“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: DARAH DI ATAS SUTRA
Bau mesiu yang menyengat menggantikan aroma pasta dan anggur dalam sekejap mata.
Trastevere yang tadinya romantis kini berubah menjadi labirin maut.
Marcello dan tim pengawal bergerak dengan presisi yang mengerikan, melepaskan tembakan balasan ke arah atap-atap gedung tua untuk menekan posisi penembak runduk.
"Evakuasi! Sekarang!" teriak Marcello.
Alesha merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia melihat darah segar terus mengalir dari bahu Matteo, membasahi kemeja putih yang kini menempel di kulit pria itu.
Namun, yang membuat Alesha merinding bukan hanya darahnya, melainkan ketenangan Matteo. Pria itu tidak berteriak. Ia hanya duduk di kursi rodanya dengan rahang mengeras, matanya yang kelabu memindai sekitar seperti pemangsa yang sedang menghitung langkah.
Vincenzo, salah satu pengawal bertubuh kekar, dengan sigap mengangkat Matteo dari kursi rodanya dan membawanya lari menuju mobil sedan lapis baja yang menunggu di ujung gang.
Alesha berlari di belakang mereka, kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi terasa goyah di atas jalanan batu yang tidak rata, namun ia menolak untuk jatuh.
Tembakan kembali terdengar, memecahkan kaca jendela gedung di samping mereka.
"Masuk! Masuk!" perintah Vincenzo sambil mendorong Alesha ke kursi belakang, tepat di samping Matteo yang kini bersandar lemas.
Supir mereka, seorang pria bernama Fabio, segera menginjak gas. Namun, saat mereka baru saja keluar dari area Trastevere menuju jembatan, jalanan Roma menunjukkan wajah buruknya.
Kemacetan total. Deretan mobil turis dan bus kota mengunci jalanan sempit itu. Di belakang mereka, sebuah SUV hitam muncul dari belokan, melaju kencang dengan moncong senjata menyembul dari jendela.
TANG! TANG!
Peluru menghantam kaca belakang mobil yang tahan peluru, menciptakan retakan seperti sarang laba-laba.
Tiba-tiba, Fabio mengerang.
Sebuah peluru yang entah bagaimana berhasil menembus celah kecil di pilar mobil mengenai lehernya. Mobil mereka oleng, menghantam tiang lampu jalan, dan berhenti mendadak.
"Fabio!" teriak Vincenzo dari kursi penumpang depan, namun supir itu sudah terkulai.
Kepanikan menyergap ruang sempit itu.
SUV hitam di belakang mulai mendekat, dan para pengawal di mobil lain terhambat oleh kendaraan sipil.
"Kita akan mati di sini," bisik Alesha, melihat Fabio yang tak bernyawa.
"Tidak... tidak hari ini," gumam Matteo serak. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi luka di bahunya membuatnya meringis kesakitan.
Alesha melihat ke luar jendela. Penyerang mereka mulai turun dari SUV, siap untuk menghabisi mereka di tempat. Sifat "bar-bar" dari jalanan San Lorenzo tiba-tiba bangkit dalam diri Alesha.
Ketakutannya menguap, digantikan oleh amarah yang dingin. Ia tidak akan membiarkan Matteo mati di tangan bajingan-bajingan ini setelah apa yang mereka lalui di atas runway tadi.
"Vincenzo, pindahkan Fabio!" perintah Alesha dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"Nyonya, apa yang Anda—"
"PINDAHKAN DIA SEKARANG!" teriak Alesha.
Vincenzo, yang terkejut dengan otoritas dalam suara Alesha, menarik tubuh Fabio ke kursi penumpang, sementara Alesha memanjat dari kursi belakang melewati konsol tengah dengan lincah, mengabaikan gaun mahalnya yang tersangkut.
Ia duduk di kursi kemudi.
Kakinya yang mengenakan high heels menginjak pedal gas dengan kasar.
"Pegangan, Matteo!" seru Alesha.
Dengan nekat, Alesha memutar setir ke arah kanan. Ia tidak mencoba melewati sela-sela mobil, ia justru memacu sedan berat itu naik ke atas trotoar, menghancurkan meja-meja kafe pinggir jalan yang sudah kosong dan menyerempet tembok bangunan tua.
"Apa yang kau lakukan, Alesha?!" Matteo terkesiap saat tubuhnya terguncang hebat.
"Menyelamatkan nyawamu, brengsek!" balas Alesha.
Ia mengabaikan semua aturan lalu lintas. Alesha membawa mobil itu masuk ke dalam gang yang sangat sempit, sebuah jalan pintas yang hanya diketahui oleh mereka yang tumbuh besar di sudut-sudut kumuh Roma.
Spion mobil mereka terlepas karena menghantam dinding batu, suara gesekan logam dengan tembok menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan gang.
Mobil SUV di belakang mencoba mengejar, namun karena ukurannya yang terlalu besar, mereka tersangkut di mulut gang. Alesha tidak berhenti. Ia terus memacu mobilnya, melompati undakan tangga kecil, dan keluar di sebuah jalanan sepi yang menuju ke arah pinggiran kota.
"Vincenzo, ke mana?!" tanya Alesha, napasnya memburu, keringat membasahi dahi dan riasannya yang mulai luntur.
"Dua kilometer lagi, Nyonya. Ada gerbang kayu besar dengan simbol singa. Itu rumah aman Tuan Matteo," sahut Vincenzo yang terus memantau situasi di belakang dengan senjata siap di tangan.
Alesha terus mengemudi seperti orang kesurupan. Ia tidak peduli jika mesin mobilnya meledak atau ban mobilnya pecah. Fokusnya hanya satu, gerbang kayu itu. Saat gerbang itu terlihat, ia tidak melambat.
Ia menghantam gerbang tersebut hingga terbuka, masuk ke dalam halaman sebuah villa kuno yang tersembunyi di balik hutan pinus, dan menginjak rem sedalam-dalamnya.
Mobil berhenti dengan suara decitan yang memilukan.
Hening.
Hanya suara mesin yang panas dan napas mereka yang tersengal.
"Kita... kita sampai," bisik Alesha.
Ia melepaskan pegangannya dari setir, jemarinya gemetar hebat.
Vincenzo segera turun dan membuka pintu belakang.
"Cepat! Bawa Tuan masuk!"
Mereka memapah Matteo masuk ke dalam rumah aman yang sederhana namun memiliki peralatan medis lengkap di dalamnya.
Mereka merebahkan Matteo di atas meja kayu panjang di ruang tengah. Lampu gantung yang remang-remang menyinari wajah Matteo yang kini sangat pucat, hampir abu-abu.
"Vincenzo, ambilkan kotak medis! Cepat!" perintah Alesha.
Ia melihat luka Matteo. Peluru itu bersarang di bahu, dan pendarahannya tidak kunjung berhenti.
Kain kemejanya sudah benar-benar merah. Tanpa pikir panjang, Alesha melihat gaun sutra mahalnya, karya terbaik yang baru saja memukau dunia fashion Roma beberapa jam lalu.
Gaun yang melambangkan impian dan kesuksesannya.
Srekkkk!
Tanpa ragu sedikit pun, Alesha merobek bagian bawah gaun sutranya yang panjang.
Ia merobeknya menjadi beberapa helaian panjang.
"Apa yang kau lakukan? Itu koleksi terbaikmu..." gumam Matteo lemah, menatap Alesha yang kini hanya mengenakan gaun sebatas lutut dengan pinggiran yang kasar.
"Persetan dengan koleksi," desis Alesha.
Matanya berkaca-kaca, namun tangannya bergerak dengan mantap. Ia melipat kain sutra itu menjadi bantalan tebal, lalu menekannya dengan kuat ke luka tembak di bahu Matteo.
Matteo mengerang, tubuhnya melengkung menahan perih.
"Tahan, Matteo. Tahan," Alesha berbisik di dekat wajahnya.
"Kau tidak boleh mati. Kita belum selesai dengan kontrak ini. Kau masih punya utang penjelasan padaku tentang Kiara."
Alesha melilitkan robekan kain sutra itu ke bahu dan dada Matteo, mengikatnya dengan kencang untuk menciptakan tekanan. Sutra yang tadinya cantik kini menjadi perban yang berlumuran darah.
Vincenzo kembali dengan tas medis, namun ia terhenti sejenak melihat Alesha yang sedang berlutut di samping Matteo, wajahnya penuh noda darah dan oli, rambutnya berantakan, namun sorot matanya menunjukkan kekuatan yang tak tergoyahkan.
Matteo meraih tangan Alesha yang masih menekan lukanya. Genggamannya lemah, namun terasa sangat posesif.
Ia menatap Alesha, bukan sebagai desainer, bukan sebagai istri kontrak, tapi sebagai wanita yang baru saja mempertaruhkan segalanya untuknya.
"Kau... kau benar-benar liar Alesha," bisik Matteo dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Dan kau adalah pasien yang paling menyebalkan," balas Alesha, air mata akhirnya jatuh di pipinya.
"Jangan berani-berani menutup matamu, Matteo Al-Ricci. Itu perintah."
Di dalam rumah aman yang sunyi itu, di kelilingi oleh hutan pinus yang gelap, Alesha menyadari bahwa sutra dan darah telah menyatu.
Impian dan bahaya kini menjadi satu napas. Dan saat ia menatap Matteo, ia tahu bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi jalan kembali ke kehidupannya yang lama.