ada yang mengeluh. Justru mereka merasa lega. Lantai kayunya kering, tidak berdebu, tidak lembap, dan udaranya jauh lebih hangat dibandingkan angin malam yang menusuk tulang di luar. Bagi seseorang yang sedang sakit, kebersihan dan kehangatan jauh lebih penting daripada kemewahan.

"Taruh Tuan Muda di sana dengan pelan," perintah Komandan itu.

Mereka membaringkan tubuh lemah itu dengan hati-hati di atas alas jerami tersebut. Meski hanya alas kasar, Tuan Muda itu tampak menghela napas lega saat punggungnya menyentuh lantai yang kering dan hangat, wajahnya sedikit lebih rileks.

Shen Yu berdiri di pintu, menyandarkan tubuhnya sambil memeluk keranjang sayurnya, mengamati situasi dengan tenang. Rencana berpura-pura miskin dan sederhana berjalan mulus sejauh ini.

Setelah memastikan Tuan Muda berbaring dengan nyaman, Shen Yu berbalik dan berjalan menuju bagian belakang rumah. Di sana ada semacam dapur terbuka yang atapnya hanya terbuat dari anyaman jerami, dengan sebuah tungku tanah liat di tengahnya.

"Kalau begitu... aku akan memasak sesuatu untuk dimakan," gumamnya pelan. Ia berniat mengambil air dan bahan makanan dari Ruang Ajaib nanti, setidaknya membuatkan sup hangat agar pria muda itu bisa meminum sesuatu yang panas.

Namun, baru saja ia hendak meraih kayu bakar, seorang prajurit yang tadi ikut bersama Komandan segera melangkah maju menghampirinya.

"Tuan muda tidak perlu repot," kata prajurit itu dengan sopan namun tegas. "Biarkan kami saja yang mengurus urusan dapur. Tuan lebih baik istirahat atau menemani Tuan Muda di dalam. Kami tidak enak hati jika membiarkan tuan rumah yang bekerja."

Shen Yu mengedipkan matanya beberapa kali. Benar juga—kalau dia yang masak, dia pasti akan menggunakan kompor gas atau mengambil bahan makanan instan. Itu pasti akan mencurigakan. Lagipula, jujur saja, dia sama sekali tidak pandai menyalakan tungku kayu bakar zaman dulu ini.

"Baiklah," jawabnya mengangguk santai. "Kalau begitu tolong uruskan. Aku bantu mencuci sayuran saja."

Shen Yu mengambil keranjang bambunya, mengeluarkan beberapa sayuran hijau dan akar-akaran yang tadi ia "ambil dari hutan".

Prajurit itu segera mengambil alih tungku, menyiapkan api dengan terampil. Asap tipis mulai mengepul, dan suasana dapur pun terasa lebih hidup.

Shen Yu duduk di sebuah bangku rendah, siap membersihkan sayuran. Namun ia menengadah, menatap prajurit itu.

"Tapi... di sini tidak ada sumur. Air harus diambil dari sungai kecil di dekat sini," katanya memberi informasi.

"Mengerti!"

Seorang prajurit lain yang bertubuh kekar dan berwajah tegas, yang tadi disebut teman-temannya sebagai Duan Ma, segera melangkah maju.

"Aku yang mengurus air!" serunya, lalu menoleh ke dua rekannya. "Kalian berdua, ambil tong kayu besar yang ada di halaman itu! Kita ke sungai! Cepat dapatkan air bersih untuk memasak dan untuk Tuan Muda cuci muka!"

"Siap, Kakak Ma!"

Dua orang prajurit lainnya segera mengangkat sebuah tong kayu besar yang memang sudah ada di halaman rumah Shen Yu. Mereka berjalan cepat menuju arah sungai yang ditunjukkan oleh Shen Yu tadi.

Duan Ma sendiri ikut menyusul mereka, memastikan air yang diambil benar-benar bersih dan jernih.

Shen Yu tersenyum tipis melihat kerjasama tim mereka yang begitu kompak.

"Baguslah... kalau begitu aku tidak perlu repot mengambil air dan menyalakan api. Aku tinggal duduk manis saja di sini sambil mengupas sayur," batinnya lega. "Ternyata punya tamu juga enak ya, jadi ada yang melayani."

Ia pun mulai sibuk membersihkan sayuran dengan air yang nanti akan dibawa pulang oleh mereka, berpura-pura menjadi pemuda desa yang sederhana dan penurut.

Di dalam kamar yang remang-remang, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk di luar. Suara para prajurit yang sibuk menyiapkan makan malam, memotong kayu, dan mengangkat air terdengar samar-samar masuk melalui celah dinding.

Komandan duduk bersimpuh di samping tempat tidur, wajahnya tampak lebih rileks dibandingkan tadi.

"Akhirnya... lega rasanya," gumam Komandan itu sambil menghela napas panjang. "Sungguh beruntung pemilik rumah ini berbaik hati mengizinkan kita masuk. Kalau tidak, Tuan Muda pasti akan semakin parah terkena angin malam."

Ia lalu menoleh ke arah pemuda yang sedang berbaring, matanya menatap penuh perhatian.

"Tapi jujur saja... saya sedikit kaget. Pemilik rumah itu ternyata masih sangat muda—masih anak-anak, sepertinya belum genap dua puluh tahun. Berani sekali dia hidup sendirian di tempat sepi seperti ini."

Memang, penampilan Shen Yu saat ini sangat berbeda dengan bayangan mereka sebelumnya.

Bukan orang tua renta atau orang sakit yang lemah. Shen Yu memiliki kulit yang berwarna kecokelatan, hasil dari dua tahun berjemur di bawah sinar matahari dan beraktivitas di hutan. Warnanya bukan pucat pasi, melainkan warna kulit yang terlihat sehat dan kuat. Tubuhnya memang tidak berotot kekar seperti prajurit, tapi terlihat padat, lincah, dan tidak terlihat rapuh. Mata dan gerakannya pun terlihat waspada, menunjukkan bahwa anak ini pasti sudah terbiasa bertahan hidup di alam liar.

Tuan Muda di atas alas tidur mendengar ucapan Komandan itu, lalu mengangguk pelan. Wajahnya masih pucat, tapi matanya menatap lemah.

"Hmm... mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan adik-adik tiriku di rumah," ucapnya dengan suara parau. "Anak seusia itu biasanya masih manja atau bergantung pada orang lain. Tapi dia... terlihat sangat mandiri."

Ia lalu menarik napas, lalu batuk kecil beberapa kali.

Komandan segera membantunya duduk sedikit lebih tegak dan menepuk punggungnya pelan.

"Bagaimana, Tuan? Apakah badannya terasa lebih baik?" tanya Komandan cemas.

"Masih... dingin... dan nyeri di tulang," jawab Tuan Muda pelan. "Tapi sudah jauh lebih baik daripada di dalam kereta."

Komandan mengerutkan kening, tampak berpikir keras.

"Kita harus mempercepat perjalanan. Target kita setidaknya harus sudah sampai di gerbang Ibu Kota paling lambat lusa. Jika tertunda lebih dari itu, saya khawatir kondisi Tuan Muda tidak akan kuat menahan perjalanan jauh," kata Komandan dengan nada tegas.

Mereka berdua tahu, perjalanan ini sangat penting dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Tuan Muda itu hanya mengangguk lemah sebagai tanda mengerti, lalu memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan sisa tenaga yang ada.

Hening hanya sebentar.

Tok.. tok.. tok..

Pintu kamar diketuk pelan dari luar.

"Masuk," sahut Komandan dengan suara rendah.

Pintu terbuka, dan Duan Ma masuk dengan langkah hati-hati. Di kedua tangannya ia membawa nampan kayu sederhana. Di atasnya terdapat dua mangkuk keramik yang masih mengeluarkan asap putih hangat.

Satu mangkuk berisi bubur nasi yang dimasak sangat lembut hingga teksturnya halus, cocok sekali untuk orang sakit. Di sebelahnya ada piring kecil berisi tumisan sayuran hijau yang dimasak dengan sedikit minyak dan bumbu sederhana, wanginya harum dan menggugah selera.

"Maaf mengganggu, Tuan Muda. Makanan sudah siap," ucap Duan Ma pelan.

Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan itu dengan hati-hati di atas sebuah batu datar yang tadi mereka gunakan sebagai meja kecil di samping tempat tidur. Uap panas mengepul dari mangkuk bubur itu, membawa aroma hangat yang langsung memenuhi ruangan sempit itu.

"Silakan dinikmati selagi hangat, Tuan. Bubur ini dimasak lama agar empuk, sayurnya juga sudah dibumbui agar ada tenaga," lapor Duan Ma sambil membungkuk hormat.

Komandan segera mengambil sendok kayu dan meniup-niup bubur itu perlahan agar tidak terlalu panas, siap menyuapi tuanya.

Wajah Tuan Muda yang tadi tampak lesu kini sedikit berubah. Mencium aroma makanan yang hangat, perutnya pun seolah merespons. Ia perlahan membuka matanya, menatap mangkuk di depannya dengan tatapan penuh syukur.

Di luar pintu yang sedikit terbuka, Shen Yu yang kebetulan lewat melirik sekilas.

"Hmm, lumayanlah masakan para prajurit. Setidaknya terlihat bersih dan hangat," batinnya berkomentar. "Semoga makanannya bisa membuat orang itu cepat pulih, supaya mereka cepat berangkat dan aku bisa kembali hidup tenang."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!