"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 28: Ritual Darah
KRAKKK....
Raka berdiri perlahan. Ia menyelimuti tubuh Nara dengan jubah merah yang baru saja tercipta dari energinya.
Rambut perak Raka kini memiliki garis-garis merah menyala seperti lava. Matanya tidak lagi putih hampa, melainkan merah kristal yang sangat tajam.
"Kalian merusak momenku," ucap Raka dengan nada suara yang begitu rendah hingga membuat udara di sekitarnya membeku.
Raka hanya menggerakkan jarinya.
Siuuuutttt!
Sebuah garis cahaya merah membelah ruangan. Dalam sekejap, ketiga pembunuh elit itu terpotong menjadi dua tepat di bagian pinggang.
Darah mereka bahkan tidak sempat keluar karena luka mereka langsung hangus terbakar oleh panas energi Crimson.
Raka berjalan keluar dari ruangan, setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang membara di lantai logam. Di lorong, ia melihat Bumi yang sedang terdesak oleh belasan musuh.
"Bumi! Menyingkir!" perintah Raka.
Bumi menoleh dan terbelalak melihat perubahan ayahnya. "Ayah? Warna apa itu?"
Raka tidak menjawab. Ia merentangkan tangannya, dan dari punggungnya muncul sayap energi yang tidak lagi berbentuk bulu, melainkan jajaran pedang merah yang tajam. Matahari Asal: Bentuk Crimson Nebula.
BOOOOOOMMMMMMM!
Seluruh markas bawah tanah itu bergetar saat Raka melepaskan gelombang energi merah yang memusnahkan setiap Shadow Stalker di dalam markas dalam hitungan detik.
Raka melesat keluar menembus langit-langit markas, menuju permukaan planet Krios.
Di atas sana, ia melihat ribuan kapal tempur Sektor Terlarang sedang mengepung planet tersebut. Raka menatap ke langit dengan senyum tipis yang mengerikan.
"Sektor Terlarang... kalian ingin memanen kekuatanku?" tanya Raka.
"Maka aku akan berikan kalian panen berdarah yang takkan pernah kalian lupakan."
Raka melesat menuju kapal induk terbesar, menjadi seberkas cahaya merah yang membelah kegelapan ruang angkasa Krios. Perang untuk membebaskan para buangan, dan Raka kini memiliki kekuatan yang bahkan belum pernah diprediksi oleh para penciptanya."
"Amarah Crimson dan Runtuhnya Armada Krios."
Udara di atmosfer atas Planet Krios mendadak terbakar. Gesekan energi Raka dengan gas-gas belerang di langit menciptakan ekor api berwarna merah darah yang memanjang hingga ribuan kilometer. Dari permukaan planet, para pemberontak "Cahaya Terakhir" menatap ke atas dengan takjub dan ngeri.
Mereka melihat titik merah kecil yang melesat menembus barisan awan ungu, menuju lautan baja yang mengepung dunia mereka.
SYUUUUUUUUUUUTTTTTT!
Di orbit planet, armada Sektor Terlarang yang terdiri dari ratusan kapal penghancur kelas Star-Eater telah bersiap. Di jembatan komando kapal induk "Oblivion", seorang Komandan Tinggi dengan zirah perak menatap layar radar yang berkedip merah.
Bip... bip... bip...
"Energi terdeteksi! Level radiasi melampaui batas klasifikasi Matahari ke-15! Apa yang terjadi di bawah sana?!" teriak sang Komandan.
Belum sempat operator menjawab, sebuah guncangan hebat menghantam kapal induk tersebut.
BOOOOOOMMMMM!
Raka mendarat tepat di atas dek luar kapal induk tanpa menggunakan pelindung oksigen. Tubuhnya kini memancarkan aura Crimson Nebula yang sangat pekat, jalinan energi merah yang berputar seperti badai galaksi kecil di sekelilingnya.
Rambut peraknya melambai liar dalam kehampaan ruang angkasa, setiap helainya dialiri listrik merah yang mematikan.
Ribuan meriam laser otomatis yang tertanam di lambung kapal berputar dan menembaki Raka secara bersamaan.
Zzzzt... Zzzzt... Zzzzt...
Raka tidak menghindar. Ia hanya berjalan tenang di atas lambung kapal yang dingin. Sinar-sinar laser itu, yang sanggup melubangi bulan, seketika melengkung dan hancur saat menyentuh aura Crimson Raka.
Raka mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya terbuka lebar menghadap ke arah jembatan komando.
"Kalian menyebut kami gagal," suara Raka bergema melalui frekuensi sukma yang menggetarkan seluruh kapal.
"Maka saksikanlah kegagalan yang akan menghapus eksistensi kalian." Matahari Crimson: Teknik Cakar Nebula!."
KRAKKKKKKKK!
Lima garis cahaya merah raksasa keluar dari jemari Raka, memanjang hingga ratusan meter dan mencabik lambung kapal induk baja itu seperti pisau panas memotong mentega.
Udara di dalam kapal menyembur keluar bersama ribuan awak kapal yang tersedot ke ruang hampa.
Raka melompat ke udara, memutar tubuhnya, dan melepaskan gelombang energi melingkar.
GLAAAAAARRRRRRRRRR!
Dua kapal penghancur di samping kapal induk itu meledak secara instan, hancur menjadi debu atom merah.
Ledakan itu tidak berwarna api kuning, melainkan kilatan merah-hitam yang sangat padat.
Raka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, berpindah dari satu kapal ke kapal lain hanya dalam satu kedipan mata. Setiap kali ia mendarat, sebuah kapal musuh akan runtuh dari dalam.
Di dalam batin Raka, ia bisa merasakan degup jantung Nara yang semakin lemah di permukaan planet.
Ritual penyatuan tadi telah menyedot hampir seluruh energi kehidupan wanita itu. Raka tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia harus menyelesaikan pembantaian ini dan kembali untuk menstabilkan sukma Nara.
"Raka... jangan biarkan amarah ini menelan nuranimu," bisik Vanya, yang suaranya kini terdengar lebih jernih setelah menyatu dengan energi Crimson.
"Energi ini haus akan kematian. Jika kau tidak mengendalikannya, kau akan menghancurkan planet ini juga."
Raka menggeram, matanya berkilat merah kristal. "Aku tahu, Vanya.
Tapi mereka harus merasakan apa yang dirasakan oleh dunia-dunia yang mereka rasakan!"
Raka memusatkan seluruh energinya ke jantung sukmanya.
Sembilan belas matahari sebelumnya kini seolah-olah tunduk pada satu matahari Crimson ini. Ia merentangkan tangan, menciptakan jaring-jaring energi merah yang menghubungkan seluruh sisa armada musuh. "Matahari Crimson: Jaring Kiamat!"
Zinggg...
Seluruh kapal musuh yang terhubung oleh jaring itu mendadak berhenti bergerak.
Mesin-mesin mereka mati total. Kemudian, secara perlahan, seluruh logam kapal itu mulai mencair dan terserap masuk ke dalam jaring energi Raka.
Raka sedang "memanen" balik energi mereka untuk ia gunakan sebagai bahan bakar penyembuhan Nara.
BOOOOOOMMMMMMMM!
Ledakan masif terakhir membersihkan langit Planet Krios. Raka melayang sendirian di tengah tumpukan puing logam yang membara. Ia segera melesat turun kembali ke atmosfer, membelah awan ungu dengan kecepatan melesat.
Kembalinya Sang Kaisar Merah
Raka mendarat di depan markas bawah tanah "Cahaya Terakhir" dengan dentuman yang menggetarkan bumi.
DUAR!
Debu belerang tersibak oleh auranya. Bumi dan para pemberontak lainnya berlari keluar, senjata mereka masih terhunus, namun mereka jatuh berlutut saat melihat sosok Raka yang kini tampak seperti Dewa Perang yang baru saja mandi darah bintang.
Raka segera masuk ke dalam kamar inti tempat Nara terbaring pucat. Ia mendekati Nara, menyentuh keningnya dengan jari yang kini dialiri energi Crimson yang telah dimurnikan.
Syuuuuu...
Warna merah sehat perlahan kembali ke pipi Nara. Napasnya yang tadi tersengal kini mulai teratur. Raka mengangkat tubuh Nara, membawanya ke dalam pelukan yang protektif.
Meskipun rasa lelah yang luar biasa menghantamnya, Raka tetap berdiri tegak.
"Bumi! Kumpulkan semua orang yang tersisa!" perintah Raka.
"Kita tidak akan lagi bersembunyi di lubang tikus ini. Sektor Terlarang telah kehilangan armada penjaga mereka. Sekarang, kitalah yang akan menyerang markas utama mereka di Sektor Nexus."
Bumi menatap ayahnya dengan rasa bangga sekaligus ngeri.
"Ayah... apa kau yakin? Sektor Nexus adalah jantung dari segala teknologi mereka. Itu adalah tempat di mana Sang Arsitek Agung bersemayam."
Raka menatap ke langit, ke arah bintang-bintang yang kini tampak merah di matanya. "Mereka telah memperlakukan alam semesta ini sebagai kebun ternak. Saatnya sang ternak menyembelih pemiliknya."
Nara perlahan membuka matanya, menatap Raka dengan senyum lemah.
"Kau... kau berhasil, Raka."
Raka mencium kening Nara dengan lembut, sebuah momen kelembutan di tengah badai perang yang akan datang.
Suasana di markas itu kini berubah. Keputusasaan telah berganti dengan haus akan pembalasan dendam. Dengan kekuatan Crimson Nebula, Raka bukan lagi mangsa yang melarikan diri. Ia adalah pemburu yang siap menghancurkan tatanan alam semesta."
Bersambung....