NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Viona

Kembali suara ketukan pintu terdengar,Arka segera mendorong Cantika untuk masuk kekamar mandi dan bersembunyi disana,dia tidak mau kalau sampai tamu yang datang mengetahui keberadaan cantika.

Setelah dirasa Aman,Arka mengatur napasnya, mengusap keringat dingin di dahinya, lalu membuka pintu utama. Di sana berdiri  Viona dengan gaun desainer berwarna merah menyala, tampak sangat cantik namun juga sangat mengancam bagi Arka saat ini.

“Hai, Baby!” Viona langsung menghambur ke pelukan Arka dan mencium pipinya.

“Kok lama banget sih bukanya?"Kenapa tadi kamu buka pintunya lama banget,sampai kakiku pegal nunggu kamu buka pintu."

“Ah … iya, aku tadi lagi di kamar mandi,” alasan Arka sambil memaksakan senyum.

Viona masuk ke dalam dengan gaya angkuhnya, meletakkan kotak kue di atas meja makan. Ia tiba-tiba mengernyitkan hidung, mengendus udara di sekitar dapur.

“Arka, kok baunya aneh ya? Bau … apa ini? Bau singkong goreng? Kamu makan makanan kampungan ya?” tanya Viona dengan nada jijik.

Arka berkeringat dingin. “Oh … itu … tadi kurir makanannya salah antar atau gimana ya, baunya nempel. Sudahlah, jangan dibahas.”

Viona kemudian berjalan menuju sofa, tetapi langkahnya terhenti di dekat meja makan. Matanya tertuju pada piring sisa makan Cantika yang belum sempat dibereskan Arka. Ada dua piring di sana.

“Lho, kamu makan sama siapa? Kok piringnya ada dua?” selidik Viona, matanya mulai memicing curiga.

Arka merasa dunianya sedang di ujung tanduk. Kebimbangan menyergapnya. Haruskah ia jujur? Tidak mungkin. Jujur berarti kehancuran. Tapi berbohong … ia sudah terlalu banyak berbohong hari ini.

“Itu… tadi ada asistenku, si Bayu, mampir sebentar buat antar laporan. Kami makan bareng,” jawab Arka, suaranya sedikit bergetar.

Viona menatap Arka lama, seolah sedang memindai kebenaran di balik mata pria itu. “Tumben Bayu makan steak sampai habis bersih gini. Biasanya dia diet kan?”

“Dia lagi lapar banget tadi. Sudahlah, Viona, aku capek banget. Bisa kita bahas yang lain?” Arka mencoba mengalihkan pembicaraan, merangkul pundak Viona dan membawanya duduk di sofa, menjauh dari area dapur dan kamar tamu.

Viona berdiri, merapikan gaun merahnya yang ketat. “Aku haus. Mau minum jus jeruk, kamu punya?”

Arka tersentak. “Eh, biar aku ambilkan!”

“Nggak usah, aku bisa ambil sendiri. Kamu kan capek,” Viona mengedipkan mata dan melenggang menuju dapur.

Arka berdiri dengan panik. Piring-piring tadi! Meskipun ia sudah beralasan bahwa itu adalah piring Bayu, ia takut ada hal lain yang tertinggal. Ia mengikuti Viona dari belakang dengan langkah terburu-buru.

Viona membuka lemari es, mengambil botol jus, lalu matanya menyapu meja dapur lagi. “Arka, ini baju daster siapa?”

Jantung Arka seakan berhenti berdetak. Di sudut kursi makan, tersampir sebuah daster motif bunga yang tadi dilepaskan Cantika karena ia ingin menggantinya dengan baju pemberian Arka yang lebih pantas, namun belum sempat karena Viona datang mendadak.

Arka merasa keringat dingin bercucuran di punggungnya. “Itu ... itu daster punya pembantu harian yang baru. Dia tadi lupa membawanya pulang setelah mencuci baju-bajuku.”

Viona mengambil daster itu dengan dua jari, seolah-olah benda itu adalah sampah yang menjijikkan. “Pembantu? Kamu sejak kapan pakai pembantu yang seleranya sekampungan ini? Lihat, baunya bau sabun colek. Norak banget.”

Viona melemparkan daster itu ke lantai. “Besok suruh dia berhenti saja. Aku akan carikan agen penyalur pembantu yang lebih profesional. Aku nggak suka ada barang-barang sampah begini di apartemen calon suamiku.”

Hati Arka mencelos. Ia melihat daster kesayangan istrinya teronggok di lantai seperti kain pel. Ia ingin marah, ia ingin membela Cantika, namun lidahnya kelu. Ketakutan akan kehilangan posisi dan kekayaan Viona jauh lebih besar daripada harga dirinya sebagai seorang suami.

“Iya, nanti aku urus,” jawab Arka pendek, suaranya parau.

Di kamar mandi, Cantika mendengar daster kesayangannya disebut sebagai barang sampah. Itu adalah daster yang ia beli dengan uang hasil jerih payahnya memetik cabai di kebun tetangga sebelum ia menikah dengan Arka. Daster itu adalah satu dari sedikit kenangan yang ia bawa dari kampung.

Cantika memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya di kampung. Ibunya yang melepasnya dengan penuh harap, mengira putrinya akan hidup mulia di kota bersama menantunya. Jika ibunya tahu bahwa saat ini anaknya sedang duduk di lantai kamar mandi, mendengarkan suaminya sendiri dihina dan menghina, pasti hati ibunya akan hancur.

Cantika merasa sangat kotor. Bukan karena lantai kamar mandi, tapi karena ia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri dengan tetap tinggal di sini. Ia merasa seperti seorang pelakor di dalam pernikahannya sendiri.

Hari itu cuaca Jakarta berawan,tidak panas seperti biasanya, namun udara di dalam apartemen mewah itu terasa semakin mencekik. Arka masih duduk di sofa beludru, tangannya melingkar di bahu Viona, namun pikirannya tertinggal di balik pintu kamar mandi yang dingin.

Setiap tawa Viona yang melengking terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinga Arka. Ia tertawa, ia menanggapi cerita Viona tentang pesta sosialita yang baru saja dihadirinya, namun matanya terus-menerus melirik ke arah kamar mandi dimana Cantika berada.

Di sana, di balik dinding yang kokoh, ada seorang wanita yang hatinya sedang hancur berkeping-keping.

“Arka, kamu dengerin aku nggak sih?” Viona merengut, menyentuh dagu Arka dan memaksanya untuk menatap matanya. “Aku bilang, besok kita harus ke butik Tante Merry. Gaun pengantin aku sudah hampir jadi. Kamu juga harus fitting  jas kamu lagi, jangan sampai kekecilan.”

Arka menelan ludah. Kata gaun pengantin dan pernikahan terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokannya. Ia mengangguk kaku. “Iya. Besok aku usahakan kosongkan jadwal ya.”

“Kok usahakan? Kamu harus bisa!” Viona bergelayut manja di lengan Arka. “Ini kan pernikahan terbesar tahun ini. Papa sudah pesan gedung paling mewah. Aku nggak mau ada cacat sedikit pun.”

Arka tersenyum getir. Cacat sedikit pun?  Ia ingin tertawa histeris. Seluruh hidupnya saat ini adalah sebuah cacat besar yang ditutupi oleh polesan kemewahan. Ia adalah seorang pria yang telah menikahi wanita lain secara siri di kampung, namun kini ia sedang merencanakan pernikahan megah dengan putri konglomerat demi ambisi dan harta.

Sementara itu, di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, Cantika masih memeluk lututnya. Dinginnya lantai marmer meresap hingga ke tulang-tulangnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Viona. Ia mendengar tentang gaun pengantin, tentang gedung mewah, dan tentang masa depan yang sedang dirancang Arka bersama wanita lain.

Cantika menggigit bibirnya kuat-kuat agar isakannya tidak terdengar keluar. Air matanya jatuh satu per satu.

(“Tuhan, kenapa aku di sini?”)bisiknya dalam hati. (“Kenapa Mas Arka membawaku ke sini hanya untuk menjadikanku bayangan?”)

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!