NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sangat lama kesunyian menyelimuti kedua nya, tak ada kata kata yang terucap, hanya pikiran mereka masing masing yang mengembara entah kemana.

"Kita hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala nya, kita cuma setitik debu didalam lautan takdir nya Allah, Abi yakin Ayi akan mampu melalui ini semua, dia anak yang kuat, percaya lah mi" ucap Kiai Nuruddin menghibur istri nya.

Sepasang suami istri ini sangat mengagumi Kaenan yang taat beribadah, penghafal Al-Qur'an yang jenius, ramah tamah dan baik budi pekerti nya.

Tetapi terlepas dari semua itu, semua nya hanya pelaku dari sebuah skenario besar yang di tulis oleh sang Khaliq, tidak ada pilihan selain berusaha menjalankan nya sebaik mungkin.

"Ummi tahu hati putri ummi, berat amat cobaan hidup nya bi, semoga Kaenan bahagia, dan semoga Ayi bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Kaenan ya bi!" ucap ummi Nazeha dengan suara bergetar, nyaris tercekat di tenggorokan nya.

Meskipun tidak pernah terucap dengan kata kata, tetapi hati sepasang suami istri ini sebenarnya sangat ingin menjodohkan Kaenan dengan putri semata wayangnya yang bernama Aisyah.

Keduanya tidak pernah bicara masalah itu, karena usia Kaenan yang masih terlalu muda sekali.

Tetapi apalah daya, manusia hanya bisa mengatur rencana, tetapi Tuhan jualah penentu akhirnya. Pada akhirnya, kita semua harus tenggelam dalam lautan takdirnya Allah, tanpa bisa memilih apa apa.

Sore harinya, sepulang dari tempat kerjanya, setelah selesai mandi, Kaenan segera pergi ke rumah Kiai Nuruddin dengan menggunakan motor metik milik Aisyah.

Karena hari menjelang magrib, Kaenan langsung ke mesjid pesantren, untuk menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah.

Selesai sholat magrib berjamaah dan membaca wirid serta berdoa, Kiai Nuruddin seperti biasa nya, sementara menunggu waktu isya tiba, beliau menyampaikan sedikit Tausiyah hingga waktu sholat isya tiba.

Setelah selesai sholat isya hingga berdoa, para jamaah pada pulang kerumah masing masing, sedangkan para Santri kembali ke asrama masing masing, kini tinggal Kaenan dan Kiai Nuruddin berdua.

"Mau berbicara di sini, atau kita ke rumah dahulu nak?" tawar Kiai Nuruddin ramah.

"Kita ke Rumah saja kiai, kasihan ummi telah pulang kerumah terlebih dahulu tadi" sahut Kaenan.

"Ayo!" ajak Kiai Nuruddin berdiri, meletakan tangan kanan nya di pundak kanan Kaenan sambil melangkah ke luar dari Mesjid.

Kedua pria berbeda usia itu melangkah tanpa kata, menunduk menatap jalan, namun dengan perasaan hati yang berkecamuk entah kemana.

Rupanya tadi di mesjid, ummi Nazeha melihat kehadiran Kaenan, hingga begitu selesai sholat isya, wanita cantik ini buru buru pulang, menyiapkan makan malam bersama.

Kebetulan pula, malam ini ustadz Isal, putra sulung Kiai Nuruddin, ada pengajuan di mesjid lain, sehingga tidak bisa pulang cepat.

Di pintu rumah, ummi Nazeha menatap Kaenan dan Kiai Nuruddin yang berjalan ke arah rumah, dengan tatapan matanya yang sendu.

"Assalamualaikum ummi!" ucap Kiai Nuruddin dan Kaenan bersamaan.

"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh!" jawab ummi Nazeha dengan suara bergetar.

Kiai Nuruddin masuk kedalam kamar tidur nya di iringi oleh ummi Nazeha, sementara Kaenan duduk di sofa ruang tamu.

Tidak seberapa lama, Kiai Nuruddin keluar dari kamar, dengan pakaian harian beliau, baju kaos oblong putih, dan celana setengah tiang warna putih pula.

"Ayo Kae!, kita makan dulu yok, baru kita ngobrol setelah selesai makan!" ajak Kiai Nuruddin menepuk pundak Kaenan.

Karena sudah sering numpang makan di rumah Kiai Nuruddin semenjak dia kecil, sehingga Kaenan tidak lagi malu malu di rumah ini.

Selesai makan, Kiai Nuruddin mengajak Kaenan duduk lesehan di ruang tengah sambil menonton berita di televisi.

"Hmm!, ada hal apakah gerangan nak?" tanya Kiai Nuruddin membuka pembicaraan.

Kaenan ragu ragu beberapa saat, "eeeh, anu kiai, eeeh bagai mana ya?" ujar nya gugup.

"Bicaralah nak pelan pelan, ada apa?, biar kita carikan solusi yang terbaik nya seperti apa?" ucap Kiai Nuruddin lembut.

Ummi Nazeha muncul dari dapur, membawa dua gelas kopi panas dan pisang goreng.

Kaenan segera menceritakan semua cerita dan rencana yang telah di atur oleh kakek nya.

"Lalu bagai mana dengan hati mu sendiri bak?" tanya Kiai Nuruddin lagi.

"Saya sebenarnya tidak ingin menikah buru buru kiai, masih banyak yang perlu Kae pelajari dalam kehidupan ini, saya masih terlalu muda" jawab Kaenan

"Nak!, hidup ini adalah lautan takdir, kalau kau ingin selamat, harus ikhlas mengikuti arah arus takdir itu membawa mu, jangan melawan arus, karena jika kau bersikeras melawan arus, kau tidak akan tiba dengan selamat, yang ada kau akan hancur nak!" nasehat Kiai Nuruddin.

"Tapi saya tidak mengenal wanita itu Kiai, usia nya sepuluh tahun diatas saya" sahut Kaenan.

Kiai Nuruddin menarik nafasnya dalam-dalam, "nak!, umur hanya hitungan angka saja, dewasa nya pikiran seseorang, tidak di hitung dari berapa umur nya, bahkan banyak contoh yang muda meninggal lebih dahulu dari pada yang tua, lalu apa artinya umur?, tidak ada arti nya, hanya hitungan angka saja, semakin banyak angka nya, semakin dekat pintu kubur nya" ujar Kiai Nuruddin.

"Lalu saya harus bagai mana Kiai?" tanya Kaenan.

Sebelum berbicara, Kiai Nuruddin menepuk pundak Kaenan tiga kali.

"Nak!, ada beberapa langkah yang harus kau tempuh sebelum memutuskan sikap mu, pertama pikirkan apa maslahat dan mudarat nya bagi diri mu dan keluarga mu, jika kau menerima, lalu yang kedua, pikirkan apa maslahat dan mudarat nya bagi diri mu dan keluarga mu, jika kau menolak nya, ketiga, setelah kau bisa memikirkan maslahat dan mudarat nya, lalu bisa mengambil keputusan, maka dengan bertawakal kepada Allah, melangkah lah nak, semoga Allah membimbing langkah mu, Abi dan ummi akan selalu mendukung apa pun keputusan mu" ujar Kiai Nuruddin.

Tidak terlalu larut malam saat Kaenan mohon diri pada Kiai Nuruddin untuk pulang ke pondok milik Syarif.

Namun sebelum pulang ke pondok, Kaenan menyempatkan diri untuk mampir ke TPU, tempat ibu Limah di kuburkan.

"Assalamualaika ya ibu, Kae mampir ke rumah ibu, maafkan Kae ya bu, Kae lama tidak menjenguk ibu, Kae rindu ibu, sekarang Kae banyak masalah bu!, mengapa Kae merasa hidup Kae hanya untuk menjadi tumbal bagi kesenangan orang lain bu?, jika Kae tolak, papah akan bentrok dengan paman, dan itu karena Kae bu, tetapi jika Kae terima, itu artinya kae sedang membuat masalah baru bagi diri Kae bu, ibu sekarang sudah damai kan bu?, tidak ada kah niatan ibu untuk mengajak Kae bu, Kae penat hidup tanpa ibu" rintih Kaenan memeluk batu nisan bu Limah, air matanya tumpah membasahi kedua pipinya.

Bulan redup sendu, berlindung di balik awan, mengarak mendung yang hampir jatuh.

Kaenan melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang memang dihapal nya di luar kepala, ayat demi ayat, surah demi surah.

Seperti pilu nya hati Kaenan saat itu, rintik hujan mulai turun membasahi tanah pekuburan itu. Namun Kaenan masih khusyuk melantunkan ayat demi ayat, hingga tanpa terasa pagi menjelang.

Saat sapakh merah muncul di ufuk timur, pertanda sebentar lagi fajar akan tiba, Kaenan buru buru mengkhatamkan bacaan nya, lalu berdoa untuk ibunya.

"Bu!, Kae pulang dulu ya bu, ibu senang kan sekarang berkumpul dengan ayah, doa' kan Kae ya bu, biar Kae sabar dan tabah menjalani hidup ini, Kae pamit bu, assalamualaika ya ibu!" ....

Kae segera mengacu motor nya, kembali ke pondok Syarif.

Saat Kae tiba di pondok, di mesjid sudah terdengar suara orang mengaji, pertanda sebentar lagi waktu subuh tiba.

Syarif membukakan pintu pondok, saat mendengar suara motor berhenti didepan pondok.

"Kau bermalam di rumah Kiai Nuruddin kah?" tanya Syarif.

"Tidak mas!, aku bermalam di pusara ibu, terlalu banyak masalah di dalam hidup ku ini mas!, aku ingin mengadu pada ibu ku, seperti waktu waktu dahulu saat ibu masih ada" sahut Kaenan.

Syarif menatap wajah adik angkat nya itu beberapa saat, dia tahu, dan bisa merasakan, perasaan Kaenan, karena hidup nya sendiri nyaris sama serupa, hanya beda nya, usia nya kini delapan belas tahun, dan sudah mulai paham dengan kehidupan ini, sementara Kaenan baru empat belas tahun, belum begitu mengerti liku liku kehidupan, ibarat baru belajar melangkah.

Kaenan buru buru mengambil handuk, dan segera ke kamar mandi di belakang rumah, tidak jauh dari sumur.

Untuk mandi saja, dia harus berolahraga menimba air dahulu baru bisa mandi.

Selesai mandi, dia kembali menimba air untuk memenuhi gentong air buat mandi Syarif.

Setelah gentong air penuh, barulah Kaenan mengambil air wudhu, untuk sholat subuh.

Sementara menunggu Syarif selesai mandi, Kaenan duduk di atas sajadah usang pemberian Aisyah enam tahun yang lalu, melantunkan ayat suci Al Qur'an surah Ar Rahman.

Syarif yang beri selesai mandi serta berwudhu itu terpana untuk beberapa saat mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an yang begitu indah dan merdu, seolah olah mengaduk aduk perasaan hati. Entah sedih atau sendu, namun terasa begitu menyayat hati, seolah olah itu terbit dari rasa jiwa yang paling dalam, hingga tak terasa, mata Syarif berkaca kaca karena nya.

Entah mengapa, setiap mendengar surah Ar Rahman ini dilantunkan, Syarif mereka betapa tak berarti nya diri nya dibandingkan nikmat yang telah Allah berikan.

Seperti biasa nya, Kaenan memimpin sholat sebagai imam, sementara Syarif mengikuti sebagai Ma'mum nya.

Selesai sholat, Kaenan mempersiapkan bekal untuk pergi ke proyek, bekerja bangunan sebagai kenek tukang.

Namun sebelum mereka berangkat, kembali Niken datang mengantarkan lauk makan untuk Syarif dan Kaenan.

Meskipun hanya semur jengkol dan sambel terasi serta petai saja, namun itu bagi Syarif dan Kaenan sudah cukup mewah.

Dara cantik berkulit sawo matang itu tertunduk Mala Mala saat tatapan mata nya beradu dengan tatapan mata Syarif.

Tak ada kata kata memang, namun ada rasa yang berbicara dalam diam, rasa yang hanya di pahami mereka berdua saja.

"Maaf!, hanya semur jengkol dan sambel terasi doang!" ucap Niken malu malu.

"Tak apa Nik, inipun bagi kami cukup mewah, kami biasanya lauk pucuk singkong dengan ikan sepat kering saja" sahut Syarif.

...****************...

1
Was pray
aku mau denger bagaimana keputusan kaenan dalam menyikapi urusan perjodohan. menerima dan jadi orang kaya tapi masuk lubang neraka dunia atau tnenolak tapi tetap hidupnya damai walau miskin. menerima tawaran perjodohan ibarat dirinya jadi umpan buaya rakus. berkorban untuk orang tamak gak ada mashkahatnya
Was pray
inti cerita novel ini menjadikan kae sianak Sholeh jadi tumbal ya Thor? dulu waktu belum tau Arifin itu ortu kandungnya jadi bahan kekerasan, sekarang setelah tau tetap berubah tetap jadi tumbal, jadi tumbal keserakahan, padahal kae emang Sholih tapi gak punya keberanian melawan dengan dalih takdir dan nasib
Was pray
berharap tanpa tindakan berarti pemalas, ibarat mau kenyang tapi gak mau menyuapkan ke mulut, semua butuh tindakan rreaistis kae
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!