"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Mataku perlahan terbuka, namun langit-langit kamar yang mewah itu masih sama. Aku belum mati. Aroma obat-obatan yang tajam menusuk hidungku. Di sudut ruangan, aku melihat Erlan sedang berbicara dengan seorang dokter pria yang tampak gemetar sambil menutup tas medisnya.
"Hanya luka permukaan, Tuan Besar. Dia pingsan karena syok dan kelelahan fisik yang ekstrem," bisik dokter itu.
Aku berdecak lirih, sebuah tawa getir lolos dari bibirku yang pecah. "Kenapa... kenapa aku tidak mati saja?" bisikku parau.
Suara geraman rendah membuatku menoleh. Darrel berdiri di sisi tempat tidur, menatapku dengan mata yang memerah karena amarah yang tertahan. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Jika kemarin dia dingin, kali ini dia tampak seperti gunung berapi yang siap meledak.
"Kau pikir itu lucu?" desis Darrel. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. "Kau melakukan drama bunuh diri ini hanya untuk membuatku terlihat seperti pengecut di depan ayahku? Kau ingin mati? Di rumah ini, kau tidak punya hak bahkan untuk menghentikan napasmu sendiri tanpa izin dariku!"
Aku memalingkan wajah, air mata kembali luruh membasahi bantal sutra yang dingin. Aku melirik pergelangan tanganku. Perban putih melingkar di sana. Ternyata benar, aku bahkan gagal untuk mengakhiri penderitaanku sendiri. Aku terlalu lemah, atau mungkin takdir memang ingin menyiksaku lebih lama.
Erlan mendekat, ia tidak terlihat cemas sedikit pun. Ia justru merapikan jasnya seolah tidak ada darah yang baru saja tumpah di ruangan ini.
"Sudah bangun?" tanya Erlan datar. Ia berbalik ke arah pintu dan menjentikkan jarinya. "Masuk! Lakukan tugas kalian!"
Rombongan maid yang tadi pagi masuk kembali. Kali ini mereka membawa lebih banyak peralatan. Wajah mereka jauh lebih pucat dari sebelumnya, mungkin ketakutan melihat sisa darah di lantai yang sedang dibersihkan oleh pelayan lain.
"Ganti gaunnya. Cari gaun yang berlengan panjang untuk menutupi perbannya," perintah Erlan tanpa belas kasihan. "Dan rias wajahnya agar tidak terlihat seperti mayat. Kita berangkat sepuluh menit lagi."
"Tuan Erlan, kumohon..." rintihku saat para pelayan mulai mengangkat tubuhku yang lemas.
"Cukup, Lily!" bentak Erlan, suaranya menggelegar. "Kesabaranku sudah habis. Kau ingin bermain dengan nyawamu? Silakan. Tapi setiap kali kau mencoba melukai dirimu, aku akan mengirim satu jari milik Bibi Elsa ke kamar ini sebagai peringatan. Mengerti?"
Aku membeku. Ancaman itu telak menghantam jantungku. Aku menatap Erlan dengan horor, menyadari bahwa pria ini benar-benar iblis.
Aku tidak lagi melawan saat para maid melepas pakaianku dan menggantinya dengan gaun pengantin satin berlengan panjang yang megah. Mereka menutupi luka di tanganku dengan kain sutra yang indah, seolah-olah tidak ada kepedihan di baliknya. Riasan tebal kembali diaplikasikan di wajahku, menyembunyikan sembab di mataku dan pucat di bibirku.
Darrel masih berdiri di sana, mengawasiku dengan tatapan benci. Saat para pelayan selesai, Erlan mengangguk puas.
"Bawa dia ke mobil," ucap Erlan.
Darrel melangkah maju, mencengkeram lenganku yang tidak terluka dan menarikku paksa untuk berdiri. "Jalan," perintahnya pendek.
Aku berjalan dengan langkah terseret, ditopang oleh tangan kekar Darrel yang terasa seperti belenggu besi. Kami berjalan melewati lorong-lorong mansion yang dingin, menuju iring-iringan mobil hitam yang sudah menunggu di depan. Hari ini, di bawah langit yang mulai terang, aku akan menyerahkan seluruh hidupku pada pria yang membenciku, di hadapan Tuhan yang seolah-olah sedang memalingkan wajah dariku.
***
Iring-iringan mobil mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, seolah-olah dunia harus menepi demi rombongan Grisham. Aku duduk di kursi belakang, bersandar pada pintu mobil, menatap kosong ke luar jendela. Di sampingku, Darrel duduk kaku dengan aura permusuhan yang masih pekat.
Tiba-tiba, suara decit rem yang memekakkan telinga terdengar. Tubuhku terlempar ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.
BRAKK!
Mobil kami menghantam sesuatu—atau seseorang. Jantungku mencuat ke tenggorokan saat melihat sesosok tubuh renta berpakaian lusuh terpelanting ke pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu mobil, namun sebuah tangan kekar mencekal lenganku dengan sangat kuat.
"Tetap di tempatmu, Lily! Biar anak buahku yang mengurusnya!" bentak Darrel, matanya berkilat marah karena aku mencoba keluar tanpa izin.
"Lepaskan! Seseorang tertabrak!" aku menyentak tanganku dengan tenaga yang tidak kusangka aku miliki.
Aku berhasil keluar. Napas duniaku seolah berhenti saat aku mendekati sosok wanita tua yang tergeletak di aspal. Rambut putihnya yang disanggul rapi kini berantakan, tertutup debu jalanan. Saat wajahnya terlihat, dadaku terasa sesak oleh rasa rindu yang luar biasa sekaligus ketakutan yang mencekam.
"Nenek? Nenek Zela?!" teriakku histeris.
Itu benar-benar dia. Nenek Zela, satu-satunya saudara dari pihak ibu yang sangat menyayangiku. Beliau tinggal di sebuah desa terpencil yang jaraknya berjam-jam dari kota ini. Seharusnya beliau berada di sana, menanam sayur di kebunnya, bukan di sini, di bawah moncong mobil klan mafia.
"Lily...?" suara nenek terdengar lemah, nyaris seperti bisikan. Matanya yang mulai rabun menatapku dengan nanar. "Cucuku... benarkah ini kau?"
Aku berlutut di aspal, mengabaikan gaun pengantinku yang kini kotor dan robek di bagian bawah. Aku memangku kepala nenek yang terasa ringan. "Kenapa Nenek ada di kota? Nenek mencari Lily?"
Nenek berusaha menggapai wajahku dengan tangannya yang keriput dan gemetar. "Nenek bermimpi buruk... Nenek merasa kau dalam bahaya... Lily, kenapa kau memakai baju ini? Siapa mereka?"
Langkah kaki yang berat mendekat di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Darrel.
"Lily, masuk ke mobil sekarang. Ambulans akan datang," suara Darrel terdengar rendah, namun kali ini ada sedikit nada terkejut yang ia coba sembunyikan.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan nenekku!" aku berbalik, menatap Darrel dengan mata menyalang. "Kau lihat? Nenekku menempuh perjalanan jauh dari desa hanya karena dia merasa aku tidak aman! Dan dia benar! Aku sedang dibawa menuju neraka oleh kalian!"
Darrel menatap Nenek Zela sejenak, lalu menatapku. Tangannya mengepal. Di belakangnya, Erlan turun dari mobil depan dengan wajah tidak sabar.
"Apa yang terjadi? Kenapa kita berhenti?" suara Erlan menggelegar.
"Nenekku, Tuan Erlan! Mobil kalian menabrak nenekku!" teriakku berani.
Erlan berjalan mendekat, menatap nenekku seolah beliau hanyalah kerikil yang menghambat perjalanannya. "Bawa wanita tua ini ke rumah sakit terdekat. Kita tidak punya waktu untuk urusan remeh seperti ini. Upacara akan dimulai tiga puluh menit lagi."
"Remeh?" suaraku meninggi. "Dia adalah keluargaku! Satu-satunya keluargaku yang tersisa!"
Aku memeluk Nenek Zela lebih erat. Hatiku hancur berkeping-keping. Nenek datang ke kota untuk menyelamatkanku, tapi justru klan pria yang akan kunikahi inilah yang mencelakainya. Takdir macam apa ini? Apakah Grisham akan menghancurkan setiap orang yang kucintai satu per satu?
Satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Nenek Zela. Tidak setelah apa yang mereka lakukan padaku.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya