NovelToon NovelToon
Mr. Cold & My Sunny Wife

Mr. Cold & My Sunny Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.


Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pertengkaran di Tangga Mewah

Gisel baru saja menggendong Digo (4 thn) yang sudah terlelap di bahunya, berniat membawanya ke kamar. Namun, saat baru menapaki anak tangga ketiga, suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah atas membuat Gisel menghentikan langkah.

Raka (17 thn) muncul dengan jaket kulit hitam, kunci motor berbunyi di jarinya, dan wajah yang lebih dingin dari AC kantor ayahnya.

"Malam-malam begini mau ke mana?" tanya Gisel santai, meskipun suaranya tetap lembut agar tidak membangunkan Digo.

Raka tidak menghentikan langkahnya, bahkan nyaris menabrak bahu Gisel saat melewatinya. "Bukan urusan lo."

Gisel membalikkan badan, menatap punggung tegap anak tiri tertuanya itu. "Kenapa bukan urusanku? Aku kan sekarang...

Raka mendadak berhenti. Ia berbalik, menatap Gisel dengan mata tajam yang menghunus. Ada kemarahan yang tertahan di sana. "siapa? Hah?"

Gisel menaikkan sebelah alisnya, tidak gentar sama sekali. Aroma white tea-nya yang segar seolah menantang aroma maskulin dari parfum Raka. "Gisella Amara. Istri Papa kamu. Alias... Ibu kamu, secara teknis."

Raka tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia melangkah maju satu anak tangga, membuat wajahnya kini sejajar dengan Gisel. "Ibu? Lo itu cuma gadis berumur 23 tahun yang nggak tahu diri, yang masuk ke sini cuma karena uang.Jangan harap lo bisa ngatur hidup gue.

Gisel terdiam sejenak. Ia melihat luka di balik mata dingin Raka. Namun, dasar Gisel si positive vibes, ia justru tersenyum tipis dan malah menepuk bahu Raka dengan tangan kirinya yang bebas.

"Duh, Galak banget sih kayak Papanya. Aku nggak mau gantiin mama kamu, Raka. Aku cuma mau pastikan kalau kamu keluar jam sebelas malam begini, kamu nggak pulang dalam keadaan babak belur gara-gara balapan motor ilegal. Nanti aku yang repot bisik Gisel ceplas-ceplos.

"Diam!" bentak Raka pelan, lalu berbalik dan lari menuruni tangga menuju garasi. Suara raungan motor gedenya terdengar membelah kesunyian malam tak lama kemudian.

Gisel menghela napas panjang, menatap pintu rumah yang tertutup rapat. "Anak itu... benar-benar perlu dikasih keceriaan tingkat tinggi."

Tanpa ia sadari, Dewa (35 thn) sedang berdiri di balik bayangan lorong lantai dua. Ia melihat dan mendengar semuanya dari balik kacamata bacanya. Hatinya mencelos melihat Gisel yang tetap tegar meski baru saja dikasari oleh Raka.

Tiba-tiba, Gisel mendongak dan mata bulatnya bertemu dengan mata Dewa yang sedang memperhatikannya.

"Ciee... Mas Dewa ngintip ya? Kenapa? Kangen liat aku gendong anak?" goda Gisel seketika, membuat aura serius tadi langsung bubar jalan.

Setelah menidurkan Digo, Gisel keluar ke balkon kamar anak bungsu itu untuk menghirup udara malam. Tanpa disangka, sosok tegap Dewa (35 thn) sudah berdiri di sana, menatap kosong ke arah kelap-kelip lampu kota. Kacamata bacanya sudah dilepas, memperlihatkan guratan lelah di matanya yang tajam.

Tinggi badan Dewa yang 191 cm benar-benar membuat Gisel merasa mungil saat berdiri di sampingnya. Wangi white tea dari tubuh Gisel kembali menyapa indra penciuman Dewa, perlahan meruntuhkan sedikit demi sedikit rasa kaku di bahu lebarnya.

"Mas Dewa... nyariin aku ya? Mau lanjutin kejadian di kamar mandi tadi?" Gisel memulai dengan gaya ceplas-ceplosnya, mencoba mencairkan suasana.

Dewa tidak marah, ia hanya menghela napas panjang. "Maaf soal Raka tadi. Dia... masih sulit menerima orang baru."

Gisel terdiam sejenak, lalu menyandarkan sikunya di pagar balkon. "Mas, boleh aku tanya sesuatu? Tentang... mendiang istri Mas?"

Tubuh Dewa menegang. "Untuk apa?"

"Aku cuma bingung," Gisel menatap Dewa dengan mata bulatnya yang berponi, kali ini ekspresinya lebih serius. "Keluarga ini... satu rumah, tapi kayak orang asing. Masing-masing punya tembok tinggi. Kamu punya segalanya, Mas. Kaya, tampan, anak-anak yang luar biasa. Tapi kenapa kamu pilih jadi es batu?"

Dewa mengepalkan tangannya di pagar besi. "Arumi adalah segalanya bagi mereka. Dan saya... saya gagal menyelamatkannya. Setiap kali saya melihat Raka atau Alya, saya melihat wajahnya. Itu menyakitkan, Gisel."

"Jadi kamu pilih buat cuek?" sela Gisel berani. "Mas, Raka itu butuh sosok Ayah, bukan patung pajangan yang cuma tahu kasih uang. Dia balapan motor malam-malam itu karena dia pengen dicariin, pengen dipeduliin. Alya jadi jutek karena dia ngerasa rumah ini nggak punya 'ruh' lagi."

Gisel melangkah lebih dekat, aroma segarnya kini benar-benar mengunci perhatian Dewa. "Kamu terlalu setia sama masa lalu sampai lupa kalau anak-anak kamu butuh masa depan. Coba deh sedikit aja lebih lembut. Peluk Digo, tanya kabar Alya, atau marahin Raka kalau dia telat pulang. Jangan cuma diem kayak kulkas rusak."

Dewa menoleh, menatap Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah cahaya bulan, kulit mulus Dewa tampak bersinar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak membuang muka saat menatap Gisel.

"Kamu pikir itu mudah?" suara Dewa rendah, hampir berbisik.

"Nggak mudah, tapi bisa dicoba," Gisel tersenyum tipis, lalu dengan berani mengusap lengan kokoh Dewa. "Mulai dari hal kecil. Misalnya... mulai jujur kalau sebenernya kamu juga ngerasa 'panas' setiap deket aku, kan?"

Dewa terpaku. Perkataan ceplas-ceplos Gisel selalu berhasil menghantam tepat di ulu hatinya. Di tengah kesedihan yang dibahas, Gisel tetap menyelipkan godaan yang membuat jantung Dewa kembali berpacu tidak karuan.

"Gisel, kamu benar-benar..." Dewa menggantung kalimatnya, matanya tanpa sadar turun menatap bibir Gisel.

"Benar-benar apa? Benar-benar bikin Mas Dewa mau cium aku?" Gisel menantang dengan tatapan nakalnya.

Dewa langsung berbalik badan, berusaha menyembunyikan reaksi tubuhnya yang kembali bergejolak. "Masuklah. Sudah malam. Dan... terima kasih sudah bicara soal anak-anak."

Gisel tertawa kecil melihat punggung lebar Dewa yang tampak kaku saat berjalan pergi. "Sama-sama, Mas CEO sayang! Jangan lupa mimpiin aku ya, biar tidurnya nggak kedinginan!"

1
merry
pergi menjauh lh sel tgu ank mu lhr dluu,, raka dikit dikit marahh
aku
berharap gisel sm adit, bahagya lah mereka 😭
merry
wa Dr pd kmu sibuk curiga,, emosiin gaje cemburu buta gt,, bgss carii tau tuu pergrtaknn silumann ularr sm nenek sihirr mrkk lg ngrimm org buat celakaiin calon ank mu,,
merry
kyk bpkmu sifatt mu raka pentinginn emosii tnp cri kbnrann yaa
aku
mudahan adit diatas nya dewa. dr cinta smpe ekonomi. biar nyahok!!
Gaishan Ahzar
terlalu sakit jdi Gisel...mending nyari kebahagian lain jgn balik ma Dewa,
merry
gk tegas bgtt,, gmpng bgt tuduh org pdhl dewa tau gisel orgy kyk gmnn,, lgian ngpn cb kesini sm Bianca,, moga 3 ank y hncur krn ulh nenek y hncur bukn dlm hal yg ngk baik ya,, mksdy jdi dingin Pemberontak biar mm y dewa wlpun Bianca jdi ibu mrk tdk ank bisa tahlukin anky dewa
merry
pergi ajj sel biar 3 cucu y jdi pembangkang ank y dewa tmbh dingin dan juga kejam
merry
secara logika y si org tu mn mau pyn mantu kyk hana dan cucu tri Dr ank y ha a dan kakak tiri ya itu resikko berat bisa jdi bhn gossip org org mngkin bisa buat perusahan dewa hilng kepercyaa Dr klien y,, tp krn in menyankut Cinta mau gk mau dewa ngalahh biar raka gk di hasut Bianca
Gaishan Ahzar
kecewa berat ma Dewa ga pernah benar2 perjuangin Gisel,katanya CEO tapi kok bodoh...dah lah Gisel move on aja,lelah berjuang dan mencintai sendirian....
Gaishan Ahzar
udah ckup Gisel nangisin Dewa...
merry
biar kn hana menata hdp y dulu hilngin truma y dulu sukses dulu br dech mkrinn nikh🙏🙏🙏biar kn raka tau sel biar JDI Keputusann raka klo gk diksh tau tar raka mengira xlian dh bhongin dia lohh
merry
hrs y ka kak tri y Dilaporinn dgn kasus Pemerkosaa enk bgtt ud hncurin hana trs nikh sm cwe lainn,, Dan laporinn jugaa mm tri y yg jhtt bgtuu juga bpk yg gk bisa ksh keadlinn buat ank kndung y sndrii,, bantuuin sel hana ya kirim dia ke luar ngrii gt,,,
Lilik Lailiyah
😄😄😄
merry
Ayo raka ajkk mmu yg bar bar itu cari tau knp Hana di perlakuknn seperti itu,, psti mm tri y klo ngk Bibi y Hana tuu
merry
raka juara 3 kt y encer knp cm juara tiga,, itu gisel heboh bgtt ud kyk juara 1sjjjj🤣🤣🤣🤣🤣
Mudahlia Fitha
bner" udah kyak rombongan telur ceplok 😂😂😂😅
Mudahlia Fitha
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ada aja buat jawab
Mudahlia Fitha
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/semprul udah kyak sepeda yg remnya blong
merry
ternyta Ada batu sandungann jugaa perjlnn gisel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!