Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bros
Keesokan harinya.
Sultan tidak pergi ke kantor karena harus mengantarkan saudaranya yang dari Dubai keliling Surabaya. Dan sepertinya hari ini ia juga tidak bisa ngojek atau pun ke rumah anak jalanan. Saudaranya itu merupakan cucu dari adik kakeknya. Almarhum kakeknya Sultan memang asli orang Dubai.
Pertama, Sultan membawa saudaranya ke kebun binatang karena memang saudaranya membawa anak.Sebenarnya ini hal yang membosankan bagi Sultan. Namun ketika berhadapan dengan anak kecil, tentu saja ia sangat senang.
Anggap saja Sultan dan saudaranya sedang berbahasa Inggris.
"Kak Sultan, kenapa kamu tidak menikah saja? Kulihat kamu sangat menyukai anak-anak?"
"Belum ada yang cocok."
"Apa mau ku carikan orang Dubai?"
"Ah tidak-tidak, terima kasih. Aku lebih suka produk lokal."
"Haha... kakak ini, bisa saja."
Di kebun binatang tersebut, Sultan tidak hanya menemani mereka melihat hewan tapi ia juga menemani keponakannya itu naik gajah.
Sementara itu, Riri akan berangkat ke kantor. Ia mencari bros yang dipaksinya kemarin. Namun tidak ditemukan.
"Aoa iya jatuh di jalan?"
"Vari apa, Ri?"
"Bros kesayanganku."
"Lha, kamu taruh di mana?"
"Makanya lupa."
"Pakai yang lain aja dulu. Keburu telat lho! "
"Iya, iya."
Riri dan Fira baru saja sampai di kantor. Saat ini Riri sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia akan mempresentasikan proposal yang sudah dibuatnya. Selanjutnya ia akan memaafkan produk tersebut secara berkala.
Riri yang memang sangat gigih dalam pekerjaannya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Ia yakin kepada dirinya sendiri. Percaya dirinya cukup tinggi dalam bekerja.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai."
"Selamat ya, Ri." Ucap beberpa teman kantornya, termasuk Fira.
"Terima kasih. Ini juga berkat kalian."
"Ayo sekarang kamu makan siang dulu. Tadi kan kamu nggak sempat istirahat." Ujar Fira.
"Ah iya, aku sampai lupa kalau belum makan siang."
Beruntungnya tadi Fira sempat membungkuskan nasi untuknya. Riri pun makan di ruangannya.
Setelah selesai makan, Riri menyandarkan diri di kursinya. Angannya melambung jauh ke mana-mana.
"Kalau dipikir-pikir sebenarnya aku bosan dengan semua ini. Tapi ini yang aku inginkan. Aku nggak boleh menyerah. Nanti papa dan mama akan mengambil kesempatan untuk menikahkan ku dengan Arga." Batinnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah kata pepatah. Di saat ia sedang memikirkan keluarganya, handphone-nya berdering.
"Hem mama.. "
Memang sudah dua hari ini mamanya tidak menelpon.
Riri pun menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Ri, gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah sehat, ma. Mama dan yang lain gimana?"
"Alhamdulillah, sehat semua. Kamu ini, kalau nggak ditelpon duluan nggak mau nelpon."
"Maaf ma, Riri sibuk."
"Mama cuma mau ngasih tahu kamu, adikmu akan menikah bulan depan. Kamu nggak pa-pa, kan?"
"Ya nggak pa-pa, ma. Dari sebelumnya kan Firi sudah bilang untuk tidak menunggu Riri. Kasihan mereka."
"Huh... mama cuma berharap kamu segera berubah pikiran."
"Do'a kan saja, ma. Siapa tahu jodoh Riri ada di sini."
"Apa kamu punya pacar di sana?"
"Hah... tidak, tidak punya. Kan Riri cuma bilang siapa tahu jodoh Riri ada di sini. Jadi mama jangan terlalu mengkhawatirkan Riri."
"Mama kira kamu punya pacar di sana. Ayo segera kenalkan ke kita gitu. Biar mama dan papa bisa menolak Arga."
"Arga lagi Arga lagi. Kan sudah ditolak berkali-kali ma."
"Hem... dia nggak mau nyerah sebelum kamu nikah."
"Ada-ada saja. Ya sudah bilang saja Riri sudah punya tunangan gitu, beres kan?"
"Ish, kamu ini! Memangnya Arga orang bodoh."
"Ma, udah dulu ya, Riri sakit perut, mau ke toilet."
"Ah iya sudah kalau begitu."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah menutup telponnya, Riri keluar dari ruangannya dan pergi ke toilet.
Beberapa saat kemudian, Riri keluar dari toilet dan kembali ke ruangannya. Tiba-tiba saja ia memikirkan adiknya yang akan menikah. Sebenarnya ia sadar bahwa tujuan akhir hidupnya adalah menikah dan memiliki keluarga bahagia. Namun untuk saat ini, ia belum menemukan pandangan untuk seseorang yang akan menjadi tambatan hatinya. Menikah adalah ibadah seumur hidup. Jadi ia harus lebih jeli dalam memilih pasangan hidup.
"Ya Allah, sebenarnya jodohku ada di mana?"
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Riri dipanggil oleh sekretaris pribadi direkturnya. Ia pun segera menghadapnya.
Sudah jam 4 sore, waktunya Riri pulang. Ia membereskan meja kerjanya sebelum meninggalkan kantor. Fira sudah menunggunya di parkiran.
"Lama banget, buk?"
"Biasa, masih beberes takut ada yang lupa."
"Ya sudah, ayo naik."
Riri memakai helmnya sebelum naik ke motor.
Sultan dan saudara beserta keponakannya baru saja keluar dari sebuah mall. Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah restoran yang sangat ingin dikunjungi oleh saudaranya. Restoran tersebut terletak kurang lebih 2 kilo meter dari mall. Saat turun dari mobil, Sultan menggendong keponakannya itu lalu berjalan menuju restoran. Jarak antara parkiran ke restoran memang cukup jauh. Dan saat itu tidak sengaja Riri melihatnya.
"Bukannya itu bang Ahmed? Dia gendong anak. Cantik sekali. Mata dan hidungnya mirip dengannya. Pasti itu anaknya. Jadi benar dong dia sudah menikah. Ish, mikir apa aku ini? Memangnya kenapa kalau dia sudah menikah? Macam pelakor pula aku ini. Hi... amit-amit na'udzhbillah ya Allah. Tapi memang ku akui bang Ahmed ganteng banget. Astaghfirullah..." Batin Riri.
"Woy... Ri, dia ajak ngomong malah bengong." Pekik Fira.
"Eh iya, ada apa Fir?"
"Mau mampir nggak?"
"Nggak, langsung pulang saja. Hari ini melelahkan."
"Oke."
Fira melajukan motornya lebih cepat lagi agar cepat sampai.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di kost-an. Riri langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pembalutnya. Setelah itu ia memakai baju setelan celana panjang dan baju lengan pendek berbahan katun rayon.
"Hem, segarnya... "
Setelah Riri keluar, gantian Fira yang masuk ke dalam kamar mandi.
Riri memanaskan sayur sup yang dibelinya tadi pagi. Ia juga menggoreng telur mata sapi untuk makan malamnya bersama Fira.
Fira baru saja selesai shalat Maghrib. Mereka pun makan malam dengan menu seadanya.
*
Di rumah Sultan
Ia sedang makan malam bersama keluarganya dan juga saudaranya yang dari Dubai. Setelah selesai makan malam, mereka masih mengobrol. Kecuali Sultan, ia pamit balik je kamar terlebih dahulu karena capek seharian jadi sopir.
Sultan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat bros berbentuk bunga yang ada di atas lagunya. Bris tersebut kemarin nyangkut di jaket ojol nya. Ia yakin bros itu milik penumpangnya yang bernama Riyanti.
"Nanti kalau ketemu akan kukembalikan." Batinnya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...