Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Segalanya
Lin Feng keluar dari ruangan dengan langkah cepat. Matanya menyapu lorong, mencari tanda tanda keberadaan putranya. Ia langsung menuju gerbang Klan Liu, menduga Lin Han mungkin masih di jalan kota, bersiap kembali ke Klan Lin di Bilou.
Sebelum sampai di gerbang, seorang pelayan pria tua menghampirinya dengan langkah tergesa, wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Tuan Lin. Tuan Muda Lin Han menitipkan ini."
Lin Feng mengambil benda yang disodorkan. Sebuah kertas yang digulung dan sebuah cincin penyimpanan.
"Kapan dia memberikannya?" Tanya Lin Feng, suaranya mulai bergetar.
Pria tua itu menjawab dengan ragu.
"Baru saja dia memberikannya. Setelah itu dia langsung pergi."
Lin Feng segera membuka gulungan kertas itu. Tangannya gemetar saat melihat tulisan di dalamnya. Bukan menggunakan tinta, tapi darah. Darah segar yang masih berwarna merah gelap.
"Mulai hari ini, Lin Han tidak ada lagi. Tolong jaga Ibuku, Ayah. Aku mencintai kalian lebih dari diri sendiri. Selamat tinggal."
Kertas itu jatuh dari tangan Lin Feng, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia langsung berlari keluar gerbang, kakinya mendorong tanah dengan seluruh kekuatannya. Ia mencari ke setiap sudut Kota Baishi. Ke pasar, gang gang sempit, gerbang utara, barat, selatan, timur. Tapi putranya tidak ada di mana pun.
Lin Feng terus mencari, wajahnya basah oleh air mata, napasnya tersengal, tapi ia tidak berhenti.
Sementara itu, di atas sebuah pohon tinggi di luar kota, Lin Han berdiri di dahan terkuat. Angin menerpa wajahnya yang dingin. Ia menatap ke arah Kota Baishi di kejauhan, ke kediaman Klan Liu. .
"Selamat tinggal, Ayah... Ibu."
Lin Han melompat dari pohon. Tubuhnya terjun bebas dan mendarat dengan keras di tanah. Ia langsung berlari cepat, menjauhi kota, menuju arah yang sudah ditentukan.
Suara itu berbicara di dalam kepalanya.
"Cepat pergi ke Tebing Hampa. Aku akan berikan semua informasi, sekaligus kekuatan instan untukmu."
Lin Han mengangguk sambil terus berlari.
"Baik, Senior."
Suara itu terdengar terkejut. "Kau sekarang memanggilku Senior?"
Lin Han menjawab tanpa mengubah kecepatan larinya. "Anda pantas dihormati, karena berhasil menyelamatkan nyawa ibu dan ibu mertuaku."
Suara itu tertawa sinis. "Tapi pada akhirnya... Itu semua karena aku ingin tubuhmu, ingin menggunakanmu."
Lin Han terus berlari semakin kencang.
"Itu tidak mengubah fakta... bahwa semalam Senior berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa ibuku."
"Kau...!"
Suara itu terdengar kesal.
Lin Han tidak menanggapi, dan terus berlari cepat dengan kekuatan Qi miliknya. Langkah kakinya nyaris tidak menyentuh tanah, pepohonan dan bebatuan berlalu seperti bayangan.
Sesuai permintaan, ia telah meninggalkan semuanya. Kini ia hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya, dan tubuh itu sendiri.
Waktu berlalu...
Sore hampir beranjak menuju malam, Lin Han akhirnya sampai di Tebing Hampa. Sebuah tebing tinggi yang menjorok ke jurang, dengan pemandangan luas membentang di depan. Langit senja yang jingga berubah menjadi ungu gelap.
Lin Han mencari tempat yang cocok. Ia mengumpulkan ranting ranting kering dan menghidupkan api unggun. Setelah api menyala dengan stabil, ia duduk bersandar di pohon dekat api unggun, matanya menatap bara api yang menari nari.
"Senior, sekarang sudah waktunya."
Suara itu menjawab setelah jeda singkat.
"Baiklah, sekarang akan ku jelaskan. Tapi janji satu jangan pernah kehilangan kendali, dan usahakan tetap tenang, agar pembicaraan selanjutnya bisa kau pahami dengan mudah."
Lin Han mengangguk. "Saya akan berusaha, Senior."
"Bagus." Jawab suara itu.
Ada jeda sejenak. Hanya suara gemerisik api yang terdengar. Lalu suara itu berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan dan hati hati.
"Dalang di balik penyerangan Klan Liu adalah... Sima Yanzhen."
Deg!
Jantung Lin Han seperti berhenti berdetak. Matanya langsung memerah, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku kukunya menembus kulit telapak tangan, darah menetes ke tanah. Ingin menghancurkan sesuatu, ingin segera terbang ke Sekte Yanguo dan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.
"Tenanglah!" Teriak suara itu di dalam kepalanya.
Lin Han menarik napas panjang, lalu membuangnya, dan melakukannya berulang kali.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya ia berhasil. "Baiklah, Senior. Anda bisa lanjutkan."
Suara itu menghela napas lega. "Alasan dia melakukan itu seperti yang mungkin sudah kau duga. Dia ingin... istrimu."
Lin Han hanya mengangguk pelan. Tidak ada kata kata yang keluar, ia sudah menduga itu sejak awal. Cara Sima Yanzhen menatap Liu Mei, permintaannya yang tidak sopan di aula, nasihatnya agar Lin Han ikut ke Gunung Jati, semuanya sekarang masuk akal.
Suara itu melanjutkan. "Kau tahu dia murid Sekte Yanguo, bukan?"
Lin Han mengangguk.
"Sekte Yanguo merupakan sekte menengah di benua ini. Leluhur mereka, jika aku tidak salah, berada di Core Formation Puncak, setengah langkah menuju Nascent Soul. Pemimpin sekte mereka di Core Formation Akhir, lalu beberapa murid inti di Core Formation Awal. Dan yang terkuat di antara para murid inti adalah... Sima Yanzhen."
Lin Han hanya diam. Menyerap setiap informasi seperti spons kering.
Suara itu melanjutkan. "Aku bisa memberikanmu kekuatan instan untuk melawan Core Formation Puncak. Tapi mungkin kau tidak akan bertahan lama. Tubuhmu tidak akan mampu menahan kekuatan yang didapatkan secara instan. Efek sampingnya bisa sangat parah, dan kematian adalah kemungkinan yang paling besar."
Lin Han menjawab tanpa ragu. "Saya siap. Bahkan jika tubuhku hancur."
Suara itu menjadi sinis. "Jika tubuhmu hancur... aku akan pakai tubuh kuda?"
Lin Han terdiam. Ia lupa bahwa tubuhnya adalah milik suara ini sekarang. Hancurnya tubuh berarti hancurnya kesempatan suara itu untuk kembali hidup.
Suara itu menghela napas lagi. "Lupakan itu sejenak. Sekarang katakan... apa keinginan terakhirmu sebelum aku menggunakan tubuhmu nanti?"
Lin Han terdiam cukup lama. Matanya menatap matahari yang mulai menghilang di ufuk barat, warna jingga perlahan digantikan oleh kegelapan, bintang bintang mulai bermunculan.
"Aku ingin mengantarkan istriku kembali, paling tidak sampai di gerbang Kota Baishi."
Suara itu terdiam sejenak, lalu menjawab.
"Baiklah, aku setuju."
"Terima kasih, Senior." Jawab Lin Han pelan.
Suara itu tidak menjawab.
Kemudian ia mulai menjelaskan banyak hal. Tentang Sekte Yanguo, tentang formasi pertahanan mereka, tentang kekuatan dan kelemahan para tetua mereka.
Setelah selesai, suara itu mengarahkan.
"Saat bertarung nanti, tidak perlu menggunakan rencana rumit. Cukup datang ke depan hidung mereka, hancurkan formasi sekte, hancurkan sekte, bawa wanitamu, lalu kembali ke Baishi."
Lin Han mendengarkan dengan saksama.
"Namun untuk melakukan itu, kita berdua harus berbagi kesadaran dan kendali tubuh. Agar saat kritis aku bisa menyelamatkan tubuhmu. Juga kita bisa berbagi pemahaman tentang serangan apa yang akan digunakan, dan tubuhmu menjadi tidak terlalu terbebani. Aku juga tau, kau pasti tidak ingin aku terlalu ikut campur. Karena itu... aku memutuskan untuk tidak mengendalikanmu sepenuhnya. Kau yang akan bertarung, dan aku hanya akan membantu di saat saat kritis."
Lin Han hanya bisa setuju, apapun itu. Sudah sejauh ini, tidak ada jalan mundur.
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..