Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Rasa pegal dan kaku yang menusuk di bagian punggung akhirnya berhasil membangunkan kesadaran Xin Yi.
Ia berniat mengubah posisi tidur, mencoba berbaring menyamping agar otot-otot yang tegang bisa sedikit rileks. Namun baru saja ia berusaha memutar tubuhnya...
Hmm?
Sesuatu yang berat dan hangat menahan pinggangnya dari samping, membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
Dengan rasa penasaran dan kepala yang masih terasa berat serta berdenyut, gadis itu perlahan membuka matanya yang berat. Ia menoleh pelan..
"???"
Di sana, duduk bersandar di tepi ranjang dengan kepala tertunduk dalam diatas kasur, terlihat sosok tinggi besar yang sedang tertidur pulas.
Quan Yubin.
Pria itu memeluk pinggang Xin Yi dengan lengannya yang kuat, menjadikan pinggang kecil gadis itu sebagai sandaran.
Wajah tampannya yang biasanya dingin dan tegas kini terlihat sangat lelah. Mata cekung, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah kelopak matanya, menandakan betapa lama dan lelahnya ia.
"......"
Jantung Xin Yi berdegup kencang tak karuan, membuat dadanya terasa akan meledak.
Kenapa dia ada di sini?! batinnya berteriak bingung.
Bukankah aku sudah menolak dan memarahinya semalam?! Kenapa dia masih berani berada sedekat ini dan memelukku seenaknya?!
Meskipun di hatinya masih tersisa rasa kesal dan bingung, namun anehnya... rasa hangat yang berasal dari tubuh pria itu justru membuat tubuhnya terasa sedikit lebih nyaman dan hangat.
Xin Yi hanya bisa menatap wajah tenang itu dalam diam, bingung menelisik perasaannya sendiri yang semakin hari semakin rumit dan tidak bisa ia mengerti.
Xin Yi lalu memindai sekeliling ruangan. Ya, ini jelas kamar rawat inap rumah sakit yang mewah. Dan ternyata, tidak hanya Quan Yubin yang setia menjaga.
Di sudut ruangan, Zhao Yun dan Rong Yuan terlihat tertidur pulas di atas sofa panjang.Wajah mereka juga tampak lelah luar biasa, terguling malas dengan posisi tidur yang tidak karuan.
Namun, di mana Kakaknya Xin Yuning?
Pertanyaan itu belum sempat terlintas lama, saat pintu kamar perlahan terbuka.
Xin Yuning masuk dengan membawa air mineral dan handuk basah, tampak baru saja mencuci muka untuk menyegarkan diri di suatu tempat karena takut menganggu tidur adiknya.
Saat dia mendongak, matanya langsung bertemu dengan pandangan Xin Yi.
"......"
Gadis itu menatapnya dengan mata bulat gelapnya yang jenaka namun memohon.Gerakan matanya sedikit melirik ke arah sebelahnya, lalu kembali menatap Xin Yuning seolah berkata dengan jelas:
'Kakak... bisakah kau singkirkan orang di dariku!'
Itu jelas merujuk pada Quan Yubin yang masih memeluk pinggangnya dan tertidur sangat pulas, tidak sadar dunia sudah berubah.
Melihat ekspresi wajah adiknya yang panik namun tak berdaya itu...
Xin Yuning entah kenapa justru merasa geli.
Bukannya marah atau memarahi gadis nakal ini yang sudah membuat mereka ketakutan setengah mati dan begadang sepanjang malam, dadanya justru terasa ingin tertawa lepas melihat pemandangan ini.
Namun di saat yang sama ia juga merasa tak berdaya melihat betapa rumitnya hubungan dua orang ini.
Ia menggeleng pelan sambil menyembunyikan senyumnya, lalu berjalan mendekati sisi ranjang menghampiri adik kesayangannya itu.
Xin Yi masih terpaksa mempertahankan posisi itu, tapi rasa sakit di punggung dan pinggangnya makin menjadi-jadi karena dipaksa menahan berat badan pria di belakangnya.
"Kakak..." suaranya terdengar parau dan lemah, namun nadanya memelas. "...kalau terus begini, pinggangku bisa patah."
Mendengar itu, Xin Yuning pun segera beralih fokus. Ia tahu kondisi punggung adiknya sedang sangat kritis.
Dengan hati-hati, tangan besarnya menyentuh kening gadis itu.
"......" Kenapa menyentuh keningnya? Gadis itu tak mengerti.
Wajah Xin Yuning langsung terlihat jauh lebih lega dan rileks.Demam tinggi yang tadi mengerikan itu sudah benar-benar mereda. Suhu tubuh Xin Yi sudah kembali normal dan hangat, tidak lagi panas membara seperti semalam.
Beban berat di dadanya seakan hilang seketika.
"Syukurlah..." bisiknya pelan penuh rasa lega."Demam mu sudah turun. Bagus, itu kabar baik sekali."
Ia menatap adiknya dengan tatapan lembut yang jarang terlihat. "Kau mau diganti posisi tidur? Sabar sebentar, Kakak coba pindahkan si 'babi tidur ini' untuk mu."
Namun sebelum sempat Xin Yuning bergerak mengusir atau memindahkan tangan pria itu, sosok di belakang tiba-tiba bergerak.
Quan Yubin ternyata sudah bangun.
Mata tajamnya terbuka perlahan, masih terlihat sedikit bingung dan sayu, namun refleksnya tetap cepat. Saat ia menyadari gadis di pelukannya sudah sadar dan menatapnya, tatapan itu langsung berubah menjadi lembut.
Melihat pria itu sudah sadar dan tidak lagi tidur pulas, Xin Yi tanpa sadar menghela napas panjang lega. Setidaknya sekarang dia tidak perlu merasa seperti sedang ditahan oleh batu besar yang tidak berakal.
"Kakak... aku mau duduk," ucap Xin Yi pelan.
Ia berusaha berbalik badan dan mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk bersandar, namun rasa pegal di punggung membuat gerakannya terbatas dan berat.
Melihat itu, Xin Yuning dan Quan Yubin langsung bergerak serentak tanpa perlu berkata apa-apa lagi."hati-hati..."
Satu tangan Xin Yuning menopang punggung adiknya dengan sangat hati-hati, menghindari area luka, sementara tangan lainnya membantu menegakkan bahu.
Di sisi lain, Quan Yubin dengan sigap mengatur menaikan posisi ranjang dan menaruh bantal-bantal tebal di belakang punggung gadis itu agar bisa menjadi sandaran yang empuk dan nyaman.
Tangannya juga ikut membantu menopang pinggang Xin Yi agar tidak terkilir.
Dalam hitungan detik, Xin Yi berhasil duduk dengan posisi yang jauh lebih nyaman.
Perut Xin Yi mulai berbunyi pelan, menandakan rasa lapar yang mulai menyerang. Ia menatap Xin Yuning dengan mata yang memohon, suaranya masih lemah namun jelas.
"Kakak... aku lapar. Bisakah aku makan sekarang?"
Xin Yuning tersenyum tipis, lalu mengusap kepala adiknya pelan.
"Dokter bilang karena kondisimu sudah stabil dan demam turun, kamu boleh makan sedikit-sedikit. Tapi harus yang lunak dan mudah ditelan, jangan yang keras-keras dulu," jawabnya lembut.
"Karena infeksi tadi membuat tubuhmu banyak mengeluarkan tenaga, jadi kamu butuh nutrisi yang cukup buat pulih. Kita pesankan bubur ayam hangat atau sup sayur yang encer saja ya? Nanti perlahan-lahan baru bisa makan makanan biasa lagi," tambahnya menjelaskan.
Di sampingnya, Quan Yubin yang tadi diam saja kini langsung bergerak sigap.
"Aku yang pesankan sekarang," ucapnya cepat sambil merogoh ponselnya.
"Kamu mau bubur ayam atau sup ikan? Atau ada yang lain yang kamu mau?" tanyanya dengan nada perhatian yang tak bisa disembunyikan.
Xin Yi hanya mengangguk pelan. "Bubur..."
"Siap, tunggu sebentar..." jawab Quan Yubin lalu segera menekan nomor untuk memesan makanan, seolah tak mau kalah dalam hal melayani gadis itu.
Namun baru saja Quan Yubin hendak menekan tombol panggil, pintu kamar terbuka dan seorang perawat masuk dengan catatan medis di tangannya.
Wanita itu tersenyum ramah saat melihat Xin Yi sudah sadar, lalu segera memeriksa tensi dan suhu tubuh gadis itu serta mengecek alat pemantau.
"Bagus, kondisinya semakin stabil, Nona. Tapi ada satu aturan yang harus dipatuhi," ucap perawat itu lembut namun tegas.
"Untuk saat ini mohon jangan memberikan makanan apa pun yang dibeli dari luar rumah sakit. Semua asupan nutrisi pasien harus yang disiapkan langsung oleh dapur rumah sakit agar terjamin kebersihan dan komposisinya sesuai dengan kondisi medis."
Ia melirik jam di dinding. "Makanan pagi akan diantar tepat pukul 07.00 nanti. Mohon ditahan sebentar ya, tinggal beberapa jam lagi."
"......" Tapi sekarang masih jam 05.00 pagi!
Wajah Xin Yi langsung tampak kecewa luar biasa. Perutnya yang tadi sudah keroncongan kini terasa makin perih mendengar jawaban itu.
Xin Yuning yang melihat ekspresi sedih adiknya langsung tertawa kecil. "Dengar itu? Perintah dokter. Mau tidak mau harus sabar, Yi Yi. Demi penyembuhan lukamu juga."
Quan Yubin pun menghela napas, menyimpan kembali ponselnya. Ia menatap Xin Yi dengan tatapan memohon maaf namun juga tegas.
"Dengar kata perawat. Tahan sebentar lagi..."
Xin Yi menghela napas panjang pasrah. Mau tidak mau ia harus menahan rasa laparnya itu.
Matanya lalu beralih menatap Xin Yuning saat teringat orang tuanya. "Kakak... tolong kabari Ayah dan Ibu. Bilang kalau aku sudah sadar dan kondisinya lebih baik."
Namun ia segera menambahkan dengan nada lembut. "Tapi... jangan suruh mereka buru-buru ke sini sekarang. Mereka pasti sangat lelah dan kurang tidur semalam. Suruh mereka istirahat yang cukup dulu, baru datang nanti setelah aku makan."
Gadis itu sangat menyayangi orang tuanya; ia tidak tega melihat mereka—keduanya pasti panik dan kelelahan karena ulahnya.
"Baiklah, Kakak mengerti," jawab Xin Yuning sambil mengangguk setuju. "Kakak akan telepon mereka sekarang dan sampaikan pesanmu."
Suasana yang tadinya hening sedikit demi sedikit mulai berubah. Ternyata, suara percakapan mereka berhasil membangunkan dua orang lainnya yang tertidur di sofa.
Zhao Yun dan Rong Yuan menguap lebar, menggaruk kepala mereka yang terasa berat, lalu perlahan sadar bahwa suasana di kamar itu sudah tidak lagi mencekam.
Mata mereka terbelalak saat melihat Xin Yi sudah duduk bersandar dengan mata terbuka!
"Akh! YI YI!!" seru Zhao Yun langsung melompat bangun dari sofa.
"Kau sudah sadar! Syukurlah! Hei Rong Yuan, bangun! Si kecil sudah bangun!"
Rong Yuan rasa kantuknya langsung hilang, berganti dengan rasa lega yang luar biasa. Mereka berdua segera berjalan mendekat ke arah ranjang, mengelilingi gadis itu.
"Bagaimana perasaanmu, Yi Yi? Masih sakit?" tanya Rong Yuan penuh perhatian.
Melihat ketiga pria di depannya yang tampak kusut dan lelah namun wajahnya penuh kebahagiaan, Xin Yi tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Sekarang sudah tidak sesakit semalam," ucapnya menenangkan mereka.
"Tapi kalian... silahkan cuci muka dulu."
Mendengar itu, Zhao Yun dan Rong Yuan langsung tertawa renyah.
"Haha baiklah! Ya sudah kita cuci muka dulu!" seru Zhao Yun sambil menyeret Rong Yuan pergi ke arah kamar mandi dalam untuk membasuh diri.
Kini, perhatian Xin Yi beralih perlahan menatap sosok yang duduk paling dekat dengannya.
Quan Yubin.
Pria itu masih setia duduk di sana, menatapnya dengan tatapan lembut yang tak berkedip.
"Kamu... pulang saja," ucap Xin Yi tiba-tiba dengan nada datar.
"......"
Suasana seketika hening membeku.