Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pertengkaran di Tangga Mewah
Gisel baru saja menggendong Digo (4 thn) yang sudah terlelap di bahunya, berniat membawanya ke kamar. Namun, saat baru menapaki anak tangga ketiga, suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah atas membuat Gisel menghentikan langkah.
Raka (17 thn) muncul dengan jaket kulit hitam, kunci motor berbunyi di jarinya, dan wajah yang lebih dingin dari AC kantor ayahnya.
"Malam-malam begini mau ke mana?" tanya Gisel santai, meskipun suaranya tetap lembut agar tidak membangunkan Digo.
Raka tidak menghentikan langkahnya, bahkan nyaris menabrak bahu Gisel saat melewatinya. "Bukan urusan lo."
Gisel membalikkan badan, menatap punggung tegap anak tiri tertuanya itu. "Kenapa bukan urusanku? Aku kan sekarang...
Raka mendadak berhenti. Ia berbalik, menatap Gisel dengan mata tajam yang menghunus. Ada kemarahan yang tertahan di sana. "siapa? Hah?"
Gisel menaikkan sebelah alisnya, tidak gentar sama sekali. Aroma white tea-nya yang segar seolah menantang aroma maskulin dari parfum Raka. "Gisella Amara. Istri Papa kamu. Alias... Ibu kamu, secara teknis."
Raka tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia melangkah maju satu anak tangga, membuat wajahnya kini sejajar dengan Gisel. "Ibu? Lo itu cuma gadis berumur 23 tahun yang nggak tahu diri, yang masuk ke sini cuma karena uang.Jangan harap lo bisa ngatur hidup gue.
Gisel terdiam sejenak. Ia melihat luka di balik mata dingin Raka. Namun, dasar Gisel si positive vibes, ia justru tersenyum tipis dan malah menepuk bahu Raka dengan tangan kirinya yang bebas.
"Duh, Galak banget sih kayak Papanya. Aku nggak mau gantiin mama kamu, Raka. Aku cuma mau pastikan kalau kamu keluar jam sebelas malam begini, kamu nggak pulang dalam keadaan babak belur gara-gara balapan motor ilegal. Nanti aku yang repot bisik Gisel ceplas-ceplos.
"Diam!" bentak Raka pelan, lalu berbalik dan lari menuruni tangga menuju garasi. Suara raungan motor gedenya terdengar membelah kesunyian malam tak lama kemudian.
Gisel menghela napas panjang, menatap pintu rumah yang tertutup rapat. "Anak itu... benar-benar perlu dikasih keceriaan tingkat tinggi."
Tanpa ia sadari, Dewa (35 thn) sedang berdiri di balik bayangan lorong lantai dua. Ia melihat dan mendengar semuanya dari balik kacamata bacanya. Hatinya mencelos melihat Gisel yang tetap tegar meski baru saja dikasari oleh Raka.
Tiba-tiba, Gisel mendongak dan mata bulatnya bertemu dengan mata Dewa yang sedang memperhatikannya.
"Ciee... Mas Dewa ngintip ya? Kenapa? Kangen liat aku gendong anak?" goda Gisel seketika, membuat aura serius tadi langsung bubar jalan.
Setelah menidurkan Digo, Gisel keluar ke balkon kamar anak bungsu itu untuk menghirup udara malam. Tanpa disangka, sosok tegap Dewa (35 thn) sudah berdiri di sana, menatap kosong ke arah kelap-kelip lampu kota. Kacamata bacanya sudah dilepas, memperlihatkan guratan lelah di matanya yang tajam.
Tinggi badan Dewa yang 191 cm benar-benar membuat Gisel merasa mungil saat berdiri di sampingnya. Wangi white tea dari tubuh Gisel kembali menyapa indra penciuman Dewa, perlahan meruntuhkan sedikit demi sedikit rasa kaku di bahu lebarnya.
"Mas Dewa... nyariin aku ya? Mau lanjutin kejadian di kamar mandi tadi?" Gisel memulai dengan gaya ceplas-ceplosnya, mencoba mencairkan suasana.
Dewa tidak marah, ia hanya menghela napas panjang. "Maaf soal Raka tadi. Dia... masih sulit menerima orang baru."
Gisel terdiam sejenak, lalu menyandarkan sikunya di pagar balkon. "Mas, boleh aku tanya sesuatu? Tentang... mendiang istri Mas?"
Tubuh Dewa menegang. "Untuk apa?"
"Aku cuma bingung," Gisel menatap Dewa dengan mata bulatnya yang berponi, kali ini ekspresinya lebih serius. "Keluarga ini... satu rumah, tapi kayak orang asing. Masing-masing punya tembok tinggi. Kamu punya segalanya, Mas. Kaya, tampan, anak-anak yang luar biasa. Tapi kenapa kamu pilih jadi es batu?"
Dewa mengepalkan tangannya di pagar besi. "Arumi adalah segalanya bagi mereka. Dan saya... saya gagal menyelamatkannya. Setiap kali saya melihat Raka atau Alya, saya melihat wajahnya. Itu menyakitkan, Gisel."
"Jadi kamu pilih buat cuek?" sela Gisel berani. "Mas, Raka itu butuh sosok Ayah, bukan patung pajangan yang cuma tahu kasih uang. Dia balapan motor malam-malam itu karena dia pengen dicariin, pengen dipeduliin. Alya jadi jutek karena dia ngerasa rumah ini nggak punya 'ruh' lagi."
Gisel melangkah lebih dekat, aroma segarnya kini benar-benar mengunci perhatian Dewa. "Kamu terlalu setia sama masa lalu sampai lupa kalau anak-anak kamu butuh masa depan. Coba deh sedikit aja lebih lembut. Peluk Digo, tanya kabar Alya, atau marahin Raka kalau dia telat pulang. Jangan cuma diem kayak kulkas rusak."
Dewa menoleh, menatap Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah cahaya bulan, kulit mulus Dewa tampak bersinar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak membuang muka saat menatap Gisel.
"Kamu pikir itu mudah?" suara Dewa rendah, hampir berbisik.
"Nggak mudah, tapi bisa dicoba," Gisel tersenyum tipis, lalu dengan berani mengusap lengan kokoh Dewa. "Mulai dari hal kecil. Misalnya... mulai jujur kalau sebenernya kamu juga ngerasa 'panas' setiap deket aku, kan?"
Dewa terpaku. Perkataan ceplas-ceplos Gisel selalu berhasil menghantam tepat di ulu hatinya. Di tengah kesedihan yang dibahas, Gisel tetap menyelipkan godaan yang membuat jantung Dewa kembali berpacu tidak karuan.
"Gisel, kamu benar-benar..." Dewa menggantung kalimatnya, matanya tanpa sadar turun menatap bibir Gisel.
"Benar-benar apa? Benar-benar bikin Mas Dewa mau cium aku?" Gisel menantang dengan tatapan nakalnya.
Dewa langsung berbalik badan, berusaha menyembunyikan reaksi tubuhnya yang kembali bergejolak. "Masuklah. Sudah malam. Dan... terima kasih sudah bicara soal anak-anak."
Gisel tertawa kecil melihat punggung lebar Dewa yang tampak kaku saat berjalan pergi. "Sama-sama, Mas CEO sayang! Jangan lupa mimpiin aku ya, biar tidurnya nggak kedinginan!"