Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik mihrab
Dunia di sekitar Aira seolah kehilangan gravitasi. Kata-kata Zivanna dan catatan di buku harian Azlan berputar-putar seperti badai di kepalanya. Saudara seayah? Bagaimana mungkin? Selama ini, ia tumbuh besar dengan keyakinan bahwa ia adalah putri tunggal dari Ayah Amir dan Bunda Aminah. Jika Azlan adalah saudaranya, itu berarti salah satu dari orang tua mereka telah melakukan pengkhianatan besar di masa lalu.
Aira menatap Zivanna dengan tatapan kosong. "Kenapa... kenapa kamu memberitahuku sekarang? Kenapa tidak sebelum Azlan meninggal?"
Zivanna menyeka air matanya, jemarinya yang gemetar merapikan kembali cadarnya. "Azlan melarangku, Mbak. Dia takut. Dia bilang, jika rahasia ini terbongkar saat dia masih hidup, Bunda Aminah tidak akan segan-segan menghancurkan pesantren Al-Husayn. Azlan ingin menyelamatkan Mbak Aira, tapi dia juga ingin menjaga kehormatan Babanya."
"Lalu bagaimana dengan bayimu?" tanya Aira parau. "Siapa ayahnya?"
Zivanna terdiam cukup lama. Matanya menatap ke lantai butik yang mengkilap. "Ayahnya adalah orang yang sangat berkuasa, Mbak. Seseorang yang membuat Azlan rela mengorbankan namanya sendiri agar aku tetap selamat. Tapi yang jelas... itu bukan Pak Ghibran."
Setelah Zivanna pergi, Aira terduduk di lantai butiknya yang sunyi. Buku harian itu terasa sangat berat di tangannya. Ia ingin membencinya, ingin membakarnya, tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Ia membuka halaman demi halaman. Di sana, Azlan menuliskan kegelisahannya, rasa bersalahnya karena mencintai wanita yang ternyata memiliki pertalian darah dengannya, dan ketakutannya pada sosok Ghibran yang dianggapnya terlalu ambisius.
Kantor Unit Bisnis Al-Husayn, 14:00 WIB.
Ghibran sedang menatap foto satelit sebuah lahan di pinggiran kota yang baru saja dibeli oleh perusahaan Ayah Amir menggunakan dana talangan dari pesantren. Ia merasa ada yang tidak beres dengan transaksi ini. Azka masuk tanpa mengetuk pintu, wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya.
"Ghib, gue baru saja dapat info dari orang dalam di bagian kependudukan," bisik Azka sambil meletakkan sebuah map di meja Ghibran. "Lo harus lihat akta kelahiran lo sendiri. Dan akta kelahiran Azlan."
Ghibran mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Azka? Aku tahu siapa orang tuaku."
"Lihat saja dulu," desak Azka.
Ghibran membuka map itu. Ia tertegun. Di akta kelahiran Azlan, nama ibu kandungnya memang tertulis Syarifah Intan. Namun, di akta kelahiran Ghibran, kolom nama ibu dikosongkan secara hukum, hanya tercatat nama Habib Fauzan Al-Husayn sebagai ayah.
"Apa ini?" suara Ghibran terdengar dingin.
"Ghib, gue rasa gosip lama itu benar," ujar Azka pelan. "Baba lo pernah menikah siri dengan wanita lain sebelum resmi dengan Syarifah Intan. Dan wanita itu... menghilang tepat setelah lo lahir. Beberapa orang tua di pesantren bilang wanita itu berasal dari keluarga biasa, seorang perawat yang bekerja di klinik pesantren dulu."
Ghibran menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rahasianya mulai terbongkar satu per satu. Ia selalu merasa berbeda dari Azlan. Azlan mendapatkan semua kehangatan dari Syarifah Intan, sementara ia selalu dididik dengan keras oleh Habib Fauzan, seolah-olah ia adalah sebuah kesalahan yang harus diperbaiki.
"Siapa nama wanita itu, Azka?"
"Gue belum dapat nama pastinya, tapi gue punya satu petunjuk. Dia punya hubungan kerabat dengan... Bunda Aminah."
Ghibran memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Jadi, apakah ini alasan Azlan memintanya menjauhkan Aira dari Bundanya? Apakah Bunda Aminah tahu siapa ibu kandung Ghibran? Ataukah Bunda Aminah adalah kunci dari semua kekacauan ini?
Malam Harinya, Kediaman Al-Husayn.
Aira pulang dengan perasaan yang hancur. Ia melihat Ghibran sudah ada di rumah, sedang duduk di ruang tamu sambil membaca kitab suci. Suasana pesantren yang tenang malam itu sangat kontras dengan badai yang ada di dalam hati Aira.
"Baru pulang?" tanya Ghibran tanpa menoleh.
Aira tidak menjawab. Ia berjalan lurus menuju kamar mereka. Ghibran merasa ada yang salah, ia menutup kitabnya dan mengikuti Aira ke kamar.
Begitu pintu kamar tertutup, Aira berbalik dan melemparkan buku harian Azlan ke atas tempat tidur. "Jelaskan padaku, Kak Ghibran. Apa maksud semua ini? Apa benar aku dan Azlan adalah saudara seayah? Dan apa benar Kakak tahu siapa pembunuh ibu kandung Kakak?"
Ghibran mematung melihat buku harian itu. Ia tidak menyangka Aira akan mendapatkannya begitu cepat. Ia berjalan mendekati Aira, mencoba meraih bahunya, namun Aira menepisnya dengan kasar.
"Jawab aku!" teriak Aira dengan suara yang pecah oleh tangis. "Kenapa Kakak membiarkan pernikahan ini terjadi jika Kakak tahu ini adalah hubungan terlarang? Kenapa Kakak diam saja saat Azlan tersiksa?"
Ghibran menghela napas panjang. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan Aira, mencoba menatap istrinya itu dengan setenang mungkin.
"Aira, dengarkan aku baik-baik," ujar Ghibran dengan nada rendah yang menenangkan. "Pertama, kamu dan Azlan bukan saudara seayah. Itu adalah kebohongan yang sengaja ditanamkan Bunda Aminah ke dalam pikiran Azlan untuk menghancurkan mentalnya. Bunda Aminah ingin Azlan merasa berdosa sehingga dia bisa dengan mudah dikendalikan."
Aira tertegun. "Tapi foto itu... foto Baba dengan Bunda Aminah..."
"Itu foto lama saat mereka masih muda. Mereka memang pernah dijodohkan, tapi Baba menolak karena beliau mencintai Syarifah Intan. Bunda Aminah tidak pernah memaafkan penolakan itu. Dia menyimpan dendam selama puluhan tahun."
Aira terdiam, mencoba mencerna penjelasan Ghibran. "Lalu... siapa ibu kandung Kakak? Dan kenapa Azlan bilang Kakak berbahaya?"
Ghibran menunduk sejenak, jemarinya saling bertautan. "Azlan menganggapku berbahaya karena aku mulai mencium bau busuk dari bisnis Ayahmu. Dan soal ibu kandungku... aku baru saja tahu hari ini. Ibu kandungku adalah kakak perempuan dari Bunda Aminah. Dia meninggal saat melahirkanku karena... kelalaian medis yang disengaja oleh adiknya sendiri."
Aira menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Jadi, Bunda Aminah adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ibu kandung Ghibran?
"Kenapa Kakak masih mau menikahiku jika Ibuku sejahat itu?" tanya Aira lirih.
Ghibran berdiri, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia menatap Aira dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa iba, namun juga ada percikan emosi yang lebih dalam.
"Karena kamu tidak bersalah, Aira," bisik Ghibran. "Dan karena ini adalah satu-satunya cara untuk melindungimu dari Ibumu sendiri. Jika aku tidak menikahimu, dia akan menjodohkanmu dengan Abrisam untuk memperkuat posisinya di pesantren."
Aira merasakan jantungnya berdegup kencang. Jarak yang sangat dekat ini membuatnya merasa gugup. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Ghibran dan ketulusan dalam suaranya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi manusiawi dari suaminya yang "dingin" itu.
Tiba-tiba, lampu kamar mereka padam. Seluruh pesantren gelap gulita.
"Apa yang terjadi?" tanya Aira panik.
"Tetap di sini," ujar Ghibran sigap. Ia meraih tangan Aira, menariknya ke belakang punggungnya. "Ini bukan pemadaman biasa. Seseorang sengaja memutus aliran listrik."
Dari luar jendela, mereka melihat beberapa bayangan orang bergerak cepat menuju ndalem—kediaman Habib Fauzan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂