Bunga adalah gadis yang di juluki si Bodoh, ia di paksa nikah dengan seorang lelaki pilihan papanya yaitu Muis yang dimana sahabat masa kecilnya.
Hari-hari pernikahan mereka di lalui, Muis mengira gadis itu beneran bodoh dan seperti kekanak-kanakan namun di balik itu Bunga tidak seperti yang di duga. Ia menikah dengan Muis karena ia ingin membalas dendam kepada keluarganya itu,
— Stupid Wife —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Hari pernikahan
Bunga begitu cantik dengan gaun yang membungkus dirinya, gaun yang terbuka di bagian bahunya dengan lebar yang begitu pres berwarna peach di tubuhnya tidak lupa dua jepitan pita terjepit di kanan kiri rambutnya yang setengah di kepang begitu cantik sekali.
Sementara itu Muis begitu tampan dengan Tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Ia menggandeng tangan sang istri yang begitu tidak bisa diam, " Sayang ingat jangan buat rusuh!, ini hari penting kaka kamu! " Bisik Muis sembari mencuri kecupan di pipi Bunga
" Ya bang! " Bunga tersenyum mereka mengayun langkah masuk ke dalam hotel tersebut, Muis mengeluarkan kartu undangan lalu memberikannya ke petugas keamanan tersebut. " 𝘠𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. " Batin 𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢
" Ayo sayang! " Muis mempererat tangannya, mata Bunga berbinar terang saat melihat kakanya sedang duduk di pelaminan bersama seorang lelaki yang ia terka, sudah berusia matang Bunga tersenyum misteri.
" Bang, aku mau puding! " Tunjuk Bunga ke meja yang begitu banyak makanan. Muis menghela napas panjang baru saja ia ingin mendengar kan qabul tersebut namun, istrinya meminta sesuatu yang kalau tidak di ambilkan
Pasti akan mengacau, ia memilih mengambil kan nya ia sedikit melirik kemeja orang-tua nya yang berbincang dengan rekan bisnis nya yang memang ada sebagian yang di undang.
" Sayang mau rasa apa?, " Tanya Muis saat mereka sudah berada di tempat berbagai hidangan dari yang asin hingga manis tersusun rapi.
" Hmm, Mangga! " Tunjuk Bunga kepada puding yang tersusun rapi di meja tersebut, begitu mengiurkan sekali.
" Ini sayang " Muis memberikan Puding tersebut ke Bunga, membuat wanita itu tersenyum senang ia berhamburan pergi entah kemana membuat Muis menggeleng kan kepalanya.
Bunga tersenyum licik saat melihat kedua pengantin yang dimana kaka tirinya itu, sedang duduk dengan calon suaminya yang hitungan beberapa detik lagi akan menjadi suaminya itu.
Dengan langkah riang ia melangkah, seolah langkah bisa merusak hari kebahagiaan ini.
“ 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘶! " Batin Bunga, wanita itu tersenyum. Ia semakin dekat
" Kaka! " Panggil Bunga dengan suara keras membuat semua menoleh, termasuk Areta dengan tatapan tajam ia menatap Bunga
" Kaka aku bawakan, kaka puding mangga kesukaan kaka pasti kaka suka kan? " Kata Bunga dengan suara polos, sembari menyodorkan puding tersebut.
Membuat Andi risih, karena tadi barusaja ia akan menyebut kan qabul nya. Areta bangkit dari duduknya ia menepis kasar gelas puding tersebut.
Prak!
Hingga membuat gelas tersebut, pecah berantakan membuat semua tamu heboh termasuk Muis ia bergegas mendekati sang istri yang dimana akan menangis setelah ini.
" Kaka, kenapa kaka buang?. Kalau kakak ngga mau harusnya kaka bilang! " Rajuk Bunga buliran air mata mengalir deras,
" Maaf ya pak bu ada kendala " Kata Raihan memecahkan ketegang di meja akad tersebut, Ia beranjak dari duduknya
" Mari kita mulai akadnya, saya ingin menghadiri beberapa acara lagi " Cakap Penghulu
" Yang adik kamu dong! " Bisik Andi
Areta, menganggukkan kepalanya " Bunga, pergi kamu dari sini!. Ngga usah ganggu pernikahan kaka! " Kata Areta dengan suara keras membuat para tamu mengunjunginya
" Kaka, padahal Bunga cuma-
" Diam!, kamu itu udah bodoh buat orang sengsara! " Maki Areta kebablasan
" Cukup!, kamu ngga berhak berkata seperti itu ke istri saya!" Geram Muis ia menarik Bunga ke belakang punggung nya,
" Areta, bagaimana pun Bunga adik kamu kamu tega memakinya di depan orang banyak!.. Kaka ngga punya hati! " Maki Cindy yang datang bersama Dante ia segera memeluk sang menantu,
" Dia hanya adik tiri!, "
" Ck!, sudah yuk kita pulang aja! " Muis menggenggam tangan Bunga ia, membawa wanita itu pergi dari acara tersebut
" 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶.... 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘬𝘪𝘵! " Batin Bunga dengan senyuman kemenangan,
" 𝘚𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢, 𝘐𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘈𝘯𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘮 𝘢𝘬𝘩𝘭𝘢𝘬! "
" 𝘠𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳! "
" 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢"
" 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘥𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵! "
" 𝘠𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵! "
" 𝘈𝘥𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩! "
Gunjingan itulah yang bersewiliran, di telinga Areta membuat Areta misuh-misuh
" Semuanya karena Bunga!, dia harus mendapatkan balasan yang setimpal! " Kata Areta dengan tatapan penuh kebencian.
Akhirnya, acara berjalan dengan khadimat Areta tadinya yang sebal karena tadi hampir saja. Acaranya hancur berantakan karena adiknya itu namun — ia bernapas lega kala pernikahan berjalan lancar,