NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan dalam pasar

Langkah kaki mereka akhirnya membawa mereka tiba di sebuah pasar yang riuh di perbatasan desa. Suasana di sana sangat ramai dengan hilir mudik pembeli dan teriakan para pedagang yang menjajakan barang dagangan.

Cakra merogoh kantongnya, lalu menyerahkan beberapa keping uang logam kepada Riu untuk membeli perbekalan makan mereka selama di perjalanan. Setelah Riu pergi, Cakra kembali mensejajarkan langkahnya di sebelah Nayan.

"Nayan, lihat-lihatlah sekeliling. Kalau ada sesuatu yang kau sukai, beli saja," ujar Cakra dengan nada santai.

Nayan menoleh, menatap Cakra dengan sepasang netranya yang teduh.

"Bisa ikut denganmu dan diberi tempat tinggal saja aku sudah sangat bersyukur, Cakra. Sungguh."

Mendengar ucapan yang tulus itu, ditambah tatapan hangat dari Nayan, dada Cakra mendadak berdesir aneh. Ada getaran tak kasat mata yang sanggup mengusik ketenangannya sebagai seorang pangeran.

Cakra berdeham pelan, mencoba menguasai diri.

"Setidaknya kau harus membeli beberapa pakaian ganti, Nayan. Di rumah kami tidak ada wanita sama sekali, jadi tidak akan ada baju yang muat untukmu."

Nayan mengulas senyum tipis lalu mengangguk kecil, mengiyakan saran tersebut. Ia menunduk, memandangi pakaiannya yang memang sudah sangat lusuh, bahkan masih menyisakan beberapa noda darah kering yang samar.

Kedamaian singkat itu buyar seketika saat segerombolan preman bertubuh kekar menerobos kerumunan. Dengan kasar, mereka mulai menjarah uang upeti dari para pedagang yang ketakutan. Salah satu dari mereka berteriak dengan lantang hingga suaranya menggema di seisi pasar.

"Ayo cepat keluarkan uang kalian! Jangan banyak alasan! Ini adalah perintah langsung dari Raja!"

Di tempatnya berdiri, Cakra mengamati kekacauan itu dengan saksama. Rahangnya mengatup rapat. Inilah alasan sebenarnya mengapa Raja Indra mengutusnya ke desa terpencil ini. Masalah yang ia cari kini terpampang jelas tepat di depan matanya.

"Tidak... aku tidak boleh gegabah sekarang ! " batin Cakra seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

" Menghabisi berandal berandal ini tanpa rencana matang hanya akan merusak semuanya. Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik ini semua ."

Namun, bukan hanya Cakra saja yang menahan amarah. Di sebelahnya, sorot mata Nayan yang tadinya teduh kini berubah setajam silet saat mengunci pergerakan kawanan preman tersebut. Jiwa pendekarnya berontak hebat.

" Dasar pengecut! Beraninya cuma menindas orang lemah! " maki Nayan dalam hati. Namun, ia juga sadar bahwa saat ini ia sedang menyamar dan tidak bisa bertindak gegabah. Terlebih kemampuannya sekarang tak sama seperti dulu .

Tak berselang lama, Riu kembali dengan tangan penuh barang belanjaan. Menyadari situasi mulai tidak kondusif, Cakra langsung menarik lengan Riu dan menjauh dari keramaian.

Begitu sampai di sudut pasar yang lebih sepi dan aman dari jangkauan telinga orang asing, Cakra langsung memasang wajah serius. Ia mulai membicarakan strategi dan hal-hal krusial—sebuah pembahasan rahasia yang hanya layak diucapkan oleh seorang Pangeran Kerajaan.

Tanpa sadar, sorot mata Nayan yang sedingin es bertemu dengan tatapan liar salah satu preman itu. Si preman pun tersenyum menyeringai, merasa tertantang.

"Ada apa, Nona? Dari tadi kuperhatikan kau terus-menerus melihat ke arah kami," ujar preman itu, mulai melangkah mendekati Nayan dengan tatapan mesum.

"Apa kau tertarik pada kami, hmm? Kalau iya, kami sama sekali tak keberatan untuk... bersenang-senang sebentar denganmu."

Jiwa Sedra di dalam tubuh Nayan bergejolak hebat mendengarnya. Kehormatan pendekarnya tak sudi diinjak-injak oleh cecurut pasar seperti mereka. Nafasnya memburu, dan sebuah dorongan instan muncul di benaknya.

Plakkkkk!

Sebuah tamparan super keras mendarat telak di pipi si preman, meninggalkan bekas merah yang kentara. Tamparan itu begitu bertenaga hingga suaranya bergema di seantero pasar, membuat rekan-rekan si preman tersentak dan membelalakkan mata tak percaya.

"Menjijikkan! Berani sekali tangan kotormu itu menyentuhku!" desis Nayan dengan nada suara yang rendah, tajam, dan sangat menyeramkan, jauh dari kesan Nayan yang lembut tadi.

Preman itu meringis kesakitan, merasa terhina karena ditampar di depan umum oleh seorang wanita. Amarahnya meledak seketika. Dengan kasar, ia merenggut paksa pergelangan tangan Nayan, mencoba menyeretnya ikut pergi.

"Kurang ajar! Kau harus diberi pelajaran dasar, Jalang!" maki preman itu berang.

Namun, preman itu mendadak merasa kesulitan. Meskipun bertubuh besar, ia harus mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menarik Nayan. Gadis di depannya itu seolah-olah memiliki kekuatan yang tak masuk akal bagi seorang wanita biasa. Si preman sempat tertegun heran, namun rasa malu dan marahnya segera mengabaikan pikiran logis itu.

Di tengah pergulatan tersebut, netra Nayan menangkap sosok Cakra dan Riu yang berjalan cepat ke arahnya dengan raut wajah cemas. Seketika, 'taring' Sedra kembali disembunyikan.

Nayan mendadak melemaskan seluruh otot tubuhnya. "Hiks... Hiks... Tidak! Aku tidak mau! Tolong...!"

Suara Nayan berubah histeris dan ketakutan, pura-pura panik luar biasa. Preman yang kalap itu terus menyeretnya tanpa ampun, hingga akhirnya Nayan terjatuh keras ke tanah. Keningnya terbentur batu pasar, menyisakan luka robek kecil dengan darah segar yang mulai menetes perlahan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Cakra melesat maju. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, ia melayangkan tendangan telak tepat di dada si preman brengsek yang sedang menyeret Nayan. Pria bertubuh besar itu terjungkal ke belakang, menabrak lapak kayu pedagang hingga hancur.

Cakra segera berlutut dan membantu Nayan untuk bangkit. "Kau berdarah, Nayan!" serunya.

Nada suaranya sarat akan kepanikan yang tak bisa disembunyikan saat melihat tetesan darah segar di pelipis gadis itu.

Refleks, Nayan menyentuh keningnya sendiri. Ia mendongak dan menatap Cakra dengan tatapan sayu. "Aku tidak apa-apa, Cakra..." lirihnya pelan.

Mendengar rintihan itu, rahang Cakra mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kepalan tangannya mengeras, dan tatapan matanya yang semula hangat kini berubah menjadi sorot mematikan yang siap menerkam mangsa.

"Riu! Bawa Nayan pergi dari sini dan obati lukanya!" perintah Cakra dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.

"Si-siap, Tuan!" Riu yang mengerti situasi sedang genting pun langsung sigap merangkul Nayan dan membimbingnya menjauh dari pusat keributan.

Begitu Nayan sudah berada di jarak yang aman, Cakra berbalik. Tanpa belas kasihan, ia menerjang ke arah preman yang tadi mengganggu Nayan. Bogem mentah dilayangkan bertubi-tubi secara membabi buta. Pasar yang tadinya riuh mendadak hening, hanya menyisakan suara tulang patah dan erangan kesakitan dari si preman yang kini nyaris tak berbentuk dan tak mampu lagi untuk bangkit.

Sreett!

Sebuah kilatan perak melesat dari arah belakang. Dua rekan preman tersebut berniat menyergap Cakra yang sedang lengah dengan sebilah belati tajam.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat darah mereka membeku. Sebelum ujung belati itu sempat merobek kulitnya, tangan Cakra bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram erat mata pisau yang tajam itu dengan telapak tangannya sendiri—menghentikan laju serangan tersebut secara paksa.

Darah segar mulai merembes dari sela-sela jari Cakra, namun wajahnya sama sekali tidak mengernyit kesakitan. Seolah tangannya telah mati rasa, Cakra malah menatap kedua preman itu dengan seringai kejam yang mengerikan.

Menyaksikan ketidakmanusiawian tersebut, kedua preman itu saling pandang dengan tubuh gemetar. Mereka menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa lawan mereka kali ini adalah seorang monster berdarah dingin.

Bersambung...

🍀🍀🍀

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!