NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Matahari tepat berada di puncaknya, memancarkan hawa panas yang menyengat di sekitar kediaman megah dengan unsur tradisional yang kokoh nan klasik milik keluarga Pak Wijaya. Di dalam ruang tamu yang sejuk, suasana tampak hangat namun penuh dengan maksud terselubung. Bu Sarasvati, sang nyonya rumah, terlihat sibuk menata hidangan ringan di atas meja kayu jati kuno, memastikan keramah-tamahannya tak bercela.

"Silakan dicicipi hidangannya," ujar Pak Wijaya dengan nada suara yang rendah namun berwibawa. Di sampingnya, Bu Sarasvati duduk dengan anggun, menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.

Tamu yang berkunjung siang itu bukanlah orang asing. Mereka adalah Pak Tyo dan Bu Effi, teman lama keluarga Wijaya. Namun, kehadiran mereka kali ini membawa serta maksud yang terpancar jelas dari sosok gadis di samping mereka. Lidia, putri mereka yang cantik dengan riasan wajah yang sempurna, duduk dengan punggung tegak.

Lidia adalah definisi gadis idaman bagi banyak pria terpelajar dan berasal dari keluarga terpandang. Namun, di mata Aditya, pesona Lidia tak lebih dari sekadar pajangan. Hati pria itu telah tertambat pada sosok gadis sederhana dengan tatapan lembut dan senyum tulus yaitu Kinanti, putri semata wayang seorang buruh pabrik.

"Om Jaya, Tante Saras, apa kabar?" sapa Lidia dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Pak Wijaya dan Bu Sarasvati hanya tersenyum simpul. "Kabar kami baik, Nak. Bagaimana kuliahmu? Apakah lancar?" tanya Pak Wijaya basa-basi.

Lidia mengangguk sopan, ada rona merah di pipinya. "Alhamdulillah, lancar Om. Sekarang sudah mulai fokus ke tugas-tugas akhir di kampus," jawabnya malu-malu.

Bu Effi yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu tak tahan untuk tidak menimpali. "Alhamdulillah, Saras. Putriku ini memang sangat rajin dan cerdas. Kuliahnya selalu lancar tanpa kendala. Rasanya... akan sangat serasi jika bersanding dengan putra sulungmu yang tampan itu, bukan?" seloroh Bu Effi dengan tawa kecil yang terdengar penuh harap.

Mendengar itu, Bu Sarasvati hanya melirik suaminya sesaat sebelum membalas dengan senyum formal yang tak memberi kepastian.

"Ngomong-ngomong, suasananya sepi sekali. Di mana Aditya? Apakah dia masih sibuk bekerja di kebun sawit?" tanya Pak Tyo sembari mengedarkan pandangan, mencari sosok pria yang hendak ia jadikan menantu itu.

"Dia ada di sekitar rumah. Sepertinya sedang memantau di gudang padi," jawab Pak Wijaya singkat.

Tiba-tiba, Bu Effi menyentuh tangan putrinya. "Kamu ingin bertemu dengan Aditya, kan, Sayang?" tanyanya dengan nada menggoda. Lidia hanya menunduk, pura-pura malu meski dalam hati ia sangat menginginkannya.

Tanpa rasa sungkan, Bu Effi menatap Bu Sarasvati. "Saras, apakah boleh jika Lidia menemui Aditya sebentar? Sekadar menyapa teman lama."

Bu Sarasvati sempat ragu, namun setelah mendapat anggukan kecil dari suaminya, ia pun berdiri. "Tentu, mari Tante antar ke gudang belakang."

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

​🏭 Pertemuan Dingin di Gudang Padi

Keduanya berjalan beriringan melintasi taman samping menuju gudang padi yang luas. Suara bising mesin penggilingan dan hiruk pikuk pekerja mulai terdengar seiring langkah mereka mendekat.

"Tunggu di sini sebentar ya, Lidia. Biar Tante panggilkan Aditya," ucap Bu Sarasvati. Ia melangkah masuk ke dalam area gudang yang berdebu namun tertata rapi. Tak lama kemudian, sosok yang dinanti pun muncul.

Aditya melangkah keluar dengan peluh yang membasahi dahi. Kemeja kerjanya yang digulung hingga siku memperlihatkan lengan yang kokoh. Paras tampannya yang tegas tampak sedikit terkejut melihat kehadiran ibunya.

"Ibu? Ada apa menyusul ke sini?" tanya Aditya dengan suara baritonnya yang berat.

Lidia yang berdiri tak jauh dari sana merasa jantungnya berdegup kencang secara anomali. Baginya, pemandangan Aditya yang sedang bekerja dengan peluh seperti itu justru menambah kesan maskulin yang tak tertahankan.

*Oh Tuhan, dia begitu sempurna. Papa dan Mama benar-benar tidak salah pilih. Pria ini harus menjadi milikku,* batin Lidia penuh ambisi.

"Ini, ada tamu yang ingin bertemu kamu," ucap Bu Sarasvati sembari melirik Lidia yang menatap putranya tanpa berkedip. Bu Sarasvati memberikan kode rahasia melalui tatapannya kepada Aditya, sebuah peringatan halus yang langsung dipahami oleh sang putra.

"Ya sudah, Ibu masuk dulu ya. Lanjutkan bicaranya," pamit Bu Sarasvati. Namun, sebelum benar-benar melangkah pergi, ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Aditya. "Ingat Kinanti ya, Nak."

Pesan singkat itu seperti jangkar yang menahan hati Aditya agar tidak goyah. Sepeninggal Bu Sarasvati, suasana menjadi canggung.

"Ma-mas Adi, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berbincang seperti ini," Lidia memulai percakapan dengan nada manja yang dibuat-buat.

Aditya menatap gadis di depannya dengan tatapan datar yang dingin. Sangat kontras jika dibandingkan dengan bagaimana ia menatap Kinanti gadis yang meski sederhana, namun memiliki keberanian dan kejujuran dalam setiap kata-katanya. Memikirkan Kinanti tiba-tiba membuat Aditya ingin segera menyelesaikan urusan di sini dan pergi ke rumah Pak Wisnu.

"Baik," jawab Aditya singkat, nyaris tanpa ekspresi.

"Mas Adi masih ingat Lidia, kan? Dulu kita sering—"

"Juragan Adi!"

Kalimat Lidia terputus oleh suara serak seorang pria paruh baya yang muncul dari dalam gudang. Itu Pak Wisnu.

"Ada apa, Pak Wisnu?" tanya Aditya dengan nada yang seketika berubah menjadi lebih lembut dan perhatian.

Pak Wisnu tampak canggung melihat Aditya sedang bersama seorang gadis cantik berpakaian mewah. "Mohon maaf mengganggu, Juragan. Itu... mesin penggilingan di dalam sedikit bermasalah, jalannya seret. Saya khawatir menghambat pengiriman."

Aditya mengangguk tegas. "Saya segera ke sana."

Pak Wisnu segera berpamitan untuk kembali masuk. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya siapa gadis cantik itu. Ada rasa sesak yang mampir di dadanya apakah pria sehebat Aditya benar-benar akan berjodoh dengan anaknya yang hanya seorang gadis desa?

Setelah Pak Wisnu pergi, Aditya kembali menatap Lidia dengan dingin. "Kamu lihat sendiri, saya sangat sibuk. Sebaiknya kamu kembali ke dalam rumah sekarang."

Kata-kata Aditya yang tajam dan langsung itu seketika memupus senyum di wajah Lidia. Ia merasa diusir secara halus namun menyakitkan. Ia hanya bisa menatap punggung tegap Aditya yang melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

"Mas Adi..." lirihnya sendu, menyimpan rasa tidak puas yang mulai membara.

❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖ ❖ ✦ ❖ ✦ ❖

​✉️ Undangan dan Rencana Rahasia

Sementara itu, di dalam ruang tamu, obrolan antar orang tua itu terus berlanjut.

"Kebetulan kalian ada di sini. Besok malam akan ada acara syukuran ulang tahun Abyan di rumah ini. Saya dan istri mengundang kalian untuk hadir. Ajak Lidia juga," ajak Pak Wijaya dengan ramah.

"Oh, tentu Jaya! Lidia pasti akan sangat senang ikut hadir. Benar kan, Pa?" celetuk Bu Effi dengan mata berbinar.

"Tentu saja. Kami pasti datang. Terima kasih atas undangannya, Jaya, Saras," sahut Pak Tyo menyetujui.

Lidia, yang baru saja kembali dari gudang dengan hati yang dongkol, mendengar percakapan itu dari balik pintu utama. Seketika, senyum licik mengembang di bibirnya. Kesempatan belum tertutup.

*Besok malam, Mas Adi. Besok malam akan kubuat matamu tidak bisa berpaling dariku. Kamu harus melihat betapa mempesonanya aku di acara itu nanti,* batin Lidia dengan tekad yang membara. Ia belum tahu, bahwa di hati Aditya, sudah ada nama lain yang terukir terlalu dalam.

Bersambung__

___

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!