NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Terlalu Sunyi

Pintu apartemen terdorong terbuka tepat pukul 01.12 dini hari. Suara engsel yang sedikit berkarat berbunyi pelan, memecah keheningan ruangan yang sudah lama tenggelam dalam kegelapan. Adrian melangkah masuk, langkahnya berat dan lambat, seolah setiap inci tubuhnya terbebani rasa lelah yang menumpuk seharian. Ia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Aroma parfum mahal bercampur dengan hawa dingin udara malam masih menempel di kemejanya, meninggalkan jejak bau yang asing namun tetap akrab di ruangan itu. Ia meraih sakelar lampu, dan seketika cahaya kuning redup menyala, menerangi ruang tamu yang sepi.

Namun langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu.

Pandangannya jatuh ke arah meja makan yang masih tertata sama persis seperti berjam-jam yang lalu. Dua piring makan yang isinya kini sudah dingin dan mengeras. Sisa lilin kecil yang apinya sudah padam, tubuhnya meleleh dan membeku kaku di atas alasnya. Dan di sudut meja itu, masih terlihat kue kecil berhias krim yang bahkan belum tersentuh sedikit pun. Semuanya masih ada di sana, diam-diam menceritakan betapa besar harapan yang dulu diletakkan di tempat itu, yang kini tinggal menjadi puing-puing penantian yang sia-sia.

Adrian diam saja. Tatapannya bergerak pelan, menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya jatuh ke arah sofa panjang di sudut ruangan.

Di sana, Kayla tertidur.

Wanita itu meringkuk kecil di atas permukaan sofa yang keras, hanya beralaskan selimut tipis yang tampak tak cukup untuk menghangatkannya. Posisi tidurnya tampak begitu tidak nyaman, seolah ia tidur dalam keadaan gelisah dan sering terbangun. Di depannya, televisi masih menyala dengan suara yang dimatikan, hanya memancarkan cahaya biru samar yang bergerak-gerak, memantul lembut ke wajah pucat dan lelah istrinya. Rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian pipinya, dan napasnya terdengar pelan namun tak tenang.

Sesaat Adrian terdiam. Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menggelitik dadanya, rasa bersalah samar yang mencoba muncul namun langsung ia tepis jauh-jauh. Ia terlalu lelah untuk memikirkannya sekarang. Pikiran dan tenaganya sudah habis terkuras oleh tumpukan pekerjaan dan pertemuan panjang yang melelahkan. Akhirnya ia berjalan mendekat, lalu menggoyangkan bahu Kayla pelan, berusaha membangunkannya tanpa harus bersuara keras.

“Kay,” panggilnya rendah.

Kelopak mata Kayla bergerak perlahan, lalu terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur dan kosong, butuh beberapa detik baginya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, hingga akhirnya ia sadar sosok yang berdiri di depannya adalah Adrian. Wajahnya yang tadi terlihat lelah seketika berubah, ada kilatan kelegaan yang samar muncul di matanya.

“Oh…” suaranya terdengar serak dan berat, sisa tidur yang belum hilang. “Kamu sudah pulang.”

Adrian hanya mengangguk singkat, wajahnya datar tanpa ekspresi.

“Kenapa tidur di sini?” tanyanya, nada bicaranya biasa saja, seolah ia tidak tahu alasan kenapa istrinya menunggu sampai larut malam di ruang tengah yang dingin ini.

Kayla duduk perlahan, tangannya bergerak membetulkan rambutnya yang berantakan. Ia menguap kecil, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Nunggu kamu,” jawabnya sederhana, namun kata-kata itu terasa begitu berat dan penuh makna di ruangan yang hening itu.

Jawaban sederhana itu membuat Adrian terdiam sepersekian detik. Ia seolah ingin berkata sesuatu, tapi urung.

Kayla buru-buru berdiri, berusaha terlihat ceria meski matanya masih terasa berat. “Aku panasin makanannya dulu ya… sebentar saja sudah siap kok,” katanya, lalu berniat bergerak ke arah dapur.

“Nggak usah,” potong Adrian cepat. Kalimatnya pendek, tegas, dan langsung. “Aku sudah makan di luar tadi.”

Kalimat itu sederhana, biasa saja bagi siapa pun yang mendengarnya. Tapi bagi Kayla, kalimat itu terasa seperti pukulan halus yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Gerakannya terhenti di tempat. Jantungnya terasa sedikit sakit.

“Oh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan. Hanya satu kata yang menyimpan ribuan rasa kecewa yang ditahan.

Adrian sama sekali tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak sadar, bagaimana cahaya kecil yang biasanya bersinar di mata istrinya perlahan meredup dan padam saat itu juga. Ia melepas jam tangannya, meletakkannya sembarangan di meja, lalu berjalan melewati Kayla begitu saja menuju kamar tidur.

“Aku mandi dulu. Ngantuk sekali,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Kayla berdiri diam sendirian di dekat meja makan yang dingin itu. Tangannya masih menggenggam ujung selimut tipis yang tadi ia pakai. Ia menatap punggung Adrian yang menjauh dan menghilang di balik pintu kamar, tanpa sekali pun menoleh kembali melihat meja makan yang sudah ia persiapkan dengan sepenuh hati sejak sore. Tanpa bertanya apa-apa. Tanpa mengucapkan satu kata pun tentang hari ini. Tanpa menanyakan apa yang ia persiapkan.

Kayla menundukkan kepalanya pelan, menahan rasa perih yang mulai naik ke dada. Mungkin dia benar-benar sangat lelah… bisik hatinya, mencoba mencari alasan, mencoba memaafkan lagi. Aku harus mengerti. Seperti biasa.

 

Dua puluh menit berlalu.

Adrian keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan sedang ia keringkan dengan handuk kecil di lehernya. Ia mengenakan pakaian tidur yang nyaman, namun raut wajahnya masih tetap kaku dan lelah. Saat itu, Kayla sudah selesai membereskan sisa-sisa meja makan yang indah itu. Kue kecil yang tadi menjadi harapannya kini sudah tersimpan rapi kembali di dalam kulkas, terselip di antara sisa makanan lain seolah tak ada bedanya. Potongan daging yang sudah dingin ia bungkus rapat dengan plastik. Sedangkan sup krim kesukaan Adrian yang sudah berkali-kali dipanaskan dan kini rasanya pasti sudah rusak, terpaksa ia buang ke tempat sampah, bersama sedikit rasa kecewanya.

Adrian langsung berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, menarik selimut hingga dada, lalu menutup mata seolah dunia sudah selesai. Tak ada sapaan, tak ada obrolan.

Kayla masuk ke kamar beberapa menit kemudian, setelah memastikan semua pintu terkunci dan peralatan dapur sudah bersih. Lampu kamar hanya dibiarkan menyala redup, hanya ada satu lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memberikan cahaya samar. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang, lalu naik ke atasnya dengan gerakan hati-hati agar tidak mengganggu suaminya.

Di dalam keheningan itu, Kayla memberanikan diri bersuara. “Adrian…” panggilnya pelan, hampir berbisik.

“Hm?” sahutnya malas, mata tetap tertutup.

“Kamu ingat… hari ini hari apa?”

Sunyi menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa begitu panjang. Adrian perlahan membuka matanya sedikit, lalu menoleh sebentar ke arah jam digital yang berkedip di meja samping tempat tidur. Sekejap saja, ekspresi wajahnya berubah. Ada kejutan, ada kesadaran yang terlambat, dan sedikit rasa bersalah yang langsung berubah menjadi kewalahan.

Sial. Aku lupa.

Namun bukannya meminta maaf atau menunjukkan penyesalan, Adrian malah mengusap wajahnya dengan kasar, seolah pertanyaan itu adalah beban tambahan.

“Maaf… Aku lagi banyak pikiran akhir-akhir ini. Banyak masalah di kantor, kepala rasanya pening sekali,” ucapnya. Nada bicaranya terdengar seperti sedang memberi penjelasan, mencari alasan, bukan kata-kata penyesalan karena telah melupakan hari penting bagi mereka berdua.

Kayla diam. Ia menelan ludah, merasakan ada rasa pahit yang menyebar di tenggorokannya.

“Aku ngerti,” jawabnya pelan. Hanya itu. Karena memang itu yang selalu ia lakukan. Mengerti. Selalu mengerti, berapa pun besar pengorbanannya.

Adrian mengulurkan tangannya sebentar, mengusap kepala Kayla sekilas dengan gerakan cepat dan kaku, lalu segera membalikkan badan memunggunginya.

“Sudah, tidur saja ya. Besok aku harus bangun pagi sekali,” ucapnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara napas teratur yang menandakan Adrian sudah mulai terlelap.

Sementara itu, Kayla masih terbaring diam dengan mata terbuka lebar di dalam kegelapan. Ia menatap punggung lebar suaminya yang berjarak beberapa sentimeter darinya, namun terasa sejauh ribuan mil.

Ia ingat betul, dulu Adrian tidak pernah tidur membelakanginya seperti ini. Dulu, pria itu selalu menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan hangat, mendekapkannya erat ke dada, bahkan saat mereka sedang bertengkar atau saling diam. Dulu, jarak di antara mereka di atas kasur ini tak pernah ada.

Sekarang, celah kecil yang terbentang di antara mereka terasa begitu dingin dan sunyi.

Kayla perlahan memejamkan matanya, berusaha tidur. Namun dadanya terasa begitu sesak, berat, dan penuh pertanyaan yang tak berani ia ucapkan.

 

Pagi harinya, Kayla bangun lebih dulu, seperti biasa. Ia bergerak pelan agar tidak membangunkan Adrian yang masih tidur nyenyak. Seperti rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan, ia menyiapkan sarapan sederhana namun lengkap. Ada telur dadar, roti panggang yang renyah, dan secangkir kopi hitam tanpa gula — persis seperti yang paling disukai suaminya. Aroma masakan menguar lembut memenuhi ruangan, berusaha memberi kehangatan di pagi yang dingin.

Ketika Adrian keluar dari kamar dengan kemeja kerja yang sudah rapi dan wangi, Kayla langsung tersenyum kecil padanya. Senyum yang berusaha seindah dan setulus mungkin.

“Makan dulu ya, sebelum berangkat,” ucapnya lembut.

Adrian duduk di kursi makan, namun matanya sama sekali tidak melihat makanan di depannya. Tangannya sibuk memegang ponsel, jarinya bergerak cepat mengetik pesan, menanggapi notifikasi yang seolah tak pernah berhenti masuk.

Kayla memperhatikannya diam-diam, mengamati setiap gerak-geriknya, menunggu momen di mana Adrian akan menoleh dan berbicara padanya. Namun momen itu tak kunjung datang. Hening terasa kembali menguasai meja makan.

Hingga akhirnya, Kayla memberanikan diri untuk bersuara, suaranya terdengar ragu namun penuh harap.

“Nanti malam… pulang cepat tidak?”

“Hm?” Adrian bergumam, matanya masih terpaku pada layar kecil di tangannya.

“Aku cuma… pengen makan malam bareng saja. Sekali saja,” tambah Kayla pelan, mencoba merangkai kata sehalus mungkin.

Adrian masih menunduk, jarinya tak berhenti bergerak. “Nggak tahu. Lihat nanti saja. Kalau tidak ada pekerjaan mendadak, mungkin bisa,” jawabnya singkat, datar, dan tak menentu.

Jawaban itu kembali membuat suasana menjadi hening. Kayla menunduk, tangannya sibuk memainkan ujung lengan bajunya sendiri, menyembunyikan rasa kecewa yang kembali menyelinap.

“Adrian…” panggilnya lagi.

“Apa?” jawabnya tanpa menoleh.

“Makasih ya… sudah pulang semalam,” ucap Kayla pelan. Kalimat itu keluar begitu saja, ucapan terima kasih yang aneh, seolah ia bersyukur hanya karena suaminya mau pulang ke rumahnya sendiri.

Kalimat sederhana itu seolah membuat Adrian tersentak. Ia berhenti mengetik. Perlahan ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar menatap wajah istrinya.

Di sana, Kayla tersenyum kecil. Senyum yang lembut, yang tulus, yang selalu ada untuknya. Namun entah kenapa, saat menatap senyum itu dengan seksama, Adrian merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa lelah yang mendalam di balik sorot mata itu, ada kesedihan yang berusaha disembunyikan rapat-rapat.

Adrian membuka mulutnya, ada rasa ingin mengatakan sesuatu, ingin meminta maaf atau sekadar bertanya apa yang dirasakan istrinya. Namun belum sempat suara keluar, ponsel di tangannya kembali berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi masuk yang seketika menarik kembali seluruh perhatiannya.

Ia kembali menunduk ke layar. Segala keinginan bicara hilang begitu saja.

Kayla melihat perubahan kecil itu. Ia melihat bagaimana ia kembali tersisihkan oleh benda kecil di tangan suaminya. Dan perlahan, sangat perlahan, senyum yang tadi ia pertahankan dengan susah payah, lenyap dari bibirnya.

Digantikan oleh keheningan yang lebih dalam lagi.

 

1
Uthie
Bakalan luluh lagi gak kamu Kay 😜
Uthie
rasain 😜
falea sezi
laki serakah dikira pusat dunia istrimu cm. kamu🤣 wahai tukang selingkuh
Agus Tina
Baru sadar kau Adrian, memang orang akan selalu menggebu2 ketika mengejar sesuatu tapi akan lupa setelah mendapatkannya, bahkan terkadang malah menyia2kan yg sudah m3njadi miliknya bahkan ada yg berusaha untuk menggapai lagi sesuatu yg berbeda ...
Agus Tina
Ceritanya bagus ...
Titien Prawiro
Tinggal kabur sono k Luar Negri biar suamimu klabakkan. apa mungkin tambah senang klo kamu tinggal.
wiwi: sabar sabar🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Balas omongan Suamimu Kayla, kamu juga jgn dekat2 sama Bianca
wiwi: iya kak🤣
total 1 replies
Uthie
Penasaran bagaimana keputusan Kayla . apakah akan tetap mempertahankan.... atau kah.. melepaskan 😏😏😏😏
Uthie: oke 👍😘😘🤗
total 2 replies
Uthie
Laki egois 😡
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
Titien Prawiro
Kasih gebrak kan untuk Kayla thor, melawan Adrian gitu atau diemin jgn diajak bicara. meremehkan istri penurut.
Titien Prawiro
Kamu masih muda Kayla, sebelum terlambat mending selidiki suamimu, kalau dia selingkuh lepaskan, dan raihlah cita2mu. jgn mengharap suami gk jujur.
Titien Prawiro
Lelaki klo sdh berubah pasti ada sesuatu. gercep gitu lho.
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Selidiki jgn lemot gitu, nanti menyesal.
wiwi: makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Titien Prawiro
Kalau aku suami seperti itu diemin saja, jgn diladeni apapun itu sarapan minum bahkan jgn diajak bicara, diamkan saja. pengumuman tahu reaksinya.
Titien Prawiro: pengin tahu kok jadi tulisan bisa pengumuman.
total 1 replies
Titien Prawiro
coba selidiki, cobalah intai di kantornya, atau sewa detektif swasta, biar lekas tahu kelakuan suamimu. punya perempuan lagi.
falea sezi
bukti uda ada ss sebagai bukti cerai🤣
falea sezi
cerai aja kay laki mu paleng jg selingkuh
wiwi: iya nih kak🤭
total 1 replies
Agus Tina
Mampir dan di awal cerita bagus ... lanjjut
Uthie
lanjuuttttt lagiiiii Thor 🔥🔥🔥
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Uthie
Kadang seseorang itu gak nyadar, kalau diri nya juga melakukan hal yg sama😡

dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡
wiwi: betul banget itu kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!