Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Jakarta menyambut mereka dengan kemacetan yang merayap di bawah langit abu-abu yang seolah hendak runtuh. Bagi orang lain, bunyi klakson dan kepulan asap knalpot adalah tanda kehidupan urban yang normal. Namun bagi Nirmala, suara-suara itu kini terdengar seperti jeritan yang diredam. Setiap gedung pencakar langit yang mereka lewati tampak seperti batu nisan raksasa yang dipahat dari beton, menjaga rahasia jutaan orang yang mungkin sama "kosongnya" dengan dirinya.
Arka menghentikan motornya di depan lobi apartemen. Wajahnya masih sangat pucat, dengan lingkaran hitam yang semakin tegas di bawah matanya. Ia melepas helm, napasnya terdengar berat.
"Kita sudah sampai, Nir." kata Arka lirih. Ia menoleh ke arah Nirmala yang masih duduk mematung di jok belakang, tangannya masih mendekap erat kotak besi berkarat itu di atas pangkuannya.
Nirmala tidak segera turun. Ia menatap gedung apartemennya sendiri dengan tatapan asing. "Arka... kau merasa apartemen ini berbeda tidak? Rasanya seolah... ia sedang menungguku untuk masuk, lalu akan mengatupkan pintunya selamanya."
Arka terdiam sejenak. Ia memejamkan mata, mencoba memindai energi di sekitar lobi. "Tempat ini masih sama, Nir. Hanya kau yang sudah berubah. Tapi kau benar, frekuensinya terasa sedikit... statis. Seperti siaran televisi yang tidak ada gambarnya, hanya semut hitam-putih yang berisik."
Mereka berjalan melewati lobi. Satpam yang biasanya menyapa dengan ramah hanya mengangguk kecil, namun Nirmala merasa mata pria itu tidak menatap wajahnya, melainkan menatap kotak besi di pelukannya. Masuk ke dalam lift, suasana semakin mencekam. Ruang sempit yang dilapisi cermin itu memaksa Nirmala untuk melihat pantulan dirinya sendiri.
Ia tampak berantakan. Rambutnya kusam terkena debu perjalanan, tapi bukan itu yang membuatnya ngeri. Ia melihat kulit di lehernya. Di sana, ada bercak-bercak kecokelatan yang kering, menyerupai tekstur kulit kayu yang mulai mengelupas. Nirmala menyentuhnya perlahan. Rasanya tidak sakit, hanya kebas.
"Nir, jangan disentuh.." bisik Arka, yang ternyata juga memperhatikan pantulan Nirmala di cermin lift. "Itu residu dari rumah kakekmu. Kita harus segera membersihkannya."
Begitu pintu apartemen terbuka di lantai lima belas, aroma bunga melati yang biasanya menenangkan kini menyergap hidung Nirmala dengan sangat agresif. Bau itu tidak lagi terasa seperti parfum ruangan, bau itu terasa seperti bau jenazah yang disembunyikan di balik tumpukan bunga segar.
Nirmala melangkah masuk ke ruang tamu yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu sudut yang membiarkan sebagian besar ruangan tetap tenggelam dalam bayangan. Pikirannya langsung tertuju pada satu tempat, kamar orang tuanya. Kamar yang belum pernah ia masuki lagi sejak hari pemakaman enam bulan lalu.
"Nir, kau mau ke mana?" tanya Arka sambil meletakkan tasnya di sofa.
"Aku harus memeriksa sesuatu, Arka. Tentang 'Wanita Pinjaman' itu," jawab Nirmala tanpa menoleh.
Ia membuka pintu kamar orang tuanya yang berderit pelan. Kamar itu rapi, seolah waktu berhenti di sana tepat pada hari kecelakaan itu terjadi. Di atas meja rias, masih ada botol-botol parfum ibunya dan sebuah sisir kayu tua. Nirmala mendekat, jemarinya yang gemetar menyentuh sisir itu. Ada beberapa helai rambut panjang tertinggal di sana. Rambut hitam yang indah, rambut ibunya.
Nirmala mengambil sehelai rambut itu dan membawanya ke bawah sinar lampu kecil. Ia teringat bagaimana ibunya selalu bangga dengan rambutnya yang tidak pernah memutih meskipun usia bertambah. Namun, saat Nirmala menarik rambut itu, ia merasakan sesuatu yang janggal. Rambut itu tidak lentur. Saat ia menekuknya sedikit, rambut itu patah dengan suara krak yang kecil persis seperti ranting kering yang patah.
"Arka! Lihat ini!" teriak Nirmala.
Arka masuk ke kamar dengan tergesa-gesa. Ia mengambil patahan rambut itu dari tangan Nirmala. Menggunakan kemampuannya, Arka menempelkan rambut itu ke keningnya sambil memejamkan mata. Seketika, Arka tersentak mundur hingga menabrak lemari pakaian.
"Dingin..." bisik Arka, napasnya memburu. "Nir, ini bukan rambut manusia. Ini adalah serat-serat halus yang ditenun sedemikian rupa agar terlihat seperti rambut. Tidak ada DNA, tidak ada kehidupan di dalamnya. Ini adalah materi yang dibuat dari akar..."
Lutut Nirmala terasa lemas. Ia terduduk di tepi tempat tidur orang tuanya. "Jadi selama dua puluh tahun... wanita yang memandikanku, yang mengajariku berdoa, yang memelukku saat aku menangis... dia hanyalah sebuah boneka kayu yang dipakaikan kulit manusia?"
Nirmala mulai terisak, tapi tangisannya terdengar kering, tanpa air mata yang cukup. "Lalu siapa yang aku kuburkan, Arka? Enam bulan lalu, di bawah hujan itu, aku melihat peti mati mereka diturunkan. Aku melihat wajahnya di rumah duka. Dia tampak sangat nyata!"
"Mungkin itulah sebabnya kecelakaan itu terjadi," Arka mencoba berteori sambil duduk di lantai, masih memegangi dadanya yang sesak. "Dalam dunia gaib, 'raga pinjaman' memiliki batas waktu. Mungkin kontrak ayahmu dengan Sandiwayang sudah habis. Saat kontrak habis, raga itu harus ditarik kembali ke tanah. Kecelakaan itu bukan musibah, Nir. Itu adalah cara alam mengambil kembali apa yang dipinjamnya. Ayahmu... dia hanya korban dari usahanya sendiri untuk melindungimu."
Nirmala tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membongkar lemari pakaian ibunya dengan kalap. Baju-baju sutra, kebaya, dan gaun-gaun cantik dilemparkannya ke lantai. Ia mencari bagian paling bawah dari lemari itu. Ia ingat ibunya selalu menyimpan sebuah kotak rahasia di bawah tumpukan kain jarik tua.
Setelah beberapa saat mencari, ia menemukannya. Sebuah kotak kayu kecil tanpa kunci. Saat dibuka, isinya membuat darah Nirmala berdesir hebat.
Di dalam kotak itu terdapat puluhan lembar kulit manusia yang tipis, hampir transparan, seperti kulit ular yang mengelupas. Di setiap lembar kulit itu, ada bekas riasan wajah lipstik merah, sisa bedak, dan eyeliner. Nirmala menyadari sesuatu yang sangat mengerikan: Ibunya tidak bertambah tua. Dia hanya "mengganti kulitnya" secara berkala untuk tetap terlihat sama di mata Nirmala.
Dan di dasar kotak itu, ada sebuah surat yang ditulis oleh ibunya atau raga yang mengaku sebagai ibunya.
"Untuk Nirmala, anak yang tak pernah lahir namun selalu kucintai.
Maafkan aku jika suatu saat kau menyadari bahwa tanganku tidak memiliki detak nadi. Aku adalah wadah yang dipinjamkan oleh Sang Akar agar kau tidak merasa sendirian di dunia yang dingin ini. Tugas ibu akan segera berakhir. Jika kau membaca ini, berarti Sang Akar telah memanggilku kembali. Jangan cari aku di liang lahat, karena di sana hanya ada potongan kayu randu yang dibungkus kain kafan. Carilah aku di dalam dirimu sendiri, karena sebagian dari getahku mengalir di nadimu."
Nirmala menjerit, melempar kotak itu hingga isinya berhamburan. "TIDAK! AKU BUKAN GETAH! AKU MANUSIA!"
"Nir, tenanglah!" Arka mencoba memeluknya, namun Nirmala meronta.
"Lihat aku, Arka! Lihat kulitku!" Nirmala menunjukkan leher dan lengannya yang kini semakin banyak ditutupi bercak kayu. "Aku mulai berubah! Aku dibawa ke kota agar terlihat normal, tapi sekarang aku kembali menjadi apa yang seharusnya aku menjadi! Aku adalah tumbal yang belum selesai!"
Tiba-tiba, lampu apartemen berkedip-kedip dengan liar. Suara gesekan kayu yang sangat nyaring terdengar dari arah balkon suara yang sama dengan yang mereka dengar di Desa Sandiwayang. Angin kencang tiba-tiba berembus dari jendela yang seharusnya tertutup rapat, menerbangkan lembaran kulit transparan di dalam kamar itu hingga melayang-layang seperti hantu-hantu kecil.
Arka berdiri tegak, pasang kuda-kuda. "Nir, dia di sini."
"Siapa?" bisik Nirmala di tengah isak tangisnya.
"Sesuatu yang mengikuti kita dari Sandiwayang. Sesuatu yang merasa 'rumahnya' ada di dalam apartemen ini." Arka menunjuk ke arah balkon.
Di sana, di balik pintu kaca yang tertutup kabut tipis meski mereka berada di lantai lima belas, berdiri sesosok wanita. Dia mengenakan baju yang sama dengan yang dipakai ibu Nirmala saat hari kecelakaan gaun biru muda yang elegan. Namun, wanita itu tidak memiliki wajah. Di tempat yang seharusnya ada mata dan mulut, hanya ada guratan-guratan kasar seperti permukaan kayu randu yang sudah tua.
Wanita itu mengetuk kaca balkon dengan jari-jarinya yang panjang dan kaku.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan itu sangat pelan, namun bergema di seluruh kepala Nirmala.
"Nir... jangan buka pintunya." Arka memperingatkan, tangannya sudah memegang bandul obsidian yang kini berpendar merah terang. "Itu bukan ibumu. Itu adalah penagih hutang yang datang untuk mengambil sisanya."
Nirmala menatap sosok itu. Meski tanpa wajah, ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam terpancar dari sana. Atau mungkin itu hanya tipu daya?
"Dia bilang dia mencintaiku, Arka." bisik Nirmala, matanya terpaku pada sosok di balik kaca. "Meskipun dia hanya raga pinjaman, apakah cinta itu juga pinjaman?"
Sosok di balkon itu tiba-tiba berhenti mengetuk. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca. Perlahan, dari telapak tangan itu, mulai tumbuh akar-akar halus yang merambat di permukaan kaca, membentuk sebuah tulisan yang hanya bisa dibaca oleh Nirmala:
"KEMBALIKAN JANTUNGMU."
Nirmala memegang dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak, namun detaknya aneh. Bunyinya bukan dup-dup, melainkan suara serak seperti dahan yang patah. Krak-krak. Krak-krak.
Ia menyadari fakta paling pahit, Jantung yang berdetak di dalam dadanya bukan miliknya. Itu adalah jantung dari pohon Randu Alas, dan pemilik aslinya telah datang ke Jakarta untuk mengambilnya kembali.