Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Gerbang Mulai Terbuka
# Bab 16 — Gerbang Mulai Terbuka
**POV: Reiki**
---
Aku tidak tahu persis kapan semuanya mulai terasa berbeda. Mungkin saat aku menyentuh gerbang batu itu di bawah balai desa. Atau mungkin saat energi biru itu mengalir dari gerbang ke tanganku, membuat seluruh tubuhku bergetar.
Yang pasti, sejak malam itu, sesuatu di dalam diriku mulai bangun.
Aku terbangun di tengah malam dengan kepala berdenyut. Gambar-gambar melintas di pikiranku—menara kristal, langit tembaga, dan sesosok wanita dengan rambut hitam panjang yang tersenyum padaku.
*Hime.*
Tapi bukan Hime yang sekarang. Hime yang lebih muda, dengan pakaian yang berbeda, di tempat yang tidak pernah kukunjungi.
Aku duduk di tepi tempat tidur, napasku tersengal. Keringat dingin membasahi dahiku.
*Apa ini? Mimpi? Atau ingatan?*
Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: gerbang itu memanggilku.
---
Keesokan paginya, aku berjalan menuju laboratorium dengan perasaan gelisah. Hime sudah ada di sana, sibuk dengan perangkatnya. Wajahnya tegang.
"Ada apa?" tanyaku.
"Gerbang itu," katanya tanpa menoleh. "Semalam, setelah kau menyentuhnya, aktivitas energinya meningkat drastis."
"Apa maksudnya?"
Ia menunjuk ke layar monitornya. Grafik-grafik berwarna merah berdenyut tidak teratur. "Gerbang itu mulai terbuka. Perlahan, tapi pasti."
Aku diam. *Karena aku. Aku yang menyentuhnya.*
"Maaf," kataku.
Hime menatapku. "Kenapa kau minta maaf?"
"Karena aku yang menyebabkan ini. Jika aku tidak menyentuh gerbang itu—"
"Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri. Cepat atau lambat, ini akan terjadi."
Tapi aku tetap merasa bersalah. Aku bisa merasakan energi di dalam diriku—semakin kuat setiap jam. Seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam, mencoba keluar.
"Hime, ada sesuatu yang harus kau tahu."
"Apa?"
"Aku mulai mengingat."
Ia menatapku dengan mata terbelalak. "Mengingat? Apa yang kau ingat?"
"Potongan-potongan. Gambar-gambar. Tempat-tempat yang tidak pernah kukunjungi. Dan kau—kau ada di dalamnya."
Hime diam. Wajahnya tidak terbaca. Tapi aku bisa melihat tangannya gemetar.
"Kau mulai mengingat masa lalumu," bisiknya.
"Mungkin. Tapi aku tidak tahu harus merasakan apa."
Ia meraih tanganku. "Kau tidak harus merasakan apa pun. Biarkan saja terjadi."
Aku mengangguk. Tapi di dalam hatiku, ada ketakutan yang tidak bisa kuhilangkan.
*Jika aku terus mengingat\, apa aku masih bisa menjadi diriku yang sekarang?*
---
Sore harinya, gerbang itu mulai menunjukkan perubahan fisik.
Aku sedang duduk di laboratorium ketika Dila berteriak. "Gerbangnya! Lihat!"
Kami berlari ke bawah balai desa. Di ruangan bawah tanah itu, gerbang batu yang tadinya gelap kini mulai bercahaya—biru samar, seperti api yang tidak membakar. Ukiran-ukiran di permukaannya berdenyut seirama dengan detak jantungku.
"Apa yang terjadi?" tanya KSAN.
"Gerbangnya mulai terbuka," jawab Hime. "Tapi belum sepenuhnya."
"Berapa lama lagi?"
Hime menatapku. "Tergantung Reiki."
Semua mata tertuju padaku. Aku bisa merasakan energi di dalam diriku—berdenyut seirama dengan gerbang itu. Seperti kami terhubung.
"Aku bisa merasakannya," kataku. "Ia memanggilku."
"Jangan," kata Hime. "Jika kau mendekat, kau mungkin tidak bisa kembali."
Tapi aku sudah melangkah. Kakiku bergerak sendiri, membawaku mendekati gerbang itu. Semakin dekat, semakin kuat denyutnya. Semakin keras panggilannya.
*Datanglah.*
Suara itu. Bukan dari luar—tapi dari dalam diriku.
*Kau sudah lama pergi. Kembalilah.*
Aku mengulurkan tanganku. Hime berteriak, tapi suaranya terdengar jauh. Yang kudengar hanyalah panggilan dari gerbang itu.
*Kembalilah.*
Dan aku menyentuhnya.
---
Dunia berhenti.
Lalu meledak.
Cahaya biru memenuhi ruangan. Aku bisa merasakan tubuhku terangkat, melayang di udara. Energi mengalir deras dari gerbang ke dalam diriku—dan dari diriku ke gerbang. Seperti sirkuit yang tertutup.
"Reiki!" Suara Hime terdengar seperti dari ujung terowongan.
Aku ingin menjawab, tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Pikiranku dipenuhi gambar-gambar—ribuan gambar, seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi.
Aku melihat diriku di masa lalu. Bukan sebagai Reiki, tapi sebagai Dewa Psikis. Aku melihat pertempuran. Aku melihat kehancuran. Aku melihat mayat-mayat bergelimpangan.
Dan aku melihat Hime. Menangis. Memeluk tubuhku yang berlumuran darah.
*"Jangan pergi\,"* bisiknya. *"Aku tidak bisa hidup tanpamu."*
Dan aku—Dewa itu—tersenyum. *"Aku akan kembali. Aku janji."*
Lalu gelap.
---
Aku terbangun di lantai batu. Tubuhku sakit semua. Di sekelilingku, Hime, KSAN, Dila, dan Hubble berdiri dengan wajah khawatir.
"Kau sadar!" Hime berlutut di sampingku. "Syukurlah."
"Apa... apa yang terjadi?"
"Kau membuka gerbangnya. Setengah."
Aku duduk, meskipun kepala terasa berputar. Gerbang itu kini terbuka setengah—celah selebar satu meter, memperlihatkan kegelapan di dalamnya. Dari celah itu, angin dingin berhembus, membawa bau yang tidak bisa kuidentifikasi.
"Aku melihatnya," kataku. "Masa laluku."
Hime menatapku. "Kau melihat apa?"
"Aku melihat diriku—Dewa itu. Dan aku melihatmu. Kau menangis, memelukku. Aku berjanji akan kembali."
Air mata mulai mengalir di pipi Hime. "Kau ingat?"
"Sedikit. Tapi cukup."
Aku meraih tangannya. "Aku berjanji akan kembali. Dan aku di sini sekarang."
Hime tersenyum—tapi senyum yang pahit. "Kau di sini. Tapi untuk berapa lama?"
Aku tidak bisa menjawab.
---
Malam itu, Penjaga Gerbang datang.
Mereka muncul dari kegelapan di luar desa—lima sosok berjubah hitam, lebih banyak dari sebelumnya. Mereka berdiri di depan balai desa, menuntut agar gerbang ditutup.
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan," kata pemimpin mereka. "Gerbang ini tidak boleh dibuka."
"Aku tidak sengaja," kataku. "Aku hanya menyentuhnya."
"Sentuhanmu sudah cukup untuk mengaktifkannya. Jika terus begini, gerbang ini akan terbuka sepenuhnya. Dan apa yang ada di dalamnya akan keluar."
"Apa yang ada di dalamnya?"
Pemimpin itu diam. Lalu ia berkata, "Kegelapan. Kegelapan yang tidak bisa kau bayangkan."
Hubble melangkah maju. "Kami tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kau tidak bisa menghentikannya. Hanya satu orang yang bisa."
Semua menatapku.
"Aku?" tanyaku.
"Kau adalah kuncinya. Hanya kau yang bisa menutupnya kembali."
"Tapi bagaimana?"
Pemimpin itu menatapku. "Kau harus masuk ke dalam. Dan menghadapi apa yang ada di sana."
Hime meraih lenganku. "Tidak! Itu terlalu berbahaya!"
"Tapi itu satu-satunya cara."
"Aku tidak akan membiarkanmu!"
Aku menatap Hime. Matanya berkaca-kaca. Tapi aku tahu ini adalah satu-satunya jalan.
"Aku harus melakukannya," kataku. "Untuk kalian semua."
Hime ingin membantah. Tapi ia tahu aku benar.
"Kalau begitu aku ikut," katanya.
"Tidak—"
"Aku ikut, atau kau tidak pergi."
Aku menatapnya. Di matanya, aku melihat tekad yang tidak bisa digoyahkan.
"Baik," kataku akhirnya. "Kita pergi bersama."
---
Kami berdiri di depan gerbang yang setengah terbuka. Di belakang kami, KSAN, Dila, Hubble, dan Penjaga Gerbang menunggu.
"Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya Hubble.
"Tidak. Tapi aku harus."
Hubble mengangguk. "Aku tidak akan bisa memaafkan Dewa yang dulu. Tapi kau—kau berbeda. Kau berani menghadapi ini. Itu sudah lebih dari cukup."
Aku tersenyum. "Terima kasih."
Hime meraih tanganku. "Siap?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Siap."
Kami melangkah masuk ke dalam gerbang. Cahaya biru menyelimuti kami. Dan dunia di sekeliling kami menghilang.
---
## BAGIAN 2: HIME
Saat cahaya biru itu meredup, aku membuka mata dan mendapati diriku berdiri di tempat yang asing. Bukan Ruang Raja—tapi sesuatu di antaranya. Seperti lorong panjang yang terbuat dari kristal tembus pandang, memantulkan cahaya dari ribuan sudut berbeda.
"Reiki? " panggilku.
Tidak ada jawaban. Aku sendirian.
Aku berjalan maju, mencoba mencari jalan keluar. Tapi lorong ini sepertinya tidak memiliki ujung. Setiap langkah membawaku ke lorong yang sama, dengan pantulan yang sama, dan keheningan yang sama.
"Kau tidak akan menemukannya di sini. "
Aku berbalik. Di belakangku, berdiri seorang wanita dengan jubah putih. Wajahnya tidak asing—itu adalah diriku sendiri. Tapi lebih tua. Lebih lelah.
"Siapa kau? " tanyaku.
"Aku adalah kau. 38 tahun yang lalu. Saat pertama kali kau memutuskan untuk mencari. "
Aku diam. Wanita itu—diriku yang dulu—tersenyum pahit.
"Kau sudah mencarinya lama sekali, Hime. Tapi sekarang kau di sini. Apa yang akan kau lakukan? "
"Aku akan menyelamatkannya. "
"Bahkan jika itu berarti kehilangan dia selamanya? "
Aku menatapnya. "Apa maksudmu? "
"Reiki harus memilih. Menjadi dewa, atau tetap menjadi manusia. Jika ia memilih menjadi dewa, ia akan kehilangan dirinya sendiri. Tapi jika ia memilih menjadi manusia, ia akan kehilangan kekuatannya—dan mungkin tidak bisa kembali. "
Aku merasakan dadaku sesak. "Lalu apa yang harus aku lakukan? "
Diriku yang dulu tersenyum. "Kau sudah tahu jawabannya. Kau hanya perlu percaya padanya. "
Ia menghilang. Aku berdiri sendirian di lorong kristal itu, tapi untuk pertama kalinya, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku harus percaya pada Reiki.
---
## BAGIAN 3: REIKI
Aku berjalan melalui lorong kristal yang tak berujung. Di setiap pantulan, aku melihat diriku—tapi bukan diriku yang sekarang. Versi-versi diriku yang berbeda. Ada yang lebih tua, ada yang lebih muda, ada yang matanya bercahaya biru, ada yang matanya kosong.
"Kau bingung? " suara itu datang dari salah satu pantulan.
"Siapa kau? "
"Aku adalah kau. Atau lebih tepatnya, salah satu dari sekian banyak kemungkinan dirimu. "
Aku mengerutkan dahi. "Maksudmu? "
"Setiap pantulan di sini adalah versi dirimu yang bisa terjadi. Jika kau memilih jalan yang berbeda. Jika kau membuat keputusan yang berbeda. "
Aku menatap pantulan-pantulan itu. Ada satu yang menarik perhatianku—versi diriku yang berdiri di atas tumpukan mayat, matanya merah, senyumnya kejam.
"Itu adalah dirimu jika kau mengambil mahkota itu, " kata suara itu.
Aku bergidik. "Aku tidak akan menjadi seperti itu. "
"Kau bisa. Tapi kau juga bisa memilih untuk tidak. "
Aku menatap pantulan itu sekali lagi, lalu berbalik. "Aku sudah membuat pilihanku. "
"Bagus. Maka lanjutkan. "
Lorong di depanku mulai bersinar. Dan aku berjalan maju, menuju cahaya itu.
---
## BAGIAN 4: PERTARUNGAN TERAKHIR
Ketika aku mencapai ujung lorong, aku tiba di sebuah ruangan besar. Di tengahnya, mahkota energi hitam melayang, menunggu. Tapi di depannya, berdiri sesosok bayangan—versi diriku yang lain.
Yang ini berbeda. Matanya merah. Tubuhnya lebih besar. Auranya gelap dan menekan.
"Kau pikir kau bisa menolakku? " katanya. Suaranya adalah suaraku, tapi lebih dalam, lebih tua.
"Siapa kau? "
"Aku adalah dirimu. Versi yang tidak pernah kau biarkan lahir. Versi yang akan lahir jika kau mengambil mahkota itu. "
Aku berdiri tegak. "Aku tidak akan mengambilnya. "
"Kau harus! Itu adalah takdirmu! " Ia melangkah maju, tangannya terulur. "Kau adalah Dewa Psikis. Kau tidak bisa lari dari kenyataan itu. "
"Aku bukan Dewa Psikis. Aku adalah Reiki. "
"Kau bodoh! " Ia menyerang.
Aku menghindar, tapi tubuhku masih lemah. Tinjunya mengenai bahuku, membuatku terhuyung.
"Kau tidak bisa mengalahkanku, " katanya. "Aku adalah bagian dari dirimu. "
"Mungkin. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mengendalikanku. "
Aku berdiri, meskipun tubuhku sakit. Aku menatap matanya—mataku sendiri—dan berkata, "Aku memilih untuk menjadi manusia. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu. "
Ia berhenti. Matanya—merah—perlahan berubah menjadi ungu.
"Kau... kau sungguh-sungguh? "
"Aku sungguh-sungguh. "
Ia diam. Lalu ia tersenyum—bukan senyum jahat, tapi senyum lega.
"Bagus. Karena jika kau memilih jalan lain, aku akan terpaksa menghentikanmu. "
Ia menghilang. Dan di depanku, mahkota itu mulai retak.
Aku telah memenangkan pertarungan melawan diriku sendiri.
---
## BAGIAN 5: PULANG
Ketika bayangan itu menghilang, mahkota di depanku hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Cahaya merahnya meredup, digantikan oleh cahaya biru yang tenang. Aku bisa merasakan bahwa pertarungan ini sudah berakhir.
Aku berjalan mendekati reruntuhan mahkota itu. Kepingan-kepingannya masih berkilau, tapi tidak lagi hidup. Seperti abu dari api yang padam.
"Kau berhasil. "
Aku menoleh. Hime berdiri di ambang ruangan, wajahnya basah oleh air mata.
"Kau melihat semuanya? "
"Aku melihat cukup. " Ia berlari menghampiriku dan memelukku erat. "Kau berhasil, Reiki. Kau mengalahkannya. "
Aku memeluknya kembali. Tubuhnya hangat, dan untuk sesaat, aku melupakan semua rasa sakit.
"Gerbangnya mulai tertutup, " katanya. "Kita harus pergi. "
Aku mengangguk. Tapi ketika aku melangkah, tubuhku terasa sangat lemah. Lututku lemas.
"Reiki? " Hime memegang lenganku. "Kau baik-baik saja? "
"Aku... aku kehilangan kekuatanku. "
Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum. "Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat. "
Aku tersenyum lemah. "Ayo pulang. "
Kami berjalan bersama menuju cahaya di ujung lorong. Di belakang kami, Ruang Raja hancur menjadi debu. Dan di depan kami, dunia baru menanti.
---
## BAGIAN 6: KEMBALI KE DESA
Ketika kami melangkah keluar dari gerbang, cahaya biru memudar, dan kami berdiri di ruang bawah tanah balai desa. Gerbang batu di belakang kami tertutup rapat—tidak ada celah, tidak ada cahaya. Hanya batu dingin yang diam.
"Kau berhasil! " KSAN berlari menghampiri kami, diikuti Dila dan Hubble. Wajah mereka penuh kelegaan.
"Gerbangnya? " tanya Hubble.
"Tertutup. Selamanya. "
Hubble mengangguk. "Kau melakukan hal yang benar, Reiki. "
Aku tersenyum lelah. Tapi ketika aku melangkah, tubuhku terasa sangat lemah. Aku hampir jatuh, tapi Hime menangkapku.
"Kau kehilangan kekuatanmu? " tanyanya.
"Ya. Tapi tidak apa-apa. "
Hime menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum. "Kau selamat. Itu yang penting. "
Aku tersenyum kembali. "Ayo pulang. "
Kami berjalan keluar dari ruang bawah tanah, meninggalkan gerbang yang tertutup selamanya. Di luar, matahari mulai terbit, menyinari desa dengan cahaya keemasan.
Hari baru telah dimulai.
---
## BAGIAN 7: PERTEMUAN TERAKHIR
Keesokan paginya, Penjaga Gerbang datang untuk terakhir kalinya. Mereka berdiri di depan laboratorium, lima sosok berjubah hitam, diam dan tenang.
Pemimpin mereka melangkah maju. "Kami datang untuk mengucapkan selamat tinggal. "
"Kalian pergi? " tanya Hime.
"Tugas kami di sini selesai. Gerbang telah tertutup. Keseimbangan telah pulih. "
Aku melangkah maju. "Terima kasih. Karena tidak menghentikan kami. "
Pemimpin itu menatapku. "Kau membuat pilihan yang tepat, Reiki Shield Eistein. Kau memilih menjadi manusia. Itu adalah keputusan yang paling berani. "
"Aku hanya melakukan apa yang aku rasa benar. "
"Itulah yang membedakan manusia dari dewa. Manusia merasakan. Dewa hanya tahu. "
Ia memberi isyarat, dan kelima sosok itu berbalik. Sebelum pergi, pemimpin itu menoleh sekali lagi.
"Jaga dia, Hime Hafitis. Ia adalah harapan terakhir kita. "
Dan mereka menghilang, seperti kabut yang tertiup angin.
Aku menatap Hime. "Harapan terakhir? "
Ia tersenyum. "Mungkin maksudnya, selama masih ada manusia yang mau memilih kebaikan, dunia ini tidak akan hancur. "
Aku meraih tangannya. "Kedengarannya berat. "
"Tapi kita tidak sendiri. "
Aku tersenyum. "Ya. Kita tidak sendiri. "
---
**— Bersambung —**