NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Jeratan Sang Penguasa

Pagi itu, Arlan terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat.

Sisa-sisa alkohol semalam masih membekas di tubuhnya, memberikan rasa pahit di pangkal lidah.

Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa panas yang membakar dadanya setiap kali ia mengingat tawa lepas Kinara bersama pria bernama Devan itu.

Bagi Arlan, melihat Kinara bahagia adalah sebuah penghinaan terhadap egonya, dan melihatnya bahagia bersama pria lain adalah sebuah pernyataan perang yang harus ia menangkan.

​Ia duduk di tepi ranjangnya yang luas, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di depannya.

Arlan yang angkuh tidak akan membiarkan dirinya kalah oleh seorang pria yang hanya mengenakan kemeja flanel gulung.

Jika ia tidak bisa mendapatkan kembali hati Kinara dengan cara yang normal, maka ia akan menggunakan satu-satunya bahasa yang ia kuasai dengan sempurna: Kekuasaan.

​"Maya, masuk ke ruanganku sekarang. Batalkan semua agenda pagi ini," perintah Arlan melalui telepon kantornya sepuluh menit setelah ia sampai di gedung Arlan Group.

Suaranya dingin, datar, dan tidak menerima bantahan.

​Maya masuk dengan wajah tegang, membawa tablet dan beberapa berkas.

"Iya, Pak Arlan? Ada hal darurat?"

​"Cari tahu perusahaan tempat Kinara bekerja. Aku ingin detail lengkapnya dalam satu jam. Siapa pemiliknya, apa bidangnya, dan yang paling penting, apakah mereka memiliki keterkaitan bisnis sekecil apa pun dengan Arlan Group atau anak perusahaan kita," ucap Arlan sambil menyesap kopi hitamnya yang terasa hambar.

​Tidak butuh waktu lama bagi Maya untuk kembali.

Sebagai sekretaris CEO bertangan dingin, Maya tahu bagaimana cara bekerja cepat di bawah tekanan.

"Ibu Kinara bekerja di sebuah agensi kreatif kecil yang sedang naik daun bernama Bright Media. Pemiliknya adalah Devan Pratama. Ternyata, agensi itu saat ini sedang mengerjakan proyek kampanye digital besar untuk salah satu anak perusahaan kita, Lumina Cosmetic."

​Seringai tipis dan dingin muncul di wajah Arlan.

Keberuntungan nampaknya sedang berpihak padanya.

Devan ternyata bukan hanya sekadar "teman" atau pria asing di trotoar, pria itu adalah seseorang yang masa depan bisnisnya berada tepat di bawah telapak kaki Arlan.

​"Hubungi direktur Lumina Cosmetic. Katakan pada mereka untuk membatalkan semua kontrak dengan Bright Media efektif hari ini. Tidak perlu menunggu sampai besok," perintah Arlan tanpa belas kasihan.

​Maya tertegun, matanya membelalak.

"Tapi Pak... proyek itu sudah berjalan delapan puluh persen. Tim Bright Media sudah bekerja siang malam, dan jika dibatalkan sepihak seperti ini, agensi kecil seperti mereka bisa bangkrut seketika karena mereka sudah mengeluarkan banyak modal awal. Kita juga harus membayar penalti yang besar."

​Arlan menatap Maya dengan tajam, tatapan yang sanggup membuat siapa pun membeku.

"Apakah aku terlihat peduli dengan uang penalti itu? Atau apakah aku bertanya tentang nasib agensi kecil itu? Lakukan saja. Katakan pada mereka hasil kerjanya tidak memenuhi standar Arlan Group. Titik."

​Di kantor Bright Media yang sederhana namun penuh energi kreatif, suasana mendadak berubah menjadi mencekam.

Devan menatap layar komputernya dengan wajah yang pucat pasi. Email pemutusan kontrak dari Lumina Cosmetic baru saja masuk, dan isinya sangat tidak masuk akal.

​Kinara, yang sedang menyusun draf konten untuk kampanye minggu depan, menyadari kegelisahan di wajah Devan.

"Ada apa, Devan? Wajahmu pucat sekali."

​Devan menghela napas panjang, ia mencoba menyembunyikan masalah itu agar tidak membebani Kinara, namun ia tahu ini adalah masalah hidup dan mati perusahaannya.

"Kontrak terbesar kita dibatalkan, Kinara. Secara sepihak. Tanpa alasan teknis yang jelas. Mereka hanya bilang 'tidak sesuai standar'. Jika kita kehilangan proyek ini, aku tidak tahu bagaimana cara menggaji karyawan bulan depan. Kita sudah mempertaruhkan semua modal di sini."

​Jantung Kinara seolah berhenti berdetak sesaat.

Ia merasa ada sebuah batu besar yang menghantam perutnya.

Ia tahu persis siapa yang berdiri di balik kekejaman ini.

Tidak ada orang lain yang cukup gila dan cukup kejam untuk menghancurkan mata pencaharian belasan orang hanya demi memuaskan ego pribadi selain Arlan.

​"Ini karena aku, kan?" tanya Kinara lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa bersalah yang luar biasa.

​"Jangan menyalahkan dirimu, Kinara. Ini urusan persaingan bisnis, mungkin," jawab Devan, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur.

​Namun Kinara tidak bodoh.

Ia tahu Arlan sedang menggunakan Devan untuk memancingnya keluar.

Kinara menyambar tasnya dan langsung melangkah keluar dari kantor tanpa memedulikan panggilan Devan. Ia tahu ke mana ia harus pergi. Ia harus menghadapi monster itu sebelum dia menghancurkan orang-orang baik yang telah memberinya harapan.

​Arlan sedang menyesap wine mahal di ruang kerjanya yang kedap suara saat pintu jati besar itu didorong terbuka dengan paksa. Kinara berdiri di sana, napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan rasa benci yang mendalam.

​"Kau keterlaluan, Arlan! Kau benar-benar iblis!" teriak Kinara, suaranya bergetar hebat.

​Arlan tidak bergeming. Ia memutar kursi kebesarannya perlahan, menatap Kinara dengan tatapan dingin yang seolah sedang menikmati pemandangan di depannya.

"Ah, akhirnya istriku yang hilang sudah tahu jalan pulang. Ada apa, Kinara? Kenapa wajah cantikmu terlihat begitu berantakan? Apakah dunia luar tidak seramah yang kau bayangkan?"

​"Berhenti bersikap munafik! Cabut pembatalan kontrak Bright Media sekarang juga! Mereka tidak salah apa-apa, Arlan. Devan tidak tahu apa-apa! Jangan sangkut pautkan urusan pribadi kita yang menjijikkan ini dengan bisnis orang lain!"

​Arlan berdiri, berjalan mendekati Kinara dengan langkah predator. Ia berhenti tepat di depan Kinara, hingga aroma parfum maskulinnya yang dulu sangat Kinara puja kini terasa seperti racun yang mencekik paru-parunya.

​"Dunia bisnis itu kejam, Sayang. Sama kejamnya dengan seorang istri yang pergi meninggalkan suaminya tanpa izin," bisik Arlan tepat di telinga Kinara.

"Aku bisa menyelamatkan perusahaan temanmu itu dalam satu kedipan mata. Aku bisa membuat mereka kaya raya dalam semalam. Tapi tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini. Kau tahu itu, kan?"

​Kinara mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

"Apa yang kau inginkan, Arlan? Katakan saja secara langsung!"

​"Pulang," jawab Arlan singkat dan tegas.

"Kembalilah ke mansion. Bakar surat cerai sampah itu. Jadilah Nyonya Arlan yang penurut lagi seperti dulu, dan aku akan memberikan kontrak sepuluh kali lipat lebih besar untuk agensi temanmu itu. Aku bahkan bisa membiayai kantor baru untuknya."

​Kinara menatap Arlan dengan rasa jijik yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Pria di depannya benar-benar sudah kehilangan sisi kemanusiaannya.

Bagi Arlan, segalanya adalah transaksi.

Cinta, pernikahan, bahkan hidup seseorang hanyalah angka di atas kertas.

​"Kau pikir kau bisa membeli hidupku lagi dengan cara menghancurkan orang lain?" tanya Kinara dengan suara serak.

"Kau menghancurkan karir orang-orang yang sudah bekerja keras hanya untuk memaksaku kembali ke penjara yang kau sebut rumah itu?"

​"Sebut saja ini sebuah negosiasi bisnis yang sangat menguntungkan bagi temanmu,"

Arlan mencoba mengusap pipi Kinara, namun Kinara menepisnya dengan sangat kasar hingga terdengar bunyi tamparan pelan di tangan Arlan.

​"Aku tidak akan kembali, Arlan. Tidak akan pernah!" tegas Kinara.

"Jika kau menghancurkan Bright Media, aku akan mencari cara lain untuk membantu mereka. Aku akan bekerja dua kali lebih keras untuk membayar kerugian Devan. Tapi aku tidak akan pernah menjual harga diriku lagi padamu. Kau boleh punya semua uang di dunia ini, tapi kau tidak akan pernah punya aku lagi!"

​Arlan tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat kesepian namun tetap angkuh.

"Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan melihat orang-orang yang membantumu menderita karenamu, Kinara. Aku punya seluruh waktu di dunia untuk menunggumu merangkak kembali. Dan aku punya seluruh uang di dunia untuk memastikan tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang berani menerimamu bekerja selain aku."

​Kinara berbalik dan pergi dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Namun begitu pintu tertutup, air matanya jatuh tak terbendung.

Ia merasa hancur.

Ia tidak ingin Devan menderita karena kehadirannya, tapi ia juga tidak sanggup kembali ke dalam neraka yang diciptakan Arlan.

​Malam itu, Arlan kembali duduk sendirian di meja makan panjangnya yang dingin.

Kontrak belum dicabut, dan Kinara tidak kunjung kembali.

Ia merasa menang karena telah menunjukkan kekuasaannya, tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ia merasakan kehampaan yang semakin lebar.

Kemenangan yang ia raih malam itu terasa sangat hambar, sepahit kopi yang ia minum di pagi hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!