Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Pagi itu, kantor *A-Shield Technology* yang terletak di lantai teratas sebuah gedung perkantoran modern di pusat kota Jakarta tampak lebih sibuk dari biasanya. Meskipun perusahaan ini baru berdiri beberapa tahun, prestasinya dalam memenangkan tender kementerian pertahanan telah membuat namanya melambung tinggi. Adelard, sang CEO muda yang kini dikenal sebagai "The Cyber Queen", berdiri di depan jendela besar kantornya, menatap barisan gedung pencakar langit dengan pandangan yang dalam.
Tiga tahun telah berlalu. Ia bukan lagi gadis panti asuhan yang gemetar karena kehujanan, bukan pula putri yang diusir dengan kehinaan. Setelan jas *tailored-fit* berwarna putih gading yang ia kenakan hari ini mencerminkan otoritas dan kekuatan yang ia bangun dengan darah dan air mata.
*Tok, tok.*
Sekretarisnya, seorang pria muda yang cekatan, masuk dengan wajah yang agak tegang. "Nona Adel, tamu dari klien utama kita sudah tiba di ruang rapat privat. Mereka sudah menunggu."
Adel membalikkan tubuh, merapikan rambutnya yang disanggul elegan. "Klien dari Dirgantara Group? Perusahaan paling sukses di negeri ini akhirnya benar-benar datang?"
"Benar, Nona. Tapi anehnya, mereka meminta rapat dilakukan secara sangat privat. Bahkan tim hukum mereka pun diminta menunggu di luar. Hanya pimpinan tertingginya yang ada di dalam," lapor sekretaris itu.
Adel mengernyitkan dahi. Dirgantara Group adalah raksasa. Nilai kontrak proyek enkripsi militer yang mereka tawarkan adalah yang tertinggi dalam sejarah *A-Shield*. Jika kontrak ini ditandatangani, Adel tidak hanya akan menjadi kaya, ia akan menjadi tak tersentuh oleh Mahendra Group sekalipun.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang."
Adel melangkah menuju ruang rapat eksekutif. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia telah mendengar banyak rumor tentang pewaris tunggal Dirgantara Group yang baru saja mengambil alih kepemimpinan. Katanya, pria itu dingin, jenius, dan kejam dalam berbisnis.
Adel membuka pintu kayu jati besar itu dengan perlahan. Ruangan itu luas, namun hanya ada satu pria yang duduk membelakanginya di kursi kebesaran, menghadap ke arah jendela.
"Selamat pagi, Tuan Dirgantara. Saya Adelard, CEO A-Shield. Terima kasih telah mempercayakan proyek strategis ini kepada kami," ucap Adel dengan nada profesional yang sempurna.
Pria itu tidak segera berbalik. Ia justru terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinga Adel. Suara yang dulu pernah membisikkan janji di bawah hujan lebat tiga tahun lalu.
Kursi itu berputar perlahan.
Adel terpaku. Napasnya seolah terhenti di kerongkongan. Di sana, duduk Devan Dirgantara. Rambutnya tertata rapi, tatapan matanya jauh lebih tajam dan berwibawa daripada tiga tahun lalu. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat yang memancarkan aura dominasi yang luar biasa.
"Tiga tahun, Adel," ucap Devan dengan suara yang dalam, matanya menatap Adel tanpa berkedip. "Tiga tahun aku membiarkanmu membangun kerajaanmu sendiri tanpa campur tanganku sedikit pun. Kau benar-benar melakukannya, ya?"
Adel masih berdiri mematung di dekat pintu. "Devan... kau? Kau adalah pemilik proyek ini?"
Devan bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat dan mantap menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia berjalan mendekati Adel, melewati meja panjang yang memisahkan mereka. Adel ingin mundur, namun kakinya seolah terpaku pada lantai.
"Siapa lagi yang berani memberikan kontrak militer triliunan rupiah kepada perusahaan 'startup' milik seorang gadis yang baru lulus kuliah kalau bukan aku?" Devan berhenti tepat di depan Adel. Jarak mereka sangat dekat, hingga Adel bisa mencium aroma maskulin *sandalwood* dan *black pepper* yang selalu ia ingat.
Devan mengulurkan tangannya, jari telunjuknya mengangkat dagu Adel agar mata mereka bertemu. "Kau semakin cantik, Adel. Tidak... kau menawan. Aura penguasa ini sangat cocok untukmu. Jauh lebih baik daripada gaun pesta Mahendra yang dulu kau kenakan."
Wajah Adel merona merah. Ia segera menepis tangan Devan dan mencoba bersikap tegas. "Tuan Dirgantara, jika Anda di sini hanya untuk membahas masa lalu atau memuji penampilan saya, saya rasa rapat ini tidak perlu dilanjutkan. Saya di sini untuk bicara bisnis."
Devan justru tersenyum tipis, sebuah seringai yang membuat jantung Adel semakin tak karuan. "Bisnis? Tentu. Mari kita bicara bisnis. Tapi bagiku, kau adalah bisnis yang paling penting dalam hidupku."
Devan berjalan mengitari Adel, seolah-olah sedang memeriksa sebuah aset berharga. "Aku sudah melihat kinerjamu di meja tender kemarin. Kau menghancurkan Tuan Mahendra tanpa ampun. Sangat impresif. Tapi tahukah kau? Aku sengaja memberikan proyek ini kepadamu bukan hanya karena kau jenius, tapi karena aku ingin menagih sesuatu."
Adel mengerutkan dahi. "Menagih apa?"
Devan kembali berdiri di hadapan Adel, kali ini ia menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di telinga Adel hingga bulu kuduk gadis itu meremang. "Menagih janjimu. Tiga tahun lalu, kau menolakku di bawah hujan. Kau bilang, kau akan menerimaku jika kau sudah membuktikan dirimu sejajar denganku. Sekarang... lihatlah sekelilingmu. Kau punya gedung ini, kau punya otak yang ditakuti musuhmu, dan kau berdiri di depanku sebagai rekan bisnis, bukan sebagai korban."
Adel menundukkan kepalanya, merasa malu dan sekaligus bersalah. Memori malam itu berputar kembali; bagaimana ia menolak Devan yang bersujud demi harga dirinya sendiri. "Devan... aku..."
"Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak mencarimu?" Devan memotong, suaranya kini terdengar sedikit serak oleh emosi. "Setiap malam aku melihat laporan kemajuanmu. Setiap kali kau disabotase oleh Clarissa, aku hampir saja meratakan Mahendra Group, tapi aku tahu kau ingin melakukannya sendiri. Aku menghargaimu, Adel. Tapi kesabaranku ada batasnya."
Devan meraih tangan Adel, menggenggamnya dengan erat namun lembut. "Sekarang, posisi kita sejajar. Tidak ada lagi alasan untuk menolak. Kau berhutang jawaban padaku, Adelard. Dan aku tidak menerima kata 'nanti' lagi."
Adel menatap tangan Devan yang menggenggamnya. Perasaan yang ia kubur selama tiga tahun demi ambisi, kini meledak kembali. Ia merasa sangat bersalah telah membuat pria sesukses Devan menunggu di tengah kegelapan demi dirinya.
"Maafkan aku, Devan," bisik Adel pelan. Air mata hampir jatuh di sudut matanya. "Aku hanya tidak ingin dikenal sebagai 'wanita Devan'. Aku ingin dunia tahu bahwa aku adalah Adelard yang kuat."
Devan menarik Adel ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang hangat, protektif, dan penuh kerinduan. "Dunia sudah tahu siapa kau, Adel. Sekarang, biarkan dunia tahu bahwa kau adalah milikku."
Suasana di ruangan itu berubah menjadi sangat romantis dan intens. Devan melepaskan pelukannya sedikit, tangannya beralih membelai pipi Adel yang lembut. Ia menatap bibir Adel dengan penuh damba.
"Boleh aku menagih DP (uang muka) dari janjimu sekarang?" bisik Devan menggoda, wajahnya semakin mendekat.
Adel hanya bisa mematupkan matanya, jantungnya berpacu liar. Saat wajah Devan tinggal satu inchi lagi dari wajahnya, dan ia bisa merasakan napas Devan yang hangat...
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu hak tinggi yang keras terdengar dari koridor luar, disusul suara melengking yang sangat dikenal Adel.
"DEVAN! SAYANG! KENAPA KAU MENGUNCI PINTUNYA?!"
Adel tersentak dan segera mendorong Devan menjauh. Wajahnya memerah padam karena malu dan kaget. Devan menggeram rendah, terlihat sangat kesal karena momen emasnya hancur berantakan.
Pintu terbuka kasar. Clarissa masuk dengan gaun merah mencolok dan wajah yang penuh riasan. "Devan! Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Oh... ada kau di sini, si anak panti?"
Clarissa menatap Adel dengan jijik, lalu beralih merangkul lengan Devan dengan posesif. "Sayang, ayo kita makan siang. Aku sudah bilang pada Ibu kalau kita akan membicarakan soal tanggal pertunangan kita yang sempat tertunda itu."
Devan dengan kasar melepaskan tangan Clarissa. "Clarissa! Berhenti berhalusinasi. Pertunangan itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada! Keluar sekarang juga!"
Clarissa melotot, matanya beralih ke arah Adel yang kini berdiri dengan tenang namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau! Kau pasti merayu Devan dengan cara kotor agar dapat proyek ini, kan?! Dasar gembel tidak tahu diri!"
Adel tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat berkelas. "Nona Clarissa, jika Anda ingin bicara soal pertunangan, silakan bicara dengan tim hukum saya. Karena saat ini, Tuan Dirgantara sedang sibuk bernegosiasi dengan CEO A-Shield, bukan dengan seorang pengangguran yang hobinya hanya berbelanja."
Devan menatap Adel dengan bangga, sementara Clarissa meledak dalam kemarahan yang tak tertahan. Drama baru saja dimulai, namun bagi Devan, satu hal yang pasti: ia tidak akan melepaskan Adelard untuk kedua kalinya.